
Melihat Mo Wei datang, Li Fengran yang sedang berjemur cahaya matahari segera menegakkan tubuhnya. Dia
langsung berlari kepada Mo Wei. Mo Wei jadi ketakutan, seharusnya dia datang nanti saja. Dia hendak pergi lagi, tapi tiba-tiba Li Fengran memeluknya.
“Mo Wei, aku sangat merindukanmu!”
Mo Wei membelalak dan berusaha melepaskan diri. Dia sangat terkejut karena Li Fengran tiba-tiba memeluknya. Xiang Wan yang saat itu keluar dari bangunan istana sambil membawa nampan berisi camilan seketika membatu dan tanpa sadar menjatuhkan nampan tersebut.
“Pemangku Pedang, lepaskan aku!”
“Tidak! Aku sudah lama tidak melihatmu!”
“Ini tidak baik. Raja bisa marah jika mengetahuinya!”
“Untuk apa dia marah?”
“Astaga Nona! Cepat lepaskan Pengawal Mo! Pria dan wanita tidak boleh bersentuhan!” Xiang Wan berteriak sambil memisahkan Li Fengran dari Mo Wei. Mo Wei berusaha keras mendorongnya dan setelah berjuang, dia berhasil terlepas dari Li Fengran.
Ya ampun, Pemangku Pedang benar-benar menakutkan!
Li Fengran kemudian menyuruhnya duduk di taman. Sedari tadi, tatapannya terus tertuju pada Mo Wei, seolah-olah pria itu adalah sebuah benda berharga. Mo Wei semakin bergidik, kini dia tahu alasan mengapa Raja menyuruhnya mengantarkan pedang ke Istana Changsun. Ternyata, Pemangku Pedang sedang tidak waras.
“Pemangku Pedang, kenapa kamu menatapku seperti itu?”
“Mo Wei yang baik, kamu pasti datang atas perintah Raja, kan?”
Mo Wei mengangguk. “Raja memintaku memberikan ini padamu.”
Dia memberikan pedang korset yang baru kepada Li Fengran. Alih-alih senang dan antusias, wanita itu malah menerimanya langsung dan menyimpannya di meja. Dia menatap Mo Wei lagi dengan penuh senyuman, membuat Mo Wei semakin bergidik. Pemangku Pedang tidak benar-benar gila, kan?
“Pemangku Pedang, matamu hampir keluar kalau kamu terus menatapku seperti itu,” ucap Mo Wei risih. Dia ingin segera pergi, tapi sepertinya akan sulit.
“Hehehe. Mo Wei yang baik hati, aku mendengar kabar kalau Su Min meninggal pagi ini. Sebagai sesama rekan kerja dan bawahan Yang Mulia, bisakah kamu memberitahuku sedikit informasi tentangnya?”
“Mengapa kamu tidak mencari tahu sendiri?”
Li Fengran menghela napas.
“Jika aku bisa, aku pasti sudah melakukannya. Tapi, Yang Mulia memberiku cuti, jadi aku tidak leluasa mencari tahu. Mo Wei yang baik, ayo beritahu aku sesuatu yang menarik dari kematian Su Min.”
Mo Wei ingat perkataan Raja agar dia tidak memberitahu petunjuk asli pada Li Fengran. Mo Wei menurutinya, dia mengarahkan Li Fengran pada kata ‘shen’ sesuai keinginan Nangong Zirui. Reaksi Li Fengran di luar dugaan, dia tidak heboh, tapi justru malah mengernyit.
“Pemangku Pedang, apa menurutmu petunjuknya salah?”
Li Fengran menggelengkan kepala. Kata yang ditulis Su Min ini mungkin memiliki arti ganda.
“Menurutku, kata ‘shen’ ini bermakna ganda.”
“Makna ganda seperti apa?”
Mo Wei takut Li Fengran segera menyadari petunjuk palsunya. Astaga, wanita itu tidak mungkin punya pemikiran yang begitu cepat tersinkronisasi, kan?
