
5 dari 10 Gate yang runtuh berhasil ditekan dan dibersihkan. Namun 5 Gate lainnya benar-benar menjadi bencana dimana banyak korban jiwa muncul karena peringatan yang terlambat.
Namun Feyn tidak berhenti bergerak. Dia menuju ke tempat dimana Gate lainnya muncul.
"Ess Style, Dark Sakura."
Sakura hitam muncul dan membakar dan menebas leher para monster satu persatu. Dengan Sword of Abgrund, itu memiliki panas yang luar biasa.
"Uaaaagh!!!"
Troll Ice muncul berbondong-bondong seperti penyakit dan bencana alam. Semua yang dia lewati hancur seketika.
"Blood Fest. Grand Sonata."
Tririing…
Darah muncul dan mengelilingi seluruh area mencegah para Troll pergi. Feyn melihat mayat para Player dan warga biasa yang sudah mati. Tidak ada penyesalan atau kesedihan. Hanya ada perasaan bahwa itu sangat brutal dan rasa kasihan untuk mereka semua. Mereka seperti itu karena pilihan mereka sendiri untuk tidak menjadi kuat. Bukan salah dia atau yang lainnya karena tidak bisa melindungi mereka.
Sambil memikirkan itu, Feyn terus menerus menebas. Tidak ada emosi sama sekali. Jika orang yang mengenalnya melihat itu, mereka benar-benar tahu… bahwa Feyn benar-benar marah. Feyn adalah seseorang yang tidak pernah jujur dengan perasaannya. Dia selalu menekan semuanya sendiri dan menyimpan semuanya sendiri. Mendoktrin diri bahwa dirinya tidak boleh memiliki emosi yang tidak perlu. Namun, manusia memiliki naluri sendiri. Perasaan naluri itu tidak mungkin ditekan, dan akan keluar sebagai tindakan yang merespon apa yang hati rasakan.
Itulah yang dialami Feyn sekarang. Hatinya mengatakan bahwa dia tidak memiliki penyesalan atau kesedihan, namun tubuhnya yang menebas monster tanpa ampun berkata lain.
"Ugaaah!"
General Troll Ice mulai menyerang Feyn dengan kapak perang miliknya. Feyn menghindar dan segera melakukan tebasan tepat di sendi lutut.
"Guaaah!"
Rasa sakit dan terbakar muncul di kakinya. Dia mencoba mencari Feyn, namun tidak bisa ditemukan. Sampai rasa krisis muncul tepat di hatinya.
"Mati."
Sebuah suara terdengar dan saat itu, pedang yang dilapisi oleh api hitam menembus tepat di hatinya.
"Burn."
Api membakar seluruh tubuhnya, Boss Gate Hijau hanya dapat melakukan sekali serangan dan mati langsung.
Feyn segera menuju ke sekitar Moscow. Ada 3 Dungeon Hijau disana. Jika dia tidak cepat, maka Bencana akan muncul.
"****."
Sementara itu, 10 orang dengan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya sedang berdiri di hutan. Di depannya ada lingkaran sihir yang sangat besar di ukir.
"Sepertinya tuan Arrogant mati."
"Sepertinya begitu. Ngomong-ngomong… jiwa ini sudah lebih dari cukup. Haruskah kita mulai pemanggilan?"
Mereka adalah bawahan dari Arrogant, semua jiwa yang mati dikirim ke lingkaran sihir ini. Ada beberapa jiwa yang sangat kuat salah satunya adalah Arrogant itu sendiri.
"Sepertinya begitu. Aku khawatir jika terlalu lama."
"Baik, ayo lakukan."
Semuanya bersiap-siap. Mulai mengalirkan mana ke dalam lingkaran sihir dan mengucapkan mantra.
""""Idem Nu Regat amki ermshapebak lous ueyi. Emco!""""
Lingkaran sihir bersinar ungu… dan mana yang benar-benar mengerikan muncul. Awan menjadi gelap yang awalnya mendung seperti gerhana matahari total.
"Ah… Rasul datang…"
"Kami serahkan dunia ini pada para dewa…"
Semuanya menangis terharu… mereka sudah benar-benar tidak waras. Dan dari sana sebuah Gate berwarna ungu muncul. Itu adalah paling tinggi dari 7 tingkat Gate.
Saat itu, sebuah kepala yang sangat besar muncul dari dalam Gate. Itu terlihat seperti Liong yang merupakan perpaduan antara punggung ular dan kepala singa.
