
Ke muncul an bi Ida yang tiba tiba, membuat Alisha kaget.
"Bi Ida?"
"***......"
Bi Ida menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri.
"Jangan bicara di sini mbak Alisha. Ayo kita bicara di kamar saya"
Bi Ida berbicara pelan, mirip seperti berbisik.
Bi Ida lalu membantu Alisha berdiri.
Alisha duduk di atas ranjang kamar bi Ida.
Kamar bi Ida tidak lah luas, ukurannya hanya tiga kali empat meter.
"Gimana kabar bi Ida?"
Tanya Alisha.
"Saya baik baik saja mbak Alisha. kabar mbak Alisha sama Bella gimana? baik baik saja kan?"
Bi Ida balik bertanya.
"Alhamdulillah.... Keadaan kami semakin baik bi. Saya sudah bisa beli rumah sendiri, kapan kapan mampirlah bi"
Alisha menuliskan alamat rumah dan juga nomer telpon nya.
Keadaan hati Alisha menjadi lebih baik karena melihat bi Ida yang selama ini menolongnya.
Memberi tumpangan gratis ketika Alisha tinggal di kota Ngawi.
Di kota itu, Alisha tinggal bersama ibu bi Ida yang sudah tua.
Di rumah bi ida, Alisha bertugas sebagai pengganti tugas bi Ida yang sedang bekerja di Surabaya.
Alisha membantu mengurus segala keperluan ibu nya bi Ida, walau Alisha juga harus mengurus segala kehamilan nya sendiri.
Namun Alisha tetap bersukur karena dia bisa pergi dari Sean yang menurut Alisha saat itu adalah, lelaki brengsek berkedok dokter.
Saat itu Alisha merasa tertipu dengan sikap baik Sean.
Alisha pun menyesal karena mencintai Sean.
Untuk itu Alisha memilih melarikan diri.
Kebetulan rumah bi Ida ada di lereng gunung.
Antara rumah bi Ida dan rumah tetangganya pun berjauhan.
Sehingga Alisha jarang keluar rumah.
Bila ada tetangga bi Ida yang menanyakan siapakah Alisha.
Bi Ida mengatakan bahwa Alisha adalah keponakan nya yang tinggal di Kalimantan.
Alisha tinggal di rumah bi ida karena suami Alisha meninggal dalam kecelakaan.
Sedangkan orang tua Alisha semua tetangga bi Ida tahu kalau mereka sudah meninggal.
Lalu oleh bi Ida, Alisha di ajak pulang ke Jawa.
Alisha tinggal di rumah hanya berdua dengan ibu nya bi Ida.
Bi Ida tidak punya anak.
Dan suami bi Ida sudah meninggal.
Karena berada di daerah yang terpencil.
Membuat Alisha sulit di temukan.
Tetangga bi ida pun jarang yang mengetahui keberadaan Alisha.
__ADS_1
Bi Ida sesekali pulang untuk melihat keadaan ibu nya dan Alisha.
Dan bi Ida me minta waktu untuk cuti kerja, ketika kehamilan Alisha sudah memasuki usia sembilan bulan.
Alisha melahirkan di rumah bi Ida dengan pertolongan dari seorang dukun beranak.
Sukurlah Alisha dan bayi nya selamat dan juga sehat.
Karena keadaan jalan yang terjal serta berbatuan.
Apalagi ketika musim penghujan datang, Jalanan di desa bi Ida menjadi becek dan licin.
Membuat kendaraan yang lewat harus ekstra waspada dan hati hati.
Karena keadaan desa yang kurang memadai, Membuat orang orang pergi meninggalkan desa dan mencari pekerjaan di luar desa.
Jarang ada orang yang betah berada di desa itu.
Kendaraan kendaraan pun memilih putar jalan apabila melewati desa itu.
Oleh karena itu lah desa bi ida agak terisolasi.
"Kita nggak bisa lama lama di sini mbak Alisha, nanti pak Sean keburu mencari kamu, jadi gimana mbak Alisha, apa pak Sean tahu kalau Bella itu anak nya?"
Tanya bi Ida.
Alisha menggelengkan kepalanya.
" Saya tidak ingin pak Sean tahu siapa Bella yang sebenarnya bi, saya masih ingat dengan jelas bagaimana pak Sean melecehkan saya.
Sekali lagi saya minta Tolong bi, bisakan bi ida rahasiakan tentang Bella pada pak Sean dan tante Hayu"
Alisha memohon pada bi Ida.
Dan bi Ida meng angguk.
"Iya mbak Alisha, saya pasti merahasiakan nya. mbak Alisha juga jaga diri baik baik, nanti saya telpon"
Alisha lalu keluar dari kamar bi Ida.
