
Di Indonesia tidak jauh berbeda. Dari kejauhan mereka sudah bisa melihat Objek humanoid yang terdiri dari tumbuhan… dan mana yang keluar benar-benar bukan main-main.
"Semuanya bersiap. Musuh akan datang."
Hermes memberikan arahan. Semuanya siap pada posisi mereka. Tidak mungkin bertarung di laut, karena itu mereka sedikit mundur agar petarung jarak dekat bisa ikut serta.
"Namun sebelum itu, kita harus memberikan sambutan yang meriah. Penyihir… tembak!"
Puluhan sihir terbang. Terutama sihir api dan petir. Karena bagaimanapun, Ivy lemah pada Api dan Petir. Itu tidak salah. Namun musuh adalah Bencana bukan tanpa alasan.
Itu tidak tergores atau terluka sama sekali. Itu tidak mengejutkan sama sekali bagi mereka. Dan saat itu Aulrane muncul dari air dan naik ke tanah. Tekanan yang luar biasa menekan semua Player yang hadir. Aulrane membuka mulutnya ketika melihat semua orang.
""Ini benar-benar sambutan yang kasar.""
Walaupun bentuknya seperti itu, namun suaranya benar-benar sexy dan indah. Selain itu wajahnya juga cantik… seperti yang diharapkan dari Rasul Rule of Lustful.
"Tentu saja, kami harus membakar hal-hal seperti limbah."
Alice berbicara kasar. Aulrane sangat bangga dengan kecantikannya. Lalu, apa jadinya jika Alice yang jauh lebih cantik dari nya mengatakan hal seperti itu?
""Kamu… apakah kamu mengatakan kamu lebih cantik daripada aku? Hahaha, bodoh.""
"Hah? Kenapa aku harus bersaing dengan sesuatu seperti limbah? Tanpa bertanya juga semua orang akan setuju dan tahu apa jawabannya."
Alice berbicara dengan bangga. Dia percaya diri dengan penampilannya, kecuali anggota Guild Deicide tidak ada yang menyaingi kecantikannya. Semuanya juga memiliki suasana setuju. Aulrane, yang dipermalukan seperti itu kesal dan harga dirinya terluka.
""Fufu… sepertinya kalian semua harus diberikan pelajaran dan pengetahuan tentang kecantikan sejati.""
Saat itu bunga yang ada di teling Aulrane terbuka dan serbuk sari jatuh dari sana… semuanya bingung dengan itu… namun Alice sadar.
"Jangan dihirup! Atau kamu akan menjadi halusinasi! Kamu akan menjadi bernafsu!"
"Pemurnian! Cure!"
Erica mencoba menetralkan bubuk itu, sementara itu para penyihir juga menyerang dengan sihir mereka masing-masing.
"Incar wajahnya! Biarkan limbah itu terus menjadi limbah selamanya!"
Alice berteriak, dan seperti yang dikatakan oleh Alice semuanya mengincar tepat di wajah Aulrane.
""Beraninya kalian mengincar wajahku! Aku akan membuat kalian semua menderita!""
Ratusan tanaman merambat menuju ke arah para Player.
"Para Tank, tahan!"
"""Ya!"""
Dengan arahan dari Jun, semua Tank mulai menahan tanaman merambat. Alice juga mulai bergerak. Dia menghindar dan memotong cabang-cabang yang menjulur itu. Saat dipotong rasa sakit yang luar biasa ditransmisikan ke tubuh utama.
""Sakit! Sialan! Kamu ******! Aku benar-benar akan membunuhmu! Dan menghancurkan wajahmu!""
Dari dahinya, sebuah bola mana terbentuk. Kemudian ditembakan ke arah Alice.
"Blood Fest."
Menggunakan Blood Fest sebagai tameng dan menahan bola mana itu, Alice terus maju.
"Semuanya ikuti Lady kita!!"
"Para pejuang! Jangan biarkan seorang wanita berjuang sendirian!"
"""Oooo!!!"""
Hermes dan Otsuka berteriak, dan para Player juga sama. Itu maju seperti semut ke arah Aulrane yang masih sibuk dengan Alice. Karena bagaimanapun, Alice adalah ancaman nyata.
""Pengganggu!!! Keluarlah budak ku!!""
Dari bunga-bunga yang ada pada Ivy di kakinya, muncul sosok manusia yang sudah menjadi kering seperti mumi.
