
Pagi harinya ketika matahari baru saja terbit dari ufuk timur, orang-orang sudah ribut berkumpul di dekat gerbang desa. Li Fengran yang masih setengah mengantuk pun mau tak mau harus bangun untuk melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Pagi-pagi buta begini, tidakkah mereka seharusnya pergi ke ladang atau bekerja?
“Siapa kamu? Untuk apa kamu membawa banyak orang kemari?”
Itu suara Chen Ping, yang menggema di udara. Segera saja Li Fengran berlari menyusuri kerumunan, kemudian dia sangat terkejut saat melihat seseorang berdiri di tengah gerbang desa. Wajahnya itu tampak sangat lelah, namun begitu melihat Li Fengran, rona wajahnya telah kembali seakan seluruh darahnya mengalir lagi.
“Yang Mulia? Mengapa kamu kemari?” tanya Li Fengran.
Semua orang yang mendengar perkataannya refleks membelalakkan mata, dagu mereka hampir jatuh karena mulut yang terbuka. Yang Mulia?
Mereka pikir siapa yang begitu berani menaiki gunung dan membuat keributan sepagi ini. Desa mereka adalah desa bandit, orang biasa seharusnya tidak membahayakan diri dengan datang kemari.
“Aku datang untuk menjemputmu, Xiao Feng.”
Nangong Zirui mulai tersenyum. Dia telah menaiki kuda sepanjang malam demi bisa mencapai tempat ini. Di bekalangnya adalah para pasukan khususnya yang ia perintahkan untuk membawa sejumlah besar bahan makanan dan bahan sandang, yang semalam ia ambil dari gudang harta kerajaan.
Rasanya begitu mencapai desa ini, semua bebannya menghilang. Bisa melihat kembali Li Fengran, si gadis yang suka menambah masalah itu baik-baik saja, tidak dipungkiri membuat hatinya menjadi tenang. Sepanjang jalan ia tidak berhenti berpikir, ia khawatir para bandit ini memperlakukannya dengan tidak sopan.
Tapi, dugaannya sepertinya salah.
Chen Ping yang menyadari identitas Nangong Zirui, kemudian segera berlutut sembari mengepalkan kedua tangan di dada dan berkata, “Saya, Chen Ping, memberi hormat kepada Yang Mulia Raja.”
Tidak ingin menambah masalah, para penduduk di belakangnya ikut menyembah. Nangong Zirui menyuruh mereka berdiri, kemudian memandangi Chen Ping dari atas sampai bawah.
“Apakah kamu adalah pemimpin mereka?”
“Menjawab, Yang Mulia, benar. Saya adalah Chen Ping, kepala desa kecil ini. Mohon Yang Mulia mengampuni atas penyambutan yang tidak baik ini.”
Meskipun Chen Ping adalah bandit yang suka merampok orang tapi tidak membunuh, terhadap Raja, dia tidak berani bertindak lebih jauh. Bagaimanapun, dengan kekuasaannya, seharusnya Raja sudah lama membasmi bandit gunung yang meresahkan sepertinya.
Tapi, dia tidak melakukan itu dan memilih pura-pura buta, hanya agar keberadaan desa di atas gunung ini tidak terekspos. Sekarang, dia sendiri justru datang kemari untuk memastikan.
“Tidak apa-apa. Aku sudah mendengar perihal kejadian kemarin. Xiao Feng, kamu melakukannya dengan sangat baik,” ucap Nangong Zirui.
“Yang Mulia, kamu tidak akan menghukumku karena melanggar perintah, kan?”
“Memangnya perintah apa yang kamu langgar?”
“Aku membagi jumlah bahan pangan dan sandang untuk korban bencana menjadi dua dan memberikannya pada Chen Ping dan saudara-saudaranya, juga malah tetap di sini dan tidak pergi.”
“Kamu memang bersalah, tapi itu tidak penting lagi.”
Akhirnya Li Fengran bisa menghirup udara bebas dengan napas yang lega. Karena Nangong Zirui sudah mengatakannya, maka tidak perlu khawatir lagi.
Li Fengran hanya ingin memarahi Mo Wei karena pria itu tidak menyampaikan pesannya dengan baik. Li Fengran hanya menyuruhnya memberitahu situasi, bukan menyuruhnya datang langsung kemari dan membuat semua orang terkejut.
Dasar pengawal pembuat masalah!