""Apakah kalian adalah pemuja Lord Astaroth?""
Suara yang benar-benar berat terdengar. Itu berada di puncak rantai makanan. Dan sekarang makhluk seperti itu sudah muncul di Bumi. Itu adalah hal paling konyol. Bahkan dulu tidak seperti ini.
Semuanya menangis dan melakukan dogeza untuk memberikan hormat.
"Ya! Senang bertemu dengan anda Rasul!"
Fafnir melihat mereka lagi, dan tersenyum. Kemudian tiba-tiba dia memakan semua orang itu. Itu mengejutkan mereka dan mereka yang tidak termakan mencoba lari.
"Eh!? Kenapa kamu melakukan ini pada kami!"
"Benar! Kami adalah hamba yang beriman!"
Fafnir menertawakan mereka semua.
""Hahaha kamu bodoh, kenapa M'Lord membutuhkan minion seperti kalian. Yang bahkan tidak bisa menggunakan mana atau senjata dengan baik.""
Fafnir terus menerus melahap orang-orang itu hingga habis. Itu adalah sifat asli para bencana. Mereka tidak peduli dengan sekutu atau apapun. Mereka hanya percaya pada diri sendiri.
""Hahahaha, tuanku, sepertinya dunia ini akan jatuh lebih cepat daripada yang diperkirakan.""
Petir menyambar terus menerus saat Fafnir tertawa. Keberadaan yang bahkan dapat mengganggu fenomena alam hanya dengan kehadiran dan tawanya.
Fafnir melihat ke arah kota Moscow. Dan dia segera menuju ke sana perlahan-lahan.
"Apa?"
Feyn terkejut dengan mana konyol yang muncul dari arah timur Moscow… itu adalah mana yang benar-benar luar biasa bahkan lebih dari Ifrit.
Di kejauhan dia bisa melihat petir yang menyambar terus menerus. Itu adalah… Bencana.
"Sepertinya sudah muncul ya."
Feyn mempercepat langkahnya. Tidak ada waktu yang bisa di sia-siakan.
Alice yang juga sama-sama menuju ke arah Moscow merasakan mana yang tidak biasa dari arah yang sama dengan yang dirasakan oleh Feyn.
"Bencana… aku harus cepat."
Alice memikirkan Feyn yang mungkin sudah akan bertarung dengan Bencana tersebut sendirian.
"Tunggu, Feyn."
Alice juga mempercepat langkahnya menuju ke arah tempat badai petir tersebut.
Sementara itu Player Rusia di Moscow masih sibuk menahan monster yang keluar seperti air bah itu. Tidak ada hentinya. Player perlahan-lahan terdorong.
Michelle Varosky seorang mage menyiapkan Skill unik miliknya.
"Ice Imoogi!"
Imoogi sebesar 5 meter muncul dan segera menuju ke arah monster yang merupakan tipe ular… itu menelan monster tersebut dan segera membekukan mereka secara langsung. Jumlah monster berkurang namun itu masih terlalu banyak.
"Berapa lama bantuan akan datang!?"
Dia berteriak ke salah satu anggota Guild lainnya.
"Kami mendapatkan kabar bahwa Gate runtuh di St Petersburg dan Tver sudah selesai. Saat ini kabarnya dua anggota Guild Deicide, Feyn dan Alice sedang menuju ke sini."
"Hanya dua orang saja!? Apakah mereka bercanda!"
Michelle sama sekali tidak mengerti. Apa yang bisa dilakukan oleh dua orang? Dia tahu keduanya kuat, namun itu tidak cukup untuk ini.
"Sialan, semuanya tahan sekuat tenaga!"
Dia memberikan arahan kepada anggota Guild lainnya setidaknya agar mereka tidak hancur.
Saat itu sebuah mana aneh terasa dari hutan tidak jauh dari kota. Dan disana bahkan semua orang bisa melihat. Sesosok monster singa dengan punggung ularnya terbang tepat ke kota.
"Gila… apa itu?"
"Tidak mungkin kita akan menang…"
"Bagaimana mungkin monster seperti itu…"
Bahkan dari jauh, mereka bisa merasakan kekuatan monster itu. Monster lainnya yang keluar dari Gate juga membeku. Intimidasi yang dikeluarkan bukan main. Michelle melihat itu menjadi pucat.
"Apakah ini adalah hari akhir?"
