
Ibu Suri dan iringan para pelayan yang selalu mengikutinya sedang berjalan-jalan di sekitar Istana Belakang sambil menikmati pemandangan.
Musim semi yang sedang memuncak juga sudah memekarkan ribuan kuntum bunga yang ditanam di istana. Namun, itu tampaknya tidak serta merta menjadikan Ibu Suri bahagia. Dia sedang memiliki suasana hati yang buruk.
“Bunga-bunga ini indah saat mekar di musim semi. Sayang sekali, mereka tidak dapat hidup di tempat yang semua orang bisa menikmati keindahannya,” ucapnya sambil menghela napas. Dia kemudian menggunting salah satu cabang bunga yang tidak diinginkan dan menjatuhkannya di tanah.
“Ketika dia tidak bisa mengontrol diri dan memaksa tumbuh, maka dia hanya akan terbuang sia-sia,” ucapnya lagi sambil memandangi cabang bunga yang baru saja dipotong.
Para pelayan tahu Ibu Suri sedang memiliki masalah hati. Ucapannya barusan bukan semata-mata menerangkan tentang bunga, melainkan mewakili makna tentang wanita.
Wanita, tentu saja wanita istana, seharusnya tidak terburu-buru dan bisa mengerti situasi. Sayangnya, tidak semua wanita istana yang masuk ke dalam harem mengerti pengajarannya.
Dari semua istri putranya, mungkin hanya Ling Sui yang tidak menunjukkan ambisi menjadi seorang Ratu yang sempurna dan memegang semua kekuasaan tertinggi di harem. Dia baru menyadari kalau Ling Sui adalah menantu yang baik.
Ibu Suri selama ini hanya memandangnya sebelah mata dan tidak memikirkan dia dari sudut pandang yang berbeda. Setelah dia tiada dan pengganti masuk, semuanya jadi sangat terlihat.
Shen Lihua, Su Min, dan Fei Jia, Ibu Suri tidak memiliki keyakinan yang pasti terkait isi pemikiran dan ambisi yang dimiliki oleh dirinya masing-masing. Permasalahannya kian menjadi rumit tatkala kabar mengenai kejadian semalam sampai ke telinganya tadi pagi. Mau tidak mau masalah itu menjadi simpul baru yang membelenggu hatinya.
“Apakah Raja sudah memutuskan hukumannya?” tanya Ibu Suri kepada pelayannya.
“Menjawab, Ibu Suri. Saya dengar Yang Mulia mengasingkan Selir Su ke Istana Dingin dan posisinya sebagai selir diturunkan menjadi nona. Yang Mulia juga menutup akses terhadap siapapun dan hanya memberinya seorang pelayan.”
“Tidak membunuhnya sudah merpakan bentuk pengampunan yang besar. Putraku benar-benar murah hati. Apakah hukuman untuk Su Ren juga sudah diputuskan?”
“Sudah, Ibu Suri. Yang Mulia memuruskan memberi Tuan Su hukuman mati dan dia akan dieksekusi pada akhir musim semi nanti. Sementara untuk pemilik Rumah Bodril Xiaoqin yang menjadi kaki tangannya, dia dijatuhi hukuman pengasingan dan menjadi budak pemerintah, hari ini akan dikirim ke perbatasan bersama semua orang yang terlibat.”
Ibu Suri memandangi bunga-bunganya sambil mendengarkan. Pikirannya mengatakan kalau hukuman yang diberikan putranya memang sudah setimpal, tapi ada semacam ketidakpuasan dalam hatinya. Ibu Suri selalu tahu kalau putranya tidak akan membiarkan seorang pun lolos dari hukuman jika terbukti melakukan kejahatan.
Dia hanya merasa kalau putranya sebagai Raja sekarang sudah mulai bermurah hati. Biasanya, orang yang berbuat jahat dan sangat banyak kesalahannya akan dijatuhi hukuman mati. Bahkan seluruh keluarganya akan dieksekusi dan siapapun yang menyinggungnya akan ikut mati.
