
"Juara Dunia lainnya~"
"Fufu. Apakah kamu melihat ekspresi Caster dan lawan? Mereka benar-benar terkena serangan mental karena kalah kurang dari 5 Menit~"
Pada tanggal 31 Desember, sesuai yang sudah dibicarakan sebelumnya, anggota Guild yang baru saja memenangkan kejuaraan Dunia, berkumpul di halaman belakang Mansion Ethan.
"Lihat bagaimana aku membunuh 4 Tank di tim mereka? Itu menjadi trending~" Pria Jerman yang terus membual itu adalah, Michael Kroos. Dia seorang Swordsman yang diajak Ethan bermain [Eden].
"Karena itu, aku sama sekali tidak mempunyai kesempatan menggunakan [Meteor] pada pertandingan Grand Final. Padahal, aku sudah menyimpannya selama reguler season." Seorang perempuan berambut ungu terong yang berbicara dengan Bahasa Inggris tergagap, memprotes Peter yang tak tampak peduli. Perempuan itu adalah, Silvia Aymeric.
Ethan duduk di sudut dengan segelas anggur tanpa alkohol di tangannya. Dia mengawasi percakapan yang tampak tidak memiliki akhir.
"Hey. Mengapa Tuan Rumah hanya duduk dengan ekspresi suram di sudut ruangan?" Seekor Beruang-- seorang pria yang begitu tinggi dan berotot, mendekati Ethan. Tidak salah mengatakannya seekor Beruang.
Ethan menatap pria besar itu dengan sinis, tidak menyembunyikan rasa tidak senang. Dia bahkan secara terang-terangan mendecakkan lidah di hadapan Beruang itu "Ck. Tukang daging seharusnya fokus saja memanggang daging, Jun."
Jun, teman masa kecil dan Main Tank Guild, tidak tersindir atau marah. Dia justru dengan bangga mengangkat lengan bajunya, memperlihatkan otot-ototnya yang terlatih dengan baik. "Hm. Maka, biarkan aku memanggang daging yang memiliki kualitas terbaik untukmu."
Dengan memperlihatkan gigi putihnya tampak cerah, Jun mulai memanggang daging. Tangannya begitu cekatan saat mengoleskan bumbu dan membalik daging. Aroma dagingnya membuat setiap orang menatap ke arah Jun dengan lapar.
Silvia berhenti berdebat dengan Michael dan dia berbicara dengan nada terkejut melihat kemampuan memanggang Jun. "Aku tahu kamu baik dalam memanggang, Sayang. Namun, apakah kamu memang selalu sebaik ini?"
Jun tertawa terbahak-bahak. "Hahaha. Yah, aku belajar banyak dari Erica. Dibanding Guruku, aku tidak mendekati keahliannya~"
Semua orang menatap Erica yang sedang memberikan potongan daging ke mulut Ethan di sudut taman.
"Nah, dia Erica. Masakannya memang yang terbaik."
"Itu benar. Mustahil seonggok Jun mampu melampauinya."
Keahlian Erica dalam memasak sudah berada di tingkatan yang lain. Jadi, mereka tidak terlalu terkejut jika Erica yang mengajari Jun, seekor beruang, memanggang.
Pandangan semua orang lalu jatuh ke arah Nina yang menyuap daging dengan lahap. Berbanding terbalik dengan Erica, Nina yang begitu energik tidak memancarkan aura feminim sehingga tampak begitu kontras di antara si kembar.
Nina yang menyadari maksud dari tatapan anggota Guild, menjadi kesal. "Katakan saja jika kalian memiliki keluhan! Sekedar mengingatkan, aku setidaknya mampu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga!"
Tentu saja, tidak mungkin ada yang mempercayai perkataan Nina yang putus asa.
"Nina, jika kamu ingin berbohong, lakukan kebohongan yang masuk akal." Arya, Jun yang tidak berotot, menatapnya dengan mata penuh simpati.
Leo, laki-laki remaja dengan kulit kecoklatan, mengangguk setuju dengan perkataan Arya. "Sudah rahasia umum apabila kamu hanya bisa makan, bermain game, kemudian tidur."
Nina cemberut dan pipinya mengembung. Dia bahkan berkaca-kaca tampak akan menangis.
"Ummm! Lalu apa!? Bahkan jika aku tidak bisa semuanya, aku tetap imut!" Nina memalingkan wajahnya dengan kesal.
Semua orang saling memandang satu sama lain dan mengangguk secara bersamaan seolah sepakat akan suatu hal. Kemudian, sekali lagi mereka menatap ke arah Nina. Kali ini, tatapan mereka dipenuhi dengan simpati dan kasihan.
"Benar, benar. Tidak apa menjadi tidak berguna."
