The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 42: Rumah Bordil Xiaoqin


__ADS_3

Pagi harinya, Li Fengran sudah keluar dari kediaman Su dan pergi ke kota diam-diam. Dia sengaja bangun siang dan membiarkan Nangong Zirui pergi lebih dulu ke daerah yang dilanda bencana. Tanpa diketahui siapapun, dia pergi lewat pintu belakang dan tiba di tengah kota yang mulai sibuk.


Li Fengran mampir ke sebuah toko pakaian, membeli dua potong gaun dan mengganti seragamnya. Satu gaunnya ia simpan ke dalam sebuah tas dari kain, kemudian keluar setelah beberapa saat. Sepanjang jalan, orang-orang silih berganti menatapnya, mengagumi kecantikan wajahnya.


Dalam balutan busana seragam pejabat kekaisaran, Li Fengran sama seperti laki-laki, tapi ketika dia menanggalkannya dan mengganti bajunya dengan gaun wanita, maka dia adalah keindahan yang sesungguhnya. Ini kali keduanya memakai pakaian normal wanita dan berkeliaran di luar istana, maka Li Fengran agak terganggu.


Dia berjalan cepat dan sampai di sebuah restoran. Di lantai atas, Mo Wei sudah menunggunya sesuai perintah Raja. Raja tahu kalau Pemangku Pedang ingin menemuinya, dan karena sudah paham sifat Pemangku Pedang, Mo Wei memilih menunggu di restoran ketimbang mendatanginya langsung di kediaman Su.


Mo Wei itu tampan dan masih muda. Jadi, ketika si cantik bertemu dengan si tampan, mereka menjadi pusat perhatian. Orang-orang di restoran semuanya memandangi mereka dengan penasaran, kemudian berbalik saat Li Fengran menatap mereka dengan sorot mata garang seperti singa betina yang marah anaknya diganggu.


Impuls otak Mo Wei belum bekerja sempurna ketika Li Fengran menghampirinya. Dia menatap Li Fengran tanpa berkedip, kemudian bertanya, “Nona, kamu siapa?”


“Hei, yang benar saja!”


“Apakah ini masih Pemangku Pedang yang menghajarku tempo hari?”


“Mo Wei, jangan bicara omong kosong lagi!”


Barulah Mo Wei tertawa. Dia mempersilakan Li Fengran duduk, kemudian mulai membicarakan hal serius. “Kamu harus menebus kesalahanmu,” ucap Li Fengran.


“Ah? Memangnya apa kesalahanku?”


“Bukankah aku hanya menyuruhmu melaporkan situasiku pada Raja? Mengapa kamu sampai membuatnya datang sendirian dan pergi kemari?”


Mo Wei mengangguk seolah-olah tercerahkan. “Ah, aku memang melaporkan situasimu. Hanya saja….”


“Hanya saja apa?”


“Aku mengatakan kalau kamu pergi merampok dana bantuan bersama bandit gunung. Mungkin Yang Mulia menganggapnya serius.”


“Kamu benar-benar minta dihajar lagi, ya!”


“Jangan memukulku lagi! Apa kamu tidak tahu kalau Yang Mulia sudah memutuskan maka tidak ada seorang pun yang bisa mencegahnya?”


Li Fengran tentu saja tahu, tapi jika Mo Wei tidak menambahkan yang lain untuk memprovokasi, Nangong Zirui tidak mungkin datang sendiri.


Sepenting apapun posisi Pemangku Pedang, keselamatan dirinya sebagai Raja adalah yang paling utama. Kecuali, kecuali jika Nangong Zirui punya alasan lain yang membuatnya bertindak gegabah seperti itu.

__ADS_1


“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Sekarang bantu aku mengumpulkan uang!”


“Bagaimana caranya?” tanya Mo Wei.


“Ikut aku!”


Li Fengran membawa Mo Wei ke sebuah toko kosmetik, lalu memaksanya memakai gaun dan mendandaninya. Karena rambutnya panjang dan wajahnya lumayan bagus, tidak sulit bagi Li Fengran untuk mengubahnya menjadi seorang gadis. Dia menambahkan kain yang digulung sebesar kepalan tangan ke bagian dada dari gaun, sehingga bentuk tubuh Mo Wei nyaris sempurna.


Mo Wei bersedih dan frustasi. Astaga, dia seorang pengawal perkasa, hari ini malah didandani menjadi seorang gadis imut yang cantik! Apa Pemangku Pedang sudah gila?


“Pemangku Pedang, kamu benar-benar kejam!” teriaknya frustasi.


Li Fengran tersenyum penuh kemenangan. Mereka berada di tengah kota. Si cantik sekarang bertambah satu lagi. Mo Wei dan Li Fengran sama-sama menjadi pusat perhatian.


“Eh, jangan berkata begitu. Kamu sekarang adalah kakaku, saudari, mengapa kamu tidak berjalan lebih cepat?”


Sepanjang jalan, Mo Wei terus menggerutu dan tak henti-hentinya memarahi Li Fengran. Kalau saja bukan karena perintah Raja, dia sudah sejak tadi melarikan diri dan menghapus riasannya. Mo Wei kehilangan harga dirinya karena Li Fengran tanpa bisa melawan. Ini benar-benar sangat menyebalkan.