Kalau sampai dia tahu, maka Mo Wei pasti akan dimarahi lagi oleh Nangong Zirui karena tidak mampu menahan Pemangku Pedang.
__ADS_1
“Provokator dan pembunuh. Entahlah, aku tidak yakin. Aku hanya yakin kalau provokator yang membuatnya bertindak padaku adalah Ratu.”
“Lalu apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu saja membalasnya. Tapi, dia seorang Ratu. Sulit bagiku untuk menyentuhnya dan itu hanya akan menimbulkan masalah baru untuk Yang Mulia.”
“Kamu begitu peduli pada Yang Mulia?”
“Kalau aku tidak peduli, mana mungkin aku memutuskan tinggal di sini.”
“Kalau begitu coba kamu katakan perkataan barusan pada Yang Mulia. Dia pasti senang.”
“Berhenti mengolok-olokku. Mo Wei yang baik, bisakah kamu tidak memberitahu Yang Mulia kalau aku ingin mencari pembalasan pada Ratu?”
“Bisa diatur.”
“Mo Wei memang terbaik!”
Li Fengran mengajaknya melakukan tos tangan. Ketika itu terjadi, Nangong Zirui sampai di Istana Changsun dan menangkap adegan tersebut dengan mata kepalanya sendiri. Interaksi Li Fengran dan Mo Wei sangat dekat, mereka bahkan duduk di satu kursi yang sama.
Api yang entah dari mana datangnya tiba-tiba membakar hati Nangong Zirui. Matanya menatap tidak suka, dan dia bergegas menghampiri mereka untuk menghentikan interaksi yang sangat dekat itu. Atau setidaknya, dia bisa membuat mereka punya jarak dalam berkomunikasi.
Dia berdehem dan Li Fengran menangkap suaranya.
“Yang Mulia? Kenapa kamu di sini? Kasim Wang, apa kamu makan gaji buta?”
Wang Bi terperangah dan menatap bingung. “Gaji buta?”
“Kamu bekerja untuk melayani Yang Mulia dan kamu digaji. Kenapa kamu tidak memberitahuku kalau Yang Mulia datang? Bukankah memberitahu kedatangan Raja adalah tugas seorang kepala kasim?”
“Jangan terlalu dekat. Pria dan wanita tidak boleh bersentuhan!” ucap Nangong Zirui.
Tidak boleh bersentuhan? Li Fengran justru langsung terlempar pada ingatan ketika Nangong Zirui tiba-tiba menciumnya, menariknya ke dalam bak mandi dan memeluknya.
Dia juga teringat saat Nangong Zirui mencium keningnya diam-diam sebelum meninggalkan Istana Changsun hari itu. Apanya yang tidak boleh bersentuhan?
Xiang Wan kebetulan masih ada di sana. Pelayan itu tanpa sadar berujar pelan, “Nona bahkan memeluk Pengawal Mo barusan.”
Suaranya kecil, tapi dapat didengar Wang Bi yang kebetulan berdiri di dekatnya. Wang Bi terkejut, dia kemudian membisikkan apa yang ia dengar barusan kepada Nangong Zirui.
Pria itu membelalak, kedua biji matanya hampir melompat keluar. Api di dalam hatinya jadi membara lagi, membakar habis seluruh pembuluh darah dan memutus akal sehatnya sesaat.
“Mo Wei, bukankah aku menyuruhmu mengantarkan pedang?” tanya Nangong Zirui. Nada suaranya berubah menjadi sangat tidak ramah. Mo Wei menangkap sinyal bahaya, dia buru-buru mengangguk dengan cepat.
“Lalu mengapa kamu masih di sini jika sudah memberikannya? Masih tidak cepat pergi?”
“Baiklah-baiklah, aku pergi, Yang Mulia,” ucap Mo Wei. Dia bergumam sendiri, “Kalau memutuskan datang sendiri, untuk apa menyuruhku mengantarkan pedangnya? Dasar Raja labil.”
