The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 24 - Persiapan.


__ADS_3

Dua bulan setelah Stampede, masuk ke Bulan Juni. Seluruh Dunia mulai memulihkan diri. Perlahan tapi pasti, Hunter mulai bisa memukul mundur Monster. Meskipun begitu, Benua Australia dan setengah dari Benua Afrika sudah tidak tertolong.


Sekarang topik yang paling sering dibahas adalah, tentang siapa Hunter Terkuat. Internet dipenuhi dengan opini dari berbagai kalangan, masyarakat umum, atlet bela diri, peneliti, pemerintah, serta publik figur.


Setelah begitu banyak perdebatan. Mayoritas dari masyarakat menyetujui 10 Terkuat. Peringkat pertama, tentu saja Hunter yang menghentikan Stampede dan menyelesaikan Lantai 2, Ethan Austin. Lalu, diikuti dengan Michael Kross, Arya Corner, Silvia Aymeric, Gordon, Hu Tao, Itsuki Miyamoto, Jean de Arc, dan terakhir, Thiago **.


"Yup. Kakak Ethan harus peringkat satu!" Rania terlihat puas dengan hasil dari pemeringkatan.


Rania mendapatkan tugas dari Ethan untuk mengalihkan perhatian internet dari Benua Afrika dan Benua Australia yang jatuh. Karena itu, Rania mengeluarkan topik pembahasan yang dapat menekan berita besar jatuhnya 2 Benua Utama.


"Ah! Bajingan ini! Bagaimana kamu bisa mengatakan Kakak Ethan tidak pantas di posisi 1!?" Rania mengetik dengan sangat cepat, membalas komentar yang tidak setuju dengan Ethan di peringkat pertama.


Wakil Guild Master, Indra, menatap Rania dengan tatapan lelah. "Kamu benar-benar menikmatinya."


Rania bukan hanya melakukan tugas tetapi, dia benar-benar menikmati berdebat tentang Ethan. Jika itu tentang Ethan, dia akan melakukan segalanya.


"Yah, selama pekerjaannya selesai, itu tidak masalah."


***


Ethan yang masih belum sepenuhnya pulih, pergi ke Basement Kastil Tua. Suara besi yang saling berdentang terdengar memenuhi Basement yang terang karena cahaya dari api.


Leo yang tubuhnya penuh dengan otot dan keringat, memukul besi, mengubahnya menjadi pedang. Tangannya begitu cekatan. Bukan tangannya saja, dia benar-benar memiliki mata yang tajam, melihat bagian besi mana yang dipukul atau tidak.


"Keahlian manusia itu sudah seperti Master Pandai Besi." Alice terdengar cukup terkejut ketika melihat keahlian Leo.


Ethan juga cukup terkejut dengan kemampuan Leo. Pertumbuhannya bisa dikatakan sebagai yang paling pesat di antara anggota Guild lainnya.


Setelah menonton selama satu jam, Leo akhirnya selesai dan dia baru menyadari kedatangan Ethan.


"Guild Master!? Apa yang anda lakukan di sini!?"


"Aku ingin sebuah senjata. Apakah kamu sedang sibuk sekarang?"


Leo menggelengkan kepalanya. "Tidak! Tentu, saya bisa membuatkan anda senjata, Guild Master. Anda ingin pedang seperti sebelumnya?"


"Tidak. Aku ingin kamu membuat pedang dari bahan-bahan yang aku bawa." Ethan mengeluarkan tumpukan logam biru tua dan sebuah permata seukuran ibu jari.


Leo terpana dengan bahan-bahan mewah yang Ethan bawa. Dia tidak tahu tentang permata merah tetapi, logam biru tua di depannya jelas sesuatu yang sangat luar biasa.


"Logam ini … apakah ini anda dapat dari Menara?"


"Itu Gehena Steel. Logam yang mengandung kekuatan bulan. Aku mendapatkannya susah payah dan hampir mati." Mata Ethan terlihat kosong ketika dia berbicara. Ini pertama kalinya Leo melihat ekspresi Ethan seperti itu.


Leo ingat keadaan Ethan yang compang-camping ketika kembali ke Menara. Lukanya saat itu begitu parah. Leo tidak bisa membayangkan Monster seperti apa yang membuat Ethan cedera begitu lama.

__ADS_1


Setelah berpikir sejenak, Leo menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menyesal. "Masih terlalu sulit untuk menempa logam ini. Saya akan meningkatkan kemampuan saya lebih dulu."


Seolah sudah mengharapkan jawaban dari Leo, Ethan hanya mengangguk kecil, tidak terlihat kecewa. Justru, Ethan mengeluarkan sebuah palu dan landasan abu-abu terang seperti perak tetapi, bukan perak.


"Terima ini dan berlatih dengan lebih keras."


Mata Leo segera terkunci pada Landasan dan palu yang terbuat dari Magic Tungsten. Harganya sangat mahal dan mustahil bahkan untuk Leo bisa membelinya.


"... Ini luar biasa. Saya takut saya tidak bisa membayarnya, Guild Master." Dia mencoba menolak. Namun, matanya yang berbinar terang tidak bisa berbohong.


"Anggap sebagai investasi. Senjata yang kamu tempat menjadi pasokan utama keuangan kita. Jadi, jangan khawatir dan terima."