Li Fengran tiba-tiba berhenti di depan sebuah bangunan. Dia mendongak untuk melihat tulisan di papan gedung tersebut dan tersenyum lebar.


Li Fengran benar-benar membawa Mo Wei masuk ke dalam gedung. Karena hari masih pagi, belum banyak pengunjung yang datang. Seorang bibi kemudian menghampiri mereka, memperhatikan tubuh dan wajah sekilas. Seketika tatapannya menjadi gembira dan dengan ramah menyambut keduanya.


“Astaga! Nona-nona, kalian sangat cantik! Apa yang membuat kalian datang kemari?”


“Mama, saudariku ini sangat pandai menari, tapi tidak tahu di mana dia harus menunjukkan bakatnya. Bisakah kamu membantuku mencarikan tempat untuknya?”


Bibi itu lalu menatap Mo Wei yang sudah disulap menjadi wanita. Karena modifikasi Li Fengran sangat sempurna tanpa celah, bibi tersebut tidak mampu melihat kejanggalan dan sepenuhnya menganggap Mo Wei sebagai wanita. Si bibi tertawa dan di matanya Li Fengran bisa melihat tumpukan uang berjalan.


“Tentu, tentu. Xiaoqin selalu menyediakan tempat untuk nona berbakat seperti kalian. Tapi sebelum itu, biarkan aku melihat seberapa bagus tarian dari saudarimu.”


“Tentu.”


Lalu si bibi membawa Li Fengran dan Mo Wei ke sebuah ruangan. Mo Wei cemberut dan sangat kesal. Li Fengran tiba-tiba berbisik, “Kamu bisa menari, kan? Tarian pedang, atau apa saja. Jika kamu mencoba kabur, aku akan melaporkanmu kepada Raja karena membawaku kemari.”


Astaga! Li Fengran adalah ular berbisa!


“Akan aku usahakan,” ucap Mo Wei dengan sangat enggan.

__ADS_1


Kemudian, si bibi memanggil beberapa gadis dan menyuruh mereka memainkan musik. Saat musik mengalun, Li Fengran mendorong Mo Wei ke tengah ruangan dan menyuruhnya menari.


Mo Wei kesal, tapi harus ia tahan sampai mati. Nanti setelah tugasnya selesai, dia akan menuntut ganti rugi kepada Raja!


Si bibi agak bingung karena Mo Wei tak kunjung bergerak. Li Fengran kemudian berkata padanya, “Mama, saudariku mudah merasa malu. Bisakah kamu memberinya sebuah cadar?”


“Oh, begitu. Baiklah, wanita yang memakai cadar saat tampil memang lebih menarik perhatian.”


Si bibi menepukkan tangan, kemudian seorang wanita datang membawa sehelai cadar putih yang tipis. Li Fengran memakaikannya di wajah Mo Wei sembari berbisik, “Dengan cadar ini, wajahmu tidak akan ketahuan.”


Si bibi yang di matanya hanya ada uang tidak memikirkan latar belakang dari kedua orang yang baru saja datang padanya ini. Baginya, asalkan wanitanya cantik dan menarik, maka tidak masalah.


Si bibi hanya berpikir kalau dua gadis yang datang ini dari luar kota dan sedang mencari pekerjaan. Mereka punya wajah cantik, dan itu adalah peluang besar dalam bisnis.


Jadi, dia menerima Li Fengran dan Mo Wei tanpa syarat. Kebetulan, malam ini akan diadakan pertemuan para pengusaha langganannya. Jika mereka tahu ada seorang pendatang yang sangat cantik dan pandai menari, maka pundi-pundi uang itu akan bergerak sendiri ke depan matanya.


Mo Wei dan Li Fengran diberi makanan dan pakaian lalu ditempatkan di sebuah ruangan khusus. Sementara itu, gadis-gadis lain yang juga bekerja sebagai wanita penghibur sedang sibuk merias diri dan bersiap menyambut tamu-tamu mereka.


Keberadaan dua gadis pendatang yang cantik, sebenarnya cukup menarik perhatian. Tapi, mereka merasa keduanya senasib dan sepenanggungan, sehingga tidak memberi masalah.


“Pemangku Pedang, aku lihat yang sebenarnya sedang memprovokasi Raja adalah kamu, bukan aku,” ujar Mo Wei saat mereka ditinggal berdua. “Kamu tidak memberitahu Raja tentang rencanamu ini, kan?”


“Tentu saja tidak. Jika aku memberitahunya, dia akan menolaknya dan bahkan akan menyeretku seharian.”


“Kamu benar-benar berani.”


“Kalau aku tidak berani, siapa lagi yang akan berani? Para pengusaha dan orang kaya yang pelit itu sudah saatnya diberikan pelajaran.”


Ucapannya memang masuk akal, tapi bukan berarti Mo Wei setuju atas caranya ini. Tidak bisakah wanita itu mencari cara lain? Mo Wei juga sudah geram, tapi tidak harus sampai menjadikannya umpan seperti ini!


“Kamu tidak boleh memberitahu Raja soal ini!” ucap Li Fengran.


“Cepat lambat Raja juga akan tahu.”


“Urusan itu, nanti saja pikirkan akibatnya. Aku sangat ingin melihat berapa banyak harta kekayaan yang rela diserahkan karena rayuan seorang wanita.”


Mo Wei menggelengkan kepalanya frustasi.

__ADS_1


__ADS_2