The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 73: Pulang


__ADS_3

"Pemangku Pedang! Pemangku Pedang! Pemangku Pedang!"


"Pemangku Pedang! Pemangku Pedang!"


"Pemangku Pedang!"


Mo Wei dan pasukan pencari bergerak menyusuri hutan. Setelah mendapat petunjuk dari beberapa penduduk yang menyaksikan sebuah kereta mencurigakan keluar ibukota pada fajar, Mo Wei langsung bergegas menyusul dengan mengikuti jejaknya.


Jejak itu sampai ke hutan yang jaraknya lima puluh kilometer dari gerbang masuk ibukota. Mo Wei membagi pasukan menjadi dua grup dan mereka berpencar.


Jika Pemangku Pedang tidak ditemukan hari ini, maka Raja bisa-bisa langsung turun tangan sendiri ke lapangan untuk mencarinya. Mo Wei tidak bisa membiarkan Raja mengambil risiko.


Mereka berteriak sembari melihat ke sekeliling, bertanya-tanya apakah ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Pemangku Pedang untuk mereka. Sudah lebih dari dua hari Pemangku Pedang menghilang, seharusnya dia meninggalkan sesuatu untuk dikenali oleh pasukan kerajaan.


Sampai kemudian, salah seorang pasukan pencari berteriak, "Tuan Mo! Tuan Mo, ada sebuah jepit rambut di sini! Lihat apakah ini bisa menjadi petunjuk untuk menemukan Pemangku Pedang!"


Mo Wei bergegas. "Berikan padaku!"


Mo Wei kemudian mengambil jepit rambut tersebut dan menyelidikinya. Ini jepit rambut wanita, terbuat dari perak murni dan ukirannya lumayan sederhana. Meski sederhana, tapi bahan pembuatannya hanya ada pada para pengrajin terampil dan cukup mahal. Bisa dibilang, pemilik jepit rambut ini adalah orang kaya atau keturunan orang kaya.


Mo Wei tiba-tiba sampai pada suatu kesimpulan: orang yang diculik tidak hanya Pemangku Pedang, melainkan ada beberapa orang gadis lagi!


"Perluas pencarian! Kita susuri hutan sebelah selatan!"


"Baik, laksanakan!"


Mo Wei dan pasukan memperluas area pencarian ke bagian selatan. Ketika sampai, mereka terkejut melihat sebuah kereta kuda sudah hancur tidak berbentuk. Di sekitarnya terdapat sisa-sisa kekacauan mirip sebuah pertarungan.


Mo Wei berjongkok untuk mengecek noda darah yang sudah mengering di atas dedaunan jatuh. Aromanya samar tapi sudah cukup membuktikan keberadaan Pemangku Pedang dan yang lainnya.


"Pemangku Pedang ada di sekitar sini. Cepat, temukan dia!"


Sementara itu, Li Fengran dan kelima gadis baru saja pulang ke kemah setelah mencari buah-buahan untuk dimakan. Li Fengran memberikan buah-buahan yang ia dapat kepada para penculik yang sudah sangat kacau kondisinya.


Bagaimanapun, mereka tidak boleh mati sebelum diadili. Song Jin'er dan keempat temannya mengagumi karakternya yang masih berbelas kasihan kepada orang yang menculiknya, dan sifat seperti ini sangat jarang ditemukan pada gadis-gadis di ibukota.


Mereka tidak tahu, Li Fengran itu sangat perhitungan. Saat ini, dia hanya bersabar dan sedikit mengalah sampai pasukan pencari berhasil menemukan mereka, lalu dia akan menghitung pembalasan dengan para penculik ini nanti.


"Apakah kalian mendengar suara teriakan yang memanggil namaku di kejauhan?" tanya Li Fengran pada kelima gadis. Dia yakin baru saja dia mendengar suara seseorang memanggilnya dengan keras di kejauhan.


Para gadis saling pandang, mereka kemudian hening dan mencoba mendengar sesuatu! Benar! Itu mungkin pasukan pencari!


"Nona, apakah kita pada akhirnya selamat?" tanya Song Jin'er.


"Tentu saja. Bukankah sudah kubilang Raja akan menemukan kita?"


Mata para gadis dipenuhi dengan harapan. Akhirnya setelah terlantar di hutan selama beberapa hari, seseorang berhasil menemukan mereka. Hidup mereka berhasil diselamatkan!