""Tahan mereka, dan bunuh.""
Namun walaupun begitu, itu benar-benar cepat dan kuat. Para Player Rank B kesulitan melawannya. Rank A bisa mengalahkannya namun tidak mudah juga. Rank S sudah berada pada level berbeda. Mereka mengalahkan makhluk itu hanya dengan satu atau dua serangan.
Sementara itu Alice masih sibuk terus menerus menarik agro dari Aulrane. Dia berlari dan menghindari serangannya dengan lincah.
""Apakah kamu hanya bisa kabur!!""
Ivy yang tebal mencoba meremukkan Alice. Itu berayun seperti sebuah cambuk. Itu benar-benar gawat baginya.
"Crescent Moon!"
Sebuah bulan berbentuk sabit memotong Ivy tersebut menjadi dua. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke tubuh Aulrane.
""Gyaaa! Sialan!???""
Saat itu semua Ivy terangkat ke atas… melihat itu, Alice berteriak pada semua.
"Hindari! Jika tidak kamu akan menjadi daging tumbuk!"
"Blessing of Star, Aegis! Light Barrier!"
"Area Barrier!!"
"Pohon Kutub!"
Ivy berputar seperti sebuah Gear mencoba memotong semua orang. Semuanya menggunakan Skill pertahanan atau menghindar sebisa mungkin. Namun korbannya benar-benar banyak…
"Gila… apakah ini Bencana…"
"Mengerikan…"
"Backstab."
Silvia menyerang tepat di kepala Aulrane. Karena terlalu fokus pada Alice, dia tidak sadar bahwa Silvia diam-diam mengambil kesempatan untuk melakukan serangan padanya.
Darah ungu tersebar dari kepalanya. Itu dangkal namun cukup fatal… apalagi senjata Alice ada pada tingkat Legenda.
[Anda menyebabkan efek pendarahan.]
[HP target akan berkurang sebanyak 00,1/detik.]
""Argh! Sialan!!!""
Rambutnya mencoba menangkap Silvia, namun Silvia sudah pindah dengan Shadow Walk miliknya.
"Slash of Stolz."
Alice akhirnya bisa mendekat. Stolz yang dilapisi dengan mana darah sudah siap menebas. Aulrane terkejut dengan itu…
""Kamu!!?""
Perisai mana dibuat dan Ivy berlapis-lapis disiapkan untuk menahannya… dan saat itu barrier pecah dan Ivy juga terpotong.
""Guha!!!, Bagaimana bisa seorang mortal…""
"Blood Spear Disaster!"
"Tarian Dewa Naga!"
"Spiral Rainbow!!"
"Tanah Orang Mati! Weak! Weak! Cursed!"
"Sacred Sword, Dzulfikar."
"Issen, Raikiri!"
Puluhan Skill Unik dan Skill truf semua Player dikeluarkan. Dan saat itu sebuah bunga Raflesia Arnoldi muncul dan mencoba menelan semua serangan.
Bang!!!!
Ledakan terjadi. Raflesia Arnoldi tersebut rusak parah. Namun hasilnya, Aulrane selamat dengan sedikit luka saja.
""Serangga ini!!""
Semua tanaman mulai mengikuti perintah dari Aulrane. Rumput mengikat kaki semua Player. Perlahan-lahan vitalitas mereka diserap…
"Sanctuary!"
"Summon Undead!"
__ADS_1
Nina yang awalnya hanya memanggil Lich sekarang memanggil Undead lainnya. Itu untuk mengulur waktu sampai para Player melepaskan diri.
"Harpoon Corrupt!"
Alice juga sama, dia benar-benar kerja keras. Menarik perhatian dari Aulrane. Jelas bahwa vitalitas yang diserap oleh tanaman akan dikirimkan ke Aulrane untuk memulihkan diri.
"Death Slash."
Sing.
Alice benar-benar mirip dengan Feyn sekarang. Wajahnya tanpa ekspresi dan hanya menunjukkan niat untuk membunuh Aulrane. Dia terus menerus menghindar dan memotong tubuh Aulrane untuk mengurangi vitalitas milik Aulrane.
""Gadis ******! Kamu benar-benar merepotkan!""
Sebuah laser keluar dari mata Aulrane. Itu diarahkan tepat ke arah Alice. Sama seperti sebelumnya, Alice menggunakan sihir darah untuk menghalangi laser dan juga menghindar.