Dia tidak bisa membayangkan ada yang bisa mengalahkan monster ini… dan setelah keheningan singkat, monster itu sudah sampai tepat di langit Moscow. Semuanya bisa melihatnya dengan jelas. Raja dan Bencana yang akan menghapus manusia dari Bumi…
""Oh, ini adalah sambutan yang cukup meriah. Sangat cocok untukku yang kuat ini.""
Fafnir membuka mulutnya, dan saat itu semuanya berlutut. Mereka tidak bisa berdiri. Itu ditekan oleh sesuatu yang tidak terlihat.
""Aku Fafnir, Rasul dari Ruler of Pride Tuan Astaroth, akan memberikan kalian semua pembebasan dari rasa sakit dan kelemahan kalian. Kalian akan dijadikan sebagai persembahan untuk tuanku. Itu adalah hal paling terhormat bagi kalian yang hanya makhluk tidak penting.""
Fafnir berbicara seolah-olah dia ada juru selamat namun bagi orang-orang lainnya itu terdengar seperti hukuman mati yang sudah ditetapkan. Semua orang menangis dan berdoa. Saling memeluk satu sama lain untuk menekan ketakutan mereka.
""Jika begitu semuanya selamat jalan…""
Bagian bawah Fafnir menggembung dan sebuah nafas api ditembakkan. Semuanya menutup mata. Pasrah terhadap kematian mereka… sampai sebuah suara terdengar.
__ADS_1
"Blood Fest!"
Piringan darah muncul menghalangi nafas yang akan menyentuh tanah. Nafas api tersebut kemudian meledak dengan suara yang sangat keras sehingga terdengar bahkan sampai ke seluruh Moscow.
Bang!
Melihat itu Fafnir menyipitkan matanya. Itu adalah nafas yang berisi mana dalam jumlah luar biasa. Aneh bahwa manusia yang baru memasuki Menara bisa menahannya. Namun Fafnir tersenyum. Baginya ini akan membuat lebih menarik.
""Sepertinya ada seseorang yang menarik di antara kalian.""
"Tutup mulutmu, itu benar-benar bau."
Feyn, yang berdiri di lantai atas gedung pencakar langit memandang Fafnir dengan tatapan benar-benar dingin.
Fafnir yang mendengar hinaan dari Feyn kesal dengan itu.
""Apa? Apa yang kamu katakan!?""
Kebanggaan Fafnir benar-benar tergores setelah dihina oleh ras yang lebih rendah dari nya seperti seorang manusia.
"Evakuasi semua orang. Aku akan menahannya disini."
Feyn mengabaikan Fafnir dan berbicara dengan Player yang tersungkur di tanah.
"Apakah kamu serius!? Dia itu monster diantara monster!!"
Michelle kesal dengan itu. Dia mengira bahwa itu hanya kebetulan bahwa Feyn bisa menahan serangan monster itu. Feyn memandang semuanya dingin dan mengalihkan pandangannya.
"Lakukan apa yang kalian mau. Aku tidak suka berbicara dua kali."
Fafnir, yang diabaikan benar-benar kesal dengan itu. Dan dia bersiap menyerang Feyn lagi dengan nafasnya.
""Beraninya kamu mengabaikan aku!! Mati!""
Nafas api yang terkonsentrasi dan dipadatkan segera menuju ke arah Feyn. Feyn memindahkan Blood Fest miliknya dan memadatkan Blood Fest untuk menyesuaikan dengan ukuran nafas.
Bang!
Sekali lagi ledakkan keras bergema. Fafnir melihat itu kesal. Itu lebih kuat daripada sebelumnya, namun manusia itu masih bisa menahannya.
"Jika hanya seperti ini maka itu akan sangat mengecewakan…"
Feyn berbicara dengan kecewa. Para Player sama sekali tidak mengerti. Kenapa Feyn terus menerus memancing emosi Fafnir? Dan kenapa dia berhasil menahan serangan seperti itu?
""Sombong! Hanya ras lebih rendah saja! Kamu seharusnya merangkak sama dengan mereka! Sekarang… rasakan kekuatan asliku!""
Mana meledak, dan badai petir semakin kuat. Feyn memiliki wajah kaku. Itu benar-benar gila… seperti yang diharapkan dari 10 Bencana…
""Mati!"x
Pzzzt pzzzt.
