
Tomi baru saja datang ke kantor, kemudian masuk ke ruangan Sean.
Baru saja Tomi masuk, Sean langsung menodong Tomi, dengan pertanyaan.
"Apa yang kau dapatkan setelah menyelidiki tempat kerja Alisha dulu?"
Sean sangat penasaran.
Ia menyesal mempercayai Alisha begitu saja tanpa menyelidiki terlebih dahulu.
"Berdasarkan informasi orang yang telah kita percayai sejak dulu....."
"Siapa orang yang menyelidiki ini?"
Sean tidak mau percaya begitu saja, tanpa tahu siapa penyelidik resminya.
"Dia Refan pak.Dia adalah salah satu anggota polisi aktif. Dia bekerja sampingan menjadi detektif swasta. Dan dia adalah, orang yang kita sewa ketika menyelidiki kasus bocornya data perusahaan kita, tiga tahun lalu"
Tomi memperlihatkan foto wajah Refan yang ada di ponsel nya.
"Aku masih ingat dengan nya. Baik lah aku percaya pada nya"
Ucap Sean sambil mengembalikan ponsel milik Tomi.
"Menurut informasi yang saya dapat kan, Alisha sudah berada di Bandung sejak empat tahun lalu, dia tinggal di rumah kontrak dengan anak nya yang masih bayi. Dia kuliah di perguruan *** di Bandung, perguruan itu sangat terkenal pak"
"Ya aku tahu, walau pun aku kuliah di Belanda, aku juga tahu, mana saja universitas terbaik di Indonesia, lanjut kan tentang Alisha"
Sean memotong perkataan Tomi.
"Alisha kuliah selama empat tahun. Ketika kuliah dia sempat bekerja di sebuah perusahaan percetakan yang lumayan besar, dia berada di bagian disain. sampai kuliahnya selesai dia tetap bekerja di situ, lalu Alisha keluar dari perusahaan itu, karena banyak para karyawan yang tidak menyukainya, Alisha di anggap terlalu cantik. Menurut salah seorang pegawai yang ada di sana, Alisha selalu menjadi rebutan karyawan yang ada di sana"
Sean tersenyum, mengingat kecantikan Alisha, kecantikan nya ternyata menjadi bomerang bagi diri nya sendiri.
"Terus, di mana Anak Alisha?"
Sean penasaran.
"Anak Alisha di rawat oleh pengasuh "
Jawab Tomi.
"Lalu suaminya kerja di mana? Aku mau tahu siapa suami nya Alisha"
"Suami? Menurut para tetangganya, dan Rekan kerja Alisha, Alisha sudah menikah dua tahun di Kalimantan, kemudian suaminya meninggal karena kecelakaan"
"Kau dapat foto suami Alisha?"
Dari dulu Sean penasaran siapa suami Alisha.
"Tidak pak, Refan tidak menemukan petunjuk apa pun tentang pernikahan Alisha maupun suami Alisha.
Menurut Refan, Alisha belum pernah menikah. Refan tidak menemukan catatan pernikahan Alisha di kementrian pencatatan sipil.
Dan, menurut Refan, Alisha tidak pernah pergi ke Kalimantan.
Karena Surat KK Bella tercatat di KK orang lain di Ngawi.
Aneh nya keluarga itu tidak ada satu orang pun anggota keluarga berjenis kelamin laki laki"
Tomi menjelaskan panjang lebar.
Tomi mendapat semua informasi nya dari catatan yang di berikan Refan.
"Baik lah, kau boleh keluar"
Ucap Sean pada Tomi.
Sean berpikir keras mencocok kan kejadian satu, dengan kejadian yang lain.
__ADS_1
Seluruh kejadian yang di sampaikan Tomi membuat dada Sean bergemuruh.
Sean mulai curiga siapa sebenarnya ayah Bella?
Sean pikir Alisha terlalu banyak berbohong.
Semua keterangan nya tidak ada yang sama dengan milik Refan.
Dada sean terasa sakit.
Dia takut kenyataan yang di hadapinya sesuai perkiraan nya.
Yang paling Sean takut kan adalah menghadapi kenyataan bahwa Bella adalah benar anak nya.
Sean takut tidak mampu menanggung penderitaan yang telah Alisha rasakan.
Penderitaan yang di sebabkan oleh dirinya.