Dia terus menggerutu sampai keluar dari istana. Sementara itu, Nangong Zirui menatap kesal pada Li Fengran yang terlihat baik-baik saja.
Udara di sekitar tiba-tiba terasa pengap dan asam. Bahkan selama beberapa menit, Li Fengran mengabaikannya dan sibuk memegangi pedang barunya.
Nangong Zirui jadi kesal lagi.
__ADS_1
“Jika kamu tidak mau, kamu bisa memberikan pedang itu pada Mo Wei!”
“Eh, barang pemberian Yang Mulia sangat berharga, mana boleh diberikan pada orang lain.”
“Huh, masih punya hati nurani rupanya.”
Li Fengran diam-diam tersenyum. Nangong Zirui pasti kesal padanya. Pria itu sudah pasti tidak senang melihat dia berdekatan dengan Mo Wei. Tapi, Li Fengran perlu melakukannya untuk mencari informasi. Dia tahu kalau mencari tahu langsung pada Nangong Zirui hanya akan membuatnya dimarahi lagi.
Dia berdiri, kemudian mendekati Wang Bi dan Xiang Wan. Dia berlagak seperti sedang mencari sesuatu yang tercium hidungnya. “Xiang Wan, Kasim Wang, kalian tidak mandi?”
“Pemangku Pedang, saya sudah mandi dua kali hari ini,” Wang Bi menjawab dengan heran.
“Nona, aku juga sudah mandi tadi pagi.”
“Oh. Lalu kenapa ada bau asam di sini? Cuka siapa yang tumpah?”
Li Fengran mendekat kepada Nangong Zirui. Dia melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan barusan, kemudian pura-pura terkejut.
“Aiya! Yang Mulia, ternyata bau asamnya berasal darimu! Yang Mulia, berapa banyak cuka yang kamu tumpahkan hari ini?”
Nangong Zirui mendelik. Wanita ini jelas tahu kalau dia sedang tidak senang karena kedekatannya dengan Mo Wei, tapi masih berani mengolok-oloknya.
Ingin sekali Nangong Zirui menarik kepalanya, menarik tengkuknya dan menggigit telinganya sampai memerah. Dia juga ingin sekali menggigit leher jenjang itu yang beberapa hari ini terus menghantuinya. Tapi, itu jelas tidak boleh.
“Berhenti mengejekku!”
“Yang Mulia, kamu cemburu?” Li Fengran melemparkan tatapan menggoda.
“Siapa yang cemburu?”
“Kamu jelas cemburu.”
“Tidak. Untuk apa aku cemburu?”
“Benar, untuk apa kamu cemburu? Lain kali jika aku bertemu dengan Mo Wei lagi, Yang Mulia tidak boleh marah.”
“Masih ada lain kali?”
“Tentu saja!”
“Xiao Feng, apa kamu pikir nyawamu ada banyak?”
Li Fengran malah tertawa. Wajah cemburu Nangong Zirui sangat imut. Dia bisa melihat wajah yang kebanyakan ketus dan dingin itu berubah menjadi merah seperti udang rebus.
Nangong Zirui jelas ada perasaan untuknya, tapi tidak bisa mengakuinya karena begitu banyak alasan menghalanginya. Li Fengran juga tidak menuntut, dia hanya ingin Nangong Zirui di sisinya dan mereka bisa terus berdampingan.
“Nyawaku cuma ada satu, dan itu sudah diberikan pada Yang Mulia,” ucap Li Fengran. “Yang Mulia, bagaimana kalau kamu juga menerima bagian lainnya? Aku pasti akan memberikannya pada Yang Mulia.”
“Termasuk tubuhmu?”
“Tubuhku?” Li Fengran menatap tubuhnya dan bergidik. “Yang ini tidak boleh.”
Nangong Zirui akhirnya tersenyum. Wajah masamnya sudah berubah dan bau cuka yang menyengat itu sudah hilang secara perlahan.
__ADS_1
“Berhenti bercanda. Mari bicarakan hal serius.”