The Daddy My Baby

The Daddy My Baby
Macho


__ADS_3

Dapur Sean sangat modern dan lengkap.


Membuat wanita manapun betah berada di dapur.


Alisha heran mengapa perlengkapan dan peralatan di dapur Sean begitu banyak dan lengkap?


Pasti tidak semua nya pernah di pakai.


Pemborosan.


Dasar orang kaya.


Uangnya pasti nganggur.


Sampai sampai semua isi dapur ia beli.


Alisha bahkan tidak bisa mengira ngira kekayaan Sean.


Karena, sekarang ini dia tidak berniat mencintai Sean, apalagi uangnya.


Bagi Alisha, uang bukanlah segalanya.


Kebahagiaan itu letaknya di hati.


Walaupun sedikit, kalau bersukur rasanya pasti puas dan bahagia.


Alisha kali ini berniat mengeroki syean.


Alisha mencari cari minyak gosok atau yang semacamnya di dalam kotak p3k untuk mengeroki tubuh Sean.


Sukurlah, Alisha menemukan minyak kayu putih,


'Ini juga bisa untuk kerokan'


Alisha tersenyum.


"Ayo pak.


Kita ke ruang keluarga lagi"


Ajak Alisha, dia berjalan kembali ke ruang keluarga.


Sean mengikuti Alisha dengan patuh.


Penasaran apa yang akan di lakukan Alisha dengan membawa minyak kayu putih.


Alisha menyingkirkan dan menumpuk numpuk beberapa bantal yang ada di sofa.


Alisha duduk di atas sofa yang kosong dari bantal bantal.


Senyum alisha mengembang menunggu Sean datang ke arah sofa.


Sean terpaku pada senyuman Alisha yang indah dan cantik.


Sudah lama Sean tidak melihat senyum Alisha.


Senyum yang selalu Sean rindukan.


Alisha duduk anggun di atas sofa miliknya.


Baju dress selututnya begitu cantik membalut dan melekat di tubuh indah Alisha.


Sean menelan salivanya.


Teringat dengan tubuh Alisha yang indah dan sempurna di mata Sean.


Sean berpikir, kapan dia bisa melupakan nikmatnya tubuh Alisha.


Sean lalu duduk di samping Alisha.


Sean melihat Alisha mengeluarkan uang koin lima ratusan berwarna kuning emas dari dalam tasnya.


"Bapak pernah kerokan?"


Tanya Alisha.


"Nggak pernah, kenapa? Kamu mau ngerokin aku?"


Tebak Sean penasaran.


"Iya, bapak mau ya?


Dulu ibu selalu ngerokin ayah dan saya waktu kami sakit.


setelah minum jamu lalu di kerokin.


Setelah dikerokin badan jadi hangat lalu tubuh akan mengeluarkan keringat banyak.


Kata nya, keringat itu adalah, racun yang keluar dari tubuh"


Alisha menjelaskan panjang lebar.


Sean teringat dengan gadis kecil di taman yang banyak sekali bicaranya.


Entah mengapa bibir Alisha dan gadis kecil di taman.


Ketika berbicara, menurut Sean sangat mirip.


Sean tersenyum menikmati Alisha yang ceria.


"Ayo buka bajunya pak Sean"


Perintah Alisha.


Alisha pikir, jika Sean yang membuka bajunya semua pasti baik baik saja.


Berbeda jika Alisha yang membuka bajunya, semua pasti jadi berbahaya.


Karena sean yang telanjang (dada).


Maka semua nya pasti beres, dan aman terkendali.


"Buka bajuku?"


Sean yang disuruh membuka baju, jadi salah tingkah.


Apa yang mau di lakukan Alisha pada dirinya?


Pikiran Sean kotor.


Dan membayangkan hal yang tidak tidak.


"Iya pak, buka bajunya.


Kan mau di kerokin"


Alisha menunjukkan minyak kayu putih dan uang koinnya.


Sean merasa malu sendiri karena sudah berpikiran kotor.


Sean lalu membuka bajunya.


Glleekk.......


Alisha menelan ludahnya sendiri.


Tubuh Sean di balik kaosnya jauh lebih indah.


Otot otot nya menonjol indah di lengan lengan kokohnya.


Dadanya bidang dan lebar.


Membuat Alisha ingin berlabuh di dadanya yang kuat.


Perut Sean datar dan berbentuk kotak kotak sempurna.


Alisha merangkum semuanya menjadi sebuah kata.


Macho.


Alisha dulu memang pernah melihat tubuh Sean seutuhnya.


Tapi alisha lupa, dan tidak sempat menikmati keindahannya.

__ADS_1


Karena pemaksaan yang di lakukan oleh Sean.


