The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 3 - Awal Kekacauan.


__ADS_3

"Divisi Cyber Crime saat ini sedang menelusuri apakah pesan yang muncul di hadapan semua orang merupakan kejahatan penipuan atau bukan. Pemerintah menghimbau Masyarakat tidak sembarangan menyentuh atau memanipulasi apa yang ada di dalam layar interface."


"... Bagaimana Divisi Cyber mencari sesuatu yang bahkan tidak berhubungan dengan Cyber?" Silvia mencibir ketika dia mendengarkan berita TV pada pagi hari.


Seperti yang diharapkan, berita mengenai rentetan fenomena aneh malam tadi menjadi trend. TV, sosial media, media cetak, semuanya membahas mengenai pesan misterius pada semua orang.


"Dilaporkan, sebuah lubang berwarna merah tersebar di beberapa titik di Indonesia. Untuk saat ini belum ada keterangan mengenai identitas lubang tersebut. Namun, Masyarakat dihimbau untuk menjaga jarak dari lubang untuk saat ini."


"Berita selanjutnya mengenai kemunculan Menara Misterius yang tersebar di 15 Kota yaitu, Riyadh, Kuala Lumpur, Beijing, Amsterdam, Ottawa, Cape Town, Guatemala City, Antananarivo, Tbilisi, Beunos Aires, Cairo, Melbourne, New Delhi, Porto, Seoul, dan California."


Informasi dalam berita masih sama seperti di kehidupan sebelumnya. Ethan menghela nafas lega. Setidaknya belum ada butterfly effect untuk saat ini.


Erica yang duduk di samping Ethan, berbisik di telinga Ethan. "Kakak. Sekarang aku yakin mengenai hipotesis Kakak mengenai Monster dan Iblis."


Ethan melirik Erica yang mengatakan hal tidak terduga. Erica selalu menjadi karakter yang logis dan tidak mudah mempercayai intuisi atau opini tanpa dasar seperti fiksi. Namun, dari semua orang, Erica mengatakan dia percaya tentang keberadaan Monster dan Iblis.


"Apakah ada alasannya?"


Erica menyentuh dagunya dan mengucapkan sesuatu yang membuat Ethan terkejut. "Hmm, aku tidak yakin. Namun, semenjak malam, entah mengapa aku bisa merasakan sensasi seperti [Mana] di udara."


Pipi Etha berkedut. Belum ada sehari semenjak Mana mengalir di Bumi dan Erica sudah mampu merasakan Mana. Ethan merasakan kepalanya berdenyut. Di kehidupan sebelumnya, Ethan membutuhkan 7 hari untuk merasakan [Mana].


Penasaran, Ethan menggunakan [Monarch Eyes] untuk memeriksa status Erica.


[Name: Erica Austin]


[Race: Human]


[Level: 1]


[Title: None]


[Trait: Saintess of Unnamed God]


[Strength: 5] [Stamina: 7] [Constitution: 5] [Dexterity: 5] [Mana: 10]


Unique Skill:


[Blessing of Star: E-] [Holy Judgement: E+] [Divine Healing: E]


Ability:


[None]

__ADS_1


Pupil Ethan melebar begitu dia melihat status Erica. 10 Poin pada status [Mana] di awal merupakan sesuatu yang tidak pernah terjadi di masa lalu. Nilai [Mana] Erica sama dengan Ethan yang mengumpulkan [Mana] selama 5 Tahun terakhir dengan bermeditasi.


Erica menjadi gelisah ketika Kakaknya diam dan hanya memandangnya dengan senyum pahit.


"Kakak? Apakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?"


Tersenyum, Ethan mengusap kepala Erica dengan lembut. "Tidak ada. Aku hanya sedikit terkejut kamu sudah bisa merasakan Mana padahal belum ada sehari semenjak evolusi Bumi yang penuh dengan Mana."


Erica memiringkan kepalanya, tidak memahami mengapa dia menerima pujian dari Kakaknya. "Apa maksud Kakak? Bukankah ini normal? Semua orang sudah merasakan Mana semenjak bangun tidur."


Rahang Ethan terjatuh dan dia menoleh ke anggota Guild lain yang entah sejak kapan menguping pembicaraan mereka.


"Apakah itu benar?"


Anggota Guild semuanya menganggukkan kepala secara bersamaan atas pertanyaan Ethan.


Ethan memijat pelipisnya karena sakit kepala yang ekstrim. Jika hanya satu orang, Ethan akan menganggap sebagai berkat seorang Jenius. Namun, sekarang terdapat 12 orang. Mustahil ada begitu banyak jenius. Ethan memiliki beberapa tebakan tetapi, dia harus mengesampingkan hal tersebut sekarang.


Ethan menenangkan dirinya dan dia melirik anggota Guild lagi. Bibirnya melengkung sedikit menghasilkan senyum yang tampak menakutkan untuk anggota Guild.


"Lalu, kalian bisa datang ke Lapangan nanti sore untuk latihan? Aku harap kalian tidak kabur, oke?"


Tulang punggung semua orang membeku seketika. Meski tidak mengatakan dengan jelas, maksud Ethan bisa terlihat di mata mereka. Latihan. Tidak ada yang menakutkan dari kata-kata itu. Namun, ketika latihan bersanding dengan Ethan, tubuh mereka mengalami trauma mengerikan lagi.