Puluhan petir dengan kekuatan konyol menyambar tempat Feyn. Itu tidak mungkin ditahan. Jadi dia menghindari serangannya. Mustahil menahan hal seperti itu.
"Moonlight Sonata."
Tririing~
Feyn juga menggunakan Blood Fest untuk menyerang balik. Puluhan jarum darah menyerang tubuh Fafnir, namun itu tidak menggores tubuhnya sama sekali. Selain itu… vitalitas miliknya benar-benar konyol. Bahkan dengan Bloody Sonata Sword itu tidak terlihat akan berkurang.
""Kamu terus menerus berlari seperti kelinci!""
Fafnir mencari Feyn yang terus menerus bersembunyi di balik reruntuhan bangunan. Kota benar-benar hancur. Para Player yang tidak kabur terkena serangan petir tersebut, selain itu monster lainnya juga sama.
Namun Fafnir sudah tidak peduli dengan mereka. Dia hanya peduli dengan Feyn.
"Sword of Abgrund, Abyss Flame."
Sebuah suara terdengar dari sampingnya dan Fafnir segera secara refleks mengayunkan ekornya untuk menyerang Feyn. Namun saat itu, rasa sakit muncul di sisi lainnya.
""Argh! Kamu! Bagaimana bisa!""
Fafnir segera menerjang ke arah Feyn. Feyn yang ada di udara tidak mungkin untuk bergerak. Atau begitu yang dipikirkan oleh Fafnir.
"Langkah angin."
Menendang udara, Feyn menghindar, namun itu tidak sempurna. Dia tergores sisik dari Fafnir. Selain itu Fafnir memutar tubuhnya dan menembakkan nafas.
"****, Sword of Abgrund, Jormunga!"
Feyn menahannya dengan Ular hitam miliknya. Dua energi bertabrakan, namun Feyn terdorong dan tubuhnya terpelanting jauh, dan jatuh ke tanah.
"Uhuk, uhuk."
[Regenerasi Transendental mengurangi waktu untuk pemulihan.]
Dengan Skill yang dia dapatkan dari Troll Regenerasi Darah, dia berhasil mendapatkan Skill baru ini dengan Fusion. Itu benar-benar berguna.
""Hanya seperti itu saja? Kamu berbicara sombong tadi.""
Fafnir mengejek Feyn. Dia benar-benar terkejut bahwa dia terluka, namun sekarang hasilnya sudah jelas. Manusia itu sudah tidak bisa bertarung dimana senjatanya rusak.
"Heh? Jangan pernah lengah di medan perang."
Feyn tersenyum mengejek, Fafnir tidak mengerti namun tiba-tiba dia merasakan mana yang terkumpul di atas awan. Bola-bola merah tercipta.
"Last Human Blood Tears."
Bola-bola darah itu turun dengan sangat cepat. Namun Fafnir tidak dikatakan Bencana tanpa alasan. Bahkan dengan itu saja tidak bisa menembus sisiknya yang luar biasa keras.
""Kuha! Manusia! Kamu memainkan trik sampai akhir!""
Fafnir meraung, dan petir kembali menyambar menguapkan semua darah yang terbuat. Namun itu sudah cukup. Feyn sudah bisa bergerak kembali.
""Lari yang cepat, manusia. Aku akan bermain-main denganmu.""
Fafnir berbicara. Feyn mengeluarkan Katana lainnya yang sudah dia siapkan sebelum sampai ke sini. Tidak mungkin menembus kulit Fafnir hanya dengan senjata normal.
"Alice cepatlah."
Hanya Alice yang memiliki senjata kelas Mitos yang dapat melukai tubuh Fafnir itu.
"Ess Style, Infinite Void."
Udara berubah. Fafnir waspada. Saat itu Feyn muncul dengan kecepatan luar biasa dan tidak terdeteksi oleh Fafnir.
Tang!
Katana Feyn patah lagi, namun dia tidak berhenti. Dia mengeluarkan Katana lainnya dan terus menerus menebas. Fafnir bukan hanya diam. Dia berkali-kali menyerang dengan sihir dan ekornya namun itu benar-benar dihindari.
""Sialan!! Aku benar-benar kesal!""
Fafnir bersiap menembakkan nafas yang luar biasa untuk meratakan Moscow dengan tanah.
"Apa yang kamu coba lakukan!"
Sebuah sabit melukai sisik Fafnir. Fafnir merasakan sakit yang luar biasa dari arah serangan. Dan nafas dibatalkan dengan itu.
