The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 47: Disergap


__ADS_3

Kecanggungan yang ditimbulkan dari kejadian semalam tidak berakhir saat keduanya berpisah malam tadi. Bahkan setelah pagi pun, Li Fengran dan Nangong Zirui tidak berniat bertegur sapa seperti biasa. Seakan bisu, keduanya sama-sama terdiam dan tidak mengatakan apapun.


Pelayan sampai bingung. Mereka mengira tenggorokan Raja dan Pemangku Pedang sedang sakit, jadi tidak bicara satu sama lain.


Su Ren yang biasanya banyak bicara hal-hal tidak berguna juga ikut terdiam, dia takut kalau Raja sedang marah dan dia memperparahnya.


Bagaimana tidak, Li Fengran sendiri bingung harus menghadapi Nangong Zirui. Dia bingung harus bagaimana berhadapan dengannya.


Meskipun Li Fengran tidak berpikiran sempit, tapi seseorang telah melihat bagian atas tubuhnya tanpa pakaian. Bagaimanapun, Nangong Zirui tetap seorang pria. Tidak mustahil dia memiliki pemikiran-pemikiran liar.


Bahkan setelah meninggalkan Jinchuan pun, Li Fengran dan Nangong Zirui masih belum kembali seperti semula. Keduanya selalu membatasi interaksi dan bicara seperlunya.


Li Fengran bahkan sengaja berkuda di barisan paling depan, hanya semata-mata untuk menghindari kecanggungan saat Nangong Zirui ada di dekatnya. Jika Mo Wei melihat ini, pengawal itu pasti sudah tertawa terbahak-bahak.


Rombongan kemudian beristirahat di sebuah penginapan di pinggir kota. Perbatasan antara Jinchuan dengan ibukota ditandai oleh gunung dan hutan yang membentang sejauh lima mil. Pada saat musim semi, pepohonan di hutan menghijau dan udara sangat segar.


Seorang pelayan mengantarkan beberapa camilan dan minuman ke beberapa meja, kemudian kembali lagi ke dapur. Para pengawal pengiring minum seperti unta yang kehausan, menenggak habis air putih di teko sampai tandas. Beberapa di antaranya sampai berebut dengan teman di sampingnya.


“Tambahkan lagi airnya,” ucap Nangong Zirui kepada pelayan. Pelayan muda pria berusia sekitar enam belas tahunan itu mengangguk dan langsung bergegas.


Penginapan itu tidak terlalu keci. Bangunan utamanya terbuat dari kayu dan dibangun dua lantai. Lantai bawah digunakan sebagai restoran, lantai atas untuk kamar inap sementara halaman menjadi kedai persimpangan. Sekelilingnya dibatasi oleh pagar kayu setinggi pinggang orang dewasa.


Suasananya lumayan sejuk. Li Fengran menatap sekeliling, menatap pengunjung lain yang asyik makan dan berbincang. Kemudian, matanya tiba-tiba menangkap beberapa pengunjung dengan gelagat aneh.


Para pengunjung di bangku pojok itu menatap ke arah tempat duduknya dan tempat Nangong Zirui tanpa henti, diam-diam namun sangat mencurigakan.


“Astaga, apakah akan ada adegan penyerangan mendadak di pos peristirahatan?” gumam Li Fengran. Dia sedikit bergidik ketika membayangkan penyergapan yang biasanya terjadi ketika rombongan beristirahat dan sedang kurang waspada.


Nangong Zirui juga merasakan firasat buruk, namun ekspresinya tetap tenang seolah-olah tatapan orang-orang itu bukan apa-apa baginya. Dia bukannya tidak tahu risiko keluar dari istana, namun jika dia ribut, maka musuh akan waspada dan langsung menyerang. Yang dapat dia lakukan adalah mengamati sesaat.


“Xiao Feng, apakah kamu gugup?” tanyanya sambil melirik Li Fengran. Matanya tetap tenang dan itu membuat Li Fengran terkejut.


“Yang Mulia, kamu menyadarinya?”

__ADS_1


“Hehe. Hanya beberapa tikus kecil, tidak perlu khawatir.”


Nangong Zirui memutar cangkirnya. Para pengawal melihat Raja mereka diam-diam, memahami kode dan instruksinya. Para pengawal kemudian pura-pura mabuk, kemudian pura-pura pingsan di mejanya. Seulas seringaian tajam yang meremehkan terukir di sudut bibir Nangong Zirui.


Saat para pengawal pura-pura pingsan, sekumpulan orang mencurigakan itu bangkit dari tempat mereka. Mereka berjalan memutar, seperti sedang membentuk sebuah formasi pengepungan.


Sayang sekali mereka payah karena menganggap Li Fengran dan Nangong Zirui tidak menyadarinya. Salah seorang di antara mereka kemudian pura-pura hendak keluar dari penginapan.


Tepat ketika kakinya selangkah lagi menuju area luar, orang itu tiba-tiba berbalik dan sebilah pedang tajam tiba-tiba langsung muncul dan menyasar leher Nangong Zirui. Namun sebelum bilahnya mengenai leher, Nangong Zirui melempar cangkirnya kepada orang itu, dia menggunakan tenaga dalamnya. Bukan hanya cangkirnya yang pecah, orang yang mengarahkan pedang juga tersungkur sejauh lima meter, terkapar di atas pagar yang runtuh.


