
Ethan berdiri diam di sebuah lukisan seorang wanita berambut platinum indah dengan iris mata merah seperti ruby. Di tengah-tengah kuil yang sudah runtuh, hanya lukisan itu yang terawat baik tanpa adanya gulma yang menempel.
Ethan mengeluarkan batu sihir, darah monster, dan beberapa tinta sihir. Dia lalu mulai membuat formasi di lantai dan dinding. Formasi itu rumit dan begitu banyak kata-kata asing. Dia lalu meletakkan batu sihir di beberapa sudut formasi. Terakhir, Ethan menyuntikkan sedikit Mana ke inti formasi.
[Mengaktifkan segel: Super Sirius.]
[Mengaktifkan segel: Great Sun Temple.]
[Segel [Great Soul Sealing] perlahan mulai melemah.]
[Mana dikonsumsi dua kali lipat selama berada di dalam segel.]
Lukisan itu perlahan mulai mencair dan wanita yang ada di dalam lukisan muncul di udara. Tubuhnya terlihat begitu transparan seperti hantu. Namun, mana yang meluap-luap di sekitarnya begitu mendominasi hingga Ethan yang memiliki 100 Mana Poin merinding.
Mata mereka saling mengunci satu sama lain saling menilai. Ethan juga mencoba menggunakan [Monarch Eyes]. Namun, hasilnya nihil karena perbedaan kekuatan antara dia dengan wanita di depannya terlalu jauh.
"Siapa yang mengirimmu ke sini, Manusia?" Suara gadis itu menggema di seluruh Kuil.
Ethan meletakkan tangannya di dadanya dan sedikit membungkuk. "Senang bertemu Anda, Your Majesty, Alice de Eyus. Ethan Austin, Climber dari Dimensi yang baru ditempati Menara."
Mata merah Alice menyipit. Jelas, tidak mungkin dia percaya manusia memiliki pengetahuan tentang begitu banyak formasi. Terlebih, formasi Super Sirius, segel bintang sembilan.
Ethan tidak mempedulikan prasangka Alice dan kembali membuka mulutnya. "Saya datang ke sini untuk membuat kesepakatan dengan anda, Your Majesty."
Alice hanya diam tidak peduli berapa lama Ethan menunggu jawaban. Tatapannya seolah menyuruhnya untuk terus berbicara. Jadi, Ethan melanjutkan perkataannya.
"Saya ingin anda membuat kontrak dengan saya. Sebagai balasannya, saya akan memberikan dua hal. Kebebasan dan balas dendam."
Niat membunuh yang begitu tajam menyelimuti seluruh ruangan begitu Ethan menyelesaikan kata-katanya. Alice terlihat sangat marah dan juga penuh kebencian. Ratusan tombak darah melayang di udara, di arahkan ke Ethan yang masih bergeming.
"Aku tanya sekali lagi. Siapa yang menyuruhmu untuk datang?"
Atas pertanyaan Alice, Ethan hanya tersenyum dan memberikan jawaban yang sama. "Saya datang atas keinginan dan pikiran saya sendiri. Tidak ada orang lain di belakang saya. Anda melihatnya dengan mata anda kan, Your Majesty?"
Pupil mata Alice gemetar. Salah satu dari unique ability Alice, [Eyes of Judgement] mampu membedakan kebohongan dan kebenaran. Dia mampu memberikan hukuman kepada orang-orang yang berbohong di hadapannya. Namun, ability itu tidak pernah Alice beritahu pada orang lain.
"Aku tidak bisa mempercayai masa depanku ke tangan manusia lemah. Kamu harus mati." Mengatakan itu, ratusan tombak darah terbang mengincar Ethan sebagai target.
Ethan menghela nafasnya terlihat jengkel. Dia dengan gesit bergerak menghindari tombak darah Alice. Gerakannya tidak begitu cepat. Namun, seolah bisa melihat masa depan, dia sudah mulai bergerak bahkan sebelum serangan datang.
"Kamu–!" Alice yang kesal mencoba untuk menyerang dengan lebih banyak kekuatan.
"Alice. Lebih baik kamu berhenti menggunakan sisa-sisa kekuatan jiwamu. Kamu benar-benar akan lenyap dan kehilangan kesempatan untuk membalas semua yang sudah kamu terima." Ethan berhenti berbicara dengan nada formal. Dia memberikan kepada Alice tentang di mana mereka sekarang berada. Formasi Super Sirius merupakan formasi tingkat sembilan bukan sekedar gelar kosong.
