
Ethan berdiri di balkon Lantai 2, memandang Kediaman Austin yang saat ini sedang direnovasi menjadi sebuah Guild Base. Karena situasi menjadi sangat berisik tidak lama lagi, Ethan meminta anggota Trouble Guild membawa anggota Keluarga mereka ke Guild Base ini.
"Ey." Jun datang dan menempelkan kopi kaleng dingin ke wajah Ethan.
Ethan meliriknya dengan wajah kesal. "Apa? Kamu ingin dibantai dalam game lagi?"
Jun menertawakan kata-kata Ethan. "Berhenti mengungkit perasaan traumatis itu. Selain itu, berhenti juga untuk khawatir. Semuanya seharusnya baik-baik saja, kan? Kamu sudah bekerja dengan keras."
Apa yang Jun katakan bukan hiburan kosong. Ethan sudah bekerja dengan sangat keras. Seorang diri, Ethan menaklukkan lebih dari 50 Spiral di luar Pulau Jawa dalam waktu kurang dari 20 hari. Pencapaian itu sangat luar biasa, mengingat membutuhkan waktu yang lama untuk pindah dari satu Spiral ke Spiral lainnya.
Selain itu, Ethan secara sukarela membagikan Basic Swordsmanship di Sistube, membantu para Hunter menjadi lebih terbiasa menggunakan senjata. Dengan bantuan dari Ethan, Hunter yang mati di Spiral berkurang secara signifikan. Dia benar-benar seperti seorang Protagonis di dalam cerita.
Ethan menghela nafasnya dan meminum kopi yang Jun bawakan. Dia memandang langit Dieng yang sangat indah dengan sedikit awan. Kemudian, dia bertanya kepada Jun mengenai Menara.
"Apakah kamu ingin pergi ke Menara, Jun?"
Mendapatkan pertanyaan tidak terduga, Jun hampir tersedak kopi miliknya. Dia menatap Ethan dengan mata melotot.
"Menara? Apakah kamu gila? Bahkan militer saja tidak ada yang kembali."
Keterkejutan Jun berdasar. Sudah bukan rahasia umum seberapa berbahaya Tower itu sendiri. Tidak ada satupun dari orang-orang yang masuk ke dalam Tower dan keluar sejak satu bulan lalu.
"Jika begitu, aku akan masuk sendiri untuk kali ini. Sampaikan kepada yang lain untuk mempersiapkan mental mereka karena suatu saat nanti, mereka pasti akan masuk Tower jika, mereka masih ingin terus berada dalam Industri Players." Ethan melempar kaleng kopinya ke dalam tempat sampah dan pergi setelah mengatakan hal yang mengganggu.
Jun meraih bahu Ethan untuk menghentikannya. "Tunggu. Apakah kamu serius? Jika kamu mengatakan itu karena kami tidak ingin pergi, itu benar-benar kekanakan, Ethan."
"Hah …" Ethan menghela nafas dan berbalik Jun lagi dengan ekspresi serius. "Apakah aku pernah merajuk seperti itu selama ini? Aku ingin ke Tower karena ada yang harus dilakukan di sana. Selain itu, lebih efektif jika aku masuk sendirian karena dengan level kalian saat ini, kalian hanya akan menghalangi. Kamu orang paling sadar akan hal itu, kan?"
Jun terdiam tidak bisa membalas kata-kata Ethan. Semua anggota Guild Trouble sadar jika Ethan berada di tingkat berbeda dari semua anggota lainnya. Namun, mereka selalu berpikir jika mereka bisa mengejar Ethan suatu hari nanti. Hanya Jun yang selalu melakukan sparing dengan Ethan yang paham jika Ethan benar-benar setinggi langit. Manusia tidak akan selalu memandangnya dan tidak pernah sampai meraihnya.
Jun melepaskan tangannya dari bahu Ethan. Dia menggigit bibir bawahnya dengan frustasi. "... Setidaknya, katakan itu kepada Erica dan Nina. Mereka mungkin akan khawatir."
"Jangan khawatir. Aku akan menemui Erica malam ini." Ethan tersenyum kecil dan pergi meninggalkan Jun.
***
Ethan dan Erica menonton acara TV di kamar. Ethan terlihat bingung bagaimana cara dia mengatakan pada Erica tentang perjalanannya menuju Tower.
"Apa ada hal yang ingin anda katakan, Tuan?" Erica menatap Ethan yang tidur di pahanya.
Ethan melirik Erica. Melihat senyum Erica, Ethan semakin merasa berat mengatakan kepergiannya menuju Menara. Dia tidak mau membuat Erica khawatir.
"Erica … aku ingin pergi ke Tower."
Erica menghentikan tangannya yang sedang mengelus kepala Ethan. Dia membeku sesaat dengan wajah kaku.
"... Apakah anda memiliki sesuatu untuk dilakukan di Tower?"
