
"Guild Master! Ini darurat! Gate mulai collapse dan memuntahkan Monster!" Arya datang dan berteriak dengan panik di pagi hari buta.
"Aku tahu." Ethan yang sedang menonton beritanya di TV menjawab dengan santai.
Arya berkedip beberapa kali. Dia merasa menjadi orang bodoh karena berteriak-teriak.
"Tidak! Mengapa kamu begitu santai!?"
Ethan mengalihkan pandangannya dari TV dan menatap Arya. Kantung matanya mengendur menjadi hitam seperti seekor panda. Ethan tidak terlihat baik-baik saja.
"Apakah aku benar-benar terlihat santai? Yah, panggil anak-anak dan kumpulkan mereka di ruang tengah."
"Ah, soal itu. Semua orang sudah berkumpul di ruang tengah."
Mendengar jawaban Arya, Ethan segera bangun dari tempatnya duduk dan pergi membawa setumpuk kertas di dalamnya. "Jika begitu, ayo pergi ke ruang tengah."
***
Seluruh Dunia saat ini sedang gempar. Tanggal 2 Maret, Gate di seluruh Dunia mengalami collapse dan Monster mulai secara membabi buta membunuh dan menyerang manusia.
"Ah! Apa yang pemerintah lakukan!"
"Tolong aku!"
"Ibu! Ibu– Uwaa!?"
Pemandangan itu sangat mengerikan. Player yang dikirim untuk memukul mundur sama sekali bukan bantuan yang layak. Mereka kalah dalam jumlah dan status sehingga mereka hanya menjadi daging yang disajikan untuk para Monster.
"Makhluk hina! Lawan aku jika kalian berani!" Teriakan yang sangat kencang menarik perhatian tidak hanya Monster, tetapi, juga manusia.
Jun memegang perisai, berdiri di hadapan ratusan Monster yang memenuhi jalan. Pemandangan itu sangat keren dan juga terlihat bodoh pada saat yang bersamaan.
"Orang itu, dia hanya bunuh diri."
"Tidak masalah! Setidaknya kita bisa kabur dengan selamat!"
Manusia mulai kabur menjauh selagi Jun mengalihkan perhatian semua Monster.
"Kieek!"
"Awooo!"
Goblin, Hound, dan Undead mulai menyerbu maju dari segala arah karena tertarik dengan [Taunt] yang Jun lakukan.
Namun, sebelum semuanya bisa menyentuh Jun, suar api muncul di depan mereka semua menghalau jalan maju para Monster.
"Kieek!"
"Woof!"
__ADS_1
"Kiing!?"
Jeritan kesakitan para Monster terdengar ke segala penjuru seperti pekikan dari Neraka membuat orang yang mendengarnya merinding. Namun, hukuman mereka belum selesai.
Begitu suar api berakhir, sepuluh Orc Undead yang dipimpin oleh Arya, maju menerjang ke lautan Monster di depan mereka.
Splash! Splash!
"Kieek! Kieek!"
Arya dan sepuluh Orc Undead sama sekali tidak terhentikan. Mereka benar-benar mendominasi medan perang dan membunuh semua yang ada di depan mereka dalam satu tebasan.
Nina yang melihat pertempuran itu bergumam dengan ekspresi serius. "Haruskah aku mengubah Arya menjadi Undead?"
Silvia melirik Nina dengan ekspresi terkejut. "Tidak. Itu tidak boleh. Mau bagaimanapun, dia masih adik iparku."
"... Aku hanya bercanda." Nina mengatakannya dengan ekspresi kecewa membuat Silvia sulit untuk percaya.
Selagi Nina dan Silvia berbicara, tempat itu sudah hampir bersih seluruhnya dari Monster hidup. Sekarang, yang tersisa hanyalah segunung mayat dari Monster.
"Oke. Setelah kita membongkar mayat Monster, kita akan bergerak ke tempat yang berbeda!"
***
Di sisi lain, grup yang terdiri dari Erica, Hu Tao, Li Mei, Kiaa, dan Michael, bertarung melawan Monster tipe Undead. Mereka bertemu lagi dengan Giant Skeleton yang menjadi lawan mereka di pertarungan pertama mereka.
"!" Erica yang kali ini bertugas sebagai damage dealer, menembakkan sihir suci tingkat rendah ke bagian sendi dari Undead bertujuan untuk melemahkan Giant Skeleton.
Li Mei yang bertindak sebagai Main Tank dengan taktik hit and run, melapisi dua belatinya dengan sihir dan menyerang satu persendian Giant Skeleton berkali-kali. Meskipun damage yang dihasilkan kecil, itu cukup membuat tulang keras itu retak jika dilakukan puluhan kali dalam waktu singkat.
"Uaagh!" Merasa ada yang tidak beres, Giant Skeleton mengangkat kakinya dan mencoba untuk menginjak Li Mei menjadi daging penyet.
Bam!
Namun, hasilnya dia hanya menghancurkan aspal jalanan tanpa mengenai target. Memanfaatkan celah dari lambatnya mobilitas Giant Skeleton, Michael dan Hu Tao menyerang bagian tulang yang melindungi core dari Giant Skeleton tersebut.