Kali ini, dia setidaknya masih memberikan jalan hidup bagi beberapa orang. Perubahan besar ini tidak disadari, namun sangat terasa. Ibu Suri tidak tahu sejak kapan putranya bisa mempertimbangkan jalan hidup untuk orang lain ketika orang itu mengkhianatinya.
__ADS_1
“Ibu Suri, Yang Mulia juga merawat luka Tuan Pemangku Pedang dan baru meninggalkan Istana Changsun saat sudah larut. Katanya, Yang Mulia juga meminta Kepala Kasim Wang membawakan air hangat dan obat pereda nyeri,” pelayan itu menambahkan sesuai dengan apa yang dia dengar.
Ibu Suri menghentikan aktivitasnya yang sedang memotong cabang-cabang liar dan dedaunan. “Sungguh?”
“Benar, Ibu Suri. Hari ini Yang Mulia juga memanggil Kepala Biro Kepegawaian ke Istana Qihua dan menyuruhnya mengubah peraturan agar mengizinkan pelayan wanita yang sakit karena sedang datang bulan bisa libur.”
Putranya, ternyata juga mulai memikirkan situasi orang lain yang berada jauh di bawahnya. Ibu Suri memikirkannya, dan menemukan petunjuk bahwa perubahan sifat putranya sebenarnya sudah dimulai sejak pemilihan penerus Ratu Donghao dimulai.
Apakah sejak saat itu putranya memiliki hati yang baik? Apakah sungguh karena dia memiliki Li Fengran sebagai menteri dan pendampingnya?
“Beberapa pelayan dan kasim istana mulai bergosip tentang Yang Mulia. Mereka bilang kalau Raja memberikan perlakuan istimewa kepada Pemangku Pedang dan sikapnya telah melebihi sikap seorang atasan kepada bawahannya. Ibu Suri, apakah menurut Anda itu hal yang baik ketika Raja memperlakukan menteri wanitanya bukan seperti kepada menteri?”
Sebagai Raja dan menteri, hubungan mereka memang tidak wajar. Walau Li Fengran adalah pendamping yang sehari-hari pasti ada di samping Raja, tapi dia mendapat perlakuan yang sangat berbeda dengan menteri lainnya. Seolah-olah, Raja sengaja menempatkannya di sisinya dengan tujuan lain.
Hal ini bisa menjadi baik dan bisa menjadi buruk. Sebagai wanita yang puluhan tahun hidup di istana dan telah menghadapi beragam pertarungan, Ibu Suri tahu betul dampak dari sikap putranya yang dinilai berbeda kepada Pemangku Pedang. Jika tidak diperjelas batas-batasnya, maka keduanya bisa berada dalam bahaya.
“Aku tahu. Minta Raja untuk datang menemuiku hari ini,” ucap Ibu Suri. Pelayannya mengangguk dan segera melaksanakan titahnya.
Tidak lama kemudian, Nangong Zirui tiba bersama Wang Bi dan pelayan tadi. Setelah menerima hormatnya, Ibu Suri lantas menyuruh Nangong Zirui duduk di kursi taman dan meminta para pelayan dan Wang Bi untuk mundur. Dia ingin bicara berdua dengan Nangong Zirui.
“Urusan pengadilan sudah selesai dan aku punya waktu luang. Aku tidak berani menunda perintah Ibunda yang memintaku menemuimu,” jawab Nangong Zirui. Dia penasaran mengapa ibunya tiba-tiba memanggilnya.
“Tidak tahu apa yang membuat Ibunda memanggilku? Apakah ada sesuatu yang ingin dibicarakan?”
“Apa kamu mendengar rumor belakangan ini? Beberapa pelayan sedang heboh membicarakanmu dan Pemangku Pedang akhir-akhir ini.”
