
Chen Pang ketakutan setengah mati setelah dia mendapat kabar kalau Pemangku Pedang berhasil selamat dan sudah kembali ke ibukota bersama Raja. Dia bahkan lebih ketakutan saat tahu teman-temannya yang merupakan penculik yang terlibat perdagangan manusia juga ditangkap dan dipenjara di Mahkamah Agung.
Dia mencoba meminta bantuan dan pengampunan dari Shen Jinglang. Namun, alih-alih mendapat perlindungan, Shen Jinglang justru tidak bergeming sama sekali. Shen Jinglang tidak peduli pada masalah dan bahaya yang dihadapi oleh Chen Pang.
Dia hanya berkata, "Urus masalahmu sendiri dan pikirkan cara menyelamatkan diri jika tidak ingin mati."
Padahal, Chen Pang sudah mengabdi padanya selama bertahun-tahun. Shen Jinglang benar-benar berhati dingin dan dia bisa melepaskan siapapun yang tidak diperlukan olehnya.
Chen Pang tahu apa yang akan terjadi jika Pemangku Pedang memberitahu Raja bahwa dialah yang sudah menculiknya dan menjualnya. Dia akan ditangkap, dipenjara di Mahkamah Agung dan diadili. Kemungkinan hidupnya akan sangat kecil mengingat betapa dekatnya hubungan Raja dengan Pemangku Pedang dan seberapa besar keterlibatannya dalam penculikan dan perdagangan manusia.
Prediksinya menjadi kenyataan ketika surat perintah penangkapannya datang dari ibukota dan pasukan dari Mahkamah Agung datang ke Istana Zichuan. Shen Jinglang menyambut kedatangan mereka, namun dia tidak menunjukkan reaksi akan membantu Chen Pang.
Tidak ingin mati, Chen Pang akhirnya melarikan diri. Dia menyelinap keluar dari Zichuan dan memacu kudanya secepat mungkin. Petugas dari Mahkamah Agung pasti sudah mengejarnya saat ini.
Chen Pang menyusuri hutan dan gunung tanpa henti. Dia akan melarikan diri dan bersembunyi. Namun, tiba-tiba saja dia dihadang sekelompok orang bersenjata yang berpakaian seperti rakyat biasa.
"Minggir jika kalian tidak ingin mati!" teriaknya dengan emosi.
Orang-orang itu tidak terganggu dan malah mengacungkan senjata mereka ke udara. Chen Pang emosi, dia mencabut pedangnya dan berusaha menakut-nakuti mereka.
"Tuan Chen, mengapa kamu sangat terburu-buru? Sedang melarikan diri, ya?" tanya sebuah suara yang terdengar dari belakang.
Kemudian, orang-orang itu bergerak, membentuk sebuah celah untuk memberi jalan seseorang. Seorang pria, bertubuh tegap dengan sebelah mata ditutupi kain seperti bajak laut muncul dengan sebilah pedang di tangannya.
Mata Chen Pang memicing. Dia kemudian membelalak.
"Kamu!" teriaknya tidak percaya. Pria bermata satu itu tersenyum remeh.
"Kakak, sudah lama tidak bertemu."
"Chen Ping, ternyata kamu masih hidup!"
"Aku tidak akan berdiri di sini jika aku sudah mati."
Chen Ping menatap Chen Pang dengan satu matanya. Bayangan dan mimpi buruk akan penyiksaan dan penindasan yang diterima olehnya di masa lalu kembali berputar di dalam otaknya.
Chen Pang adalah saudara sekaligus musuhnya. Chen Ping ingin melupakan dendam masa lalu dan tidak mau ada hubungannya lagi dengan Chen Pang, namun karena Chen Pang sudah mencelakai Pemangku Pedang, bahkan sampai terlibat perdagangan manusia, Chen Ping tidak bisa membiarkannya.
Dia tidak akan membiarkan pelaku kejahatan berat seperti Chen Pang melarikan diri dan lolos dari hukuman. Orang seperti Chen Pang sudah saatnya mendapat balasan atas segala kejahatannya.
"Minggir! Aku akan membiarkanmu hidup jika kamu menarik orang-orangmu!"
"Hak apa yang kamu miliki untuk memerintahku?"
"Chen Ping, kita adalah saudara! Apakah kamu bahkan tidak melepaskan saudaramu sendiri?"
Chen Ping tertawa remeh. "Saudara? Aku tidak punya saudara sepertimu! Merekalah saudara-saudaraku!" Chen Ping lalu menunjuk para pria bersenjata yang datang bersamanya.
Saudara? Chen Pang tidak pantas jadi saudaranya! Chen Ping hanya akan mengakui para penduduk desa di gunung sebagai saudaranya dan keluarganya. Chen Ping bukan saudaranya, dia hanya penjahat yang harus segera ditangkap untuk diadili.
