The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 11 - Kamu manusia, kan?


__ADS_3

Musuh yang datang tanpa diundang kali ini adalah, segerombolan Orc dan beberapa Monster lainnya. Kemungkinan, mereka datang karena aroma darah dari Goblin yang sudah dibantai oleh Trouble Guild sebelumnya.


"Ke sini dasar Orc bajingan!"


Teriakan keras Jun menarik perhatian dari para Orc. Hampir semua Orc menuju ke arah Jun. Mereka menyerang Jun dengan stik kayu besar.


"!"


"!"


Bam!


Begitu tongkat kayu menghantam penghalang sihir yang dibuat oleh Silvia, suara dentuman keras mengerikan terdengar. Penghalang sihir tidak bertahan lama dan hancur ketika pukulan kelima.


Namun, itu sudah lebih dari cukup. Arya dan Michael muncul dari samping segerombolan Orc yang hanya berfokus kepada Jun. Keduanya membantai dengan begitu seperti sebuah mesin penjagal babi.


Sementara Jun, Arya, dan Michael melindungi gerbang, Ethan, Hu Tao dan Li Mei terjun langsung menuju tengah-tengah kelompok Monster.


"Awoooo!"


"Guh yaaa!"


"Kieeek!"


Ethan menebas semua Monster yang menghalangi jalannya. Gerakannya begitu efisien dan tidak ada gerakan tambahan yang menguras stamina. Dia seperti Dewa Perang sesungguhnya.


Li Mei yang berlari mengejar Ethan, sangat terpesona dengan gerakan Ethan. Ilmu Pedang itu tidak seindah tarian pedang Michael atau kuat seperti Ilmu Pedang Arya. Itu adalah pedang yang hanya berfokus pada membunuh dan membunuh.


Pada akhirnya, ratusan Monster terbunuh hanya dalam waktu kurang dari setengah jam. Ethan dan Li Mei berakhir lebih awal dibanding yang lain.


"Li Mei, beristirahatlah. Setelah itu, bergabung dengan anggota lainnya."


Li Mei mengangguk dengan patuh. Ethan lalu pergi dan berlari lagi menuju ke arah anggota Guild yang masih sibuk menjaga gerbang. Jumlah Monster tidak banyak karena Ethan sudah mengurangi sebanyak mungkin Monster di bagian depan.


Di antara semuanya, Jun adalah, anggota dengan stamina yang paling terkuras. Fokusnya berkurang dan matanya menjadi tidak fokus.


"Jun!"


"Kakak!"


Silvia dan Arya terganggu dengan hal itu membuat rentetan serangan Guild terhenti. Akibatnya, dukungan untuk Hu Tao yang berada di tengah-tengah kerumunan Monster, terjebak dan terkena serangan Orc.


"Aah!?"


Hu Tao merasa seluruh tubuhnya hancur ketika Orc menangkapnya dengan satu tangan. Namun, dibandingkan rasa sakit, perasaan jijik mendominasi hati Hu Tao. Stereotip tentang Orc makhluk menjijikkan dengan libido tidak terbatas, membuat Hu Tao merasa tidak lagi suci.


"Tidak, Hu Tao–"


Splash!

__ADS_1


Cipratan darah tercipta ketika kepala Orc yang menggengam Hu Tao terpisah dari tubuhnya.


"Kyaa!?" Hu Tao terkejut dengan cairan anyir yang mengenai tubuhnya.


Tubuh Hu Tao terjun bebas. Dia berpikir dia akan jatuh dan mengalami beberapa cedera. Namun, dia tiba-tiba saja merasakan kehangatan memeluk tubuhnya. Hu Tao membuka matanya sedikit dengan takut. Ketika dia melihat wajah Ethan yang tanpa ekspresi, perasaan lega memenuhi hatinya.


Ethan memindahkan Hu Tao ke tempat yang aman dan dia meminta Hu Tao untuk mundur sekarang. "Mundur. Minta Erica merawat lukamu."


"... Eh? Namun, aku masih bisa–"


Ethan melirik ke arah Hu Tao dengan senyum lembut. Dia menyentuh kepala Hu Tao. "Kerja bagus. Sekarang, serahkan sisanya kepadaku dan temanmu yang lain."


Melihat itu, Hu Tao hanya menundukkan kepalanya. "Jika begitu, anda harus selamat, Guild Master!"


"Tentu." Ethan mengangguk dan pergi setelah Hu Tao menurut.


Memperkuat tubuhnya dengan sihir, Ethan segera melesat ke tengah-tengah kerumunan Orc. Gerakannya begitu cepat sehingga sulit diikuti oleh mata manusia dan orc.


"!?" Orc berbalik ketika dia merasakan niat membunuh dari belakang tubuhnya.


Ethan melapisi pedangnya dengan aura hitam tipis, menebas sendi yang menghubungkan paha dan kaki Orc.


"Bumooo!?" Orc terjatuh karena luka itu sangat dalam.


Ethan bergerak lagi sebelum Orc itu mati. Bukan karena dia mengampuni Orc itu. Ethan hanya percaya dengan rekan setimnya yang mendukung dari belakangnya.


"Buhi!? Buhi!" Orc yang kesal mencoba untuk menangkap Li Mei. Namun, semuanya sia-sia.


Jleb!


Tombak yang terbuat dari tulang menusuk jantung Orc hingga menembus ke punggungnya. Itu adalah, Nina yang sudah berhenti menggunakan sihir kutukan untuk melemahkan musuh. Dia sudah menantikan momen ini sejak lama.


Ethan terus bergerak diikuti dengan semua anggota guild yang sama-sama marah. Hal ini membuat kemenangan datang sangat mudah. Michael, Arya, dan Li Mei, memimpin untuk membunuh semua Monster yang Ethan sudah lumpuhkan.