“Ibunda, jangan diambil hati. Mereka hanya perlu hiburan karena terlalu lelah bekerja. Biarkan mereka bergosip tentang kami jika itu bisa mengurangi rasa lelah mereka,” Nangong Zirui menanggapinya dengan santai. Rupanya, ibunya ingin membicarakan tentang rumornya dengan Li Fengran.
“Putraku, dengarkan aku baik-baik. Perlakuanmu kepada Pemangku Pedang sudah sangat berbeda dan jauh dari sekadar perlakuan kepada bawahan.”
“Apakah itu salah?”
__ADS_1
“Bisa menjadi salah, juga bisa tidak. Kamu mungkin bisa mengabaikannya karena sudah terbiasa. Tapi, bagaimana dengan Pemangku Pedang? Berapa banyak orang yang memusuhinya saat ini? Apakah dia mampu menanggung semua cercaan jika orang-orang yang tidak menyukainya menyerangnya dan menghinanya?”
“Bagaimana bisa itu disebut menghina? Aku tidak akan membiarkan seorang pun menyakitinya!”
“Putraku, kamu adalah Raja dan beberapa hal sudah biasa bagimu. Tapi Pemangku Pedang tidak. Dia tidak akan bisa menanggungnya. Bagaimana jika para menteri berdemo lagi dan memaksamu memecat Pemangku Pedang? Mereka memikirkan situasi negara, dan mereka selalu khawatir kamu dibutakan oleh cinta.”
Ibu Suri menjelaskan dengan teliti bahwa tidak semua hal bisa dipenuhi. Dia menyadarkan Nangong Zirui akan tanggungjawabnya dan betapa beratnya seorang Raja ketika mencintai seseorang. Sekali saja salah melangkah, maka itu akan mengundang kecemburuan yang sangat mengerikan.
Selain berbahaya untuk Li Fengran, itu juga berbahaya untuk Nangong Zirui. Pada akhirnya, Nangong Zirui dihadapkan pada sebuah pilihan yang mengharuskannya memilih melepas salah satunya.
“Putraku, dia adalah Pemangku Pedang, pejabatmu. Apakah kamu lupa?”
“Dia memang pejabatku. Tapi, dia juga istri yang belum aku nikahi.”
Ibu Suri membelalak. Dia sangat terkejut karena putranya begitu terus terang. “Rui’er, kamu berencana menjadikannya salah satu istrimu?”
“Bukan salah satu istri, tapi satu-satunya istri, Ibunda.”
Ibu Suri semakin terkejut. Satu-satunya istri? Raja mana yang hanya memiliki satu istri dalam sejarah? Tidak ada! Tidak ada Raja yang monogami!
“Putraku, Raja tidak bisa memiliki satu istri. Apakah kamu lupa ketentuan mendasar itu?”
“Tidak. Justru karena itu adalah aturan nenek moyang, tentu tidak berlaku pada setiap masa. Ibunda, sudah saatnya melakukan perubahan.”
Ibu Suri sesak napas dan hampir dibuat marah. Sia-sia dia menjelaskan jika pada akhirnya putranya tidak bisa disadarkan.
Hanya punya satu istri? Tidak, seorang Raja tidak akan mampu melakukan itu! Dia tidak akan bisa setia pada satu wanita!
“Raja sepertinya sudah bingung,” ucap Ibu Suri sambil menahan marah.
“Tidak, Ibunda, putramu ini justru sangat sadar. Jangan mencoba melakukan sesuatu yang membuatku marah. Ibunda hanya perlu duduk dengan tenang dan Ibunda harus menyaksikan hari ketika aku berhasil menyatukan semua wilayah dan mereformasi semua peraturan.”
__ADS_1
Lalu, Nangong Zirui tiba-tiba berdiri dan memohon diri untuk pamit. Dia pergi dari taman istana tanpa menoleh lagi, tanpa mempedulikan bagaimana ibunya menjadi sesak napas dan tangannya mengepal menahan marah. Nangong Zirui hanya peduli pada keinginannya dan ambisi besarnya.
Bisa atau tidak dia mencapainya, hanya perlu waktu yang membuktikannya.