""Sialan! Siapa lagi itu!!""
Fafnir melihat ke arah pelaku yang memberikan rasa sakit yang mengerikan pada tubuhnya. Dan melihat Alice matanya menyipit.
""Apa yang ras vampir lakukan di luar Menara? Dan apakah kamu mencoba menyerangku? Apakah kamu tahu apa artinya itu?""
Fafnir berbicara dengan tidak senang, namun Alice hanya mendengus mendengar itu dan berbalik ke arah Feyn. Saat itu Fafnir benar-benar kesal. Sudah berapa kali dia diabaikan. Dan dia menyerang dengan petir ke punggung Alice.
""Mati, sialan!""
Alice tersenyum dan menghentikan serangan dengan Blood Fest miliknya. Dan saat itu Feyn, yang menunggu mencoba mengincar sisik yang terluka oleh serangan Alice.
"Sword of Abgrund, Abyss Flame."
Api hitam pekat muncul dan pedang itu menusuk tepat ke sisik yang terluka tadi.
"Poison."
Dari Skill yang didapatkan setelah membunuh Venom Serpent tadi Feyn menyuntikkan racun ke tubuh Fafnir. Namun jelas itu sia-sia…
""Sialan! Serangga ini!!?""
Fafnir menekuk tubuhnya mencoba menghancurkan tubuh Feyn. Namun Feyn segera melepaskan Katana miliknya dan terjun bebas dari udara.
""Mati!""
Nafas ditembakkan. Namun itu bisa ditahan dengan Blood Fest milik Feyn.
"Crescent Moon."
Bulan sabit memukul dari jarak dekat. Itu melukai tubuh Fafnir sekali lagi. Fafnir merasakan ancaman yang mengerikan dari keduanya. Dia terbang ke atas yang tidak mungkin untuk keduanya jangkau. Dan mengambil nafas dalam-dalam…
"Itu bahaya bukan?"
__ADS_1
"Benar, itu benar-benar bahaya."
Feyn dan Alice bertukar kata-kata. Jika nafas itu dilepaskan, bisa saja seluruh Moscow meledak dan bahkan gempa dan letusan gunung berapi di seluruh dunia terjadi…
""Blood Fest!""
Keduanya mengurung Fafnir dalam domain darah. Setidaknya itu akan melemahkan Fafnir.
"Aegis! Light Barrier!"
"Area Barrier, Gunung Yugr!!!"
"Angelic Shield!"
Saat itu suara familiar terdengar. Feyn bingung dengan suara kedua.
"Kenapa mereka sudah sampai?"
"Sepertinya menggunakan perpindahan lewat Menara."
Ah, aku lupa soal itu. Jika begitu ini bagus…
"Maaf membuatmu menunggu Guild Master!"
"Mari kita tunda itu, sekarang kita harus menahan serangan orang itu."
Dan saat itu nafas dilepaskan, dan itu menghancurkan Blood Fest yang dengan sekuat tenaga dibuat olehku dan Alice. Itu juga merusak Aegis dan Light Barrier milik Erica. Sekarang tinggal menunggu apakah Felicia dan Jun dapat menahannya… tidak, itu benar-benar mengerikan hanya untuk menungg!
"Tempest!!!"
"Lidah Matahari!"
"Sanctuary!"
"Vajra!"
Tornado dan Cambuk api yang mencoba menahan nafas, dan Vajra yang mencoba menembus nafas api.
""Sia-sia! Matilah menjadi abu!""
Bang!
Ledakan yang benar-benar akan membuat seseorang kehilangan gendang telinga terjadi. Selain itu, cahaya akibat ledakkan juga benar-benar menyilaukan.
"Blessing of Star."
"Murka Dewa, Gungnir!"
"Blood Spear Disaster."
"Tarian Dewa Naga!"
"Spiral Rainbow!"
"Elemental Arrow… Thunder Eagle."
"Corrupt Harpoon."
Tombak petir sebesar 5 meter muncul dan menimpa tubuh Fafnir. Tombak atau bahkan Trisula yang terbuat dari darah juga terbang langsung ke arah Fafnir. Cambuk api yang membakar musuh tanpa ampun seperti Dewa Naga mencoba menjangkau Fafnir. Sebuah Spiral 5 elemen mendorong lebih jauh. Selain itu Kiaa yang dari awal bersembunyi juga menembakkan panah berharap bahwa itu akan menjadi kematian instan. Harpoon hitam hijau muncul dan terbang ke arah Fafnir.
