The Choice Queen

The Choice Queen
TCQ 60: Obat Sakit


__ADS_3

Li Fengran mulai menjadi tenang. Dia ikut menatap Su Min yang masih menunjukkan keinginan membunuhnya. Nangong Zirui menatap Su Min dengan dingin. Auranya yang tajam membuat beberapa pengawal ikut merasa takut. Raja, sepertinya sangat marah atas kejadian ini.


“Sebagai selir, kamu ingin membunuh menteriku. Kamu sungguh telah melewati batas!”


Su Min yang sudah dalam genggaman pengawal mendecih. “Dia pantas mati.”


Nangong Zirui menghela napasnya. Dia berencana memberikan kesempatan hidup pada Su Min, namun Su Min ternyata tidak menghargainya dan bertindak brutal. Kesempatan hidup atas pengampunan untuknya sekarang sudah hilang. Nangong Zirui sudah tidak ingin mengampuninya lagi.


“Selir Su, aku memberimu kesempatan bukan agar kamu menggunakannya untuk membunuh Pemangku Pedang.”


“Kesempatan? Apa gunanya sebuah kesempatan? Ayahku akan tetap mati!”


Li Fengran ingin menjelaskan, namun keningnya sakit dan Nangong Zirui mencegahnya. Dia berkata pelan, “Tidak perlu dijelaskan. Dia sudah kehilangan akalnya.”


“Tidak, Yang Mulia. Selir Su masih berhak mengetahui kebenarannya,” ucap Li Fengran. Dia lalu menatap Su Min.


“Selir Su, selain kejahatan materi, Tuan Besar Su juga telah membunuh Ratu Ling. Jika kamu tidak pervaya, kamu bisa bertanya sendiri kepadanya.”


Mata Su Min berkilat. Perasaannya bercampur antara terkejut dan marah. Jadi, ayahnya benar-benar membunuh mendiang Ratu Ling? Tapi mengapa? Su Min tidak pernah tahu kalau orang yang diam-diam membuat Ling Sui mati adalah ayahnya sendiri. Benarkah itu ayahnya?


“Bohong! Ayahku bukan pembunuh!”


“Selir Su, aku tidak membohongimu. Dia sendiri yang mengaku dengan mulutnya beberapa saat yang lalu.”


Tidak, Su Min tidak percaya ayahnya akan sampai membunuh seseorang. Meski ayahnya sangat serakah, dia tidak akan berani membunuh orang istana, apalagi seorang Ratu. Seseorang pasti sengaja memprovokasinya! Ayahnya pasti dijebak! Ayahnya bukan pembunuh!


“Jika kamu masih keras kepala, kamu bisa pergi bertanya sendiri.”


Nangong Zirui melambaikan tangan, kemudian para pengawal membawa Su Min pergi dari Istana Changsun. Pria itu kemudian menyuruh Li Fengran untuk duduk sementara dia meminta Wang Bi mengambilkan kotak obat. Melihat darah di dahi dan lengan atasnya, hati Nangong Zirui ikutan sakit.


Nangong Zirui merapikan rambut Li Fengran terlebih dahulu, mengikatnya ke belakang dengan seutas kain. Kemudian, dia mengambil kain kasa dan membersihkan darah yang menetes di wajah Li Fengran. Tangannya bergerak pelan dan sangat hati-hati, dia takut menekan lukanya terlalu dalam.


“Apakah sakit?” tanyanya.


“Lumayan. Kalau Su Min mendorongku lebih keras lagi, mungkin aku bisa gegar otak atau mengalami amnesia,” jawab Li Fengran.


“Saat seperti ini pun kamu masih saja bercanda. Xiao Feng, bagaimana jika aku tidak datang tepat waktu? Su Min mungkin benar-benar akan membunuhmu.”


“Bukankah Yang Mulia sudah datang? Itu artinya aku tidak akan mati semudah itu.”


Nangong Zirui lalu membubuhkan sedikit obat ke dahinya, meniupnya perlahan dan menutup lukanya dengan kasa yang masih bersih. Li Fengran meringis merasakan reaksi dari obat dan kain kasa yang menutup lukanya. Untung saja hanya berupa goresan hingga tidak perlu dijahit.


Setelah membersihkan dan mengobati luka di dahi, Nangong Zirui hendak mengobati luka sayatan belati di bagian lengan atas. Namun, dia malah tertegun seperti sedang memikirkan sesuatu. Jika ingin mengobatinya, maka luka itu harus dibersihkan lebih dulu dan itu artinya bagian pakaian Li Fengran di lengan atasnya harus dilepas agar memudahkan proses pembersihan.