"Semangat, Nina!"
"Kami mendukungmu."
Perasaan Nina tidak semakin membaik ketika mendengar anggota Guild yang menyemangatinya. Dia justru menjadi sangat kesal karena merasa sudah diolok-olok.
Nina yang sudah buntu, menggunakan skill terakhirnya.
"Kakak! Mereka! Mereka semua membullyku! Bagaimana jika kita memotong gaji mereka!?"
Jurus terakhir Nina yaitu, mengadu pada sang Kakak! Di sini, Ethan, Guild Master sekaligus Owner, merupakan sosok paling berkuasa. Di Guild, kata-katanya merupakan perintah dan bersifat mutlak.
Nina menatap anggota Guild yang membullynya dengan senyum kemenangan. Dia memiliki dukungan Kakaknya, membullynya merupakan kejahatan ... atau begitu yang Nina pikirkan.
"Hm? Nah, itu fakta. Jadi, itu bukan bullying." Etha membalas dengan acuh tak acuh.
Nina tercengang mendengar jawaban Ethan. Matanya mulai berair siap untuk menangis. Sementara Arya dan Leo mengelus dada lega. Mereka sempat khawatir gaji mereka akan benar-benar dipotong.
"Kakak kamu jahat!" Nina mulai menangis. Tentu saja, itu hanya akting.
Suasana yang begitu ramai dan meriah terus berlanjut. Daging yang seolah tidak memiliki batas, tawa hangat anggota Guild, semuanya memberikan suasana menenangkan. Sulit dipercaya Bumi akan hancur tidak lama lagi.
'Hm, aku harap semuanya berlangsung selamanya.'
Ethan tanpa sadar bergumam di hatinya. Akan tetapi, seolah takdir menjawabnya, tepat pukul 17:30 sebuah gempa dengan skala kecil tetapi, cukup untuk dirasakan bahkan di luar ruangan, terjadi.
"Eh? Gempa?"
"Benar … aku merasa kepalaku berputar."
Karena tidak berlangsung lama serta tidak terlalu kuat, semua orang hanya sedikit terkejut. Tidak ada kerusakan yang terjadi di tembok Mansion Ethan.
__ADS_1
Tak lama kemudian, sebuah layar interface yang Ethan kenal dengan baik muncul, membawa pesan-pesan yang aneh dan juga membingungkan.
[Menemukan Planet: Bumi.]
[Melakukan instalasi sistem pada Planet.]
"Apa?"
"Eh? Apa ini?"
Semua orang dilanda kebingungan. Beberapa dari mereka mencoba menganalisis dan memperhatikan layar interface dengan seksama.
[Instalasi selesai.]
[Untuk mencegah kehancuran Dunia, Akashic Records akan mendukung kehidupan manusia mulai saat ini dan seterusnya.]
[Anda bisa memulainya dengan perintah "Status" sebagai permulaan.]
Pesan-pesan aneh mulai bermunculan. Anggota Guild saling menatap satu sama lain. Lalu, bersamaan mereka melakukan sesuai apa yang Sistem sampaikan.
"""Status."""
Layar interface yang menampilkan statistik mereka dalam bentuk numerik muncul. Penampilan UI yang tidak asing mengingatkan mereka pada permainan VRMMORPG, [Eden].
"Ini … apakah ini proyek baru dari [Eden]?"
"Itu tidak mungkin. Tidak peduli seberapa maju teknologi, tidak mungkin menciptakan hal dari ketiadaan seperti ini."
Mereka semua paham tentang itu. Sayangnya, mereka tidak ingin menerima semua yang ada di depan mata mereka merupakan kenyataan.
Di sisi lain, Ethan hanya diam dengan ekspresi bingung menatap [Status] di depannya.
[Name: Ethan Austin.
Race: Human
Level: 1
Trait: Void Monarch
Strength: 10 Stamina: 10 Constitution: 10 Dexterity: 10 Mana: 10
Unique Ability: Monarch Eyes[E+] Duplicate[-] Fusion[-]
Skill: None.
]
Terdapat perbedaan yang sangat jauh antara statusnya sekarang dan di kehidupan sebelumnya. Dulu, Ethan mendapatkan Trait [Frozen Heart] yang berfungsi untuk membuatnya tidak mudah emosi dan panik.
Tidak ingin terjebak dalam kabut kebingungan, Ethan mencoba untuk memeriksa deskripsi [Trait] dan Unique Ability yang dimilikinya sekarang.
[Void Monarch.
Rank: Myth.
Seseorang yang berhasil kembali dengan selamat dari Void dan menguasai Void.
Opsi:
Meningkatkan afinitas terhadap Void Atribut.
Mengubah atribut menjadi Void Atribut.