Krak!
Kerangka tulang sudah retak menciptakan celah kecil yang memperlihatkan core berwarna ungu di dalamnya.
Kiaa yang sudah siap dengan busurnya, menembakkan anak panah yang sudah dilapisi dengan sihir suci milik Erica.
Psyu! Crack!
Anak panah dengan telak menghancurkan core dari Giant Skeleton. Begitu kehilangan sumber kekuatan, Giant Skeleton ambruk ke tanah dan tulang belulang menyebar membuatnya sangat menjijikkan.
"Karena di sini sudah selesai. Ayo kita bergerak setelah mengumpulkan warga." Li Mei sebagai Leader, memberikan arahan kepada anggota guild.
Meskipun mengalahkan Monster adalah, hal yang penting. Prioritas utama dari tim dua adalah, melakukan evakuasi bagi para warga yang terjebak oleh Monster.
__ADS_1
"Oh! Players datang!"
"Mereka juga sangat kuat! Kita selamat!"
"Syukurlah kita selamat!"
Warga yang sudah menyaksikan pertarungan dari jauh, perlahan-lahan keluar begitu Monster sudah dibasmi. Mereka meneteskan air mata senang karena berhasil bertahan hidup dari serangan para Monster.
Li Mei berjalan mendekati sebuah bus. Untungnya, bus itu selamat dari pertarungan melawan Giant Undead sehingga masih sangat layak digunakan.
"Siapa di antara kalian yang bisa mengendarai Bus ini?"
Seorang pria tua yang menggunakan baju dengan logo nama yang sama seperti Bus, mengangkat tangannya. "Saya. Saya bisa karena ini Bus yang saya gunakan sebelumnya."
Mendengar itu Li Mei mengangguk dan menatap ke sekeliling. "Masuk ke dalam Bus. Utamakan anak-anak dan orang tua. Jika kalian rusuh– kalian tidak bisa menaiki Bus lagi."
Mendengar ancaman dari Li Mei, masyarakat menjadi pucat. Mereka dengan sukarela antre dan mengutamakan orang tua dan anak-anak sesuai dengan arahan.
Michael yang melihat bagaimana orang-orang begitu menurut, merasa aneh. "Hm, bukankah ini aneh? Apakah kita benar-benar di Indonesia?"
Namun, belum lima menit Michael merasa terkesan, satu orang pria dengan jas dan kacamata berteriak.
"Hey! Tidak bisakah kamu membiarkanku masuk lebih dulu! Aku ini– blergh!?"
Li Mei menendang perut pria itu sebelum dia selesai berbicara hingga dia kehilangan kesadaran.
"Hah, orang bebal. Hanya karena kamu menggunakan jas, tidak berarti kamu lebih tinggi dari orang lain. Jika tidak mendengar aturan, seharusnya kamu siap dengan konsekuensinya."
Meskipun Li Mei mengatakannya ke arah pria itu, semua warga merasa jika pesan itu disampaikan sebagai peringatan untuk orang bodoh lainnya yang sama tidak sabarnya dengan pria itu.
Akhirnya, meskipun sedikit berdesakan, semua warga bisa masuk. Selain itu, ada beberapa orang yang membawa mobil mereka sendiri dan memberikan tumpangan pada orang lain. Mereka akan aman karena Guild Trouble akan mengawal mereka.
"Jika ada yang terluka, katakan. Kami akan memberikan pertolongan pertama. Namun, sama seperti sebelumnya. Jika kalian ribut, bersiap ditendang dari Bus ini." Li Mei masih dengan gaya pendekatannya yang ekstrim, benar-benar membuat semua orang menurut.
Erica dengan senyum pahit, mulai mengobati satu persatu luka yang ada pada masyarakat. Untungnya, tidak ada luka yang benar-benar mengancam nyawa atau luka dalam. Erica bisa dengan mudah mengobati semua pasien dengan lancar. Meskipun, ada beberapa yang mencoba menggodanya.
"Nona. Kamu sangat cantik."
Erica mengabaikan omongan pria tua yang saat ini sedang diberikan perawatan. Namun, pria tua yang berpikir jika Erica jauh lebih lemah dari Li Mei, mencoba untuk menyentuh area yang seharusnya tidak disentuhnya.
"Haha. Kamu sangat pendiam, ya. Jika begitu, bagaimana jika saya buat kamu bersuara–"
Slash!
Sebelum tangannya menyentuh Erica, Michael dengan wajah pucat memotong tangan pria tua itu.
Pria tua itu begitu terkejut melihat semburan darah dari tangannya sebelum dia akhirnya menjerit histeris karena rasa sakit. "Kuhh! Argh! Tanganku!"
Keributan yang terjadi itu menarik perhatian semua orang. Mereka merasa takut melihat Michael tanpa ragu memotong tangan pria tua itu. Namun, mereka tidak bersuara atau membela pria tua itu. Tidak ada yang cukup bodoh untuk melibatkan diri.
__ADS_1
Erica yang terkena cipratan darah bangun dengan wajah dingin tanpa emosi. "Pak. Bisakah kamu berhenti sejenak? Saya ingin mengganti pakaian."
"A– Ah, ya. Saya mengerti."