"Sialan! Anak haram, aku seharusnya membunuhmu sejak dulu!"
__ADS_1
Tidak tahan dengan penundaan dan penghinaan yang diterimanya, Chen Pang tanpa pikir panjang langsung melompat dari kuda dan menyerang orang-orang yang menghadang jalannya. Dia bertindak brutal tanpa memperhatikan siapa yang dia serang.
Keinginannya hanya ada dua: membunuh Chen Ping dan melarikan diri. Chen Ping adalah pemimpin mereka, maka orang yang harus ditumbangkan terlebih dahulu adalah dia.
Chen Pang menyerang Chen Ping, tapi serangannya meleset. Chen Ping sangat terampil bermain pedang dan gerakannya sangat cepat meski dia hanya punya satu mata.
Chen Pang tidak pernah mengira adik yang dulu seringkali dia tindas dan disiksa olehnya itu akan jadi orang sehebat ini. Setelah menghilang, dia ternyata menjadi pimpinan sekelompok orang yang terampil bela diri.
"Chen Ping, jika kamu tunduk, aku akan membuat Tuan Besar Zichuan mengangkatmu menjadi pengawalnya!" Chen Pang mencoba bernegosiasi.
"Tuan Besar Zichuan sudah membuangmu, bagaimana kamu bisa merekomendasikanku? Dibandingkan menjadi kaki tangan Tuan Besar Zichuan, aku lebih suka menjadi bidak catur Raja!"
Barulah Chen Pang mengerti kalau Chen Ping adalah pengikut Raja Nangong. Chen Ping sudah menentukan berdiri di pihak Raja Nangong dan rela menjadi bidak caturnya. Maka, Chen Pang benar-benar tidak punya kesempatan bagus lagi.
Dia mencoba melawan. Namun, dia kalah karena jumlah orang-orang yang datang bersama Chen Ping jauh lebih banyak. Chen Pang berhasil dilumpuhkan oleh Chen Ping dan dia diikat dengan tali tambang yang sangat besar dan kuat.
"Saudara Chen, bagaimana kamu akan mengatasi penjahat ini?" tanya seseorang.
"Kirim dia ke Istana Kerajaan Donghao. Sudah saatnya penjahat ini mendapatkan hukuman."
"Baik. Kami akan mengurusnya untukmu."
*
Nangong Zirui sedang berada di Istana Changsun ketika dia mendapat kabar Chen Pang yang melarikan diri ketika pasukan ingin menangkapnya. Begitu mendengarnya, dia sangat marah sampai-sampai membuat pengawal yang melapor berlutut ketakutan.
"Yang Mulia, kamu menakuti bawahanmu!" tegur Li Fengran. Dia tidak suka melihat Nangong Zirui melampiaskan amarahnya pada seseorang yang tidak bersalah, terutama pengawal yang datang hanya untuk melapor.
"Aku tahu. Tapi Yang Mulia, apa gunanya marah? Apakah marah akan membuat Chen Pang kembali?"
"Kesalahan tetaplah kesalahan. Mereka lalai dan membiarkan Chen Pang lolos. Itu adalah kesalahan karena mereka tidak waspada, Xiao Feng!"
Saat Nangong Zirui marah, akan sulit membujuknya. Li Fengran sudah lumayan berpengalaman menghadapinya, namun dia tetap saja kesulitan. Kemarahan seorang Raja ini bahkan bisa membuat seseorang kehilangan nyawanya jika tidak segera diredakan.
"Baiklah, aku mengerti. Yang Mulia bisa menghukum mereka setelah kembali. Tapi, sekarang yang terpenting adalah menangkap Chen Pang dan mengadilinya."
Li Fengran kemudian menatap si pengawal yang sedang berlutut. "Tuan Pengawal, sudah berapa jam dia melarikan diri?"
"Menjawab, sudah lebih dari satu hari, Pemangku Pedang."
"Satu hari, ya. Seharusnya dia sudah keluar dari Zichuan."
"Pasukan sudah mengikuti jejaknya dan mengejar. Tapi ketika tiba di tengah hutan, jejaknya menghilang, Yang Mulia, Pemangku Pedang."
Nangong Zirui menahan emosi karena Li Fengran. Chen Pang, si penjahat mesum dan kurang ajar itu berani-beraninya melarikan diri! Nangong Zirui tidak akan mengampuninya!
"Bagaimana dengan Shen Jinglang?" tanya Nangong Zirui setelah emosinya sedikit dikendalikan.
"Tuan Besar Shen tidak melawan dan tidak menghalangi. Dia justru bersikap kooperatif dan menyerahkan urusannya kepada Mahkamah Agung tanpa perlawanan."
