
Bumi saat ini benar-benar gelisah. Stampede yang terjadi dalam beberapa jam ke depan, membuat masyarakat khawatir. Mimpi buruk beberapa bulan yang lalu masih terukir jelas di benak khalayak ramai.
Pemerintah Negara yang terdapat Menara, di Negaranya, sudah mengumumkan situasi darurat militer dan mengungsikan masyarakat umum. Amerika Serikat dan Belanda bahkan membuat benteng untuk mencegah Monster kabur serta membuat kerusuhan di wilayah selain sekitaran Menara.
Trouble Guild mendapatkan begitu banyak panggilan dari beberapa Negara. Namun, anggotanya yang terbatas membuat Trouble Guild hanya akan terbang ke tiga Negara dengan membaginya menjadi tiga kelompok yang sesuai.
Ethan yang sudah sadarkan diri memutuskan datang ke Amerika Serikat sendirian. Alasannya sederhana, karena kekuatan Amerika Serikat sudah cukup kuat. Tidak ada alasan mengirim anggota Trouble Guild lainnya selain Ethan ke sana.
"Jadi, ini yang kalian sebut sebagai Sains." Alice yang duduk di sisi Ethan, terkesan melihat pesawat yang terbang tanpa menggunakan sihir.
Alasan lain mengapa Ethan berani datang seorang diri tentu saja, itu karena Alice. Alice yang perlahan-lahan mulai membentuk tubuh fisiknya, memiliki kemampuan yang lebih membantu daripada Hunter Peringkat A atau S kebanyakan.
Ethan tersenyum tipis melihat seberapa berbinar mata Alice karena rasa penasaran. Kata orang, mereka yang sudah tua akan mengembalikan sifat kekanakan mereka. Ethan yakin orang itu benar.
Alice berbalik dan menatap Ethan dengan mata mengancam. "Apakah kamu memikirkan hal kurang ajar barusan, Ethan?"
Ethan sedikit tersentak karena terkejut dengan intuisi tajam Alice. Meskipun begitu, senyum di wajah Ethan sama sekali tidak sirna dan dia mengelus kepala Alice dengan penuh kasih.
"Mana mungkin. Aku tidak berani melakukan hal yang kurang ajar terhadap anda, Your Majesty."
Alice menyipitkan matanya masih tidak percaya dengan pujian Ethan. Namun, dia berpaling tidak berusaha untuk membahasnya lebih jauh lagi.
Perjalanan yang membosankan itu memakan waktu selama 7 jam di pesawat sebelum pesawat akhirnya mendarat di Bandara Internasional George Bush.
Turun dari pesawat, Ethan menggandeng tangan Alice dan pergi meninggalkan Bandara Internasional. Kedatangan Ethan tidak disampaikan ke Publik. Jadi, tidak ada reporter yang menunggu.
Ethan dan Alice menggunakan taxi untuk pergi ke pusat Kota Houston, Texas. Sepanjang jalan, Kota ini masih cukup ramai penduduk. Hanya ada 28 jam lagi sebelum Stampede terjadi. Masyarakat sungguh santai.
Taxi berhenti di depan sebuah Hotel milik Canaries Corporation. Tentu saja alasan kedatangan Ethan ke sini sehingga dua mudah untuk bertemu Gordon, bukan karena dia menginginkan kamar percuma.
Ethan mendaftar untuk lima hari. Begitu mendapatkan kunci dengan nomor 208, Ethan dan Alice segera naik ke Lantai 11.
Begitu sampai di kamar yang sangat luas, Alice memandang Ethan dengan tatapan marah ketika dia menunjuk ke satu-satunya kasur di kamar itu.
"Kenapa kamu memilih dengan satu kasur?"
Ethan memiringkan kepalanya. "Tentu saja karena itu cukup untukku."
__ADS_1
"Lalu, bagaimana denganku?"
Ethan menunjukan cincin di tangannya. "Tentu saja kamu di dalam sini."
"Apa maksudmu!? Aku juga ingin tidur di kasur yang lembut!" Alice merajuk kesal.
Ethan pura-pura terkejut dan memalingkan matanya ke samping dengan malu-malu. "... Yah, aku tidak akan menolak jika kamu memang ingin seranjang."
Pipi Alice segera merona merah setelah dia tahu seberapa parahnya kesalahpahaman Ethan. "Ap– Apa maksudmu!? Kita hanya tidur bersama! Jangan mengatakannya seolah kita melakukan hal lain!"
"Hal lain? Memang ada hal lain yang bisa dilakukan di kamar?" Ethan bermain bodoh dan membuat Alice semakin memerah karena dipenuhi rasa malu.
Alice benar-benar frustasi. Dia sangat ingin mencekik leher Ethan hingga jiwanya meninggalkan tubuhnya.
Alice berpaling dengan pipi menggembung. "Hmph. Dasar penggoda. Aku akan mengadukan kelakuanmu kepada Erica ketika kembali."
"Apa yang aku lakukan? Mengizinkan keinginan Ratu untuk tidur bersama?"
"Sudah! Diam saja, Pembully!"