__ADS_1
Nangong Zirui beralih menatap Chen Ping lagi. Sepertinya, wajah ini sangat familier, seakan-akan dia pernah bertemu sebelumnya. Chen Ping hanya punya satu mata, jadi ketika tahu seseorang mengamatinya, matanya yang besar menjadi sangat waspada dan perubahan di ekspresi wajahnya sangat jelas.
“Yang Mulia, apakah ada yang salah dengan saya?” tanya Chen Ping ragu.
“Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?”
“Orang kecil ini tidak mungkin pernah bertemu orang seagung Yang Mulia,” Chen Ping menjawab.
“Mungkin, aku yang salah mengingat. Kepala Chen, bisakah kamu membawaku berkeliling sebentar di desamu?”
Chen Ping lebih terkejut lagi. Selain datang secara langsung untuk menyelamatkan sandera, dia juga malah ingin berkeliling? Semua pemahamannya terhadap Raja yang hanya mementingkan cara merebut kembali kekuasaan di tiga wilayah negara bagian semuanya runtuh.
Raja di mata Chen Ping sebelumnya adalah Raja yang tidak mementingkan rakyat, hanya peduli pada posisinya dan bagaimana dia memperkuat kedudukannya. Sekarang, stigma itu perlahan berubah.
“Tentu, Yang Mulia.”
Lantas, Nangong Zirui dipandu mengelilingi desa. Embun masih menggantung di ujung dedaunan, aroma rumput yang basah tertiup angin. Itu mengalirkan kesejukan yang tidak ditemukan di istana. Di sini, matanya bebas memandang apapun yang dilihatnya.
Rumah sederhana milik penduduk, halaman berdebu yang basah, bekas api unggun yang masih menyala, semuanya begitu sederhana namun tanpa berpikir lama pun, Nangong Zirui dapat merasakan kehangatannya. Desa di atas gunung yang menjadi sarang bandit ini, tidak lebih dari sebuah desa biasa yang penduduknya saling mengandalkan untuk bertahan hidup.
Li Fengran membiarkan Nangong Zirui pergi berkeliling bersama Chen Ping, sementara dirinya membersihkan diri. Bekas api unggun semalam masih terlihat di tengah halaman desa. Ia tersenyum mengingat kembali momen yang hangat malam tadi. Rasanya, seperti berada di perkemahan musim panas yang seru.
Chen Ping membawa Nangong Zirui ke tepi danau yang menjadi sumber kehidupan penduduk desa. Mereka berdiri memandang danau yang membentang luas, yang tepian seberangnya merupakan sebuah hutan dengan pohon rimbun dan rapat. Permukaan danau tampak bersinar disinari cahaya matahari pagi.
“Saya tidak menyangka, wanita itu akan membuat seseorang yang duduk di kursi paling tinggi di istana datang kemari. Yang Mulia, kamu tidak sama seperti yang dirumorkan,” ucap Chen Ping.
“Yang Mulia tidak mungkin tidak tahu.”
“Sebenarnya, sebagian besar dari rumor itu memang benar. Tapi, seserius apapun rumor, tetap tidak akan bisa mengalahkan karakter ketika bertemu secara langsung.”
Nangong Zirui terdiam sejenak.
“Jika Xiao Feng tidak menyuruh pengawalku kembali melaporkan situasinya dan berkata ini adalah salahku, aku selamanya akan mengabaikan tempat ini. Aku selamanya tidak akan tahu bahwa jauh di atas gunung yang selalu kupandangi dari kejauhan ini, ternyata terdapat kehidupan yang begitu hidup dan tenang.”
Chen Ping memandanginya sekilas, lalu melemparkan tatapannya ke seberang danau. Berbagai pemikiran menyambanginya lagi. Ia hidup sebagai bandit dan merampok orang kaya untuk menghidupi warga desa.
Jika bukan karena terpaksa, dia juga tidak ingin melakukan pekerjaan ini. Dengan tubuhnya, dia setidaknya masih bisa menjadi kuli atau buruh di pasar. Tapi, siapa yang akan berani mempekerjakannya? Apalagi, dia hanya punya satu mata.
“Sepertinya, keputusanku untuk mempercayai Yang Mulia sekali adalah hal yang tepat,” ucapnya tiba-tiba. Nangong Zirui tersenyum samar.
“Apa yang dilakukan Xiao Feng sampai dia bisa membuatmu mempercayaiku?”
