
Ethan yang berpisah dari semua anggota guild terus bergerak sambil membunuh Monster yang ada di depannya. Ethan pergi ke wilayah dengan Monster berlevel tinggi sesuai dengan ingatan kehidupan sebelumnya.
Ethan berdiri di depan makhluk humanoid dengan wajah seperti reog dan tubuh yang dipenuhi otot. Makhluk itu setinggi dua setengah meter membawa kapak perang yang hampir sebesar setengah dari tubuhnya.
"Groaaar!" Dengan penuh permusuhan, makhluk humanoid merah itu menuju Ethan.
Mengangkat kapaknya tinggi, makhluk merah itu mengayunkannya dengan maksud membunuh Ethan dalam satu kali serang.
Bam!
Ethan yang tidak berusaha untuk menahannya, melompat menjauh. Sudut bibirnya berkedut melihat tanah tempatnya berdiri sebelumnya, hancur dan terbelah menjadi dua.
Ethan tidak terlarut dalam pikirannya dan begitu kakinya menyentuh tanah, Ethan melakukan akselerasi untuk menutup jarak melawan Monster Merah yang masih belum mendapatkan posisinya.
Dengan pedang yang dilapisi aura hitam, Ethan berusaha untuk menebas leher Monster Merah itu.
Klank!
Namun, pedangnya tertahan oleh kapak besarnya. Ethan tidak berhenti, memutar sedikit lengannya, Ethan menusukkan pedangnya ke bahu kanan dari Monster itu.
"Kuaaahh!?" Monster merah menjerit karena rasa sakit yang teramat dari bahu kanannya.
Marah. Mata Monster itu memerah. Dia memandang Ethan bukan hanya dengan permusuhan tetapi, niat membunuh yang intens.
"Roaaaar!" Monster itu sekali lagi menerjang dengan kecepatan yang luar biasa.
Namun, untuk Ethan yang hanya menginvestasikan poin statusnya ke dalam Agility dan Mana, kecepatan itu sangat lambat. Hanya dengan satu tendangan, Ethan sudah menutup jarak dengan Monster itu.
"!?" Monster yang tidak siap memiliki celah yang sangat terbuka. Ethan sama sekali tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengincar jantung Monster merah itu.
Jleb!
Pedang Ethan berhasil menembus cukup dalam. Namun, hal itu belum bisa menghentikan Monster itu. Monster itu dengan segala kekuatan terakhir yang dimilikinya, berusaha untuk membawa Ethan mati bersamanya. Dengan pangkal kapak besarnya, dia berusaha menghancurkan kepala Ethan.
__ADS_1
Bam!
Awan debu naik menutupi Ethan dan Monster Merah itu. Hasilnya muncul setelah awan debu sepenuhnya hilang. Ethan berdiri di sana sementara itu, tubuh dari Monster merah benar-benar lenyap.
Ethan menghembuskan nafasnya dan mengibaskan pedangnya sebelum kembali dimasukkan ke sarung kembali.
"Melawan Monster Mutasi, Bloody Ogre, benar-benar menguras banyak mana. Untungnya, sirkuit mana-ku sudah melebar setelah melawan Orc."
Ethan sengaja memaksimalkan penggunaan mana miliknya saat melawan Orc. Itu karena dia percaya Erica bisa menyembuhkannya. Itu pertaruhan yang sangat berbahaya. Untungnya, Ethan menang dari pertaruhan tersebut.
Ethan meregangkan tubuhnya. "Sekarang, ayo kita bunuh semua Monster di area ini sebelum tidur."
***
Kelompok Erica dan Nina sudah bersatu ketika mereka tidak sengaja bertemu di tengah jalan. Saat ini, mereka mengawal hampir tiga Bus dan lima belas mobil pribadi besar dan kecil. Jumlah mereka sangat banyak hingga membuatnya sedikit sulit untuk dikendalikan.
Untungnya, mereka sampai di Kantor Asosiasi Players dengan selamat tanpa ada konflik yang berarti.
"Berhenti! Katakan afiliasi dan tujuan kalian!" Tentara yang menjaga barikade, berteriak dengan keras.
Setelah itu tidak ada jawaban dari arah Asosiasi Player. Sebelum akhirnya pintu gerbang terbuka dan membiarkan semua kendaraan untuk masuk.
Hu Tao yang duduk di atas Bus dengan sabitnya, berseru kagum melihat banyaknya warga selamat. "Sepertinya pemerintah tidak sepenuhnya tidak berguna, ya."