Melihat tatapan mata Ethan yang tanpa emosi itu, Alice merasa merinding. Perasaan yang bahkan tidak dirasakannya ketika berhadapan dengan dua Great Disaster dulu. Alice penasaran bagaimana seorang manusia memiliki mata tatapan seperti itu.
Alice berhenti menyerang menuruti kata-kata Ethan. Kekuatan sihir terakhir di dalam tubuh Alice juga sudah habis. Dia akan mati sungguhan apabila bertarung dengan sia-sia melawan Ethan di sini.
"... Apakah kamu benar-benar serius dengan apa yang kamu katakan?" Suara Alice melembut. Namun, matanya tetap terlihat tidak percaya dan permusuhan.
"Tentu. Bukan hanya membalas dendam, aku akan membawamu menjadi yang pertama melihat Puncak Menara dari semua Makhluk di Menara." Ethan mengatakannya dengan begitu serius. Itu bukanlah kepercayaan diri, melainkan keyakinan mutlak.
Alice merasa untuk pertama kalinya setelah waktu yang lama dia merasa begitu bersemangat. Alice sangat ingin menerima tawaran dari Ethan itu. Dia setidaknya ingin mati tanpa penyesalan.
"Aku menghargai tawaranmu. Namun, aku hanya sebuah jiwa lemah sekarang. Kamu tidak mendapatkan manfaat apapun dengan membuat kontrak denganku." Alice tersenyum pahit, menghina kondisi tubuhnya yang begitu rapuh.
Namun, Ethan tidak peduli dengan kondisi Alice. Dia datang dengan mengetahui keadaan Alice. Jadi, hanya karena jiwanya melemah, Alice masih tetap Alice, Tyrant Terkuat di Menara.
"Jangan khawatir. Tugasmu hanya percaya saja padaku."
__ADS_1
Alice menggigit bibir bawahnya terlihat bimbang. Namun, Ethan tidak membiarkan Alice larut dalam pikirannya. Segel Super Sirius akan segera runtuh dan segel Great Soul Sealing akan kembali aktif.
"Putuskan. Semakin lama kamu berpikir, formasi akan semakin melamah."
Setelah begitu banyak pertimbangan, Alice akhirnya mengangguk pelan, menyetujui undangan. "Jika begitu, aku akan ikut denganmu."
Ethan tersenyum puas. Tanpa penundaan, Ethan mendekati Alice dan meletakkan tangan kirinya di dahi Alice.
"[Soul Collection]."
[Soul Collection Aktif.]
Tubuh Alice bersinar merah dan permata merah di cincin Ethan ikut bersinar merah seolah menanggapi aura yang Alice keluarkan. Sedikit fluktuasi mana terjadi. Kemudian, Alice menghilang dari udara, masuk ke dalam cincin.
[Membuat kontrak dengan Alice de Eyus.]
[Syarat terpenuhi.]
[Mendapatkan Unique Ability: Festival of Blood.]
[Festival of Blood
Rank: SSS
Proficiency: E-
Menciptakan sebuah domain darah.
Opsi:
+ 5% Status Pengguna di dalam Domain.
]
Ethan menahan diri untuk tidak berteriak ketika dia melihat pesan dari sistem. Unique Ability dari salah satu Tyrant Menara, Alice de Eyus! Domain yang membuatnya mendapatkan gelar Blood Queen. Ethan tidak menyangka dia mendapatkan skill yang begitu berguna.
"Apakah kamu sekarang mengabaikanku?" Alice yang berbicara sedari tadi, terdengar kesal.
Ethan tersentak dan tersenyum canggung. Dia meminta maaf dengan tulus kepada Alice. "Maafkan aku. Aku sedikit teralihkan. Apa yang kamu bicarakan?"
Alice berbicara panjang lebar dan Ethan diam-diam mendengarkan. Dia dalam suasana hati yang baik. Jadi, dia akan sesekali memberikan respon atau jawaban apabila Alice bertanya.
‘Sekarang, aku harus mulai berburu lagi.’
__ADS_1
"Ini pertama kalinya ada pria yang mengabaikanku. Kamu memang benar-benar bajingan."
"Ayo kita bahas itu nanti. Aku harus bersiap untuk pergi ke Lantai 2."
"Dengan kekuatanmu sekarang, tidak mungkin kamu mati. Setidaknya kamu menyelesaikan syarat minimal untuk tidak terjadi Stampede." Alice memberikan penilaian yang murah hati untuk orang dengan lidah yang tajam.
