
Ketika party yang terdiri dari Trouble Guild, Gordon, dan Carmila bersiap untuk melakukan ujian di Lantai 3, berita yang menghebohkan muncul.
"Guild Red Bulls Amerika, berniat untuk melakukan ujian di Lantai 3! Guild Master mereka, Jon Viver, mengaku optimis dengan keberhasilan Red Bulls untuk menjadi yang pertama dalam ujian di Lantai 3."
Jon Viver, Pria yang telinganya hampir dipotong oleh Michael, muncul di TV dan berbicara dengan begitu percaya diri akan kembali membawa kemenangan. Red Bulls mengirimkan lebih dari 50 Elite yang terdiri dari Hunter di atas D Rank.
"Apakah kita tetap akan pergi ke Lantai 3, Ethan?"
Ethan mengangguk dengan santai seolah tidak terlalu terganggu sama sekali. "Tentu saja. Menara bukan wahana. Tidak ada antrian di sana. Lakukan saja yang terbaik."
Aturan Menara dibuat oleh yang kuat. Hukum Bumi tidak berlaku di Menara. Tidak ada jaminan pihak yang masuk lebih awal mampu menyelesaikan ujian Menara.
"... Entah dia berani atau terlalu tidak peduli dengan kehidupan sosial."
"Dia sangat cepat beradaptasi dengan sistem Dunia Baru ini."
Semuanya mengangguk dengan senyum pahit setuju dengan statement dari Gordon dan Jun.
Ethan mengerutkan kening. Ethan mulai bertanya-tanya seberapa rendah nilainya sebagai manusia di mata orang sekitarnya.
Ethan menghela nafasnya dan mengembalikan topik tentang Menara. "Lebih dari itu. Kalian semua sudah menyelesaikan Lantai 2, kan? Untuk lanjut ke Lantai 3, kalian harus menyelesaikan Lantai 2."
"Eh!? Aku belum melakukannya!" Nina terlihat sangat terkejut dengan pemberitahuan dari Ethan.
Erica juga mengangkat tangannya dengan malu-malu. "... Aku baru selesai periode. Jadi, aku belum sempat melakukan Ujian Lantai 2."
Ethan terlihat tidak begitu terkejut. Sebagai Kakak mereka, Ethan tahu kurang lebih tanggal datang bulan mereka. Karena itu, Ethan tidak panik karena dia sudah memperkirakan hal ini.
"Jika begitu, kalian bisa menyusul nanti. Mereka yang tidak memiliki halangan, bersiap-siap untuk pergi dalam waktu sepuluh menit."
Mereka tidak tahu apa yang Ethan rencanakan. Namun, mereka mencoba percaya dengan Ethan dan hanya akan mengikutinya.
***
"!" Jun menggunakan skill untuk menarik agro dari kerumunan Semut setinggi satu meter.
"Krtkk!" Semut-semut itu membuka mulut mereka terlihat sangat menakutkan membuat siapapun akan mengalami trauma ketika melihatnya.
Silvia yang sudah bersiap dengan musuh yang datang, menggunakan Parallel Casting. "!"
5 anak panah yang terbuat dari api terbang menuju skeleton semut terdepan. Namun, cangkang semut itu cukup keras hingga hanya meninggalkan sebuah luka bakar tanpa menembusnya.
"Kieeek!" Gerakan semut-semut mulai melambat.
Arya dan Michael seperti biasanya, mendukung untuk menghabisi musuh. Sementara itu, Gordon dan Kiaa akan menghabisi musuh dengan kemampuan mereka menembus skeleton keras semut.
"."
"."
Jleb! Jleb!
Sihir petir dan panah api Kiaa berhasil menembus Skeleton yang melewati Arya dan Michael. Namun, karena mereka menggunakan sihir, kapasitas sihir mereka dengan cepat terkuras.
"Swap!" Li Mei memberikan arahan.
Mendengar itu, Arya dan Michael mundur dan digantikan oleh Hu Tao dan Li Mei sebagai garda depan. Di posisi tank, Jun digantikan Carmila.
"!"
[Ketika melawan musuh dalam jumlah besar, seluruh status meningkat 10%.]
Karena Carmila tidak memiliki skill yang sama seperti Jun untuk menarik agro, Carmila akan menahan semua Monster dengan membunuhnya sendiri.
Pertarungan ketiganya melawan puluhan semut besar berlangsung sangat brutal. Terutama Hu Tao, dia benar-benar mendominasi di ruangan sempit tanpa membiarkan satupun semut lewat dari tempat dia menjaganya.
"... Apakah Hu Tao selalu sekuat itu?"
