
“Raja? Raja apa?” seorang pria bertanya pada temannya.
“Dasar bodoh! Memangnya siapa lagi? Tentu saja Raja Nangong!”
Mereka semua lantas berlutut memberi hormat ketika Nangong Zirui melengang memasuki ruangan tersebut. Bau parfum wanita bercampur alkohol yang kuat menusuk hidungnya.
Pandangannya menyapu semua orang, kemudian berhenti pada titik tengah – pada Li Fengran dan Mo Wei yang sedang berdiri di tengah panggung. Nangong Zirui lantas menghela napasnya.
Nangong Zirui naik ke atas panggung dan mempersilakan semua orang untuk bangkit. Mata orang-orang itu menatapnya dengan takut dan canggung.
Mereka sungguh tidak menduga jika Raja benar-benar datang kemari. Kemarin, mereka hanya mendengar kabar kalau Raja Nangong datang ke Jinchuan untuk meninjau penyaluran dana bantuan bencana banjir, tapi mereka tidak terlalu mengharapkannya.
Setiap kali perintah dari istana datang, mereka akan selalu memberikan alasan dan hanya menyumbang sedikit bantuan. Tuan Besar Su juga tidak pernah mempermasalahkannya karena pria tua itu juga menerima keuntungan besar. Mereka tidak benar-benar berharap malam ini akan bertemu langsung dengan Raja.
“Tadi, siapa yang bilang mau menangkap kedua orangku?” tanya Nangong Zirui. Seperti biasa, dia menggunakan nada dingin yang menusuk telinga, seperti yang sering ia lakukan ketika para menteri menentangnya dengan alasan yang tidak masuk akal.
Li Fengran menunjuk si bibi yang wajahnya pucat, “Itu dia! Yang Mulia, Mama itu yang ingin menangkap kami!”
Wajah pucat si bibi semakin pucat. Gawat, Raja ada di sini! Rumah bordil Xiaoqin sudah lama tidak menyetorkan catatan pembukuan ke kantor pemerintah, jika Raja memintanya hari ini, urusannya akan gawat. Bahkan jika Tuan Besar Su Ren melindunginya, dia tidak akan lepas dari hukuman!
“Kamu ingin menangkap Pemangku Pedang dan pengawal pribadiku?” Nangong Zirui menatap si bibi dengan sorot yang sangat tajam.
Serempak orang-orang berbisik dengan tidak percaya, “Pemangku Pedang?”
Jadi, wanita bercadar putih yang mengambil uang mereka adalah Pemangku Pedang, dan pria yang tadi menyamar menjadi wanita lalu membuat mereka tergila-gila akan tariannya adalah pengawal pribadi Raja, Mo Wei, yang sangat terkenal itu? Astaga, mereka semua sudah cari mati!
“Ti-tidak, Yang Mulia. Mohon ampun, saya sama sekali tidak tahu kalau non aitu adalah Tuan Pemangku Pedang. Saya juga tidak tahu kalau yang dia katakan saudarinya adalah Tuan Mo Wei, Yang Mulia, ampuni saya,” si bibi langsung bersimpuh. Hari ini, dia pikir dia akan untung banyak, tapi justru sial karena telah memberikan celah pada pejabat untuk melihat kelemahannya.
“Matamu sudah buta, ya? Kamu sendiri yang tidak sadar pada identitas kami dan sembarangan menerima tanpa menyelidiki. Orang sepertimu hanya berpikir tentang keuntungan. Yang Mulia, aku curiga Mama ini melakukan pelanggaran,” ucap Li Fengran.
Si bibi itu dalam hatinya mengumpati Li Fengran yang memanfaatkannya. Ini namanya habis manis sepah dibuang. Setelah dapat keuntungan dari memanfaatkannya, wanita ini ingin menyeretnya ke penjara. Tapi di hadapan Raja, si bibi ini tidak bisa berkutik.
“Aku sudah mengaturnya,” Nangong Zirui berkata, kemudian menatap pria-pria kaya di bawah panggung yang berdiri dengan kaki bergetar. “Beberapa hari lalu aku mendapat laporan kalau kalian menolak memberikan bantuan untuk korban bencana banjir karena kondidi ekonomi kalian kurang baik. Jadi, aku datang untuk memastikan. Tidak disangka, perekonomian yang buruk pun masih bisa membuat kalian menghabiskan malam penuh semangat di tempat ini.”
Setelah mendapatkan kembali kekuasaan Danchuan, Raja semakin memperlihatkan taringnya. Para pria itu berpikir Raja datang dengan persiapan sehingga bisa menangkap basah mereka di sini. Di hadapan Tuan Besar Su, mereka masih dilindungi, tapi di hadapkan pada Raja secara langsung, rasanya mustahil untuk berdalih.
“Tuan Fu, bukankah kamu bilang istri kelimamu meninggal dan kamu memerlukan banyak biaya untuk pemakamannya? Mengapa kamu di sini?” tanya Nangong Zirui pada salah seorang. Orang yang dimaksud tidak bisa menjawab, wajahnya pucat.
__ADS_1
Nangong Zirui beralih pada yang lain. “Tuan Kong, bukankah ladangmu dilanda kebakaran dan perlu biaya pemulihan yang besar? Aku juga melihat Tuan Du, ada yang bilang kalau putramu baru saja masuk ke akademi dan butuh biaya besar untuk pendidikannya.”
Tanda-tanda kemarahan mulai muncul di wajah Nangong Zirui. Sosoknya yang biasanya terlihat santai, sekarang menguarkan aura yang kelam. Dia menatap satu persatu para pria pelanggan yang ada di bawah, dengan tatapan setajam mata elang.
