
"Uh." Ethan mengerang pelan. Dia perlahan mulai membuka matanya.
"Kamu sudah bangun?"
Ethan melihat siluet Alice di hadapannya. Sensasi lembut yang tidak asing bisa dirasakan di kepalanya. Senyum tipis mengembang di bibirnya.
"Selamat pagi." Ethan menyapa Alice dengan suara serak.
"Un." Alice balas dengan anggukan kecil.
Ethan berusaha untuk bangun. Tubuhnya masih terasa sangat sakit. Namun, dia tetap memaksakannya. Tenggorokannya kering dan dia membutuhkan air untuk hidrasi.
"... Aku merindukan Erica." Ethan tiba-tiba ingin service dari Erica seperti di Kastil saat itu.
Mengeluarkan air dari dalam inventory, Ethan segera meneguk seluruh air kemasan yang dibawanya. Perasaan lega dan sejuk mengalir di tenggorokannya.
"Jadi, berapa lama aku pingsan--" Ethan berhenti berbicara ketika dia melihat tubuh Alice yang sudah tidak lagi transparan. Itu sedikit lebih padat dari sebelumnya. "... Apa yang terjadi dengan tubuhmu?"
Alice tersentak dan dia mengalihkan pandangannya tidak berani menatap langsung ke mata Ethan. "... Apa yang salah? Aku disebut The Strongest Tyrant bukan tanpa alasan. Hmph."
Ethan menyipitkan matanya curiga. Suara Alice terlalu gemetar untuk orang yang berbicara begitu sombong. Dia selalu buruk dalam berbohong.
Ethan menyentuh bagian yang tidak nyaman di lehernya. Tangannya berhenti ketika menemukan dua luka kecil di mana circuit di lehernya.
"... Jadi, kamu bisa menjelaskan tentang luka ini, Alice?"
"Ada apa dengan cara bicaramu yang tidak sopan! Selain itu! Aku ini Tyrant, Blood Queen! Apa yang salah dari menghisap sedikit darahmu? Jika kamu ingin marah, marah pada diri sendiri karena memiliki darah yang begitu harum dan nikmat!" Alice berbicara dengan nada kesal dan marah.
Vena muncul di dahi dan di tangan Ethan yang terkepal. Dengan cekatan, Ethan melakukan Americna Armlock.
"Ack! Ini sakit! Tunggu! Ini sakit sungguhan!" Alice menjerit kesakitan. Tubuhnya sudah mulai membangun beberapa otot dan syaraf dasar dari makhluk hidup.
__ADS_1
Jeritan Alice hanya jatuh di telinga tuli. Ethan menyeringai dan berbisik di telinga Alice. "Kamu sangat menginginkan darahku, kan? Aku akan memberikannya sesuai keinginanmu. Cara yang akan aku gunakan lebih efisien."
Alice merasakan firasat buruk ketika tangan Ethan merayap di tubuh bagian bawahnya. Dia merinding di sekujur tubuhnya merasa terancam.
"Tunggu! Maafkan aku! Aku tidak akan melakukannya lagi! Jadi, hentikan!" Alice dengan putus asa, memohon kepada Ethan.
Tangan Ethan berhenti dan kekuatannya perlahan mengendur, melepaskan kuncian. Dia menatap Alice yang berlinang air mata di tanah. Tangannya tanpa sadar mengusap kepala Alice.
"Aku akan memberikanmu beberapa tetes setiap hari. Aku tidak ingin memiliki hasrat digigit dan dihisap oleh Nenek Tua. Kamu paham maksudku, kan?"
"Siapa yang kamu maksud Nenek Tua--" Alice mencoba memprotes kata-kata Ethan. Namun, dia berhenti ketika wajah Ethan menjadi menyeramkan. "Uu. Aku mengerti, Ethan."
***
Sementara itu, di Bumi, beberapa wilayah masih dilanda banjir monster. Amerika Serikat menjadi Negara pertama yang menyelesaikan krisis. Semuanya karena bantuan dari Trouble Guild dan Gordon. Presiden Amerika Serikat memberikan lencana penghargaan kepada semua anggota Trouble Guild. Nama mereka segera melonjak naik dan menjadi seorang superstar.