Dan Sean memaksa mengantarkan Alisha pulang.
Setelah sampai di rumah Alisha.
Alisha hendak turun dari mobil, tapi mobil masih terkunci rapat.
"Lihat tangan mu Alisha"
Sean menarik tangan Alisha yang tadi terluka.
Luka Alisha memang sudah tidak mengeluarkan darah, tapi masih terlihat basah.
Sean mengeluarkan sebuah plaster dari saku kemeja abu abu nya.
Tangan kanan Sean kemudian menempel kan plaster pada pergelangan tangan Alisha yang terluka.
"Tidak usah meng anggap serius kata kata mama ku tadi. kau bahkan boleh menikah dengan Radit"
Kata Sean sinis.
Sean kemudian membuka kunci mobil.
Dan Alisha tanpa pamit, langsung turun dari mobil Sean, dan masuk ke rumahnya.
********************
Tante Hayu selalu terbayang bayang kedekatan putranya dengan Alisha.
Dia senang sekaligus gundah.
Sean sejak kecil selalu menghindari perempuan.
Baik itu tua maupun muda.
Saat melihat Sean dekat dengan Alisha.
__ADS_1
Hati nya terharu dan bangga.
Ternyata putranya normal seperti laki laki yang lain.
Tante Hayu dulu bahkan sempat menduga apakah putranya punya ketertarikan pada sesama jenis.
Tapi semua itu terbantahkan dengan kedekatan Sean dengan Alisha.
Walau pun tadi hubungan Sean dan Alisha tampak tidak baik.
Tapi sepertinya Sean cukup menyukai Alisha
Tante Hayu tadi berdoa dalam sholat nya.
Semoga Sean dan Alisha nenjadi pasangan yang berbahagia.
"PA, tadi aku lihat Alisha sembunyi sembunyi bertemu dengan bi Ida"
Tante Hayu berbaring di samping suaminya yang masih membaca sebuah buku di atas kasur.
"Mungkin mereka sudah saling kenal"
Jawab om Hendra, matanya tetap fokus membaca bukunya.
"Tapi kenapa harus sembunyi sembunyi pa, Mereka bisa saja berbicara di mana saja di rumah ini tanpa harus sembunyi sembunyi.
Waktu pertama kali bi Ida melihat Alisha juga sangat aneh. bi Ida terlihat terkejut sampai sampai dia tidak sadar kalau gelas nya sudah penuh teh, aneh kan pa?"
Tante Hayu memandangi suaminya yang sudah terlihat semakin menua.
Saat ini suaminya menderita stroke ringan.
Dulu, ketika suaminya terkena serangan jantung.
Sean mengambil alih perusahaan.
Sean bahkan rela meninggalkan profesinya sebagai dokter. (tante hayu tidak tahu, alasan sean yang sebenarnya meninggalkan profesinya sebagai dokter adalah karena merasa bersalah dengan Alisha).
Perusahaan di bawah kendali Sean berkembang semakin pesat.
Tidak sia sia tante Hayu dan suaminya memberikan ajaran agar Sean selalu mandiri, dan tidak manja.
"Kalau ada yang ingin mama tanyakan sama bi Ida, tanya kan saja langsung pada bi Ida"
Saran om Hendra pada istrinya.
Tante Hayu kemudian bangun dari kasur, Namun sebelum tante Hayu turun dari kasur, om Hendra memegang tangan tante Hayu.
"Mau ke mana ma?"
Om Hendra memegang tangan istrinya.
"Aku mau ketemu bi Ida pa"
Tante Hayu sudah tidak sabar ingin mengetahui ada apa sebenarnya antara bi ida dan alisha.
"Besok saja ma, sekarang sudah jam delapan malam, bi Ida pasti sudah tidur karena kecapekan"
Om hendra menghentikan niatan tante hayu yang hendak menemui bi ida.
akhirnya tante hayu kembali melesakkan kepalanya ke bantal.
om Hendra kemudian dengan penuh kasih sayang menyelimuti tubuh tante Hayu yang lebih kecil dari nya.
om Hendra bersukur, istrinya selalu
setia, dan tidak pernah merendahkan dirinya sebagai seorang laki laki yang tak lagi sehat seperti dahulu.
Om Hendra juga bersukur karena istrinya tidak pernah mengeluh mengenai keadaan kesehatan nya yang semakin menurun sejak lima tahun terakhir.
Lampu kemudian di matikan oleh om Hendra.
Bersambung......
Jangan lupa jempolnya kuy....
__ADS_1
Vote kalian ku tunggu juga kuy......