Ruangan seketika sunyi. Li Fengran mundur beberapa langkah, disusul Mo Wei. Mereka tahu, Raja mulai kehilangan kesabarannya.
“Beginikah situasinya? Apakah kalian bermaksud membuatku melihat lelucon? Kalian pikir aku bodoh?”
Suara Nangong Zirui naik beberapa oktaf, menunjukkan pria itu sudah benar-benar marah. “Kalian ingin menipu Raja?”
Seketika, semua orang bersimpuh dan berkata, “Kami tidak berani, Yang Mulia, mohon ampun!”
“Ampun? Bagaimana kalian ingin aku memberikan ampunan?”
“Ampuni kami, Yang Mulia!”
Mereka ini! Bisakah mengatakan hal lain yang membuat suasana hatinya membaik? Nangong Zirui mengembuskan napas kasarnya. Seandainya dia tidak segera kemari setelah tahu Li Fengran dan Mo Wei menggunakan cara memikat dengan wanita cantik untuk menangkap basah sekumpulan kikir ini, dia tidak akan semarah ini.
Nangong Zirui sudah menekan diri sendiri agar menahan emosi, tetapi saat melihat kedua orangnya dalam bahaya dan sekumpulan sampah ini berani bertindak, dia tidak bisa mengontrol emosinya. Nangong Zirui dibuat emosi oleh orang-orang
Dia lantas memerintahkan petugas untuk memeriksa mereka dan pembukuan di kediaman mereka, meminta mereka jujur dan menyumbangkan sebagian hartanya. Sementara itu, dia membawa kembali Li Fengran dan Mo Wei ke kediaman Su, lalu menginterogasi mereka baik-baik.
“Siapa yang memikirkan ide buruk itu?” tanyanya. Mo Wei seketika menunjuk Li Fengran.
“Pemangku Pedang! Yang Mulia, aku dipaksa olehnya! Pemangku Pedang memodifikasiku menjadi seorang gadis dan menyuruhku menari! Yang Mulia, kamu harus memberi kompensasi!”
“Enak saja! Bukankah kita sudah sepakat?” Li Fengran menyela membela diri.
“Siapa yang sepakat? Jelas-jelas kamu yang memaksaku!” Mo Wei mencoba membeberkan kebenaran.
“Jika kita tidak sepakat, apakah aku akan melakukan itu?” Li Fengran tetap tidak mau kalah. Dia melihat Nangong Zirui tidak senang dengan cara ini, jadi bagaimanapun, dia tidak mau dihukum sendiri. Li Fengran akan menyeret Mo Wei agar dihukum bersama!
“Cukup! Li Fengran, kamu tahu kesalahanmu?” Nangong Zirui agak membentak.
Li Fengran terkejut dan berkedip, lalu menunduk sembari mengatakan dengan enggan, “Aku tahu salah. Aku tidak seharusnya menyelinap ke rumah bordil, memanfaatkan dan menipu para pengusaha pelit yang berfoya-foya tanpa memberitahu Yang Mulia.”
“Mo Wei, kamu tahu kesalahanmu?”
__ADS_1
“Aku tidak seharusnya menuruti dan mengikuti tindakan Pemangku Pedang.”
Li Fengran membelalakkan matanya. Mo Wei benar-benar ingin membalas dendam padanya! Mo Wei tersenyum penuh kemenangan. “Kamu!”
“Sudah cukup! Gaji kalian akan dipotong untuk tiga bulan ke depan! Xiao Feng, kembali dan bersihkan dirimu! Mo Wei, kamu tetap di sini!”
Bukan waktu yang tepat untuk melawan atau mendebat. Li Fengran menurut, dia pergi dari taman kediaman dan kembali ke kamarnya. Sementara itu, Nangong Zirui dan Mo Wei mulai membahas hal serius. Suasana sepi, Mo Wei memasang wajah serius seperti yang ia lakukan setiap kali bicara berdua dengan rajanya.
“Bagaimana hasilnya?” tanya Nangong Zirui. Mo Wei kemudian mengeluarkan secarik kertas kecil yang ia selipkan di pakaiannya.
“Informasinya memang benar, Yang Mulia. Ada beberapa orang yang melihat Tuan Besar Zichuan di kota dua hari belakangan.”
Nangong Zirui menganggukkan kepalanya. Ternyata benar, Shen Jinglang memang ada di Jinchuan. Terkait motif dan tujuannya, ia belum jelas karena para pengintainya tidak dapat menemukan informasi apapun. “Selama dua hari ke depan, tetaplah di sini dan awasi Su Ren dengan baik. Laporkan padaku setiap riwayat pertemuannya.”
“Yang Mulia curiga Tuan Besar Zichuan datang berkoalisi dengan Tuan Besar Jinchuan?”
“Aku perlu bukti. Suruh mereka tetap mengikutinya dan jangan membuatnya waspada.”
“Hamba melaksanakan perintah.”
“Awasi juga pemeriksaan buku-buku para pengusaha dan orang kaya Jinchuan, serta pembukuan Rumah Bordil Xiaoqin yang dikumpulkan hari ini!”
“Ah? Yang Mulia, begitu banyak yang harus kuawasi?”
“Itu hukumanmu.”
“Lalu bagaimana dengan Pemangku Pedang?”
“Aku punya rencana lain untuk menghukumnya.”
“Kalau begitu, apakah masih harus potong gaji?”
Nangong Zirui melemparkan tatapannya. Lama-lama dia kesal lagi.
“Tidak ada tawar menawar denganku!”
Bahu Mo Wei seketika turun.
__ADS_1