__ADS_1
"... Dia yang paling banyak melakukan sparing dengan Guild Master."
Arya dan Michael saling bertukar kata-kata bodoh sambil menunggu stamina mereka pulih.
Namun, Monster sudah mulai bersih bahkan sebelum mereka harus berganti tim lagi. Hu Tao, Li Mei, dan Carmila benar-benar berlumuran darah hijau dari semut yang sangat bau.
"Jumlah Monster di tempat ini sangat tidak masuk akal. Tidak heran Guild Master hanya melatih kita bertarung tiga hari ini." Hu Tao bergumam dengan jengkel.
"Yah, mau bagaimana lagi, ini tema Lantai 3."
Lantai 3 memiliki tema untuk keluar dari Labirin Semut atau bertahan selama satu bulan. Pada intinya, Menara membuat permainan survival yang sangat menjengkelkan dan menakutkan.
"Tetap tenang. Kita masih memiliki dua minggu lagi. Sesuai petunjuk dari Ethan, kita akan pergi ke pusat sarang dan membunuh Queen Ant Soldier."
"Namun, apakah waktunya akan cukup? Jika kita terus bertemu Monster seperti ini …." Carmila terlihat cukup skeptis dengan peluang mereka bisa berhasil.
Kekhawatiran Carmila disambut dengan raut wajah bingung dari semua orang.
"Kenapa tidak mungkin? Kita memiliki peta yang Ethan berikan~"
"Itu benar. Selain itu, kita punya anjing–"
"Hm?" Li Mei melirik tajam ke arah Jun yang mencoba mengatakan hal-hal kurang ajar.
Jun segera meralat kata-katanya. "... Kita memiliki GPS terbaik, Li Mei. Jadi, kita bisa menyelesaikannya bahkan dalam seminggu."
Carmila tercengang melihat seberapa mereka percaya terhadap satu sama lain. Carmila tidak tahu apakah mereka naif atau cerdas dalam mempercayai seseorang. Namun, apapun itu, Carmila merasa seperti orang bodoh jika hanya dia satu-satunya yang khawatir.
Carmila tersenyum kecil dan mengangguk dengan semangat. "Benar. Kita harus berhasil! Jadi, ayo kita lakukan yang terbaik."
***
Sementara itu, situasi Guild Red Bulls yang melakukan Raid Ujian Lantai 3 di waktu yang sama dengan Trouble Guild, mengalami kendala. Jumlah Monster yang muncul sulit untuk dihadapi. Terlebih, medan yang sempit membuatnya sulit karena Red Bulls Guild membawa lebih dari 50 Hunter Rank C ke atas.
"Jangan panik! Musuh juga mengalami kerugian yang sama!" Jon Viver mencoba untuk meningkatkan moral anggota Red Bulls Guild.
"Krauk!"
"Argh! Tukar posisi! Aku butuh bantuan!"
"Keparat! Berikan aku Heal!"
Situasinya sangat kacau. Perbedaan level di antara mereka terlalu jauh.
"!" Seorang mencoba menggunakan sihir. Namun, itu memperkeruh suasana. Bola api terkena sarang semut dan mulai membakar sarang semut itu.
"Orang bodoh mana yang menggunakan sihir api secara sembarangan!?" Jon Viver sangat marah dengan situasi yang tidak terlalu baik saat ini.
"Guild Master! Ini kesempatan! Ayo kita terobos satu arah!"
Jon Viver mengangguk. Sekarang, meskipun akan ada banyak korban, setidaknya, masih ada yang selamat untuk melanjutkan Ujian Lantai 3 kali ini.
"Semuanya! Ikuti aku, kita akan menerobos!"
Mengangkat kapak perangnya, Jon Viver berlari memimpin para Red Bulls Guild ke arah berlawanan dari kobaran api. Korban api itu menahan semut yang takut dengan api untuk mendekat.
"Uryaaa!"
Bam! Splash!
Setiap kali kapak Jon menghantam skeleton semut, tangannya gemetar karena recoil yang dihasilkan. Genggaman pada kayaknya secara bertahap mulai melonggar.
"Kuh! Belum!" Jon memperkuat genggaman pada kapaknya dan membelah lautan semut seperti Musa yang membelah Laut Merah.
***
Li Mei yang melihat adegan pembantaian mengerikan itu mengerutkan kening. Pertarungan itu sangat satu sisi untuk kemenangan semut.
__ADS_1
"... Aku paham sekarang bagaimana Ethan melihat Dunia."
Li Mei sudah menyadarinya semenjak Raid di Amerika. Namun, level manusia sangat rendah jika dibandingkan dengan anggota Trouble Guild. Li Mei yakin Ethan memiliki pemandangan yang tidak nyaman jika melihat pertarungan ini.
