The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 69: Puncak Musim Semi Pertama


__ADS_3

Tidak berlarut-larut dalam kesedihan kehilangan seorang menteri, hari-hari Nangong Zirui kembali berjalan seperti biasa. Li Fengran tidak banyak bertanya, dia memilih diam dan tidak ingin tahu mengapa Nangong Zirui sampai membuat Menteri Administrasi bunuh diri di gerbang istana. Li Fengran hanya memikirkan bagaimana gaji dan tunjangannya yang dipotong bisa kembali padanya.


Hari ini, mereka bersiap untuk menghadiri Festival Puncak Musim Semi yang diadakan penduduk ibukota. Pada akhirnya, Nangong Zirui menyetujui permintaan Li Fengran yang ingin dirinya pergi ke festival.


Lagipula, Nangong Zirui juga perlu menghibur dirinya setelah menyelesaikan beberapa permasalahan yang terjadi akhir-akhir ini.


Kereta kuda yang menampung anggota keluarga kerajaan berangkat dari istana saat pukul lima sore dan baru tiba di tengah ibukota saat malam sudah tiba. Keriuhan dan kemeriahan ibukota bertambah ketika Raja, Ibu Suri, Ratu Shen, dan Selir Fei turun dari kereta mereka.


Bendera kerajaan berkibar, para prajurit pengawal keamanan berwajah sangar dengan setia mendampingi semua anggota keluarga kerajaan. Pengawalan sangat ketat dan sulit ditembus, namun itu tidak membuat rakyat bersedih karena tidak dapat bicara langsung dengan Raja mereka. Setidaknya, mereka bisa bersua dan bertemu secara langsung dan itu merupakan berkah terbesar dalam hidup mereka.


Li Fengran ikut mengawal Nangong Zirui di belakang bersama pasukan. Itu tidak berlangsung lama karena Nangong Zirui tiba-tiba menariknya untuk berjalan di belakangnya. Pria itu memelankan langkahnya, menyesuaikan dengan langkah Li Fengran yang kecil.


“Apakah kamu sangat senang?” tanya Nangong Zirui. “Ini adalah puncak musim semi pertamamu di ibukota.”


“Sangat senang. Yang Mulia sungguh terberkati karena menjaga suasana hati yang baik sampai festivalnya tiba,” jawab Li Fengran.


“Itu karena kamu berhasil menjaganya untukku,” ucap Nangong Zirui.


Melihat Raja dan Pemangku Pedang berbisik-bisik, beberapa orang kemudian berbicara dengan teman mereka. Beberapa di antaranya memandang penuh kekaguman akan sosok Raja dan Pemangku Pedang yang terlihat menawan malam ini.


Pemangku Pedang yang ada dalam bayangan mereka adalah seorang wanita yang sangat dan tubuhnya kekar, sangat jauh berbeda dengan sosok Li Fengran yang bertubuh kecil dan berwajah cantik.


Dia berjalan di samping Raja yang tampan rupawan, dan itu membuat mereka berpikir tentang sebuah romansa antara pria penguasa dengan gadis kecil yang menarik perhatian. Yah, seperti cerita-cerita romansa yang kerap ditemukan di novel-novel dan beberapa literatur lainnya.


Shen Lihua merasa terganggu, karena yang seharusnya berdiri dan berjalan di samping Raja adalah dirinya. Namun, dia tertahan karena citranya sebagai wanita cantik yang anggun dan bermartabat, yang tidak mungkin menunjukkan emosinya di hadapan orang banyak. Rasa cemburunya terpaksa dia tahan demi menjaga nama baiknya.


Rombongan keluarga kerajaan dikawal menuju menara yang ada di tengah kota. Dari sana, pemandangan Ibukota Donghao bisa terlihat dengan jelas. Malam puncak musim semi berlangsung meriah, tepuk tangan dan beragam teriakan memuja tak henti-hentinya sampai pada rombongan keluarga kerajaan yang berdiri dengan bangga di menara kota.


Pesta kembang api dimulai dan langit jadi gemerlap bermandikan cahaya dan suara yang datang silih berganti. Li Fengran menatap kagum pada pemandangan malam yang baru ini. Ini hampir serupa dengan perayaan penyambutan tahun baru, namun nuansa kuno dan kental dengan kesederhanaan khas zaman dulu membuatnya terasa berbeda.

__ADS_1


Seperti yang dikatakan Nangong Zirui, ini adalah festival puncak musim semi pertamanya. Nangong Zirui meniadakan jam malam khusus malam ini, sehingga penduduk ibukota bisa bermain dengan bebas sampai pagi.


Jalanan dihiasi dan berbagai kios didirikan. Beberapa seniman menampilkan bakat mereka, sementara sebagian orang sengaja melepaskan lentera.


Nangong Zirui membiarkan Li Fengran bersenang-senang setelah perayaan diresmikan. Dengan hati yang gembira, Li Fengran berkeliling di sekitar pusat kota bersama Xiang Wan. Dia membeli beberapa barang yang menarik perhatiannya. Li Fengran juga membeli dua tusuk tanghulu dan memakannya sambil berjalan.


“Nona, festival musim semi di ibukota jauh lebih meriah daripada di Danchuan. Aku jadi penasaran apakah Tuan Besar juga sedang merayakannya,” ucap Xiang Wan. Tangannya sibuk memegang barang bawaan yang terus dibeli oleh majikannya.


“Festival musim semi di Danchuan, bagaimana biasanya dirayakan?” tanya Li Fengran. Xiang Wan kemudian baru sadar kalau nonanya memang melupakan beberapa hal tentang kampung halamannya.