“Yang Mulia, apa yang kamu pikirkan?” tanya Li Fengran.


“Luka di lengan atas ini, aku tidak bisa mengobatinya,” jawab Nangong Zirui.


“Kenapa? Bukankah barusan Yang Mulia juga mengobati luka yang sama di kepalaku?”


“Aku tidak bisa.”


“Bisa.”


“Tidak bisa.”

__ADS_1


“Bisa.”


“Tidak bisa, Xiao Feng.”


“Kenapa?”


“Karena itu artinya kamu harus melepas pakaian bagian atas.”


Li Fengran ingin tertawa, tapi rasanya tidak cocok tertawa di saat seperti ini. Dia menatap wajah Nangong Zirui yang serba salah dan khawatir serta bingung.


Semburat berwarna merah yang semu perlahan menjalar dari pipi ke telinganya. Sudut mulut Li Fengran terangkat membentuk sebuah senyuman yang ditahan.


“Hanya itu saja?”


“Ya.”


“Yang Mulia malu?”


“Malu apanya? Aku jelas ingin menghormatimu.”


“Cepat sekali menyangkalnya,” gumam Li Fengran. “Kalau begitu tolong bantu aku menemukan Xiang Wan.”


Dia baru ingat kalau Xiang Wan tidak kelihatan sejak tadi. Karena Su Min bisa masuk kemari, itu artinya Xiang Wan tidak ada di istana. Ke mana wanita itu pergi? Bukankah dia biasanya paling suka menunggunya pulang?


Seorang pengawal melapor dan berkata mereka menemukan Xiang Wan di samping istana dalam keadaan jatuh pingsan. Saat dia dibawa masuk ke dalam, kesadaran Xiang Wan pulih dan matanya mengerjap beberapa kali.


Melihat ruangan dipenuhi orang, dia membelalak. Xiang Wan lebih terkejut saat melihat kening Li Fengran dibalut kain kasa sementara lengan bagian atasnya robek dan mengeluarkan banyak darah.


“Nona! Apa yang terjadi padamu?” Xiang Wan bertanya penuh kecemasan. Dia hampir menangis melihat kondisi nonanya yang berantakan ini. “Siapa yang melukaimu?”


Saat Xiang Wan merobek pakaian bagian atas Li Fengran, Nangong Zirui membalikkan tubuhnya untuk mengalihkan pandangan. Wajahnya masih memerah. Selama ini selain tubuhnya sendiri, Nangong Zirui belum pernah melihat tubuh orang lain, apalagi seorang wanita.


Pengalamannya saat tanpa sengaja melihat Li Fengran mandi di Jinchuan kala itu membuat wajahnya serasa memanas. Dia tidak ingin melihat bahu terbuka Li Fengran lagi, karena itu bisa membuatnya kesulitan tidur selama beberapa hari.


“Nona, siapa yang begitu tega melukaimu sampai seperti ini?”


“Bukan siapa-siapa. Xiang Wan, mengapa kamu ada di samping istana?”


“Aku hendak menyalakan lilin, tapi tiba-tiba seseorang sepertinya memukulku dari belakang dan aku pingsan. Nona, apakah dia adalah orangnya?”


Li Fengran tidak menjawab. Xiang Wan membersihkan luka Li Fengran sambil sesekali melirik seisi ruangan yang lumayan berantakan.


Bisa dilihat bahwa beberapa saat yang lalu pasti terjadi pertarungan. Dalam hatinya, Xiang Wan sangat menyesal dan mengatai dirinya bodoh karena dia tidak bisa melindungi majikannya. Orang itu pasti sangat jahat!


“Nona, sudah selesai. Aku akan mengambilkan pakaian ganti untukmu,” ucap Xiang Wan saat dia selesai membalut luka Li Fengran dengan kasa.


“Carikan yang lebih longgar agar lukanya tidak tertekan,” titah Nangong Zirui yang disambut anggukan kepala Xiang Wan.


“Apakah masih sakit?” tanyanya pada Li Fengran.


“Sedikit.”


“Aku akan memanggil tabib.”


“Tidak perlu, Yang Mulia. Ini hanya luka gores. Tidak perlu merepotkan Tabib Istana.”

__ADS_1


“Kamu ini. Sudah jelas terluka tapi masih bersikap sok kuat.”


“Karena ada Yang Mulia yang melindungiku.”