Hu Tao yang sedang disembuhkan oleh Erica, menatap kombinasi dari setiap anggota dengan cemberut dan tatapan iri. "Itu sangat keren! Aku juga ingin bertarung seperti itu suatu hari nanti!"


Jun yang juga sedang beristirahat, mengangguk dengan senyum pahit. Ethan benar-benar memahami dengan baik setiap karakteristik dari anggota Guild. Dia bertarung sambil memperhatikan setiap Medan Perang. Jun yakin itu sangat membebani otak.


Ethan akhirnya membunuh Monster terakhir yang tersisa. Tumpukan mayat memenuhi bagian depan kastil. Semua orang terengah-engah terapi, ekspresi puas muncul di depan wajah mereka.


"Kita menang! Hore untuk menang!"


"Hahahaha! Rasakan itu dasar Monster--"


"Uhuk! Uhuk!" Ethan mendadak terjatuh dan batuk darah, mengejutkan anggota Guild yang sedang bersuka cita atas kemenangan yang mereka raih dengan susah payah.


Suasana suka cita berubah menjadi panik dan mereka semua mencoba mendekati Ethan, memeriksa kondisinya yang terlihat begitu parah.


"Tunggu, Guild Master!"

__ADS_1


"Ethan! Hey!"


"Erica! Segera ke sini! Ethan butuh bantuan!"


"Tu– Tunggu!" Erica yang panik melompat dari ketinggian lima meter dan segera berlari menuju Ethan.


Ethan bernafas dengan tersengal-sengal. Matanya terlihat tidak fokus dan akan kehilangan kesadarannya kapan saja sekarang. Vitalitas Ethan juga terus menurun.


"! !" Erica memberikan sihir penyembuh untuk mendorong vitalitas Ethan naik.


Entah karena menjadi rileks atau apa, Ethan tidak sadarkan diri. Untungnya, nafasnya sudah lebih baik. Namun, pembuluh darahnya membengkak dengan tidak normal.


"Erica. Kakak baik-baik saja, kan?" Nina bertanya sembari terisak.


Erica di sisi lain masih terus melakukan dan tidak menjawab pertanyaan Nina. Sirkuit mana mengalami overload yang membuat setiap pembuluh darah yang dilalui sirkuit mana, membengkak. Organ dalamnya juga mengalami kerusakan yang parah. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah, otak Ethan yang kehilangan dayanya.


"!" Erica terus berteriak meski sudah tidak ada lagi sihir yang keluar, tidak peduli dia mencoba. Mana Power di dalam Magic Core sudah habis.


Jun yang melihat kondisi Erica, segera menghentikannya untuk menggunakan lagi.


"Erica, berhenti. Kamu akan mati jika melanjutkan menggunakan sihir itu lagi."


Erica dengan tatapan kosong menatap Jun. "Lalu, bagaimana dengan Kakak? Jika aku tidak melakukan sesuatu, aku– apa yang akan terjadi?"


Kiaa menyentuh pundak Erica dan memeluknya dengan hangat, mencoba menenangkan Erica yang begitu sedih. "Tenang saja. Percaya pada Ethan. Jika kamu tumbang, tidak ada yang mampu merawat Ethan. Itu merupakan situasi terburuk."


Li Mei mengangguk setuju dengan kata-kata Kiaa dan menambahkan. "Kiaa benar. Lebih baik kamu dan Nina masuk untuk merawat Ethan. Kami mungkin harus membongkar Monster. Jika tidak, Ethan akan sangat marah ketika dia bangun."


"Oh. Jika kita membiarkan semua mayat ini, Guild Master akan sangat marah ketika dia bangun nanti."


Suasana menjadi sedikit santai dengan kata-kata dari Li Mei dan Arya. Mendengar itu, Nina dan Erica menjadi sedikit tenang dan menurut. Mereka tidak ingin merusak suasana.


"Aku mengerti. Terima kasih atas pengertian kalian."


"Kami permisi."


Keduanya membawa Ethan pergi. Beruntung mereka memasukkan sedikit poin status ke dalam [Strength]. Jadi, bukan masalah mengangkat Ethan berdua.


Li Mei mendekati Hu Tao yang sedari tadi murung. Kondisi mentalnya jauh lebih buruk dibanding Erica atau Nina. Dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Ethan.


"Jangan khawatir. Ethan itu jauh lebih gigih dari yang kamu duga. Selain itu, jangan salahkan dirimu sendiri atas apa yang Ethan pilih. Itu tidak menghormati keputusannya."


Hu Tao menatap Li Mei dan tersenyum lemah. "Ya. Namun, tetap saja, jika bukan karena aku–"


"Berhenti menyalahkan diri sendiri. Jika kamu seperti itu, kamu menyalahkan pilihan Ethan karena marah untukmu." Li Mei mengatakan itu dengan wajah iri.


Hu Tao terkejut dengan ekspresi Li Mei yang tidak biasa itu. Li Mei terkenal karena sangat apatis dan jarang berekspresi. Jika Ethan mendapatkan gelar Pangeran Es, Li Mei yang paling pantas mendapat gelar Ratu Es. Namun, orang itu bukan hanya menghibur orang lain, dia bahkan memasang wajah iri.


Hu Tao tersenyum kecil dan mengepalkan tangannya. "Sepertinya kamu benar. Selain itu, aku bisa menganggap diriku ini penting di hati Guild Master, kan?"

__ADS_1


"... Kamu banyak bicara. Jika kamu sudah selesai galau, cepat bantu yang lain." Li Mei pergi meninggalkan Hu Tao yang sudah membaik.


__ADS_2