Ethan tertawa geli melihat seberapa polos respon yang Alice berikan. Siapa yang berpikir Alice berusia lebih dari dua abad dengan kepolosannya.
***
"Jadi, setiap benteng akan ditempati oleh 300 Hunter Rank C atau lebih tinggi? Itu rencana yang cukup solid." Ethan mengelus dagunya saat membaca rencana dari Asosiasi Hunter Amerika.
Akan ada beberapa penyihir dj setiap Benteng. Selain itu, jebakan dan claymore dipasang di sekitar Benteng. Dengan ini, tentu saja seharusnya stampede akan ditahan. Namun, itu sebatas sementara. Ketika Claymore habis, beban bagi Hunter akan meningkat menguras stamina dan mana mereka. Ketika itu terjadi, kekalahan hanya masalah waktu.
"Apakah ada masalah?" Gordon bertanya karena dia melihat ekspresi gelisah Ethan.
Ethan memejamkan matanya. Dia tidak bisa mengatakannya kepada Gordon. Jadi, Ethan hanya menggelengkan kepalanya. "Tidak. Ayo kita lakukan dengan rencana ini. Meskipun akan sangat melelahkan, ini masih rencana yang solid."
Ethan yakin Kiaa dan Li Mei yang saat ini di Menara akan menyelesaikan Lantai 4. Jadi, sampai saat itu, Ethan hanya perlu menahan Stampede dengan seluruh kekuatannya sendiri. Ini juga bisa menjadi ajang show off Ethan di depan Publik.
Gordon masih merasa resah karena ekspresi gelisah Ethan sebelumnya. Dia ingin bertanya lebih jauh tetapi, dia mengurungkan niatnya dan mengambil kembali dokumen tentang rencana besok.
"Jika begitu, aku akan kembali. Tempatmu besok adalah, Benteng 3. Tolong jangan sampai terlambat bangun karena terlalu semangat malam ini, oke?" Gordon menyeringai dan matanya melirik Alice yang tidur lebih dulu di kasur.
__ADS_1
"Aku mengerti. Jika begitu, pergilah." Ethan mengusir Gordon untuk segera pergi karena dia sudah sangat mengantuk.
***
Kuala Lumpur Malaysia, masih belum pulih sepenuhnya. Hari ini, Kuala Lumpur dipenuhi oleh ribuan Hunter. Ekspresi ketegangan terukir dengan jelas di wajah semuanya. Mereka tidak percaya harus menghadapi mimpi buruk yang sama seperti 6 Bulan yang lalu.
"... Moral pasukan benar-benar sangat rendah." Silvia terlihat khawatir melihat suasana yang terlalu tegang ini.
Jun mengangguk setuju dengan Silvia. Ini sangat berbeda dengan para Hunter di Amerika Serikat saat Stampede pertama terjadi.
"Menurutku itu wajar untuk takut karena mereka manusia." Erica berujar.
"Erica benar. Justru kita yang tidak normal karena terlalu terbiasa dengan situasi seperti ini."
Silvia dan Jun tersenyum pahit mendengar omongan si kembar. Mereka terlalu sering berurusan dengan Ethan sehingga akal sehat yang mereka miliki sudah terlalu bergeser.
Akhirnya, pintu Menara terbuka. Melihat itu, setiap orang bersiap untuk bertarung. Empat anggota Trouble Guild tidak terkecuali. Mereka segera ke posisi mereka.
"Kieeek!"
"Gierek!"
Jeritan keras para Monster seolah bahagia karena telah bebas dari kurungan terdengar menakutkan di telinga para manusia. Ratusan Monster ke luar, seperti banjir bandang atau bencana alam. Manusia tidak bisa menghentikan bencana alam. Seperti itulah yang disebut takdir.
Semua memiliki kaki yang gemetar. Tubuh mereka membeku di hadapan kengerian dan teror. Kabur. Kabur. Kabur. Pikiran mereka terus berteriak untuk kabur dari tempat itu sekarang juga. Namun, kaki mereka tidak memiliki tenaga sama sekali bahkan untuk sebatas berdiri.
"Semuanya jangan takut! Ini tanah kalian! Jangan biarkan Monster mengambil alih tanah yang leluhur kalian perjuangkan dan tanah yang akan menjadi warisan anak cucu kalian di masa depan! Semuanya, angkat senjata kalian dan bunuh mereka semua!"
Teriakan Jun menyadarkan semua orang dari ketakutan. Tidak, tubuh mereka masih gemetaran. Namun, mata mereka sekarang dipenuhi oleh semangat juang. Mereka mengangkat senjata dan berteriak keras.
"Iye! Ini tanah kita, lah! Jangan takut!"
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
Teriakan keras dari dua belah pihak saling mengintimidasi satu sama lain. Namun, peperangan tidak ditentukan dengan siapa yang berteriak paling keras.
Silvia merapalkan mantra AoE terkuatnya untuk saat ini. "!"
__ADS_1
Hembusan angin yang setajam pisau menerjang dan menghentikan momentum para Monster. Dengan serangan tersebut sebagai awal, pertarungan antara manusia dan Monster dimulai.