
"Hanya tersisa dua Bulan sebelum awal dari malapetaka, ya." Ethan yang sudah tumbuh menjadi pria dewasa, menatap langit biru di cakrawala dari balkon kamarnya.
Lima Tahun sudah berlalu semenjak regresi. Pikirannya sepenuhnya menemukan cara untuk mengurangi kehancuran Bumi seperti di kehidupan sebelumnya.
Salah satu cara yang dipilihnya yaitu, Virtual Reality. Dia menciptakan mesin yang memungkinkan seseorang merasakan kelima indera mereka ketika berada di realitas semu. Dengan mesin tersebut sebagai perantara, dia menciptakan permainan bergenre RPG, [Eden].
[Eden] merupakan VRMMORPG dengan tema Player yang mendaki Menara Keinginan. Konsep dasar permainan didasari Tower of Wish yang sesungguhnya ketika kiamat datang.
"... Meski, aku sendiri tidak yakin itu semua cukup."
Memikirkan mimpi buruk yang dimulai dengan munculnya ribuan lubang merah di seluruh Dunia ketika Dimensional Barrier Bumi hancur akibat guncangan di Greatest Chaos. 2 Bulan setelahnya, Zaman yang melampaui kengerian dari Zaman Kegelapan atau saat wabah Black Death, terjadi ketika ribuan, ratusan ribu, atau mungkin jutaan Monster menginvasi Bumi melalui celah yang nantinya manusia sebut Hell Gate.
Saat itu, manusia bukan tanpa kekuatan. Sebuah Sistem yang menyebut dirinya [Akashic Records] memberikan kemampuan super ke setiap individu. Di Zaman itu, manusia mampu mengangkat mobil dengan satu tangan, menciptakan api dari ketiadaan, atau bergerak cepat layaknya angin.
Malang, kemunculan manusia super itu juga yang menjadi alasan kepunahan umat manusia. Pemerintah masing-masing Negara terlalu fokus mengumpulkan manusia berkekuatan super dan memalingkan mata mereka dari ancaman Hell Gate, yang berakibat fatal dengan kekalahan mengerikan setiap Negara di Dunia.
Ethan tidak membenci Pemerintah. Dia bisa memahami pemikiran mereka. Meski begitu, bukan berarti dia akan membiarkan Pemerintah melakukan hal serupa sekarang. Cukup baginya satu kali melihat Bumi menjadi lautan api dan darah. Pemandangan itu bukan sesuatu yang menyenangkan.
Knock Knock.
Ketukan pintu menyadarkan Ethan dari wisata masa lalu, membuatnya tersadar.
"Kakak, Apakah kamu tertidur? Sudah waktunya untuk makan malam." Suara indah memanggilnya dari sisi lain pintu, mengingatkan tentang makan malam.
Ethan melihat ke arah jam dinding kamarnya dan menyadari dia sudah terlambat untuk makan malam. Jadi, dia beranjak dari balkon untuk membukakan pintu.
Begitu membuka pintu, Ethan disambut dengan pemandangan indah. Di depan kamarnya berdiri seorang gadis dengan rambut hitam yang panjang diikat kuncir dua. Ukuran matanya yang lebar tidak kuasa menyembunyikan keindahan iris hitam bercahaya layaknya obsidian murni. Layaknya sebuah karakter dua dimensi, gadis itu merupakan sebuah seni yang paling indah di mata Ethan.
Gadis itu, Erica Austin, mendapati matanya menyipit saat bibirnya melengkung naik sesaat setelah melihat sang Kakak. "Tidak biasanya kamu terlambat, Kakak."
"Aku memiliki beberapa pemikiran tadi." Ethan membuat alasan. Dia lalu menghentikan pembicaraan sebelum Erica bertanya lagi. "... Aku pikir kita harus segera turun. Nina mungkin akan merajuk dan curiga jika kita turun lebih lama lagi."
Erica tidak mengatakan apapun dan hanya menganggukkan kepalanya pelan.
__ADS_1
***
"Kakak, kamu sangat lambat~."
Sesuai yang diperkirakan. Begitu sampai di dapur, seorang gadis yang bagai pinan dibelah dua dengan Erica, menyambutnya dengan pipi mengembung.
Ethan tersenyum kecut melihat protes lucu tingkah dan meminta maaf dengan patuh. "Aku tidak sadar waktu tadi. Jadi, maafkan aku."
Jadi, Ethan segera ke dapur dan bersiap untuk memasak makan malam. Karena hidup sendirian untuk waktu lama, Ethan ahli membuat hidangan sederhana dengan bahan seadanya.
"Aku akan membantu, Kakak." Erica mengikutinya ke Dapur untuk menawarkan bantuan.
Ethan hanya tersenyum kecil dan menepuk kepala Erica dengan lembut. "Terima kasih."
Erica menundukkan kepalanya dan mendapati pipinya berubah menjadi merona. Pemandangan yang dipenuhi suasana merah muda. Jika seseorang tidak tahu mereka bukan saudara kandung, Ethan dan Erica akan dituduh menjalin hubungan terlarang.
Nina yang mengawasi dari meja makan tampak iri dengan kedekatan Ethan dan Erica. Dengan bibir runcing dia mengoceh. "Jangan menggoda di depan seorang lajang, Pasangan Bodoh yang tidak tahu tempat."