“Setiap malam festival puncak musim semi tiba, Tuan Besar akan menghilangkan jam malam dan membebaskan penduduk untuk bermain juga. Tuan Besar biasanya juga akan berkumpul dengan keluarga, makan malam bersama dan membiarkan Nona dan Nona Besar keluar bermain ditemani pelayan.”


“Tidak jauh dari bayanganku. Berapa uang jajan yang aku punya saat festival tiba?”


“Tuan Besar biasanya memberi dua kali lipat lebih banyak kepada Nona dibandingkan Nona Besar.”


“Mengapa?”


“Ah, Li Shiyu ternyata lebih malang dari dugaanku.”


Li Fengran berjalan lagi menyusuri keramaian. Dia tertarik pada pertunjukan sirkus jalan yang digelar tidak jauh dari tempatnya berdiri.


Di sana, beberapa orang bertepuk tangan atas atraksi yang dilakukan oleh para pemain, seperti menyemburkan api dari mulut, mengangkat gentong air yang sangat besar dengan satu tangan, dan beberapa atraksi lainnya.


Begitu ramai. Li Fengran kesulitan menembus kerumunan hingga dia tidak sadar sudah terpisah dari Xiang Wan. Tiba-tiba saja tangannya ditarik dari belakang oleh seseorang. Tarikan itu mau tidak mau membuatnya terpisah dari kerumunan. Li Fengran mendongak, dia melihat sosok Nangong Zirui membelakanginya sambil terus menariknya.


“Apakah melihat pertunjukan lebih menarik daripada melihatku?” tanya Nangong Zirui. Dia membawa Li Fengran ke sebuah gang yang agak jauh dari kerumunan dan lumayan sepi.


“Mengapa Yang Mulia pergi tanpa pengawalan? Apakah kamu tahu betapa berbahayanya itu?”

__ADS_1


“Kamu belum menjawab pertanyaanku. Xiao Feng, mana yang lebih menarik?”


“Dua-duanya sama menarik.”


Nangong Zirui menekan tubuh Li Fengran hingga ke tembok, membuat wanita itu waspada dan menahan bobot tubuhnya. Kepala Nangong Zirui tertunduk, dia menatap Li Fengran dengan tatapan misterius. Li Fengran mengalihkan pandangan, tangannya secara refleks menyilang melindungi tubuhnya sendiri.


“Tapi, aku tidak suka disamakan. Xiao Feng, bagaimana ini? Kamu harus memilih salah satunya.”


“Aiya, Yang Mulia, kamu harus belajar bermurah hati pada-mmpphhh..”


Li Fengran tidak kuasa melanjutkan perkataannya karena tiba-tiba Nangong Zirui menarik tengkuknya, memaksanya menengadahkan kepala dan dia langsung menciumnya. Kali ini, mereka dalam keadaan yang sangat sadar.


Pada awalnya hanya sekadar kecupan kecil, namun saat pria itu menggerakkan bibirnya, Li Fengran seperti merasakan kejutan listrik di seluruh tubuhnya.


Dia ingin mendorong Nangong Zirui, tapi tangannya seperti kehilangan tenaga dan tanpa sadar sudah melemas. Untung saja kakinya masih kuat menopang tubuhnya. Nangong Zirui membuka mulutnya, dia mengetuk gigi Li Fengran dengan lidahnya dan ingin dia membukakan pintunya.


Li Fengran membuka sedikit mulutnya dan langsung mendapat serangan dari Nangong Zirui. Dia tanpa sadar memejamkan matanya dan mengikuti permainan Nangong Zirui. Rasanya manis, seperti tanghulu yang beberapa saat lalu dia makan di jalan.


Perasaannya campur aduk. Dia lupa alasan mengenai adanya batasan yang membuat perasaan mereka terpendam satu sama lain.


Alangkah bagusnya jika Nangong Zirui bukan Raja dan dia bukan Pemangku Pedang atau putri dari Danchuan. Alangkah bagusnya jika mereka bertemu sebagai manusia biasa, tanpa gelar dan tanpa kekuasaan yang membatasi perasaan. Mereka bisa mengekspresikan perasaan dengan bebas, tanpa harus sembunyi-sembunyi seperti ini.


Nangong Zirui menyudahi permainannya, dia melepaskan bibir Li Fengran dan memberikan jarak di antara wajah mereka. Matanya fokus memandang Li Fengran yang pipinya sudah memerah, sampai telinganya juga memerah.


“Aku tidak suka bermurah hati tentangmu. Aku tidak mau berbagi kamu dengan yang lain dan aku tidak ingin disamakan dengan yang lain,” ucap Nangong Zirui. Dapat dirasakan kalau suaranya agak serak.


Bahkan tanpa mereka mengatakan ‘aku menyukaimu’ pun, perasaan yang ada di hati mereka dapat tergambar dengan jelas. Selalu ada pemahaman tanpa kata yang sampai pada hati dan pikiran mereka, membuat mereka terhubung satu sama lain. Tanpa kata, namun perasaannya tersampaikan dengan begitu nyata.


”Huh, dasar pelit.”

__ADS_1


Li Fengran setengah berjongkok dan saat dia mendapat kesempatan untuk melepaskan diri dari kurungan Nangong Zirui, dia menggunakannya. Dalam sekejap, wanita itu sudah berlari menjauh dan menghambur di antara kerumunan.


Nangong Zirui menatapnya dengan penuh senyuman. Sinar di matanya tidak meredup, dan dia berjalan untuk menyusulnya.


__ADS_2