The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 34 - Chaos


__ADS_3

Ethan dan Alice berdiri diam memandang pertempuran yang pecah begitu stampede terjadi. Monster yang meluap dari dalam hanya sekitar E Rank dan yang terkuat hanya Lizardman, Monster Rank C.


"Alice, apakah kamu bisa bertarung dengan baik? Akan sangat buruk jika kamu tertangkap Goblin."


"Kamu pikir, kamu sedang berbicara dengan siapa?" Alice membalas dengan sangat sombongnya.


Ethan tersenyum lebar mendengar jawaban penuh kebanggaan Alice. Dia lalu menarik Katana yang dibuat dengan Magic Iron oleh Leo dengan Rune yang memperkuat bilahnya.


"Ayo kita bertarung sepenuh hati, Alice."


"Berisik, Pembully dan pria mesum." Meski dia membalas dengan ketus, Alice masih mengeluarkan sabit merah yang merupakan miliknya.


Segera, keduanya bergabung ke medan perang yang begitu sengit. Hunter perlahan mulai terdorong mundur karena perbedaan jumlah yang signifikan.


"Kieeek!"


"Cieeeee!"


Ruangan monster menggetarkan udara dan satu persatu Hunter mulai gugur. Situasi peperangan sudah tidak terlalu baik dan hanya masalah waktu hingga Benteng nomor tiga jatuh.


Splash! Splash!


Kepala monster jatuh satu persatu dengan waktu singkat. Hunter lain terkejut dengan air mancur darah yang menyembur ke luar dari leher monster.


"Ap– Apa yang terjadi?"


"Orang itu– Ethan Austin!"


"Oh, dia benar-benar datang ke Amerika Serikat!"


Ethan bergerak dengan sangat dinamis. Tebasannya sangat sempurna dan indah seolah dia sebuah program robot yang diciptakan untuk membantai para Monster.


Alice yang bergerak tepat di belakang Ethan, melindungi punggung Ethan tidak melewatkan satu musuh pun untuk menyerang titik buta Ethan. Dengan senjatanya, dia juga menyapu bersih, membuat barisan Monster menjadi sangat kacau.


Moral pasukan naik melihat seberapa luar biasa kerja sama keduanya. Keyakinan akan kemenangan naik hingga maksimal.


"Jangan takut! Hunter Terkuat ada bersama kita!"


"Maju! Maju! Maju!"


"Bekerja sama dengan orang terdekat! Jangan berpisah!"


Hanya dengan bantuan dari dua orang, situasi medan perang berubah menjadi 180°. Pihak manusia yang awalnya dirugikan perlahan mulai mendorong mundur Monster di sekitar Benteng.


Ethan berhenti bergerak di tengah-tengah gunung mayat dan sungai darah. Gelombang sihir yang begitu kuat perlahan mulai mendekati Benteng 3.

__ADS_1


"... Mengapa makhluk dari Lantai 10 bisa ke luar dari Stampede Lantai 4?" Alice yang juga merasakan energi sihir dari kejauhan, mengerutkan keningnya.


Ethan mengangguk. Jumlah energi sihir dari Monster ini bukan Monster peringkat rendah seperti Lizardman atau Ogre. Jika melihat magic patternnya, Ethan menduga musuh kali ini merupakan death knight.


Ethan berbalik memandang medan perang yang sudah mulai kondusif. Jika bisa, Ethan ingin menyuruh mereka untuk mundur dan pergi dari sini. Namun, memikirkan harga diri mereka, Ethan cukup yakin mereka tidak akan mundur meski dia menyuruhnya.


Alice memandang Ethan yang sedang gelisah, mencoba meyakinkan Ethan. "Mengapa kamu begitu gelisah? Kamu berhasil menahan Avatar dari Bajingan Dracula. Musuh lebih lemah daripada Dracula. Tidak ada alasan kamu akan kalah hanya melawan Death Knight."


"Hm?" Ethan memandang Alice yang berbicara dengan nada serius. Ethan tertawa kecil dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku bukan takut. Aku justru sangat bersemangat sekarang ini."


Alasan Ethan datang ke Amerika Serikat seorang diri, tentu saja karena dia ingin bertarung lebih banyak. Jika membawa rekan, Ethan tidak akan bisa bertarung begitu lama.


Alice memandang Ethan dengan tatapan aneh. Dia tidak menyangka pria yang dianggapnya memiliki penilaian yang tenang, ternyata merupakan seorang otak otot.


"Kamu tunggu di sini. Aku akan menyelesaikannya dengan cepat."


"Jangan terlalu jauh. Aku tidak akan bisa menggunakan mana jika kamu pergi terlalu jauh."


"Tentu."


Ethan menendang tanah dan bergerak menuju ke arah Death Knight yang semakin mendekat ke arahnya. Dia tidak menyadari jika sekarang bibirnya menyeringai seperti seorang maniak perang.


Sesampainya di mana gelombang mana berasal, Ethan bisa melihat makhluk humanoid bipedal yang mengenakan armor full plate hitam legam. Aura suram dan lengket menyelimuti di sekitar Knight itu.


Keduanya yang sudah saling menyadari kehadiran satu sama lain, saling memandang sejenak mengukur kekuatan bertarung satu sama lainnya. Kemudian, pada detik berikutnya, mereka menendang tanah bersamaan dan menutup jarak.


Clank!


Death Knight menyadari jika dia memiliki keunggulan dalam segi kekuatan sehingga dia lebih menekan Ethan.