Sean berbalik membelakangi Alisha.


Dia tersenyum senang, karena melihat Alisha, yang terpesona dengan bentuk tubuhnya.


Tidak sia sia Sean rajin nge gym, begitulah batin Sean.


Alisha mulai mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Sean.


Sean menikmati sensasi jemari lembut Alisha yang menggosok punggungnya.


Pikiran Sean mulai kemana mana.


Alisha lalu mengeroki punggung Sean dengan telaten.


"Ngomong ngomong.


Apa yang mau bapak lakukan besok di kantor, tentang foto itu?"


Tanya Alisha.


"Kamu mau nya gimana?


Biarin orang orang tahu hubungan kita, atau kita nggak ada hubungan apa apa?"


Sean memberi jawaban yang maknanya ganda.


"Emang nya kita punya hubungan apa sekarang?


Hubungan kita sekarang sebatas atasan dan karyawan pak"


Jawab Alisha ketus, menegaskan status hubungan mereka.


"Ok, kalau itu mau kamu.


Besok, akan ku suruh Tomi membereskan semuanya"


Jawab Sean dengan nada kecewa.


"Bilang ke Tomi, kalau kita nggak ada hubungan apa apa.


Semua yang terjadi di kereta cuma salah faham ya pak?"


Alisha menambahkan.


" Sha, bisa nggak, kamu nggak panggil aku bapak?


Rasanya aku kayak bapak bapak yang udah tua"


" Maaf pak, nggak bisa.


Saya nggak punya hak memanngil bapak dengan nama yang lain"


Jawab Alisha sambil terus mengeroki tubuh Sean.


"Gimana kalau kamu, aku beri hak?"


Jawab Sean.


Tiba tiba Sean membalikkan badan, menghadap Alisha.


"Hak apa itu?"


Alisha penasaran.


"Kamu jadi pacar ku, bagaimana?


Setelah itu, kamu jadi punya hak memanggilku Mas"


Sean menatap alisha serius.


Mencari tahu jawaban Alisha melalui ekspresi wajah Alisha.


Alisha lalu membalikkan badan Sean, supaya menghadap ke depan lagi.


Alisha tidak ingin Sean melihat wajah tomatnya


Alisha malu dan senang dengan pengakuan Sean.


Dia tidak akan ada hubungan dengan ayah putri kecilnya.


Namun apa yang dia lakukannya sekarang?


Dirinya malah sibuk mengurus kehidupan ayah pitri kecilnya.


"Jangan bercanda pak.


Saya nggak mau dan nggak bisa"


Jawab Alisha datar.


"Kenapa Sha?


Bukannya dulu kamu menyukaiku?"


Tanya Sean sambil tetap menghadap ke depan.


Ada nada kecewa dalam suara Sean.


"Bapak sudah tahu jawabannya"


Jawab Alisha.


"Aku tidak tahu jawabanmu, jika kamu tidak memberi tahu ku Sha"


"Aku..... Masih trauma dengan kejadian malam ltu.


Apalagi..... Bapak bukan tipe saya"


Alisha berbohong.


Dia hanya ingin membalas kata kata Sean, yang dulu menolak Alisha dengan kata kata, bahwa Alisha bukan lah tipe Sean.


Sean pun jadi teringat waktu dahulu.


Dulu dia pernah menolak Alisha dengan mengatakan, kalau Alisha bukanlah tipenya.


'Jadi sesakit ini kah, rasanya bila di tolak menggunakan kata kata itu?


Dasar gadis kecilku ini!'


Batin Sean.


Sean merasakan hatinya sakit di tolak Alisha mentah mentah.


'Rupanya Alisha ingin membalas perbuatanku dulu'


Alisha mengelap tangannya dengan tisu.


Dia sudah selesai mengeroki tubuh Sean.


alisha lalu berdiri dan mengambil minyak kayu putih.


Alisha pergi ke dapur untuk mencuci tangannya, dan mengembalikan minyak kayu putih ke tempatnya.


Setelah itu, dia kembali ke ruang keluarga rumah Sean.


Alisha melihat Sean sudah memakai kaosnya kembali.


"Sudah selesai pak.


Saya mau pulang dulu.


Bapak tidur aja, biar cepat sembuh"


Alisha mengambil tasnya yang dia taruh di sofa yang penuh dengan bantal bantal yang tadi dia susun.


Alisha ingin mengembalikan bantal bantal itu ke tempatnya semula.


Namun di situ masih ada Sean.


Tanpa di duga.

__ADS_1


Sean tiba tiba menarik tangan Alisha ke arah tubuh Sean.


Alisha kemudian, terduduk di antara kedua kaki Sean


Tubuhnya membelakangi tubuh Sean dan Sean duduk menghadap Alisha.


