
Pagi harinya, Nangong Zirui baru sadar. Dia merasakan tangan kanannya sangat berat seperti ditindih sesuatu. Nangong Zirui menolehkan kepalanya, dia melihat kepala seseorang menjadikan tangannya sebagai bantal, sementara tubuhnya bersandar di tepi ranjang dalam posisi setengah tubuh di lantai.
“Xiao Feng?” gumamnya.
Kepalanya pusing. Rentetan peristiwa tadi malam berputar di otaknya, seakan ingin menertawakan sekaligus mengingatkan bahwa dia telah berlaku kurang ajar pada wanita itu. Ingatan saat dia meraihnya, menciumnya dan memeluknya menjadi sangat jelas seolah itu baru saja terjadi beberapa menit lalu.
“Apa yang telah aku lakukan,” ucap Nangong Zirui pada dirinya sendiri.
Dia sangat menyesal karena semalam, pengendalian dirinya begitu rendah. Dia sangat jelas ingat kalau dia sudah menyuruhnya pergi, tapi tetap saja tidak dapat mengendalikan diri. Tapi rasa sejuk yang ditularkan dari tubuh Li Fengran, sungguh tidak dapat ditahan dan sangat nyaman.
Apakah tubuh Pemangku Pedangnya memang selalu sesejuk itu? Atau, apakah karena dia sedang kepanasan dan membutuhkan seseorang untuk membantunya melampiaskan? Entah mengapa, pikiran-pikiran kotor itu malah datang mengejeknya saat dia sendiri sudah sangat sadar.
Suara lenguhan yang lolos dari mulut Li Fengran berhasil membuatnya tersadar. Li Fengran mengucek kedua matanya, menggeliat ringan dan mendongakkan kepala.
Dia melihat Nangong Zirui sudah bangun, memegangi keningnya seperti sedang mengingat sesuatu… atau lebih tepatnya seperti sedang menyesali sesuatu.
“Yang Mulia, kamu sudah sadar?”
“Oh, ya. Xiao Feng, apakah kamu merawatku semalaman?”
Li Fengran kemudian bergegas duduk di tepi ranjang. Setengah nyawanya belum terkumpul, sementara sebagian tubuhnya pegal karena tidur dalam posisi duduk di lantai.
“Yang Mulia pingsan dan demam. Aku meminta izin Kasim Wang merawatmu di sini. Yang Mulia, kamu jangan memotong gajiku lagi karena aku bermalam di sini tanpa izinmu.”
Meski baru bangun tidur, tapi pikiran Li Fengran tetap maju dan tidak ikut tertidur. Dalam hatinya, Nangong Zirui mencelos. Tidak mungkin dia memotong gajinya lagi.
Sebaliknya, dia sepertinya harus menaikkan gaji Li Fengran sebagai bentuk kompensasi. Bagaimanapun, dia telah mencium dan memeluknya malam tadi tanpa izin.
Nangong Zirui memosisikan diri menjadi setengah duduk. Pusing di kepalanya mulai berkurang.
Wanita ini, setelah diperlakukan tidak sopan masih saja merawatnya tanpa memperhatikan diri sendiri. Li Fengran seharusnya langsung lari dan pergi saat dia menyuruhnya, tapi alih-alih wanita itu malah memilih tetap tinggal.
Dia kemudian melihat bibir wanita itu memiliki ukuran lebih besar sedikit dibanding kemarin. Bibir itu membengkak, dan pelaku yang membuatnya membengkak adalah dia. Sekali lagi Nangong Zirui merutuki perbuatannya yang tidak terkendali.
“Itu… Apakah sakit?” tanya Nangong Zirui sembari menunjuk bibir Li Fengran kemudian dia menempelkan telunjuknya pada bibirnya sendiri.
Li Fengran hampir terkesiap. Jika itu wanita lain, mungkin sudah salah tingkah.
“Ah, tidak apa-apa. Ini akan membaik dalam dua hari,” jawab Li Fengran, dia berusaha tenang. Padahal, jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
“Maaf,” lirih Nangong Zirui. “Aku sudah tidak sopan padamu.”
“Tidak apa-apa, Yang Mulia. Normal bagi seorang pria dalam pengaruh obat berlaku seperti itu. Aku justru tidak menyangka Yang Mulia masih dapat mengendalikan diri dan tidak bertindak lebih jauh.”
“Aku bukan pria hidung belang yang mesum. Aku tidak akan menyentuh wanita tanpa izinnya,” ucap Nangong Zirui, seakan perkataan Li Fengran secara tidak langsung menyamakan dirinya sama dengan pria lain.
Li Fengran menahan senyumnya dalam hati.
“Baiklah, baiklah, Yang Muliaku adalah orang baik. Aku harap Yang Mulia tidak akan mengirimku ke Biro Kedisiplinan karena sudah menggigit bibirmu.”
Nangong Zirui sebenarnya malu, tapi dia tidak mau Li Fengran melihatnya. Jadi, dia mengalihkan pandangannya dan memalingkan muka, menghindari tatapan Li Fengran yang seperti sedang menginterogasinya. Sialan, pagi-pagi dia sudah dibuat kacau oleh wanita ini.
“Kamu mencariku malam tadi, apakah ada sesuatu?”
Li Fengran langsung teringat tujuannya datang ke Istana Qihua malam tadi. Karena terlalu terkejut dan panik, dia melupakannya. Untung saja Nangong Zirui bertanya padanya.
“Oh, benar, aku melupakannya. Yang Mulia, memang ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu.”
“Tentang apa?”
“Dupa.”
“Benar, dupa.”
“Ada apa dengan dupa?”