Kiaa terlihat sedikit rumit mendengar kata-kata Hu Tao. Bagaimanapun, ayahnya adalah, bagian dari pemerintah yang dipandang buruk oleh rekan satu timnya.
Begitu Bus berhenti, Arya dan Michael membantu untuk mengatur semua orang untuk turun. Untungnya, setelah begitu banyak konflik, tidak ada lagi yang berani untuk membuat kerusuhan.
"Sepertinya kita kedatangan cukup banyak tamu, ya." Seorang pria paruh baya dengan senyum yang terlihat sopan berbicara melihat para pengungsi.
Jun yang bertindak sebagai perwakilan berjalan mendekati pria paruh baya itu. "Apakah anda orang yang bertanggung jawab atas tempat ini, Pak?"
Pria tua itu melihat ke arah Jun dan memeriksanya dari atas ke bawa, sebelum mengangguk. "Itu benar. Aku tidak pernah melihat kalian, apakah kalian dari Guild tertentu?"
__ADS_1
Pria tua itu, Presiden Asosiasi Jawa Tengah, yakin dia tidak pernah melihat Trouble Guild. Karena, melihat mereka berhasil membawa begitu banyak pengungsi artinya, mereka cukup kuat untuk bertarung sambil menjaga para warga yang mereka kawal. Tidak mungkin pria tua itu tidak mengetahui jika ada Player dengan skill kuat seperti itu.
"Karena beberapa alasan, kami tinggal di Gunung. Ini pertama kali kami turun Gunung."
Pria itu mengangguk dan tertawa. "Setiap orang punya cerita mereka masing-masing. Jika begitu, biarkan aku memperkenalkan diri. Namaku Ganjar Alamsyah, Presiden Asosiasi Player Jawa Tengah dan Jawa Timur."
"Saya Jun, dari Trouble Guild. Karena saat ini anggota lain sedang mengurus para pengungsi, jadi, saya akan perkenalkan mereka di lain waktu."
"Tentu, aku bisa melihatnya. Terima kasih untuk bantuan kalian."
Jun melihat mata dari Ganjar. Meskipun terlihat ramah, matanya sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Itu adalah mata orang yang tamak dan penuh keinginan.
"Tidak perlu berterima kasih, Pak. Kami akan segera pergi lagi besok. Kami melakukan apa yang kami bisa hari ini. Tidak lebih."
Mendengar kata-kata Jun, ekspresi Ganjar menjadi serius dan tidak lagi tersenyum. "Apa maksudnya itu? Apakah kamu ingin meninggalkan orang yang susah kamu selamatkan?"
Jun memejamkan matanya menahan jengkel. "Pak. Tugas kami membantu evakuasi. Ketika mereka sudah di sini, semua itu menjadi tanggung jawab pemerintah. Jadi, saya harap anda mengerti."
"Kami kekurangan Player berbakat. Selain itu, Tentara sama sekali tidak bisa melawan Monster. Terlalu tidak bertanggung jawab jika kalian pergi dengan kekuatan kalian itu." Ganjar masih berusaha untuk membuat Jun dan Trouble Guild sebagai orang jahat jika pergi.
Namun, Jun sama sekali tidak peduli. "Asosiasi sudah memiliki dana yang banyak dari penjualan import magic stone, kan? Anda bisa gunakan itu untuk membeli senjata bagi para Tentara. Ah, anda tidak mungkin tidak tahu jika Monster hanya bisa dibunuh dengan senjata yang mengandung Mana, kan?"
Mendengar kata-kata Jun, wajah Ganjar menjadi mengeras. Dia membalas dengan suara tergagap. "Y– Yah, tentu saja aku tahu. Namun, mereka tidak memiliki skill–"
"Maka, aku akan menyampaikan hal ini kepada Menteri Pertahanan nanti. Bagaimana mungkin TNI tidak bisa menggunakan senjata seperti busur atau paling minimal menggunakan belati."
Ganjar menjadi pucat. Dia tidak bodoh. Jika kata-katanya sampai kepada Menteri Pertahanan, itu bisa menimbulkan masalah karena dia merendahkan TNI.
"... Lakukan sesukamu. Pergilah jika kamu memang tidak peduli dengan orang-orang di sini."
"Tentu. Dari awal kami akan melakukannya."
Ganjar pergi dengan wajah marah. Sementara Jun menghela nafas lega setelah Ganjar pergi.
__ADS_1
"Hah. Aku benar-benar tidak cocok berhubungan dengan orang munafik seperti itu."