"Bisakah kamu memberitahu bagaimana Lantai 2, Alice?"
"Aku tidak bisa memberitahu karena peraturan dari Sistem. Jika aku bisa sekalipun, aku tidak akan mengatakannya padamu. Itu akan sia-sia jika kamu tidak bisa membuktikan dirimu sendiri."
Ethan mengangguk. Dia tahu itu. Namun, alasan Ethan tetap bertanya hanya untuk memastikan peraturan Menara masih sama dengan ingatan miliknya.
"Aku mungkin butuh naik beberapa level lagi. Aku ingin melampaui peringkat pertama."
Alice bergumam dengan jengkel. "Jika kamu tahu, seharusnya kamu tidak bertanya!"
Ethan hanya mengabaikan Alice dengan sengaja. Dia kemudian menghancurkan seluruh kuil. Meninggalkan jejak formasi tingkat sembilan tidak memiliki sesuatu yang baik akan datang.
***
Sementara Ethan sedang melakukan yang terbaik di Menara, Bumi juga sedang berjuang untuk pemulihan. Satu minggu setelah Gate Collapse, Asosiasi mulai dengan gencar mengambil alih wilayah yang sudah diduduki Monster.
Sayangnya, tidak semua Negara seperti itu. Negara dengan jumlah penduduk yang sedikit dan relatif cukup lemah, menghilang hanya dalam waktu satu minggu itu. Banyak imigran gelap datang dari Negara yang hancur ke Negara yang masih berdiri.
"... Jumlah imigran yang datang dari Timor Leste dan Papua Nugini sangat banyak." Presiden RI, bergumam dengan dahi mengkerut melihat jumlah imigran yang masuk.
Ekonomi Negara sedang mengamini krisis terparah sepanjang Negara didirikan. Mereka tidak memiliki banyak dana yang bisa digunakan untuk membantu para imigran.
"Pak. Saya dengar, Corner Corporation memproduksi dendeng dengan harga murah. Ini setidaknya jauh lebih murah dari mie instan saat ini." Sekretaris Presiden, menyampaikan berita yang diterimanya.
Mendengar itu, Presiden RI, terkejut. "Benarkah? Namun, apakah dendeng itu aman?"
"Ya. Meskipun belum teruji BPOM. Namun, anda bisa yakin itu aman karena sudah dikonsumsi oleh pengungsi di Jawa Tengah dan Timur."
Mendengar itu, ekspresi Presiden RI melunak. Dia merasa sedikit lega mendengar tentang itu. "Bagus. Kamu urus permintaan khusus kepada Corner Corporation untuk menyediakan dendeng kepada Pemerintah."
"Saya mengerti."
Presiden RI menyandarkan tubuhnya. Meskipun ini bukan waktunya merasa lega, dia hanya ingin mengambil nafas di situasi-situasi sulit seperti ini.
***
Ethan terkapar di atas tumpukan mayat Monster. Mayat monster yang sudah Ethan buru, menumpuk menjadi sebuah bukit kecil di tengah lautan darah ungu.
"... Kamu sama sekali tidak mirip dengan manusia yang aku tahu." Alice tercengang dengan penampilan Ethan yang benar-benar abnormal.
Manusia yang Alice kenal adalah, orang-orang pemalas. Mereka akan pergi menaikkan level, satu hari satu kali. Jika bukan karena kemampuan reproduksi mereka yang begitu cepat, manusia adalah, ras yang akan punah sebelum Dwarf.
Ethan tertawa lemah mendengar kata-kata Alice. "Apakah di matamu aku istimewa?"
Alice terdiam sejenak sebelum menjawab. "... Apa yang kamu katakan? Menjijikan."
Ethan tertawa geli mendengar jawaban ketus dari Vampire kecil di cincinnya. Jika boleh, dia masih ingin terus bertukar kata-kata dengan Alice setelah sekian lama. Sayangnya, tidak ada waktu yang terisa.
"Aku pikir ini sudah cukup. Sekarang, ayo kita ke Lantai 2."
Menanggapi kata-kata Ethan, pesan Sistem muncul di depan Ethan.
[Apakah anda ingin menantang Lantai 2?]
__ADS_1
[Yes or No.]
Ethan tanpa ragu menekan [Yes]. Cahaya terang menyelimuti tubuhnya dan dia menghilang, seperti tidak pernah berada di tempat tersebut.