Siapapun yang melihat interaksi itu pasti berpikir kalau Raja dan Pemangku Pedang memiliki hubungan yang tidak biasa. Interaksi mereka lebih seperti sepasang kekasih alih-alih Raja dan bawahannya. Nangong Zirui sangat perhatian dan sikapnya sangat lembut pada Li Fengran.


Dia memperlakukan Li Fengran seperti harta yang berharga. Orang yang mengerti akan melihat ada perasaan terpendam di hati Nangong Zirui untuk Li Fengran, tapi tidak bisa diungkapkan karena suatu alasan.


Setelah Li Fengran mengganti pakaiannya, Nangong Zirui menyuruh semua orang untuk keluar. Dia ingin bicara berdua dengan Li Fengran dan mereka mengerti maksudnya.


“Xiao Feng, katakan pendapatmu mengenai serangan Su Min hari ini,” ujar Nangong Zirui. Mungkin mereka harus menganalisis mengapa Su Min bisa sangat impulsif hari ini.


“Seseorang memprovokasinya. Selir Su bukan orang yang bertindak tanpa alasan. Seseorang pasti telah memberitahukan sesuatu dan memprovokasinya, aku rasa itu ada hubungannya dengan penangkapan ayahnya. Karena aku yang menemukan kasus itu, maka secara alami dia mengarahkan pisaunya padaku untuk membunuhku.”


“Siapa yang kamu pikirkan?”


Sebelum menjawabnya, Li Fengran tiba-tiba memegangi perutnya dan meringis. Perutnya seperti sedang diluruhkan seluruhnya, sakit dan panas. Dia juga mengalami kram perut. Nangong Zirui seketika panik dan bertanya, “Apa Su Min juga menyerang perutmu? Bagian mana yang terluka?”


“Bukan, bukan Su Min. Yang Mulia, aku butuh Xiang Wan untuk membantuku.”


“Kenapa memanggil Xiang Wan? Apakah aku tidak bisa membantumu?”


“Bukan begitu. Hanya saja urusan ini hanya bisa ditangani sesama wanita.”


Xiang Wan lantas masuk setelah mendapat panggilan. Li Fengran membisikkan sesuatu padanya, yang membuat Nangong Zirui begitu penasaran. Tidak lama kemudian Xiang Wan pergi dan kembali membawa sesuatu. Saat dia ingin menyerahkannya, dia ragu dan melirik Nangong Zirui.


“Kenapa?”


“Yang Mulia, mohon Yang Mulia berkenan keluar sebentar. Nona perlu mengganti baju,” ucap Xiang Wan.


“Bukankah barusan dia baru mengganti pakaian?”


Bagaimana ini? Perlukah Li Fengran menjelaskan kalau dia hendak mengganti pakaian bagian dalam? Tapi, itu memalukan.


Kalau bukan karena dia sedang datang bulan, dia tentu tidak akan meminta Xiang Wan membantunya mengusir Nangong Zirui. Tapi kalau tidak dijelaskan, Nangong Zirui pasti tidak mau keluar dan memilih membalikkan tubuhnya seperti tadi.


“Yang Mulia, Nona sedang mendapat tamu bulanannya,” Xiang Wan tiba-tiba menjelaskan setelah melihat nonanya ragu-ragu. Mendengar penjelasan itu, wajah Nangong Zirui memerah lagi.


“Ekhem. Kalau begitu, kamu bantu dia.”


Nangong Zirui keluar dan berdiri di depan pintu istana. Wang Bi menghampirinya dengan penuh tanya. Dia hendak bicara, tapi Nangong Zirui mengangkat tangannya dan menyuruhnya agar tidak bertanya.


Malam sudah larut, angin musim semi berhembus. Daun-daun pohon dan bunga di taman Istana Changsun bergoyang seperti sedang bernyanyi.


“Wang Bi, apa yang perlu disiapkan ketika seorang wanita sakit perut saat mendapat tamu bulanannya?”


“Siapa yang datang bulan, Yang Mulia?”


“Jawab saja!”


“Mungkin untuk meredakan rasa sakitnya, Yang Mulia bisa mengompres perutnya dengan air hangat. Yang Mulia juga bisa meminta obat pereda nyeri pada Balai Pengobatan Istana.”


“Kamu begitu hapal urusan ini ya,” ejek Nangong Zirui. Wang Bi hanya tersenyum seperti biasa.


“Sebelum menjadi kepala kasim dan melayani Yang Mulia, saya pernah ditugaskan di Istana Belakang dan sedikit tahu dari para selir.”

__ADS_1


“Kalau begitu siapkan untukku.”


__ADS_2