“Saat di Rumah Bordil Xiaoqin, aku mencium bau dupa yang tidak asing di kamar para gadis penghibur. Setelah mengingatnya, aku menyimpulkan kalau aromanya sama persis dengan aroma dupa yang kerap kucium di istana kediaman mendiang Ratu Ling.”
Nangong Zirui mengernyit, rasa sakit di kepalanya seketika menghilang. Dupa, akhir-akhir ini memang ada cukup banyak masalah yang terkait dengan dupa. Li Fengran tiba-tiba menceritakan ini, itu membuatnya seperti tersadar.
“Dupa istana adalah dupa khusus yang diproduksi oleh Biro Peralatan Istana. Setiap dupa yang ada di istana memiliki aroma khusus dan tidak diproduksi di pasaran. Mengapa tiba-tiba ada aroma yang sama dengan dupa Rumah Bordil Xiaoqin?” tanya Nangong Zirui.
Aneh, pikirnya. Setiap dupa yang dipakai di istana adalah dupa khusus yang tidak diproduksi di luar. Dupanya sangat khusus dan teknik pembuatannya sangat sulit.
Dupa istana adalah dupa khas yang tidak mungkin ditemukan di tempat lain. Jika Li Fengran benar, maka sudah pasti ada yang aneh.
“Itu sebabnya aku ingin membahasnya dengan Yang Mulia. Menurutku, jika memang dupa istana adalah dupa khusus, maka tidak mungkin ada aroma dupa yang sama di tempat lain.”
“Ling Sui selalu menyukai cendana dan cengkih. Dupa yang dikirim ke istananya adalah dupa dengan aroma yang sesuai dengan keinginannya. Tidak mungkin ada di tempat lain.”
__ADS_1
“Apakah mendiang Ratu Ling sering bergonta-ganti dupa?”
“Tidak. Selalu sama setiap tahun sejak dulu.”
“Kalau begitu, hanya ada dua kemungkinan. Mendiang Ratu Ling mendapatkannya dari luar, atau seseorang mencurinya dan menjualnya ke Rumah Bordil Xiaoqin. Tapi berdasarkan jangka pemakaian, sepertinya kemungkinan pertama lebih meyakinkan,” Li Fengran menjelaskan analisanya.
Dia tidak memberitahu Nangong Zirui karena sebelumnya mereka sangat sibuk dengan pengurusan korban bencana dan pemeriksaan buku akun. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres.
Entah mengapa hatinya terus mendorongnya pada satu kesimpulan yang kurang masuk akal: bahwa dupa sepertinya berkaitan erat dengan kematian Ling Sui.
“Kamu curiga dupa tersebut ada kaitannya dengan penyakit Ling Sui?” tanya Nangong Zirui. Li Fengran mengangguk tanpa sadar.
“Sebelumnya aku juga tidak berani menebak. Tapi, Yang Mulia pernah mengatakan kalau Jinchuan adalah tanah leluhur Keluarga Ling dan kalian pernah beberapa kali pergi ke sana. Setelah mencium aroma dupa dan mengingatnya dengan baik, aku dengan ragu menarik kesimpulan kalau Rumah Bordil Xiaoqin mungkin pernah terhubung dengan mendiang Ratu Ling.”
Masuk akal, pikir Nangong Zirui. Itu mungkin saja. Tapi, dia tidak bisa menarik kesimpulan tanpa bukti. Menghubungkan sesuatu yang tidak mungkin bisa saja menyebabkan bencana dan menimbulkan lebih banyak masalah.
Terlebih, masalah ini berkaitan dengan mendiang ratu, yang menjadi salah satu belenggu di hatinya. Jika tidak diselidiki dengan baik, maka tidur Nangong Zirui tidak akan pernah nyenyak.
Ah, sejak kapan dia bisa tidur nyenyak? Sepertinya sudah lama dia tidak bisa merasakan tidur yang nyenyak dan nyaman. Apakah setelah menjadi Raja Donghao? Atau jauh sejak dia diangkat menjadi Putra Mahkota? Atau mungkinkah sejak dia menyadari realitasnya sebagai salah satu pangeran dari Kerajaan Donghao?
Tapi sepertinya dia sangat nyenyak tadi malam. Kehadiran Li Fengran sepertinya sudah memberinya sebuah perasaan nyaman yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan mampu mengistirahatkan tubuhnya. Perasaan semacam itu, rasanya sudah lama sekali dia tidak merasakannya.
“Jangan mengatakan masalah ini dengan siapapun kecuali aku. Aku akan menyuruh Mo Wei menyelidiki Rumah Bordil Xiaoqin,” ucap Nangong Zirui beberapa saat kemudian.
“Apa dia bisa diandalkan?”
“Kamu meragukannya?”
“Sebenarnya tidak, tapi aku merasa dia pasti akan segera mencari perhitungan denganmu karena Yang Mulia memberinya pekerjaan yang sangat banyak akhir-akhir ini.”
“Tidak masalah. Dia bisa menanggungnya.”
Sudut mulut Li Fengran terangkat. Kasihan sekali nasib Mo Wei, pikirnya. Pengawal itu sejak dia diangkat menjadi Pemangku Pedang, tugasnya justru semakin banyak.
Mo Wei sudah bukan seperti seorang pengawal, melainkan agen rahasia sekaligus asisten Nangong Zirui. Jika dia tahu dia ditugaskan lagi setelah kembali dari Jinchuan nanti, Mo Wei pasti akan mengamuk dan wajahnya yang menyebalkan serta mulutnya yang tidak disaring itu pasti akan membuat keributan.
“Yang Mulia, apakah Yang Mulia sudah bangun? Sudah saatnya menghadiri rapat istana,” teriak Wang Bi dari arah pintu. Saat itu, pintu kamar Raja masih setengah terbuka dan setengahnya lagi tertutup.
“Tidak perlu. Hari ini libur saja!”
__ADS_1