"Bantu aku agar mereka segera menemukan kita!" ucap Li Fengran.


"Bagaimana caranya?"


"Berteriaklah sekeras mungkin. Jika tidak mampu, buatlah suara dari benda lain yang dapat didengar. Jika sulit, gunakan saja mereka!"

__ADS_1


Pada akhir kalimatnya, mata Li Fengran mengarah pada para penculik yang diikat di batang pohon. Para penculik yang masih kelaparan dan kelelahan bergidik ngeri. Mereka tidak menyangka kalau gadis cantik yang terlihat lugu dan penurut seperti Li Fengran, selain memiliki posisi Pemangku Pedang dan terampil beladiri, ternyata pandai memanfaatkan situasi. Mereka telah salah menculik orang!


Li Fengran dan para gadis bekerja sama memberi petunjuk dengan suara. Mo Wei yang berada di dekat area tempat Li Fengran berada seketika memfokuskan pencarian pada asal suara. Tidak salah lagi, itu pasti Pemangku Pedang.


Setelah berjalan beberapa kilometer, Mo Wei dan pasukan melihat sebuah kemah darurat dan bayangan sosok enam orang gadis berdiri di bawah pohon.


"Pemangku Pedang!" teriak Mo Wei. Li Fengran menoleh, dia menghela napas lega.


"Mo Wei! Mengapa kalian lama sekali? Aku hampir mati kelaparan di sini!"


"Akhirnya kami menemukanmu! Pemangku Pedang, apakah kamu baik-baik saja?"


"Lumayan. Apakah Yang Mulia di sana baik-baik saja?"


"Sangat buruk. Dia menggila karena kamu belum ditemukan."


Li Fengran menghela napasnya. Mo Wei pasti bekerja sangat keras untuk mencegah Nangong Zirui mencarinya sendiri. Dengan temperamennya itu, jika Mo Wei tidak melakukan upaya menghentikannya, dia pasti pergi sendirian.


"Pemangku Pedang, apakah mereka ada orang yang menculikmu?" tanya Mo Wei sembari melirik para penculik.


"Ya, tapi hanya kaki tangan. Nanti saja kujelaskan. Sekarang, lebih baik kembali dulu ke ibukota. Gadis-gadis ini sudah sangat sengsara."


Mo Wei kemudian menyuruh seseorang membawakan kereta kuda yang baru untuk Pemangku Pedang dan kelima gadis. Namun, Li Fengran lagi-lagi memilih berkuda ketimbang naik kereta.


Para penjahat dikawal oleh pasukan kembali ke ibukota. Ketika sampai di sebuah pasar desa kecil, Li Fengran meminta Mo Wei berhenti sebentar dan dia membiarkan gadis-gadis makan di kedai untuk mengisi energi, kemudian kembali melanjutkan perjalanan.


Mereka baru tiba di gerbang ibukota setelah sore hari. Di sana, Li Fengran melihat Nangong Zirui berjalan mondar-mandir sembari terus melihat jalan. Di belakangnya terdapat pasukan pengawal istana dan sebuah kereta istana.


Kegelapan di hati Nangong Zirui seakan menghilang ketika dia mendengar suara ini. Nangong Zirui mendongak, matanya berubah cerah dan ekspresinya jauh lebih baik. Dia segera berlari menyambut Li Fengran dan membantunya turun dari kuda.


"Xiao Feng! Apakah kamu tahu betapa gilanya aku ketika kamu hilang? Apakah kamu tahu seberapa khawatirnya aku ketika kamu belum juga ditemukan?"


Sebelum menjawab, Nangong Zirui sudah memeluknya lebih dulu. Li Fengran terkejut, begitu pula dengan orang-orang. Bahkan kelima gadis yang sedang turun dari kereta juga berhenti sejenak.


Wah, pemandangan langka! Raja langsung memeluk Pemangku Pedangnya di depan umum! Tiba-tiba saja para penduduk yang menyaksikan merasa seperti ada di pertunjukkan drama romantis.


Para pengawal memilih menundukkan kepala, sementara Wang Bi hanya tersenyum. Dia senang karena Pemangku Pedang sudah kembali, dengan begitu Rajanya tidak akan khawatir lagi. Selama beberapa hari ini, Raja kehilangan fokusnya dan sering mengacau para menteri karena emosinya.