*********
Hari sudah sore.
Sean masih belum beranjak dari kursi nya.
Masih ada beberapa berkas yang harus ia selesai kan.
Tok tok tok......
"Permisi pak Aldi, bisakah saya masuk?"
Terdengar suara Tomi, di luar pintu kantor Sean.
"Masuk"
Ucap Sean.
Tomi lalu masuk ke dalam ruangan Sean.
Tomi meletak kan amplop yang dia bawa di atas meja kerja Sean.
"Ini hasil tes DNA, yang bapak minta kemarin"
Sean lalu cepat membuka amplop coklat itu.
'Cocok'
Itu lah yang Sean baca di akhir tulisan dalam amplop ter sebut.
Tanpa Sean sadari butiran butiran bening jatuh dari ke dua mata nya.
Sean berulang kali membaca tulisan itu, meyakinkan mata dan hati nya.
Bahwa Bella adalah anaknya.
Tomi yang berada di depan Sean pun penasaran, mengapa bos nya menangis.
Pak Aldi yang tomi tahu, tidak pernah menangis di hadapan nya.
"Hm..... Boleh saya tahu kenapa bapak menangis?"
Tomi takut pertanyaan nya mengganggu bos nya yang sedang bersedih, tapi benarkah dia sedang bersedih? kenapa bibir nya tersenyum dalam tangisnya.
Tomi penasaran siapa sebenarnya yang sedang di selidiki oleh bos nya, hingga menguji tes DNA.
Kemarin Bos nya memberikan dua rambut yang berbeda, dan di tempat kan, dalam dua wadah yang berbeda.
Dia tidak sempat menanyakan nya, karena bos nya pergi begitu saja setelah memberikan rambut rambut itu.
Bos nya juga berpesan, agar Tomi harus secepat mungkin memberikan hasil nya.
__ADS_1
Tomi dengan cepat pun memberikan ke dua sampel rambut ke rumah sakit milik perusahaan Sean, dan sore ini hasil nya sudah bisa di ambil.
"Aku bahagia tom"
Sean akhirnya bicara.
Dia meng hapus air mata nya yang terus mengalir.
Tapi bibir nya ter senyum bahagia.
Sedang kan Tomi ber sabar menantikan penjelasan bos nya.
"Kau ingat Bella anak nya Alisha?"
Sean menatap Tomi, mata nya merah karena menangis.
"Ya, saya ingat"
Tomi masih ingat dengan anak perempuan kecil yang Bos nya larikan ke rumah sakit dalam sebuah kecelakaan.
Anak itu adalah anak Alisha.
Anak itu cantik tapi tidak mirip dengan Alisha.
Jenis cantik mereka berbeda.
Kecantikan Alisha khas orang Indonesia.
Sedang cantik anaknya lebih dominan mirip orang Tionghoa.
Tomi mulai menebaka nebak, jangan jangan.......
"Bella adalah anak ku Tom"
Sean berkata sambil tersenyum, sedangkan tangan nya sesekali menghapus air mata nya.
"Bapak yakin?"
Tomi tidak percaya dengan ucapan bos nya yang selama ini selalu terlihat ketakutan bila di dekati perempuan manapun.
Kecuali Alisha.
"Aku yakin Bella adalah anak ku, ini bukti nya"
Sean meng angkat amplop coklat berisi hasil tes DNA.
"Lagi pula, dulu aku dan Alisha tanpa sengaja pernah..... Tidur bersama"
Sean akhirnya membuka aib dirinya bersama Alisha.
"Jadi bapak menangis karena bahagia?"
Tanya Tomi.
"Ya, aku sangat bahagia. Tapi aku juga bingung harus mulai dari mana mengatakan pada Alisha"
Sean lalu berdiri, dia mengambil jas nya yang tergantung di sebuah gantungan jas.
"Ayo pulang Tom, tapi hari ini nggak usah naik mobil ku, ambil mobil mu di rumahku pakai taksi atau apalah, terserah kamu Tom. Aku mau ke suatu tempat"
Ucap Sean pada Tomi.
"Jangan bilang kalau bapak, mau menemui Alisha"
Tebak Tomi.
"Pintar kau Tom, tebakan mu benar"
Mereka lalu keluar dari ruang kantor Sean.
__ADS_1
bersambung.....