Fafnir merasakan krisis yang luar biasa, dan menciptakan penghalang berlapis yang melindungi seluruh tubuhnya.
"Langkah pertama."
Saat langkah pertama Raja, alam semesta menjadi kacau.
Keadaan mana dan udara benar-benar kacau. Ruang itu menjadi tidak terkendali. Semuanya mencoba membuat Fafnir sibuk dengan Skill mereka.
Namun Fafnir merasakan bahaya yang nyata. Dengan serangan penuh dari semuanya, dia terkena beberapa goresan namun itu tidak cukup untuk membuat dia kehilangan vitalitas secara signifikan.
""Apa yang kamu coba lakukan!!""
Fafnir meraung namun Feyn mengabaikannya.
"Langkah kedua."
Saat langkah kedua Raja, langit dan bumi menjadi satu.
Udara dan mana menghilang. Keheningan yang mengerikan terjadi. Tubuh Feyn hampir meledak dengan itu saja.
Fafnir tidak bisa bergerak. Tidak, ini adalah pertama kalinya dia merasakan ancaman akan kematian yang nyata.
"Langkah ketiga."
Saat langkah ketiga Raja, langit dan bumi meledak kembali pada kehampaan.
Dengan mana abu-abu gelap yang lengket. Katana milik Feyn diayunkan ke arah leher Fafnir…
Sstt.
"Kuhak!"
Feyn memuntahkan darah… dia sudah sampai pada batasnya. Dia benar-benar mencoba melampaui batas miliknya.
"Kakak!"
"Feyn!"
"Guild Master!!"
Semuanya panik, tubuh Feyn benar-benar kacau. Darah mengalir dari segala arah. Dan saat itu, leher Fafnir terlepas dan dia jatuh ke tanah… namun Alice tahu bahwa tidak mungkin hanya dengan itu mati.
"Reaper of Soul!"
""Guhaaa! Sialan! Bagaimana kamu tahu!!""
Fafnir awalnya berpura-pura mati dan akan menunggu sampai regenerasi miliknya selesai. Namun dia tidak menyangka bahwa itu akan terlihat jelas. Dia adalah abadi. Tidak mungkin mati kecuali menghapus jiwanya… dan Alice mampu melakukan itu.
""Senjata menjijikan apa ini! Jiwaku tersedot!""
""Tidak, tidak! Aku ini Rasul Ruler of Pride! Tuan Astaroth!""
""Tidak….""
Dan saat jeritan mengerikan berakhir. Notifikasi muncul di semua orang yang ikut serta dalam hal itu.
[Anda telah mendapatkan pencapaian luar biasa.]
[Nama anda akan tercatat dalam Hall of Fame.]
[Anda mendapatkan…]
[Anda naik level.]
[Anda naik level.]
[Anda naik level.]
[Anda naik level.]
[Anda…]
[Anda…]
[Anda…]
[Anda mendapatkan Gelar : Pembunuh Naga.]
[Anda mendapatkan Gelar : Pembunuh Bencana.]
[Anda mendapatkan Gelar : Pembunuh Rasul.]
Pop up naik level dan pemberitahuan lainnya tidak berhenti-henti. Terutama naik level. Fafnir adalah musuh di level 700. Mereka naik luar biasa sekitar 20 level hanya dengan bergabung di pertengahan. Hadiahnya juga benar-benar luar biasa.
"Kakak! Kakak! Heal! Heal!"
Erica memberikan sihir pemulihan kepada Feyn. Feyn benar-benar dalam kritis. Itu bahkan lebih parah dari saat Feyn pingsan pertama kali.
"Feyn…"
"Guild Master…"
Semuanya benar-benar sedih. Jika bukan karena Feyn menahan monster itu sendirian selama lebih dari 30 menit maka Moscow sudah dipastikan akan hancur lebur.
"Sekarang kita pindah dulu, tidak bijak untuk tetap disini. Lady Alice bisakah kamu menyimpan tubuh monster itu?"
"Aku mengerti."
Alice yang memiliki inventaris paling luas diantara mereka semua menyimpan tubuh Fafnir yang panjangnya lebih dari 30 meter.
"Ayo pergi."
__ADS_1
Dengan begitu kekacauan di Rusia berakhir. Namun Bencana lainnya masih mengintai di Benua jatuh.