"Yang Mulia, kita ada di depan gerbang ibukota. Banyak orang yang melihat kita," bisik Li Fengran.


"Jangan pedulikan mereka. Xiao Feng, ayo kita pulang!"


Nangong Zirui melerai pelukannya dan menarik Li Fengran menaiki kereta. Li Fengran menolak, tapi Nangong Zirui tidak ingin membiarkannya. Dia membuatnya duduk di dalam kereta dengan paksa.


Kereta istana melaju diikuti oleh rombongan pengawal. Mo Wei mengawal para penjahat ke Mahkamah Agung, sementara para gadis diantarkan ke rumah masing-masing dengan aman dan selamat. Walau tanpa ada yang menyambut, para gadis ini merasa lega karena sudah kembali ke tempat yang mereka sebut 'rumah' ini.


Di dalam kereta istana, Li Fengran dipaksa duduk di samping Nangong Zirui. Dia tidak nyaman, tapi pria ini sulit dilawan. Li Fengran tiba-tiba teringat pada penculikannya malam itu.


"Yang Mulia, ada sesuatu yang harus kubicarakan."


"Apa itu?"


"Para penculik itu memperdangkan manusia. Mereka adalah kaki tangan. Tolong Yang Mulia tangkap Chen Pang sialan itu!"

__ADS_1


Nangong Zirui mengernyit. "Chen Pang? Maksudmu pengawal Shen Jinglang?"


"Ya! Dia yang menculikku dan hampir membuatku dijual!"


"Kamu yakin?"


"100% yakin. Aku sendiri yang melihatnya! Dan juga para gadis itu, tolong kamu berikan keadilan pada mereka!"


"Keadilan apa?"


"Bantu mereka bebas dari keluarga mereka. Mereka adalah-mmphh."


Nangong Zirui tiba-tiba menciumnya dan tidak membiarkan Li Fengran menyelesaikan kata-katanya. Li Fengran memukul dadanya, namun dia tidak mau melepasnya dan malah menggigit bibir bawahnya.


Kemudian, Nangong Zirui melepasnya sejenak.


"Jangan bicarakan itu dulu. Kamu harus bertanggungjawab atas kegilaanku selama beberapa hari ini karena kehilanganmu," ujar Nangong Zirui. Dia menatap wajah, kemudian turun ke bibir Li Fengran.


"Yang Mulia, kita ada di kereta!"


"Lalu apakah selain di kereta, maka aku bisa melakukannya?"


"Bukan begitu!"


"Tenang saja. Tidak akan ada yang berani mendekati kereta istana milik Raja."


Nangong Zirui menciumnya lagi. Kali ini, Li Fengran tidak melawan dan ikut dalam permainannya. Ketika Nangong Zirui menarik tengkuknya, Li Fengran melingkarkan tangannya di punggung Nangong Zirui dan hanyut dalam kelembutan yang menuntut.


Bukan hanya Nangong Zirui, Li Fengran juga menggila selama beberapa hari ini. Hanya saja dia tidak bisa menunjukkannya demi menjaga mental para gadis agar tidak kehilangan harapan dan bersedih.


Setelah selesai memakan bibir Li Fengran, Nangong Zirui membuat kepala Li Fengran bersandar di bahunya. Li Fengran menurut, dia hampir kehabisan tenaga.


"Kamu pasti sangat lelah, kan?"


"Aku kelaparan. Tapi, aku percaya Yang Mulia akan menemukanku."


"Kamu begitu percaya padaku?"


"Jika aku tidak percaya pada Yang Mulia, maka pada siapa aku harus percaya?"


Nangong Zirui tersenyum.


"Aku akan menyuruh orang untuk menangkap Chen Pang. Mengenai masalah para gadis, ceritakan padaku detailnya setelah sampai di istana."


"Ya, aku akan menurutimu."


"Xiao Feng, jangan pernah menghilang dari sisiku lagi."


"Tidak akan."


*


...Haloo pembaca kesayangan Otor, kita bertemu lagi! Maaf ya Otor baru bisa up hari ini karena beberapa hari lalu ada keperluan, tapi Otor tahu kalian nggak akan ninggalin Otor sendirian hihihi. So, silakan nikmati lagi ceritanya, kapan-kapan Otor usahain buat up lebih ya! ...

__ADS_1


__ADS_2