"Corrupt Blood Slash."
"Issen, Fire Sakura."
Otsuka yang sudah bebas mendukung Alice. Dengan ilmu pedang milik keluarganya yang diturunkan turun temurun, dia menebas satu persatu Ivy dan tanaman merambat lainnya.
"Backstab."
Sekali lagi, Silvia menusuk pada titik yang sama. Itu tepat ditempat yang sama. Karena belum beregenerasi sepenuhnya, itu menusuk jauh lebih dalam. Pendarahan terjadi.
""Kalian!! Kalian benar-benar membuatku kesal!!!""
"Elemental Arrow, Thunder Eagle."
Pzzzt! Tap!
Sebuah panah petir menembus tepat di kepalanya yang terluka oleh Serangan Silvia tadi. Itu adalah Kiaa. Itu jelas terkena cukup dalam dan menyentuh otaknya. Namun itu tidak mati.
""Kuha! Sakit! Benar-benar sakit! Tidak termaafkan!!""
Itu menjadi gila, wajahnya memerah dan kulit menjadi gelap. Mana yang dilepaskan juga meningkat drastis…
"Reaper of Soul!"
Alice mencoba memenggal kepala orang itu. Namun itu tidak mungkin… sampai tiba-tiba seseorang menebas kepala Aulrane tepat di seberang arah Alice menebasnya.
"Sword of Abgrund, Abyss Flame."
Api hitam yang benar-benar panas memotong kepala Aulrane seperti tahu… semuanya bingung termasuk Aulrane.
""Eh?""
Dia sama sekali tidak mengerti. Orang itu berbicara dengan tenang kepada Alice yang bingung.
"Selesaikan Alice."
Alice tersentak sadar, dan mengangguk. Kemudian dia mengayunkan sabitnya lagi.
"Reaper of Soul!"
""Tidak! Aku tidak bisa mati disini sekarang!!"
""Lady Lilith tolong!""
""Lady Lilith…""
Dengan itu saja Aulrane berhasil dikalahkan.
[Anda mendapatkan pencapaian luar biasa.]
[Nama anda akan tercatat dalam Hall of Fame.]
[Anda mendapatkan…]
[Anda naik level.]
[Anda naik level.]
[Anda…]
[Anda…]
[Anda mendapatkan Gelar : Pembunuh Mitos.]
[Anda mendapatkan Gelar : Musuh Bencana.]
Semuanya benar-benar takjub. Musuh yang mereka perjuangkan berhasil dipotong dengan mudah oleh orang itu.
"Maaf terlambat Alice."
"Apa itu, datang disaat seperti itu… itu sangat keren."
Alice menangis dan segera menghampiri Feyn dan memeluknya. Feyn juga balas memeluknya.
"Aku senang kamu bangun."
"Hahaha tentu saja, karena orang-orang penting bagiku dalam bahaya."
Keduanya saling tersenyum dan berciuman. Itu di depan umum. Namun keduanya tidak malu sama sekali. Sekarang Feyn tidak akan menahan perasaannya lagi. Dia tidak akan pernah memilih langkah yang membuatnya menyesal dikemudian hari.
"Aku mencintaimu Alice."
"Aku juga."
Keduanya berpisah sejenak dan lanjut berciuman lagi. Itu sangat lama dan mungkin akan selamanya jika Erica tidak menghentikan keduanya.
"Kakak, Alice… apa yang kalian lakukan di depan umum?"
Mendengar itu, Feyn dan Alice segera melepaskan ciumannya dan berdiri tegak. Keduanya melihat ke Erica yang tersenyum namun matanya jelas-jelas tidak.
Melihat itu Alice hanya menundukkan kepalanya, itu artinya dia akan menyerahkan penyelesaian masalah ini kepada Feyn! Feyn mengerti itu, dan dia bingung.
"Jadi kakak… apa yang kalian lakukan?"
"Itu Erica… jika kamu penasaran maka aku akan berikan juga."
Feyn mendekat dan mencium bibir Erica. Erica terkejut namun dia tidak memberontak dan membalas ciuman Feyn.
"Kalian… berhentilah, itu memalukan."
"Ah!"
"Ah…"
Keduanya sadar bahwa banyak mata melihat ke arah mereka. Alice dan Erica benar-benar malu sementara itu Feyn bermuka tebal.