"Apa yang dia katakan?"
__ADS_1
"Tuan Besar Shen berkata bahwa penjahat memang sudah seharusnya dihukum. Itu menjadi kesalahan dan kelalaian Zichuan karena membiarkan seorang penjahat hidup aman dan membahayakan Pemangku Pedang. Dia secara pribadi meminta maaf kepada Pemangku Pedang dan Yang Mulia Raja."
"Ya. Itu memang kesalahan dan kelalaiannya. Beritahu dia bahwa aku tidak akan memaafkannya jika terjadi kesalahan lagi."
"Baik, Yang Mulia."
Setelah itu, si pengawal langsung pergi. Nangong Zirui terdiam dan jatuh dalam pemikirannya sendiri. Shen Jinglang tidak akan meminta maaf kepada orang lain jika tidak dipaksa dengan beberapa cara. Dia juga orang yang sangat teliti.
Kali ini, dia malah meminta maaf dengan mudah. Nangong Zirui semakin curiga ada yang tidak beres dengan Shen Jinglang, terutama kaitannya dengan penculikan ini. Dia mungkin bukan otak yang menyuruh Chen Pang menculik Li Fengran, tapi Nangong Zirui yakin itu ada hubungannya dengan dia.
Saat dia semakin dalam terjun ke dalam pemikirannya, tiba-tiba Wang Bi datang dengan terburu-buru. Dia sampai di depan Nangong Zirui dengan napas ngos-ngosan seperti kuda.
"Apa kamu baru saja dikejar hantu? Di mana sopan santunmu?" tanya Nangong Zirui sensi. Sepertinya dia masih marah.
"Yang Mulia! Seseorang mengirimkan kereta yang isinya Chen Pang di belakang istana!" jawab Wang Bi.
Sontak saja Li Fengran dan Nangong Zirui terkejut. Mereka semua tidak mengira Chen Pang akan dikirim ke istana semudah itu. Siapa yang membantu mereka menangkap bedebah itu?
"Bawa dia ke penjara!" seru Nangong Zirui. "Aku akan menginterogasinya sendiri!"
"Yang Mulia, aku ikut!"
"Kamu tidak boleh ikut. Tetaplah di sini."
"Tapi, aku ingin sekali menghajar bedebah itu sendiri. Yang Mulia, izinkan aku ikut bersamamu," Li Fengran memohon. Tapi, Nangong Zirui menggelengkan kepalanya dan menolak permintaan Li Fengran.
"Aku sendiri yang akan menghukumnya untukmu."
"Yang Mulia...." Li Fengran mencoba membujuk Nangong Zirui.
"Apa kamu mau melawan perintah?"
Li Fengran langsung menggeleng. Sudah ia bilang, Nangong Zirui yang marah sulit dibujuk. Pada akhirnya Li Fengran hanya bisa membiarkan Nangong Zirui pergi bersama Wang Bi sementara dia tetap di Istana Changsun.
Saat Nangong Zirui sampai di penjara Mahkamah Agung, seorang petugas memberikan sepucuk surat kepadanya. Katanya, surat itu datang bersama Chen Pang dan kereta. Petugas itu juga memberitahu kalau Chen Pang sudah dalam kondisi terikat dan babak belur ketika ditemukan.
"Salam, Yang Mulia. Aku memberimu hadiah atas pemberian bantuanmu tempo hari. Tolong tangani bedebah ini dengan baik, berikan keadilan untuk Pemangku Pedang dan jangan biarkan siapapun lolos. Kami akan menunggumu dan Pemangku Pedang pada kunjungan selanjutnya."
Nangong Zirui tersenyum setelah dia membaca suratnya. Rupanya, Chen Ping-lah yang telah menangkap Chen Pang dan mengirimkannya kembali ke istana. Dia pasti tahu Chen Pang akan melarikan diri dari Zichuan dan mencegatnya di jalan hutan.
"Di mana bedebah itu?"
"Sebelah sini, Yang Mulia."
Lalu, dia melihat Chen Pang di ruang interogasi. Tangan dan kakinya diikat di tiang. Nangong Zirui menghampirinya, lalu menyiramkan sebaskom air padanya. Chen Pang terbangun dengan rasa dingin dan sakit.
Matanya membelalak.
"Y-Yang Mulia Raja?"
Nangong Zirui menatapnya dengan dingin. "Biarkan aku bicara dengannya."
__ADS_1
Si petugas mengerti maksud Nangong Zirui dan segera keluar. Di dalam ruang interogasi, hanya tinggal Nangong Zirui dan Chen Pang. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi ekspresi Nangong Zirui semakin gelap ketika dia keluar dari ruang interogasi setelah beberapa waktu.