Li Mei berhenti memikirkan hal yang tidak relevan dan memutuskan untuk kembali ke tempat Trouble Guild menunggu.
Tidak jauh dari tempat Li Mei dan Red Bulls Guild, Guild Trouble sedang beristirahat. Mereka menggunakan dinding yang terbuat dari sihir tanah sebagai save point mereka.
"... Bukankah kali ini Li Mei cukup lama?" Kiaa terlihat gelisah ketika Li Mei belum kembali lebih dari 30 menit yang lalu.
"Jangan khawatir, Kakak Kiaa. Kakak Li Mei itu Monster. Dalam pertarungan sesungguhnya, tidak ada yang bisa mengalahkan Monster–"
"Siapa yang kamu panggil Monster?"
"Uwaaa!?"
Semuanya terkejut ketika Li Mei tiba-tiba muncul di dalam save point yang tertutup rapat tanpa satu orang di tempat itu sadari.
Ekspresi Hu Tao menjadi pucat. Dia mencoba untuk membuat pembelaan. "Ah, itu, maksudku bukan seperti itu. Hanya saja, aku mengatakan jika Kakak Kiaa tidak perlu khawatir karena Kakak Li Mei sangat cantik dan juga kuat. Tidak ada yang mampu mengalahkan Kakak Li Mei–"
"Berhenti."
"Siap. Mengerti." Hu Tao segera menutup mulutnya ketika Li Mei menyuruh.
Lirikan tajam Li Mei membuat Hu Tao menelan air ludah dengan takut. Anggota lainnya bahkan menjadi tegang dan tidak tahu apa hal apa yang harus dilakukan dalam situasi ini.
"Li– Li Mei. Aku pikir, Hu Tao hanya–"
"Diam, Carmila."
"Maafkan aku."
Carmila yang mencoba melerai dan meredakan situasi, hampir menangis ketika Li Mei memotong omongannya.
Semua anggota hampir tertawa melihat Carmila. Namun, karena tidak ingin ikut terseret, semuanya berusaha yang terbaik untuk menahannya.
Li Mei menatap Hu Tao yang sudah terlihat seperti ikan mati.
"... Ayo kita bicarakan itu nanti. Saat ini, aku punya rencana untuk menyelesaikan Ujian Lantai 3."
Hu Tao terlihat lega ketika Li Mei menunda eksekusinya. Sementara anggota lainnya memasang ekspresi serius mendengarkan.
Li Mei mulai menjelaskan tentang apa yang dilihatnya tadi. "Red Bulls Guild mengalami kerusakan parah. Namun, berkat mereka aku menyadari sesuatu. Sarang mereka ini sangat lemah terhadap api."
Mendengar itu, beberapa anggota terlihat paham ke arah mana Li Mei mencoba membawa rencananya.
"... Kita akan gunakan taktik bumi hangus. Dengan peta yang kita terima dari Ethan, kita akan menutup jalan kabur dari para semut."
Li Mei mengeluarkan peta yang Ethan buat dengan tangannya. Mengagumkan bagaimana Ethan membuat peta seperti ini dengan detail. Li Mei yang memeriksanya sampai berpikir jika Ethan memiliki ingatan yang tidak masuk akal.
"Kita akan mulai membuat sekat di jalan-jalan ini. Total, 12 jalan akan kita sekat."
Sarang semut ini sangat bercabang. Li Mei ingin menyekat beberapa jalan bercabang dan hasilnya, 12 jalan akan ditutup.
"... Apakah kita benar-benar akan membakar semuanya?"
Itu memang taktik yang bagus. Namun, jika ada salah sedikit saja dan ada jalur untuk udara masuk, rencananya benar-benar bisa gagal total.
"Tidak apa. Jika Queen Soldier Ant tidak mati, dia pasti akan melemah. Kita akan membunuhnya saat itu juga."
Dengan kekuatan mereka saat ini mustahil menang melawan segerombolan semut dalam jumlah seolah tidak terbatas. Mereka hanya manusia, bukan Ethan.
"... Rencana ini sangat bergantung pada Silvia. Jadi, apakah kamu siap?" Jun menatap Silvia yang terlihat cukup gugup.
Sebagai satu-satunya spell caster, Silvia pasti akan menjadi intinya dalam rencana ini. Menggunakan banyak sihir dalam satu waktu pastinya melelahkan.
Silvia mengangguk dengan tangan terkepal. "Tentu. Kamu bisa serahkan padaku!"
__ADS_1
"... Maka, ayo kita mulai rencananya."