Sean melingkarkan tangannya di perut Alisha.


Memegangnya dengan erat, agar Alisha tidak lolos begitu saja, dari cengkramannya.


"Jadi, kau menolakku Alisha?"


Tanya Sean penuh penekanan.


Tapi alisha tidak mau menjawab pertanyaan Sean.


"Apakah kau tahu Alisha?


Kau adalah wanita pertama yang bisa membuatku tertawa di hari pertama kita bertemu.


Dan tadi pagi.


Aku juga bertemu gadis yang bisa membutku tertawa di awal pertemuan kami.


Aku berharap, semoga aku bisa bertemu dengannya lagi"


Ada rasa sakit di hati Alisha, ketika Sean mengucapkan seorang gadis.


Namun Alisha harus bersikap biasa biasa saja.


"Kau tahu kan Sha.


Kalau aku nggak bisa hidup dengan wanita mana pun kecuali dengan mu Alisha.


Dan kalau kau menolak ku.


Maka, aku mungkin bisa hidup dengan gadis yang ku temui tadi pagi"


Sean berharap, dia bisa melihat kilatan cemburu di wajah Alisha.


Dan Sean melihatnya.


"Kau tidak ingin tahu berapa usia gadis itu?"


Tanya Sean menyelidik.


Lagi lagi Alisha hanya diam, karena dia tidak ingin tahu berapa usia gadis saingannya.


'Hah..... Saingan?


Tidak, Aku bahkan tidak suka dengan pak Sean.


Jadi terserah dia, ingin hidup dengan gadis manapun atau menikahi gadis manapun'


Batin Alisha.


"Dia anak PAUD"


Sean berbicara tanpa menunggu jawaban Alisha.


"Dasar pedofil" (orang dewasa yang memangsa anak anak kecil)


Alisha berkata, tanpa melihat wajah Sean.


Lalu dengan kekuatannya, dan tangannya yang kokoh.


Sean dengan mudah meraih punggung Alisha, dan merebahkan tubuh Alisha di atas sofa. Sedang kan Sean berada di atas Alisha.


Perlahan lahan, Sean mendekatkan bibirnya ke arah Alisha.


Alisha terdiam, dan mulutnya ia katupkan rapat rapat.


Berjaga jaga, bila Sean hendak menciumnya.


Dan mata Alisha pun tertutup.


Karena tidak sanggup melihat Sean yang semakin mendekatinya.


Alisha bisa merasakan nafas Sean menyapu wajah Alisha.


Lalu, perlahan nafas itu berpindah ke sekitar telinga Alisha.


Alisha bergidik karena geli.


"Dan kau adalah, satu satunya mangsa kesukaan ku Alisha"


Alisha membuka matanya.


Lagi lagi wajah Alisha memerah.


Alisha dengan sekuat tenaga nya.


Mendorong tubuh Sean agar menjauhinya.


Akhir nya Alisha mampu berdiri.


"Permisi, saya mau pulang"


Ujar Alisha, lalu membalikkan badan.


Dan pergi meninggalkan Sean di rumahnya sendiri.


Sean kemudian, berlari mengejar Alisha dan menangkap tangan Alisha.


"Ayo, aku antar kau pulang Sha"


Ujar Sean yang kini mendahului jalan Alisha.


Alisha lalu berhenti.


Dan Sean pun menoleh ke arah Alisha.


Sean tidak mengerti, mengapa Alisha tiba tiba berhenti.


"Lepaskan tangan saya pak.


Saya mau pulang sendiri.


Bapak harus istirahat, karena orang yang habis di kerokin itu sebaiknya tidur dan istirahat"


Ucap Alisha dingin.


"Tidak Sha, aku harus mengantarmu"


Jawab Sean sambil menarik tangan Alisha, agar mau dia antar.


"Lepaskan tangan saya.


Dan biarkan saya pulang sendiri.


Kalau bapak tetap mengantar saya pulang, maka saya Nggak mau dekat dengan bapak"


Alisha menarik tangannya dari genggaman Sean.


Alisha pergi meninggalkan Sean yang berdiri terpaku di tempatnya.


Alisha bisa merasakan, Sean sedang menatap tubuhnya dari belakang.


'Fiuh.....


Untung pak Sean nggak jadi mengantar ku.


Kalau dia mengantarku, bisa bisa dia melihat Bella.


Kalau dia sampai melihat Bella maka berakhirlah semuanya'


Bersambung.........


Terima kasih, sudah membaca novel pertama saya.


Agar saya selalu bersemangat menulis cerita ini.


Mohon dukungan jempol dan juga vote kaka ya.......

__ADS_1


Terima kasih.......


__ADS_2