Ethan senang Erica dengan cepat mengerti. "Benar. Ini aku butuhkan untuk rencana di masa depan."
Erica terlihat bimbang. Namun, melihat Erica yang tidak langsung melarang, membuat Ethan sedikit berharap lebih Erica akan memberikan izin. Ethan tidak bisa membayangkan dia akan pergi diam-diam jika Erica tidak memberikan izin.
Setelah berpikir dengan ekspresi rumit, Erica akhirnya mengangguk. "... Tidak masalah. Kakak bisa pergi. Hanya saja, tolong jaga diri Kakak dengan baik dan jangan memaksakan diri, oke?"
Ethan merasa hatinya sangat disembuhkan dengan melihat wajah Erica. Ethan secara refleks meraih wajah Erica dan menariknya mendekat dengan cara lembut.
Bibir keduanya bersentuhan. Nafas mereka saling memburu satu sama lain memenuhi ruangan sunyi. Ketika mata keduanya bertemu, mereka tahu, mereka saling merindukan satu sama lain dan saling mengkhawatirkan satu sama lain. Hal ini membuat mereka semakin intens.
Erica adalah, yang pertama kali mundur dari pertarungan sengit tersebut. Dia menatap Ethan dengan senyum nakal di bibirnya.
"... Fufu. Anda benar-benar pandai seperti bukan kali pertama melakukannya."
Ethan bangun dan mendorong Erica yang tidak melawan ke kasur. Keduanya saling memandang satu sama lain.
"... Jika begitu, haruskah aku mengajarkan Nona Saintess, kita ini?"
Erica menunjukkan senyum menantang. "Jika anda melakukannya Tuan, saya sudah tidak bisa dipanggil Saintess lagi. Namun, Anda beruntung saya sudah lama ingin melepaskan gelar ini."
***
__ADS_1
"Erica! Gawat! Kakak ingin pergi ke Menara!"
Tepat ketika matahari baru saja terbit, Nina datang ke kamar Ethan dan Erica. Dia masuk bahkan tanpa mengetuk pintu.
Namun, ketika dia masuk, Erica yang biasanya bangun pagi, masih tertidur lelap dengan kasur yang berantakan. Nina terkejut melihat kondisi kamar yang berantakan. Kasur basah seolah atap mengalami kebocoran. Wangi pandan tercium di seluruh ruangan.
Erica yang mendengar suara berisik Nina terbangun. Ketika dia bangun dengan keadaan setengah sadar, Erica tidak sadar jika tubuh bagian atasnya tidak lagi memiliki pertahanan bahkan satu helai kain di tubuhnya.
"Nina. Kamu sangat berisik di pagi hari." Erica berbicara dengan jengkel sambil mengusap matanya yang masih mengantuk.
Bahkan untuk Nina, dia tidak tahu bagaimana harus berbicara dan merespon situasi canggung saat ini.
"A– Ah. Selamat pagi, Erica. Tidak, kamu bisa lanjut istirahat. Turun jika kamu sudah merapikan kamar." Nina menutup pintu dengan cepat dan dengan cepat pergi menutupi wajah meronanya.
Erica memiringkan kepalanya bingung dengan tindakan Nina. Namun, ketika dia menyadari bagaimana situasi kamarnya dan tubuhnya, wajah Erica menjadi merah hingga telinga dan lehernya.
"Ap– Apa yang sudah aku lakukan!?"
Pada akhirnya, Erica memutuskan untuk tidak turun dari kamarnya karena terlalu malu. Selain itu, dia juga terlalu sulit berjalan karena sakit dan kakinya yang lemas tidak bertenaga.
***
Ethan yang sudah pergi di pagi hari, berjalan di tempat gelap gulita. Tempat dengan karpet merah usang dan tembok yang penuh dengan lumut. Itu benar-benar terasa seperti tempat abad pertengahan yang sering muncul di dalam film horor.
"Meskipun sudah tua, tempat ini masih cukup bagus. Hanya butuh sedikit perbaikan."
Setelah berkeliling selama beberapa jam, Ethan sampai di ruangan besar. Di tengah-tengah ruangan itu, terdapat sebuah kursi takhta yang terlihat usang. Ethan berjalan mendekati takhta itu. Namun, langkahnya terhenti ketika sekelebat asap hitam muncul dan membentuk siluet humanoid.
"Penyusup … harus mati. Tidak ada yang boleh menyentuh Lord." Siluet humanoid Ksatria itu menghalangi Ethan dan mengacungkan pedang ke arah Ethan.
Ethan tidak begitu terkejut. Tanpa mengatakan apapun, Ethan menarik pedang hitam legam dari sarungnya.
[Sword of Fanta.
Rank: Rare.
Durability: 220/220.
Setelah saling menatap selama beberapa detik untuk menilai satu sama lain, Ethan dan Ksatria Hitam menendang tanah dan berakselerasi menutup jarak antara mereka.
Klang!