Setelah diberikan penjelasan, Leo tidak mengatakan apapun lagi dan menerima sepasang palu dan landasan dari Ethan. Kepalanya tertunduk dan dia mulai menangis seperti bayi.


"Terima kasih, Guild Master! Saya-- Saya pasti akan menjaganya dengan baik!" Leo memeluk Ethan dengan sangat erat.


"Tu–!?" Ethan terkejut dengan sikap Leo yang tiba-tiba.


Ethan merasa tubuhnya sangat kotor sekarang. Dia tidak pernah membayangkan akan dipeluk oleh pria berotot yang berlumuran keringat, ingus dan air mata. Perasaan merinding menjalar di sekujur tubuhnya.


"A– Aku mengerti. Jadi, bisakah kamu melepaskan?" Ethan berusaha mendorong Leo menjauh sambil menyembunyikan rasa jijiknya.


Untungnya, Leo dengan cepat tenang dan tidak lagi memaksa untuk memeluk Ethan.


"Y– Ya. Tidak masalah. Jika begitu, aku menantikan pedang yang kamu buat."


Leo menyeka air matanya dan mengangguk dengan wajah penuh tekad. "Ya! Anda bisa berharap lebih, Guild Master!"


Ethan mengangguk dan mengacungkan jempolnya. "Bagus. Jika begitu, aku pergi dulu!"


Ethan meninggalkan Basement dan bersumpah untuk tidak datang lagi. Dia akan meminta Michael atau Arya untuk datang mengantarkan besi dan logam lainnya di masa depan.


***


Di Amsterdam, di Kediaman Bangsawan Basten. Carmila mengayunkan pedangnya di bawah terik matahari. Teknik pedangnya kuat tetapi, biasa saja. Tidak ada yang spesial dari ayunan pedang Carmila.


"Lady, sebuah surat datang dari Trouble Guild." Seorang pelayan datang membawa sepucuk surat.


Carmila yang mendengar nama Trouble Guild berhenti mengayunkan pedangnya dan menatap ke arah pelayan yang membawa surat itu.


"Trouble Guild? Benarkah?" Carmila terlihat senang ketika mendengar kabar mengenai Trouble Guild.


Bantuan mereka kepada Amerika Serikat, Belanda, Malaysia, dan China sudah menjadi sebuah dongeng heroik yang hanya muncul dalam cerita fantasi. Selain keberanian, mereka memiliki kekuatan untuk melindungi orang-orang dari para Monster. Carmila sangat mengagumi Trouble Guild sekaligus menganggap pihak lain sebagai rival.


"Ya. Silahkan anda periksa, Lady." Pelayan itu memberikan surat itu kepada Carmila.

__ADS_1


Menerima surat itu, Carmila segera membukanya. Sebuah pesan yang ditulis dengan indah menarik mata Carmila. Dia membaca setiap kata dan bibirnya perlahan naik dengan ekspresi gembira.


"Oh! Sepertinya mereka meminta bantuan untuk menyelesaikan Lantai 3 Menara."


Menara. Sebuah tempat misterius yang berisikan Monster dan sebuah Dunia dengan ekosistem itu sendiri. Tidak banyak yang diketahui tentangnya. Namun, satu hal yang pasti, ketika Menara tidak terselesaikan dalam waktu empat bulan, Stampede akan terjadi sama seperti terakhir kali.


"Kirimkan balasan kepada Trouble Guild. Jika aku akan ikut bergabung dalam raid kali ini."


"Saya mengerti."


***


Sementara itu, di Lantai 1 Menara, tiga orang dengan tudung hitam berkeliaran di tempat Alice tersegel sebelumnya.


Mereka memandang ke sebuah bingkai lukisan kosong.


"Sepertinya Alice sudah terbebas."


"... Ini cukup mengejutkan. Siapa yang mampu melepas segel Great Soul Sealing?"


Segel Great Soul Sealing merupakan segel tertinggi. Bahkan Dewa sekalipun tidak mungkin bisa keluar dari segel Great Soul Sealing.


"... Mungkinkah ada yang membantunya untuk lolos?"


"Itu tidak mungkin. Selain kita, hanya 7 Outsider yang tahu tempat Alice menyegel dirinya sendiri."


Salah satu dari mereka melihat ada yang janggal dengan tempat tersebut. "Namun, ada bekas pertempuran. Bukankah jelas jika ada seseorang yang mengeluarkan Alice?"


Meskipun tempat itu sudah hancur, tetapi, jejak pertarungan masih tersisa. Dua orang lainnya yang melihat itu terlihat bingung.


"... Apakah Alice benar-benar sudah mati jika begitu?"


"Itu tidak masuk akal. Bahkan dua Outsider tidak bisa membunuhnya."


"Aku setuju. Tidak mungkin Alice akan mati bahkan jika dia menjadi sangat lemah."


Mereka yang pernah melihat kekuatan Alice tidak berpikir Alice akan kalah bahkan jika dia dalam keadaan terburuknya. Itulah seberapa menakutkan Alice di masa jayanya.


"... Karena sudah seperti ini, ayo kita kirim orang untuk mencari jejaknya."


"Setuju. Kita tidak bisa membiarkan Alice pergi dan menaiki Menara lagi."


"Ayo kembali sebelum Menara memberikan lebih banyak penalti."


Ketiganya lenyap begitu saja dari tempat tersebut seolah-olah mereka tidak pernah hadir.

__ADS_1


__ADS_2