***


Di sore hari, seluruh anggota Trouble Guild, berlari mengelilingi lapangan yang diperuntukkan sebagai landasan helikopter itu. Luasnya cukup untuk menampung dua lapangan sepak bola.


"Hah … Hah …."


"Tubuhku sangat berat seolah seseorang menempel tubuhku."


Hanya dalam satu putaran, semua orang sudah kehabisan stamina. Mereka sudah terlihat seperti ikan mati dengan seluruh keringat di tubuh mereka dan nafas mereka menjadi kasar.


Ethan yang sedang bermeditasi untuk menstabilkan Mana dari Persik Hitam, perlahan membuka matanya menatap anggota Trouble Guild yang sudah terkapar.


"... Istirahatlah lima menit untuk pria dan sepuluh menit untuk wanita. Setelah itu, kalian bisa lanjut berlari."


Mendengar perintah yang tidak adil dari Ethan, para pria mengajukan protes.


"Tunggu! Dasar Iblis! Bagaimana bisa kamu melakukan diskriminasi secara terang-terangan seperti itu!"


"Benar! Kami mendukung kesetaraan gender!"

__ADS_1


Namun, protes yang disampaikan oleh Michael dan Arya hanya ditanggapi Ethan dengan tenang.


"Michael, Arya, Istirahat kalian dikurangi 1 menit."


Mendengar keputusan yang sangat kejam dari Instruktur Iblis mereka, tidak hanya terdakwa, Michael dan Arya, semua anggota Guild menjadi diam membisu tidak lagi membuat protes.


Anggota Trouble Guild mengulangi latihan yang sama selama 2 Jam. Tubuh mereka dipenuhi dengan peluh keringat. Kulit mereka menjadi pucat seperti cumi-cumi.


"Guild Master … ini melelahkan … aku akan … mati."


"Oh, tubuhku terkena nerf oleh Tuhan. Ini sangat berat secara tiba-tiba."


Semua orang tidak peduli wanita atau pria, jatuh tergeletak. Beberapa dari mereka bahkan kesulitan untuk sekedar berbicara dan mengatur nafas tersengal-sengal.


Ethan yang tengah dalam kondisi meditasi di atas sebuah batu besar, membuka sebelah matanya. Kondisi teman-temannya bukan lagi lelucon. Mereka mungkin akan mati apabila memaksakan diri berlari lagi.


Namun, ada sesuatu yang membuat Ethan penasaran. "Apakah begitu melelahkan? Maksudku, kalian sering melakukan latihan lebih dari ini, kan?"


Dalam hal latihan, tidak ada Guild dan tim profesional yang lebih rajin dibanding Trouble Guild. Setiap anggotanya akan berlatih di dalam atau di luar game. Dengan kata lain, mereka seorang maniak.


"Itu karena tubuh kami menjadi sangat berat dan darah kami bergerak dengan sangat cepat, memberikan beban pada tubuh~" Nina menjawab pertanyaan Ethan dengan ekspresi akan mati.


Anggota Guild Trouble lainnya juga mengangguk setuju dengan jawaban yang Nina berikan.


Ethan mengangguk. Dia bisa menebak alasan kelelahan ekstrim pada teman-temannya. "Aku mengerti. Kalian bisa kembali untuk beristirahat. Jika tidak ada kegiatan lain, aku harap kalian tetap tinggal di sini."


Semua orang memasang ekspresi lega ketika mendengar mereka dibebaskan dari pelatihan Neraka Ethan. Terutama, Michael dan Arya.


Sebelum pergi, Li Mei, seorang gadis dengan kulit putih keturunan Chinese, mengangkat tangannya. "Sebelum itu, apakah kamu tahu alasan tubuh kami menjadi lemah?"


Anggota yang ingin segera pergi, mengurungkan niat mereka dan tinggal di tempat untuk mendengarkan apa yang membuat mereka penasaran juga.


"Ah … soal itu? Mungkin karena tubuh kalian baru beradaptasi dengan Mana. Juga, atmosfer menjadi lebih padat membuat tubuh harus bekerja ekstra."


"Jadi, itu bukan karena Kakak?" Nina bertanya seolah terkejut.


Ethan mengerutkan kening. "Tidak. Kenapa kamu memiliki pikiran aneh seperti itu?"


""""Itu karena kamu instruktur Iblis, kan?"""" Semuanya menjawab dalam satu suara.


Ethan memegangi kepalanya dengan jengkel. Dia tidak menyangka image miliknya sangat buruk di Guild Trouble. Ethan tidak mengingat hal-hal buruk yang telah dilakukannya.


"Lebih baik kalian bubar. Selain itu, jika kalian ingin tetap berada di Guild, setidaknya beritahu aku skill kalian. Aku akan membuat manual untuk melatih kalian. Aku tidak memaksa. Jika kamu berencana untuk pergi, kamu tidak harus melakukannya."

__ADS_1


Mereka hanya mengangguk dengan kosong, membiarkan kata-kata Ethan lewat kuping kanan dan ke luar kuping kiri. Mereka sudah terlalu lelah dan hanya ingin beristirahat.


__ADS_2