“Sial! Serang!” seru yang lain.


Ternyata benar. Mereka menyusun formasi pengepungan. Penginapan seketika dipenuhi orang-orang berbaju hitam. Li Fengran segera mengambil Pedang Xingyu, kemudian menarik Nangong Zirui ke belakangnya. Matanya menatap para penjahat penuh waspada. Tiba-tiba saja, kecanggungan yang berlangsung lebih dari sepuluh jam hilang seketika.


Nangong Zirui diam-diam tersenyum. Apakah begini rasanya dilindungi seorang wanita?


Para penjahat melompat menyerang, namun serangan mereka terpental karena para pengawal yang pura-pura tidur mengangkat senjata mereka dan memblokirnya.


Halaman yang semula tenang berubah menjadi arena pertarungan ganas. Pihak pengawal dengan berani melawan para penjahat itu, menyasar tubuh mereka dengan pedang.


Dia merasa sekumpulan penjahat ini adalah pembunuh bayaran dengan kemampuan tinggi. Jika tidak, para pengawalnya mungkin sudah sejak tadi membasmi mereka. Namun, kemampuan para pengawalnya juga tidak bisa diremehkan. Para pengawal ini adalah pengawal khusus, kemampuan bertarung mereka beberapa kali lipat lebih hebat daripada pengawal biasa.


“Apa mereka bisa diandalkan?”


“Jika tidak bisa diandalkan, aku tidak akan berdiri tenang di belakangmu. Xiao Feng, aku tidak pernah mempekerjakan orang tidak berguna.”


Nangong Zirui melipat tangannya di dada. Baginya, adegan pertarungan antara pengawalnya dan para penjahat seperti pertarungan di arena pertandingan.


Ada pertarungan yang lebih hebat dan lebih mengerikan: medan perang. Para pembunuh ini tidak sebrutal musuh di medan perang.


“Kalau begitu, aku juga harus berguna,” ucap Li Fengran.


Tanpa diduga, dia mendorong Nangong Zirui ke belakang dan dia sendiri melompat ke depan. Li Fengran bergabung dengan para pengawal melawan para pembunuh. Nangong Zirui menghela napasnya dan menggeleng-gelengkan kepala. Pemangku Pedangnya ini, apakah dia cari mati?

__ADS_1


“Dia pikir  beladirinya sehebat itu?”


Li Fengran bertarung tanpa mengeluarkan pedang dari sarungnya. Dia hanya mendorong dan memukul setelah menghindar. Seorang pembunuh kemudian menendang perutnya, memaksa Li Fengran mundur. Untungnya, Nangong Zirui dengan sigap menahan punggungnya hingga Li Fengran tetap bisa berdiri.


Li Fengran menatap sekilas Nangong Zirui. Ada emosi yang sulit diterjemahkan di dalam matanya. “Kamu benar-benar ingin bertarung?”


“Mereka bawahanmu, aku juga bawahanmu. Tidak ada alasan bagiku diperlakukan berbeda, Yang Mulia.”


“Baiklah jika itu maumu.”


Nangong Zirui membiarkan Li Fengran bergabung kembali dalam pertarungan. Jumlah pembunuh semakin lama semakin sedikit. Mereka terbunuh dan terkapar.


Namun, itu sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan para pengawal. Seiring waktu, kekuatan tempur mereka juga mulai mengendur karena bertarung terlalu lama.


“Yang Mulia, cepat pergi! Pembunuh ini tidak akan berhenti!” teriak Li Fengran. Jika memungkinkan, dia juga akan lari tunggang langgang.


Nangong Zirui menghela napas lagi. “Bodoh, mana bisa aku meninggalkanmu.”


Lalu, Nangong Zirui tanpa peringatan langsung melompat ke arena pertarungan. Dia menepuk tangan Li Fengran, dan pegangan Li Fengran pada Pedang Xingyu seketika terlepas. Dengan satu gerakan ringan, pedang itu terlepas dari sarungnya dan bilahnya mengkilat tajam.


“Berani kalian mengangguku, maka kalian akan mati!”


Di tangan Nangong Zirui, Pedang Xingyu seperti menari dengan lincah. Pedang itu berhasil melumpuhkan banyak pembunuh kurang dari satu menit.


Kecepatan dan ketepatan Nangong Zirui bahkan tidak dapat dilihat dengan mata biasa. Menyaksikan Pedang Xingyu menjadi senjata pembunuh di tangan Nangong Zirui, Li Fengran terpana dan tatapannya terus mengikuti gerakan pria itu.


Kemampuan beladiri pria itu mungkin setara dengan tingkat master!


Nangong Zirui melirik Li Fengran yang masih bengong, kemudian dia mendorongnya keluar pertarungan dan beberapa pengawal melindunginya. Sementara itu, Nangong Zirui dan pengawal lainnya kembali menghajar para pembunuh dan melukai mereka.


Nangong Zirui terus menggerakkan pedangnya, menangkis dan menepis serangan, lalu mengembalikan serangan sebanyak dua kali lipat. Wajahnya tetap tenang meski darah menciprat ke baju dan sebagian tubuhnya.


Li Fengran terjepit di antara dua situasi: tidak percaya karena Nangong Zirui membunuh orang secara langsung di depannya dan kagum atas kemampuan beladirinya. Sampai tiba-tiba….

__ADS_1


“Yang Mulia, awas!”


__ADS_2