Erica sama sekali tidak menyadari hinaan dari sang Adik. Dia justru semakin merona hampir mirip dengan tomat di tangannya.
"Itu sangat tidak sopan, Kakak. Juga, alasan kenapa aku belum memiliki pasangan disebabkan Kakak! Mengapa Kakak begitu sempurna!? Aku sulit jatuh cinta karena sebelum disadari, standarku naik menjadi seperti Kakak!" Nina meluapkan keluh kesahnya. Melihat betapa bersemangatnya dia berbicara, Nina mungkin sudah memendamnya untuk waktu yang lama.
Ethan mengabaikan keluh kesah Nina. Meski hubungan mereka hanya sepupu. Ethan menganggap si Kembar sebagai adiknya saat dia memutuskan menjadi wali keduanya. Ethan merasa lega apabila Nina menjadi lebih selektif karena kehadirannya. Pria bagaimanapun merupakan mahluk yang mengerikan.
Nina menempelkan wajahnya di meja, tampak seperti ikan mati. "Jika seperti ini, aku mungkin akan berakhir sebagai Holy Maiden."
"Ah!" Nina membanting meja secara tiba-tiba dengan senyum lebar. Dia menatap lurus ke arah Ethan. "Aku benar-benar tidak terpikirkan. Dibanding mencari laki-laki yang mirip Kakak, mengapa Kakak tidak menjadikanku pacar juga? Tidak adil apabila hanya Erica!",
Ethan membeku dengan proposal yang begitu tidak terduga. Tentu, memikirkan Ethan berkencan dengan Erica, bukan tidak mungkin berkencan dengan Nina. Selain itu, mereka bukan saudara kandung. Jadi, secara hukum dan moral lulus.
"Ap– Apa yang kamu katakan, Nina!?" Erica yang biasanya tenang tampak gelisah. Kekasihnya hendak direbut tepat di depannya, mustahil dia bisa tenang.
Nina membalas dengan santai seolah dia tidak menyadari kemarahan Erica. "Hm? mengapa kamu begitu marah? Aku menuntut keadilan. Kamu selama ini memonopoli Kakak Ethan, kan? Berbagi dengan saudarimu ini!"
__ADS_1
Erica tidak dapat membalas opini Nina. Dia memahami perasaan kembarannya itu. Apabila posisi mereka ditukar, mustahil dia akan senang.
Namun, memahami tidak sama dengan merelakan.
Memeluk lengan Ethan dengan erat, Erica menatap Nina dengan tatapan waspada. "Tidak boleh. Setidaknya … untuk saat ini."
Suasana tegang terjadi ketika si kembar bersitegang dengan tatapan mata tajam seperti silet. Perang syaraf yang disebabkan oleh seorang pria ... Ethan tidak kuasa menahan tawa getir melihat betapa rentan hubungan darah keduanya.
"Baiklah, berhenti. Kita sedang di dapur. Ayo selesaikan masakan lebih dulu." Ethan mencoba melerai pertarungan tatapan antara si kembar.
Erica tidak langsung melepaskan pelukan di tangan Ethan. Dia masih terus memelototi Nina seperti seekor kelinci yang merasa terancam. Akhirnya, Nina yang mengalah dari kontes itu, mengalihkan pandangannya dengan tawa kecil.
"Untuk saat ini aku akan mundur. Namun, aku akan terus mengawasi dan menunggu celah."
Erica tidak mundur dan menjawab tantangan Nina secara terang-terangan. "Aku pikir kamu akan menunggu selama sisa hidupmu."
Ethan menghela nafas. Dia tidak percaya akan terlibat dalam cinta segitiga, terlebih bukan dengan orang lain, tetapi, dengan sepupunya sendiri.
Setelah beberapa menit yang terasa begitu lama, Ethan, Erica, dan Nina duduk bersama di meja makan. Menu makan malam hari ini adalah, tahu bacem dan sayur krecek spesial buat Ethan.
"""Selamat makan."""
Ethan dan si Kembar memulai makan malam yang tenang tanpa adanya obrolan. Mereka fokus memakan masakan yang sudah tersedia di meja makan.
"Ah." Nina mengerang tiba-tiba, memecah suasana hening. "Aku lupa memberitahu Kakak. Seluruh Anggota Guild Gehenna akan datang di akhir tahun."
"Oh? Benarkah?" Ethan tampak senang saat mendengar berita tidak terduga.
Guild Gehenna merupakan Organisasi yang Ethan dirikan di [Eden]. Mereka semua berisikan orang-orang yang memiliki bakat di atas rata-rata. Ethan melatih mereka guna mempersiapkan saat kemunculan Hell Gate dan Menara.
"Mereka mengatakan ingin merayakan Tahun Baru dan pesta kemenangan Eden World Cup. Mereka benar-benar percaya diri."
"... Babak play off bahkan baru dimulai hari ini, kan?" Erica kagum dengan kepercayaan diri anggota Guild. Meski, dia tahu betul kekuatan rekannya.
__ADS_1
Ethan tertawa. Tentu saja, sama seperti yang lain. Dia sudah tahu hasilnya tanpa perlu menunggu hingga babak Grand Final. "Jika begitu, aku mungkin harus turun Gunung untuk membeli beberapa daging premium."