Suara benturan kedua pedang bergema. Dalam satu pertukaran itu, keduanya bisa mendapatkan informasi yang sangat banyak. Salah satunya, perbedaan level di antara mereka terlalu jauh.
"Ugh." Ethan mulai terdorong mundur. Dia bahkan hanya naik sepuluh level setelah menyelesaikan 50 Gate. Itu terlalu rendah.
Memfokuskan Mana di kakinya, Ethan menendang tanah untuk mundur menjaga jarak. Namun, seolah sudah menduga, Ksatria Hitam mengejar Ethan dan tidak membiarkan Ethan untuk kabur.
"!?"
Ethan dipaksa untuk bertahan. Dia sebisa mungkin berusaha menghindari saling beradu pedang. Jika tidak mungkin untuk menghindar, Ethan berusaha untuk menggeser arah serangannya dengan sisi bilah pedangnya.
Aura hitam menyelimuti pedang Ksatria Hitam itu. Pipi Ethan berkedut melihat serangan yang datang mustahil untuk dihindari.
"Penyusup … mati!"
Aura hitam pekat setengah lingkaran menyerang lurus ke arah Ethan dengan kecepatan hampir setara dengan mobil balap.
Bam!
Ledakan yang disusul dengan awan asap mengepul di tempat Ethan berdiri sebelumnya.
"Hah … Hah …." Ethan berhasil dengan tepat waktu membuat barrier untuk melindungi dirinya sendiri.
Ketika Ethan berpikir dia sudah aman dan bisa bernafas, Ksatria Hitam seolah sudah menduga Ethan akan selamat dari serangan besarnya, muncul dari balik asap dan menusukkan pedangnya ke arah Ethan.
"Kuh, sial!" Ethan dengan putus asa mencoba untuk menghindar.
Slash!
__ADS_1
"Ouch." Ethan meringis kesakitan ketika tangan kanannya tergores cukup dangkal. Ethan benar-benar berhasil menghindar serangan dari jarak yang sangat dekat.
[Persyaratan misi untuk menduplikasi selesai.]
[Anda akan mendapatkan skill ketika membunuh musuh.]
Ketika pesan sistem muncul, Ethan tersenyum kecil. Aura-nya mulai berubah. Semula Ethan hanya terlihat pendekar pedang dengan niat membunuh yang luar biasa. Namun, sekarang Ethan terasa seperti penguasa Han menginjak semua yang ada di bawahnya. Intimidasi yang dihasilkannya bahkan membuat tubuh Ksatria Hitam membeku.
"Sekarang, ayo kita mulai ronde keduanya–"
"!?" Ksatria Hitam terkejut ketika Ethan tiba-tiba menghilang dari pandangannya.
Ethan dalam sepersekian detik muncul di depan Ksatria Hitam. Dia menghunus pedangnya ke arah jantung Ksatria Hitam itu.
Merasa tidak mungkin untuk menahannya, Ksatria Hitam memilih untuk sedikit mundur sembari menebas punggung Ethan. Ksatria Hitam ingin yang yakin dengan keunggulan statusnya, merasa dia akan lebih diunggulkan dari Ethan jika bertukar luka.
Ethan menyeringai. Dia berhenti tepat beberapa inchi dari ujung pedang Ksatria Hitam itu. Kemudian, Ethan melapisi pedangnya dengan aura abu-abu dan menambah jarak serangannya.
Jleb!
Aura pedang Ethan yang diperpanjang berhasil menembus dada kiri Ksatria Hitam dan menghancurkan inti ungu yang berada di sana.
"Penyusup … harus … mati–" Ksatria Hitam itu menghilang tertiup angin menyebar ke segala arah.
Ethan menyeka pedangnya dengan sapu tangan sebelum dimasukkan ke dalam sarungnya kembali.
[Anda mendapatkan skill .]
[Intuisi (Passive)
Grade: A.
Meningkatkan indera keenam pengguna.]
Ethan menatap sistem dengan penuh senyum. "Ini skill yang bagus untuk dimiliki di awal."
Ethan mengalihkan pandangannya ke arah takhta lagi. Tujuan utama Ethan adalah, Takhta tersebut. Ketika mendekat, Ethan menggunakan [Monarch Eyes] miliknya.
[Guilty Throne.
Grade: Legendary.
Sebuah Takhta yang dimiliki oleh Count of Albert II semasa hidupnya.
Skill:
Pesona Bangsawan: Ketika duduk di Takhta, memberikan intimidasi pada musuh yang lebih lemah untuk tunduk.
Pengorbanan Penjaga: Menciptakan Penjaga yang terbuat dari bayangan untuk menjaga Lord.
Cinta Kasih: Menerima semua damage yang diterima para bawahan.
]
__ADS_1
Ethan meregangkan badannya dan duduk di atas takhta, tersenyum puas dengan hasil jarahannya.
"Dengan ini, seharusnya aku bisa melanjutkan ke rencana berikutnya."