Mampu memanipulasi Void Energy dengan bebas.
]
__ADS_1
[Duplicate
Rank Ability: S
Proficiency: -
Diizinkan menduplikasi sebuah Skill/Ability secara acak dengan kondisi tertentu, tergantung perbedaan pada level dan kemampuan antara pengguna dan target.
]
[Fusion.
Rank Ability: S
Proficiency: -
Melakukan fusi dua atau lebih [Skill/Ability] menjadi kemampuan baru.
]
[Monarch Eyes.
Rank Ability: Ex.
Proficiency: E-
Mata yang mampu melihat segala macam hal di Dunia ini. Tergantung perbedaan level antara pengguna dan target. Ada kemungkinan Ability akan dibatalkan jika perbedaan terlalu besar.
]
"Apa-apaan?" Ethan berseru terkejut.
Ethan menjilat bibirnya yang kering. Tiga Ability terbaik yang bisa dimiliki dan sebuah Trait Rank Myth. Trait Rank Myth membuat Hunter mendapatkan 11 Poin Status setiap naik level, lebih tinggi 4 poin dari Trait Legendary. Kelemahannya adalah, membutuhkan lebih banyak Records untuk naik level. Namun, kelemahan itu ditutupi dengan tiga ability curang Ethan.
"Hey, hey. Coba lihat. Katanya, ada Menara yang muncul secara tiba-tiba di Riyadh!"
"Oh, di Kuala Lumpur juga."
Ethan mengalihkan perhatian dari status ketika dia mendengar suara Kiaa dan Arya. Keduanya menunjukkan sebuah thread di sebuah platform tentang kemunculan sebuah Menara.
"Selain itu, Spiral berwarna merah juga muncul di Alaska."
"Itu bukan Aurora, kan?"
"Tidak, ini benar-benar seperti sebuah portal. Lihat ini."
Hu Tao menunjukkan bentuk Spiral yang diambil oleh seorang pengguna platform sosial media. Dalam foto itu, sebuah spiral merah menyala, melayang-layang terlihat sebuah sebuah lubang cacing dalam fiksi ilmiah.
"Ini sungguhan. Sebenarnya, apa yang terjadi pada Bumi?" Silvia bergumam dengan cemas.
Semua orang hanya diam. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Silvia. Mereka juga penasaran mengenai apa yang saat ini terjadi.
Saat itulah, mereka menatap ke arah Guild Master mereka yang hanya diam dan bertingkah aneh. Dia tidak terkejut atau panik dengan semua keanehan yang terjadi.
Merasakan tatapan dari sekitarnya, Ethan balik memandang mereka semua. "Apa?"
"Apakah kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Kiaa, salah satu teman SMA Ethan, langsung menanyakan apa yang semua orang ingin dengar.
"Apakah kamu pikir aku Maha Tahu?" Ethan membalas dengan acuh tak acuh.
Mendengar jawaban Ethan, semua orang menjadi canggung. Mereka sudah terlalu terbiasa dengan Ethan yang selalu memiliki jawaban setiap muncul masalah. Jadi, secara tidak sadar mereka selalu bertanya padanya setiap kali muncul pertanyaan atau masalah yang mereka tidak pahami.
Ethan merasa sedikit khawatir dengan ketergantungan anggota Trouble Guild terhadap dirinya. Namun, dia memutuskan untuk memberikan sedikit petunjuk samar kepada mereka sekarang.
"Pikirkan ini. Sebuah panel yang menunjukkan statistik kita muncul. Selain itu, sebuah fungsi yang diizinkan untuk membeli senjata tajam dan sebuah ramuan seperti dalam game. Mungkin, sesuatu yang hanya ada di sebuah cerita fantasi akan terjadi."
Tidak ada yang menertawakan omongan Ethan yang seperti sebuah lelucon. Itu karena, mereka sudah menyadarinya sebelum Ethan menjelaskan. Situasi ini terlalu aneh.
"Jika begitu, Monster, Iblis, atau Alien?"
"Aku pikir Monster dan Iblis lebih mungkin terjadi, kan?"
"Ah, kamu benar. Alien tidak datang dengan cara seperti ini."
"Namun, Monster dan Iblis bisa dikategorikan sebagai Alien juga, kan?"
Topik pembicaraan perlahan mulai melenceng. Ethan hanya bisa tersenyum pahit melihat seberapa tenang anggota yang sudah dia latih ini.
Ethan tiba-tiba bangun dari tempat duduknya, menarik perhatian semua anggota Guild. "Ayo tidur. Besok, kita akan memeriksa apakah ada yang salah. Lalu, baru kita pikirkan langkah yang harus dilakukan setelahnya."
__ADS_1