"Cih."
"Hey, ada apa dengan itu bung!"
Jun berteriak pada Feyn yang mendecakkan lidahnya. Jelas bahwa dia benar-benar kesal dengan itu.
"Tidak ada, lebih dari itu. Bagaimana dengan korban?"
Feyn mengalihkan pembicaraan, Jun juga tidak ingin membahas itu lebih lama dan berbicara dengan serius.
"Ya, dari 500 Player, 200 diantaranya… kehilangan nyawa dan 100 lebih luka-luka entah ringan atau berat."
"Itu… sangat disayangkan. Erica rawat mereka segera. Aku harus pergi lagi."
"Eh? Kemana?"
Erica bingung. Namun Feyn tersenyum.
"China. Bukankah disana orang-orang juga butuh bantuan?"
Benar, jika Feyn tidak datang tadi mungkin akan lebih banyak korban dan belum tentu mereka bisa mengalahkan monster seperti itu.
"Jika begitu… hati-hati."
"Tentu."
Fey berbalik namun Alice menahan tangannya. Feyn bingung dan melihat ke arah Alice.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Bawa aku."
Alice berbicara. Wajahnya benar-benar serius… Feyn bingung sesaat namun segera tersenyum.
"Jika begitu masuk ke dalam cincin."
"Ya."
Cincin segera masuk ke dalam Chronicle Ring. Dan Feyn berbalik ke arah anggota Guild Deicide lainnya.
"Jadi aku serahkan pada kalian disini."
"Ya… jujur saja aku ingin ikut namun sepertinya itu tidak mungkin."
"Ya, mana kami benar-benar habis."
"Lakukan yang terbaik Guild Master!"
"""Semangat!"""
Semuanya tersenyum mengantarkan keberangkatan kami. Aku tersenyum kemudian berbalik dan pergi sambil melambaikan tangan.
"Tidak, itu tidak membuat kamu keren."
"Itu terlalu…"
"Apakah kebiasaannya saat menulis karakter novel?"
Semuanya berbicara tentang gaya Feyn sebelum pergi. Dan kemudian mereka tertawa. Mereka berdoa yang terbaik untuk Feyn.
{Feyn apakah kamu sudah sampai pada keilahian?}
Diperjalanan, Alice bertanya padaku. Seperti yang diharapkan dari Alice. Dia sepertinya sudah sadar.
"Benar, luar biasa bukan? Hanya dalam 8 Bulan aku sudah sampai pada tingkat ini?"
Feyn berbicara dengan sombong. Alice yang mendengar itu menjadi kesal. Dia membutuhkan 400 tahun untuk sampai pada tingkat Demi God.
{Kamu itu Cheat atau bahkan Bug.}
"Hey, itu kasar. Dan darimana kamu belajar itu?"
{Itu karena kamu tidak masuk akal. Biasanya butuh ratusan tahun untuk sampai ke tingkat itu. Namun kamu mencapainya hanya dalam 8 bulan? Itu benar-benar aneh.}
Ya, perbandingan antara Alice dan Feyn benar-benar luar biasa. Alice adalah salah satu dari Jenius Tertinggi di Menara. 400 tahun untuk mencapai ranah Demi God bukan hal yang mudah. Namun bahkan dengan itu, seakan menertawakan bakat Alice, Feyn berhasil mencapai ranah yang sama hanya dalam waktu 8 bulan.
"Sepertinya begitu. Tapi bukankah anak kita akan luar biasa? Leluhur Vampir dan Demi God. Fufu."
{Bodoh! Jangan berbicara hal yang tidak perlu!}
Alice berteriak untuk menutupi rasa malunya. Dia tidak pernah berpikir untuk itu… namun jika dia menikah maka sudah pasti dia harus… memikirkan itu wajahnya benar-benar merah padam. Beruntung bahwa dia ada dalam cincin.
Keduanya bertukar candaan seperti itu selama perjalanan ke China.
Di China, Gordon dan yang lainnya sudah compang-camping. Kerusakannya benar-benar parah. Jumlah korban bukan main-main. Hampir setengah lebih dari mereka sudah tewas.
""Apa ini… hanya dengan ini tidak mungkin kalian bisa mengalahkan Fafnir.""