Namun, mereka tidak bisa bersantai. Mereka pergi ke beberapa Negara lain yang mengalami Stampede serupa. Michael, Gordon dan Kiaa pergi ke Belanda untuk membantu di sana. Nina, Li Mei, Arya, pergi ke Malaysia. Terakhir, Hu Tao, Jun, dan Silvia pergi ke China. Erica masih di Amerika Serikat untuk memurnikan Miasma yang tertinggal dari para Monster.
Trouble Guild kembali ke Guild Base dengan kepala tertunduk. Tidak ada aura bangga karena menyelamatkan begitu banyak Negara dari kehancuran. Mereka menyalahkan diri sendiri karena hancurnya Negara yang lebih kecil.
"Oh? Kalian sudah kembali?" Sebuah suara yang ceria menarik perhatian semua orang.
Ethan yang berdiri menggunakan tongkat, sedang sibuk memanggang daging kambing besar. Semua orang bingung dan membeku sejenak saat melihat Ethan, seperti melihat hantu.
"Kakak ...?"
"Hm? Ada apa, Erica?" Ethan memiringkan kepalanya.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Dan siapa wanita yang ada di belakangmu?"
__ADS_1
Pertanyaan dilancarkan satu persatu. Tentu saja, perhatian utama mereka adalah, Alice yang sedang sibuk minum anggur buatan tangan Ethan.
"Dia Alice de Eyus. Vampire Ancestor yang membuat kontrak denganku."
Alice memandang anggota Trouble Guild dengan tatapan tertarik. Dia bisa merasakan aura mereka semua yang masih lemah. Namun, sangat solid. Alice memiliki harapan tinggi karena potensi yang semua orang miliki.
"Mereka memang anak harimau. Namun, kamu benar-benar ada di level yang lain." Alice bergumam, melirik Ethan yang sibuk mengatur api sehingga daging tidak hangus.
Kemudian, sesi perkenalan dimulai. Semua orang dengan takut-takut memperkenalkan diri mereka. Lalu, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
"Jadi, itu, Yang Mulia. Apakah Menara tempat yang sangat berbahaya?"
"Itu sangat berbahaya untuk manusia lemah. Di sana, yang lemah harus tunduk pada yang kuat."
Mendengarkan jawaban acuh tak acuh Alice membuat semua orang terlihat gelisah. Kepercayaan diri mereka mulai memudar. Tidak hanya gagal menyelamatkan orang-orang, kekuatan mereka tidak dapat menyelamatkan siapapun, termasuk diri mereka sendiri.
"Kalian bukan Tuhan. Berhenti menyalahkan diri sendiri atas kematian orang lain." Ethan terdengar begitu apatis sehingga mereka semua memandang Ethan dengan terkejut. Ethan adalah, orang yang paling berusaha menyelamatkan manusia dari kehancuran yang akan terjadi saat ini dan di masa depan.
Ethan tidak peduli dengan tatapan dari semua orang dan terus berbicara. "Kita hanya menyelematkan apa yang bisa diselamatkan. Namun, jangan meletakkan seluruh Dunia di pundak kalian. Itu terlalu berat untuk orang lemah seperti kalian."
Semua orang menggigit bibir mereka dengan kesal karena kata-kata Ethan. Namun, yang membuat mereka lebih kesal adalah, mereka tidak memiliki argumen untuk membantah Ethan.
"Lalu, bagaimana dengan Kakak?" Erica bertanya dengan suara lemah.
Ethan tertawa tanpa suara dan memandang langit penuh bintang. "Aku? Tentu saja aku kuat. Sesuatu seperti nasib Dunia bukan hal yang sulit untuk aku tanggung. Aku bisa menyelamatkan mereka semua. Namun, aku sengaja tidak melakukanya demi masa depan."
"Masa depan seperti apa yang kamu maksud dengan mengorbankan begitu banyak--!"
"Masa depan ketika aku sudah tidak ada. Aku ingin mereka berdiri dengan kaki mereka sendiri."
Semua orang menutup bibir mereka rapat-rapat mendengar perkataan acuh tak acuh Ethan. Mereka merasakan firasat tidak menyenangkan dari kata-kata Ethan yang memberi kesan, kematiannya akan segera tiba. Dunia akan hancur apabila Ethan mati.
__ADS_1
"Berhenti berpikir terlalu keras dan makan daging kambing ini."