Chen Ping lantas mengeluarkan gantungan giok yang ia terima kemarin. “Dia memberiku ini.”
Melihat giok pemberiannya ada di tangan Chen Ping, Nangong Zirui terkekeh. Wanita itu benar-benar bisa memberikan apapun. Bahkan, barang selangka ini yang tidak ternilai pun diberikan pada orang lain dengan mudah. Li Fengran, benar-benar di luar pemikirannya.
“Aku menerimanya karena aku tahu ini adalah pemberian Yang Mulia. Dia begitu berani bertindak dan sukarela menjadi sandera, bahkan memberikan hadiah pemberian Raja kepadaku. Jika aku tidak menerima dan menuruti keinginannya, bukankah terlalu tidak tahu diri?”
__ADS_1
“Itu bukan hadiah. Aku memberikannya sebagai tanda keselamatan.”
“Yang Mulia, setelah mengetahui desa ini adalah sarang bandit, apakah kamu akan menghancurkannya dan memenjarakan kami?”
Nangong Zirui langsung menggelengkan kepala.
“Aku tidak akan menghancurkan ratusan kehidupan hanya karena alasan yang tidak cukup masuk akal. Sebaliknya, jika kamu bersedia, kamu bisa turun gunung mencari pekerjaan lain.”
Chen Ping lagi-lagi tidak bisa menahan keterkejutannya.
“Kepala Desa Chen, aku memberi kalian pengampunan atas kejahatan mencuri, menjarah, dan merampok. Kelak, kalian tidak perlu lagi menjadi bandit dan hidup bersembunyi.”
“Apa maksud Yang Mulia?”
Nangong Zirui melambaikan tangannya, kemudian salah seorang pengawal menghampiri sambil membawa sebuah kotak kayu dan menyerahkannya pada Nangong Zirui. Pria itu membukanya, kemudian mengambil isinya dan memberikannya kepada Chen Ping.
Tangan Chen Ping bergetar dan tubuhnya tidak stabil.
“Ini… Plakat pengampunan dan kesetiaan?”
Nangong Zirui mengangguk.
“Dengan adanya benda ini, kamu dan seluruh penduduk desamu sudah bisa hidup terang-terangan tanpa perlu dicap sebagai mantan penjahat atau keturunan pendosa lagi. Kepala Chen, kehidupan dan kematian rakyatku di desa ini, aku serahkan padamu.”
Chen Ping langsung berlutut dan membungkukkan tubuhnya. “Saya, Chen Ping, menerima perintah Yang Mulia Raja.”
“Bangkitlah.”
Tiba-tiba, suara Li Fengran mengagetkan mereka. Wanita itu berlari ke tepian danau, menghampiri Chen Ping dan Nangong Zirui. Tampilannya sudah jauh lebih baik ketimbang tadi. Wajahnya sudah bersih dan tubuhnya sudah segar. Dia menatap kedua pria itu secara bergantian.
“Apakah kalian baru saja bicara soal perintah rahasia?” tanyanya.
Nangong Zirui menggelengkan kepala dan menyentil dahinya dengan jari. Li Fengran sedikit meringis sambil mengusap dahinya.
“Pikiranmu itu harus dibersihkan dan ditata lagi. Tidak ada perintah rahasia apapun di sini,” ujar Nangong Zirui.
“Kepala Desa Chen, bantuan yang kuberikan mungkin tidak seberapa. Aku harap, kalian dapat hidup dengan aman dan damai.”
“Saya mewakili penduduk desa berterima kasih kepada Yang Mulia.”
Ketiga orang itu kemudian kembali ke desa. Hari sudah lumayan siang dan matahari sudah mulai naik. Nangong Zirui dan Li Fengran diantar sampai gerbang desa, sementara para pengawal khusus baru saja selesai meletakkan peti-peti bahan pangan dan sandang.
Para penduduk kembali berkumpul dan berterima kasih, lalu setelah itu rombongan Raja perlahan mulai menghilang menuruni gunung.
Salah seorang wanita berusia empat puluhan yang kemarin menggandeng Li Fengran dan menariknya untuk memasak bersama mendekati Chen Ping, lalu bertanya dengan penasaran, “Siapa sebenarnya wanita itu? Mengapa Raja sampai repot-repot datang kemari untuk membawanya?”
Chen Ping hanya terkekeh dan tidak berniat menjawabnya, membuat rasa penasaran wanita itu terus menggantung.
__ADS_1