Ouroboros yang hanya sedikit luka gores pada tubuhnya berbicara. Kekuatan manusia ini terlalu rendah. Ada beberapa yang luar biasa, namun jelas bahwa mereka tidak mungkin bahkan menggores Fafnir.
""Jadi, apakah yang melukai dan membunuh Fafnir tidak disini… atau mungkin dia mati bersama dengan Fafnir.""
Mendengar itu wajah Gordon, Felicia, Claire mengeras… melihat bahwa itu tepat, Ouroboros tersenyum.
""Sepertinya itu yang kedua ya. Sangat disayangkan padahal aku ingin melawannya.""
Tentu saja itu bohong, tidak mungkin dia ingin melawan orang yang berhasil mengalahkan Fafnir. Namun itu bagus untuk gerakkan.
"Jika hanya melawanmu maka kami saja sudah cukup! Gungnir!"
Petir berwarna emas menyambar Ouroboros dengan cepat. Itu benar-benar kuat. Bahkan itu berhasil menghanguskan sisik yang dimiliki Ouroboros.
""Kuh! Itu benar-benar menyakiti…""
"Dagger Suck! Penetrasi!"
Tepat di sisik yang hangus itu Claire menusuk dagger miliknya. Itu menembus sisiknya dan itu hancur.
"Chu Namgu! Sekarang!"
"Twin Dragon Blade!"
Dua bilah naga muncul, itu mengincar tepat di luka yang disebabkan oleh Gordon dan Claire.
""Tidak akan aku biarkan! Kuuaaah!!""
Mana meledak dari tubuh Ouroboros. Itu mendorong semua orang.
"Ku!"
"Gila!"
Namun bilah pedang naga itu mampu mencapai punggung Ouroboros yang terluka. Rasa sakit luar biasa menjalar dari serangan tersebut.
""Tidak akan aku maafkan! Gluttony!""
Ouroboros membuka mulutnya lebar-lebar dan perlahan-lahan para Player tersedot ke arah mulutnya.
"Sialan! Tidak, aku tidak ingin dimakan!"
"Tolong aku!"
"Tidak, tidak! Tolong aku!'
"Fireball! Fireball!"
Semuanya mati-matian untuk menahan agar tidak tertelan. Dan satu persatu mereka mulai tertelan.
"Vajra!"
"Light Sword Durandal!"
"Taring Naga Langit!"
Semua serangan ditelan, tidak terkecuali. Itu adalah hal paling menyebalkan dari Skill Gluttony. Apalagi dengan itu Ouroboros juga memulihkan mana dan stamina miliknya.
"Sialan…"
"Apakah kita akan mati…"
Semuanya benar-benar pasrah. Namun entah apa yang terjadi saat itu sebuah Tombak Merah Hitam meluncur menuju ke punggung Ouroboros.
Bang!
""Kuha!""
Ouroboros benar-benar terkejut dan membatalkan Gluttony miliknya. Dan saat itu dua orang terlihat terbang di udara dari arah tombak tersebut.
"Hey cacing! A.. Alice sudah d… argh aku tidak bisa! Itu memalukan!"
Alice wajahnya benar-benar memerah. Dia benar-benar malu.
"Kenapa? Cukup lakukan saja seperti ini! Hey Cacing! Kami, pasangan keadilan datang untuk mengalahkan lu! Bersiap untuk mati di tangan keadilan!"
"Tidak berhenti! Itu benar-benar memalukan! Lakukan itu jika kamu sendirian!"
Suasana cerah keduanya benar-benar tidak cocok dengan suasana medan perang. Gordon, Felicia dan Claire semuanya tersenyum canggung. Sementara itu Ouroboros merasakan rasa bahaya dari keduanya. Terutama si Pria.
""Kamu, apa-apaan kamu. Beraninya kamu mengganggu waktu makanku.""
Dia berbicara dengan tidak senang, namun Feyn mengabaikannya.
"Maaf karena terlambat, serahkan pada kami untuk sisanya."
"Begitu… senang kamu sudah datang. Semuanya mundur! Pulihkan tenaga kalian!"
"""Oke!"""
Setelah itu Feyn menghadap ke arah Ouroboros lagi dan tersenyum.
"Nah, haruskah kita mulai dengan serius? Blood Thunder Realm."
__ADS_1
Petir merah hitam lengket menyebar membentuk sebuah Domain. Feyn masih tersenyum sementara itu Ouroboros panik.
"Nah waktunya penghakiman."