Tidak ingin beradu dari depan, Ethan mencoba mundur dengan momentum yang diciptakan serangan Death Knight. Namun, rencananya dengan tepat ditebak oleh musuh. Death Knight terus mengejar Ethan membuat Ethan tidak dapat masuk ke dalam temponya sendiri.


Meskipun tertekan, Ethan sama sekali tidak terkena serangan. Ethan unggul di kecepatan sedikit. Jadi, tidak ada masalah untuk Ethan memberikan respon terhadap serangan musuh.


"Tetap saja, ini berat."


Pertarungan panjang melawan Undead adalah, sebuah ide yang bodoh. Jadi, tidak mau terlalu lama, Ethan mulai melapisi bilahnya dengan Void Atribut.


Clank!


Ethan tidak lagi terdorong mundur. Namun, tangannya masih gemetar ketika saling bersilang pedang. Meskipun begitu, Ethan justru berusaha menyerang dengan lebih agresif.


Clank! Clank!


Posisi dengan cepat terbalik. Ethan mulai menekan Death Knight. Tentu saja Death Knight bukan tanpa perlawanan, dia berusaha yang terbaik untuk membalik arah pertarungan. Sayangnya, Ethan bukan orang yang suka mengikuti tempo orang lain.

__ADS_1


Sstt.


Pedang Ethan berhasil menggores tipis helm dari Death Knight. Pertarungan yang sejak awal buntu, perlahan mulai condong ke arah Ethan. Gerakan Death Knight mulai melambat dan dia kehilangan kekuatan pada pedangnya.


Death Knight sadar jika sword aura Ethan perlahan menelan Death Aura yang mengelilingi tubuhnya. Dia berusaha untuk membunuh Ethan sebelum pada akhirnya, seluruh Death Aura miliknya lenyap.


"Sayang sekali. Namun, kamu terlalu lambat menyadarinya, Tuan Ksatria."


"!?"


Sstt!


Tebasan abu-abu membentuk curva setengah lingkaran yang indah membelah tubuh logam Death Knight. Ethan tidak hanya asal membelah tubuhnya, dia juga memotong life vessel Death Knight.


[Anda membunuh Death Knight.]


[Anda mendapatkan 18.000 Experience Point.]


Ethan mengibaskan pedangnya dan kembali meletakkannya ke dalam sarung. Situasi peperangan sudah membaik hingga ke titik tertentu. Jadi, seharusnya dia bisa pergi ke Benteng lainnya untuk memberikan bantuan.


"... Atau tidak. Harga diri seseorang itu benar-benar aneh. Jadi, lebih baik lakukan sewajarnya."


Ethan mengurungkan niatnya dan dia kembali ke Benteng nomor 3 yang gelombang pertama Stampede akan segera berakhir sesaat lagi. Dia tidak sabar ingin meregangkan tubuhnya.


***


Berbeda dengan Amerika Serikat, di Belanda, situasinya benar-benar sangat genting. Total, sudah 3 Benteng yang jatuh ke tangan Monster dari total 7 Benteng. Alasan di balik kejatuhan Amsterdam yang begitu tiba-tiba adalah, kemunculan Monster yang diperkirakan berada di level 100, Elder Lich.


Di Benteng nomor 1, Carmila, Trouble Guild, dan beberapa Hunter berdiskusi mengenai tindakan yang akan mereka lakukan untuk mengambil alih Benteng yang sudah jatuh ke tangan Monster.


"Tentu saja kita harus mengambil alih! Jika menunda-nunda, Benteng itu akan menjadi halangan di masa depan!" Seorang pria muda kurus, menyampaikan pendapat dengan suara yang sangat melengking.


Hu Tao mengerutkan keningnya dan menyumpal telinganya yang hampir pecah. "Berhenti bermimpi. Itu mustahil ketika kita bahkan hampir tidak bisa bertahan menahan gelombang Stampede. Apakah kamu bodoh?"


Pria muda kurus itu membanting meja dengan wajah merah karena marah. "Kamu orang luar tidak mungkin paham pemikiran kita! Orang dari Bangsa yang dulu menjadi budak, berani sekali mengatakan hal yang sombong–"


"Guild Master Alkmar!" Carmila berteriak dan melirik pria kurus itu dengan tatapan penuh dengan niat membunuh. "Jika kamu berbicara lebih, jangan salahkan aku memberikan hukuman kepada kamu."


"Keuk!" Guild Master dari Alkmar Guild, menahan nafasnya dan dia menundukkan kepalanya. "Ya. Maafkan aku. Aku hanya berusaha memikirkan hal yang baik untuk Negara."


Hu Tao kemudian bangun dari tempatnya duduk. "Jika begitu, aku akan pergi dari sini. Toh, aku bukan orang dari Negara ini. Silahkan selesaikan urusan kalian sendiri."


"Tunggu, Lady Hu Tao–"


Hu Tao memandang Carmila dengan senyum ramah. "Kamu bisa tenang. Kami tidak melanggar kontrak. Namun, kami tidak akan mendengar perintah dari Asosiasi Hunter Belanda ataupun Pemerintah. Terutama misi bunuh diri. Jadi, Trouble Guild akan terus di tempat ini sampai Stampede selesai."

__ADS_1


Carmila setidaknya bisa menghembuskan nafas lega. Hasil hari ini tentu saja karena bantuan anggota Trouble Guild. Jika bukan karena bantuan mereka, Carmila tidak bisa membayangkan hal buruk seperti apa yang terjadi pada Amsterdam– tidak, bahkan seluruh Belanda.


__ADS_2