The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 41 - Injury Time


__ADS_3

Sementara itu, Feyn, Alice, Erica dan Nina berangkat ke St Petersburg Rusia sesuai janji keesokan harinya.


"Nina, apakah kamu benar-benar serius ikut?"


Erica bertanya pada Nina yang memiliki ekspresi wajah benar-benar muak. Dia seharusnya pulang hari ini, namun saat mengetahui bahwa ketiganya akan pergi ke Rusia dia tidak mungkin kembali ke Dieng sendirian.


"Tidak masalah, aku mendengar laki-laki di Rusia itu tampan."


Nina kosong. Jiwanya seperti keluar. Tidak ada pancaran hidup dari matanya… benar-benar jomblo yang menyedihkan…


"Jangan minta pulang saat kita sudah sampai disana."


"Aku bukan orang tua!"


Dengan begitu, keempatnya berangkat ke St Petersburg Rusia. Entah bagaimana aku merasa bahwa sesuatu yang besar akan terjadi.


"Semoga semuanya berjalan lancar."


Di Menara, Kiaa dan Silvia sibuk berlari. Alasannya adalah karena sesuatu yang mengejar mereka.


"Guk! Guk! Guk!"


"Woof! Guk!"


Puluhan Lesser Hound mengejar mereka. Tidak mungkin mereka melawan dengan Skill aktif mereka di blokir. Apalagi keduanya adalah tipe serangan mendadak.


"Sialan…"


"Kiaa belok kanan di depan."


Silvia memberikan arahan jalan. Keduanya berbelok ke kanan. Dan di kanan itu adalah jebakan dengan larutan asam yang akan melelahkan manusia hingga ke tulang jika terjatuh.


"Kecepatan penuh dan loncat."


"Apa!?"


"Lakukan saja."


Kiaa dengan ekspresi gugup mengikuti kata-kata Silvia… mereka menambah kecepatan dan saat dirasa sudutnya pas, keduanya loncat… itu benar-benar mengerikan.


Keduanya jatuh ke tanah… Kiaa benar-benar sudah pasrah… namun tiba-tiba, sebuah monster berjenis lele muncul. Dia tidak tahu apa namanya.


"Apa itu!?"


"Injak."


"Baik!"


Itu membuka mulutnya sangat besar, namun Kiaa dan Silvia bisa dengan sempurna menginjak tepat di bibir ikan itu dan menggunakan itu sebagai batu loncatan. Sepatu keduanya sedikit meleleh terkena asam namun itu tidak masalah sama sekali. Keduanya bisa sampai di ujung dengan selamat.


"Huh… itu benar-benar gila."


"Benar. Mari lebih hati-hati kedepannya."


Awalnya keduanya merasakan tanda yang tidak biasa, seperti biasa keduanya melihat ke arah itu, namun Lesser Hound memiliki penciuman luar biasa. Kiaa yang belum pandai menghilangkan bau tercium dan keduanya dikejar.


"Maafkan aku, aku akan berlatih lebih keras di masa depan."


"Tidak masalah, dan sepertinya kita sudah sampai di bagian akhir?"


Kiaa bingung, namun Silvia tidak menjawab dan terus berjalan. Dalam 30 menit berjalan melalui Labirin, mereka akhirnya sampai di depan pintu yang sama dengan pintu masuk.


"Apakah ada jebakan?"


"Sepertinya begitu. Mari kita coba dulu."


Silvia mengeluarkan sebuah bola. Itu adalah bom asap.


Tuing. Pssst.


Saat dilemparkan, asap abu-abu muncul dari bom itu. Dan bersamaan dengan itu Golem yang menjaga Gerbang bangun. Keduanya saling memandang.


"Bagaimana cara kita melawan Golem?"


"Benar, ini tidak masuk akal sama sekali."


Tanpa mana, keduanya tidak memiliki daya penetrasi yang bisa menembus pertahanan Golem… apalagi sepertinya itu adalah Golem Logam.


Silvia melihat sekeliling… tidak mungkin Feyn akan menyuruh mereka berdua jika tidak ada cara untuk lolos… dan saat itu, Silvia melihat sebuah pintu kecil di dekat kaki salah satu Golem.


"Hey, kita bisa lewat sana."


Kiaa melihat ke arah yang ditunjuk oleh Silvia. Dan merasa yakin. Namun ada satu masalah.


"Jadi, bagaimana kita akan melewati Golem ini?"


Ya, mendekat tanpa terlihat… itu benar-benar akan sulit. Namun Silvia tersenyum dan mengeluarkan puluhan bom asap. Kiaa benar-benar terkejut dengan itu.


"Apakah kita akan membuat tempat dengan asap penuh?"


"Benar. Aku sudah menghafal arah pintu itu, jadi tenang saja."


Kiaa masih sedikit ragu, namun dia tetap bersiap untuk melempar bom asap ke arah para Golem itu.


"Sekarang!"


Tuing. Pssst.


Kepulan asap muncul, dan keduanya segera berlari. Golem mencari sekeliling. Kesalahan yang dilakukan oleh Silvia dan Kiaa adalah Golem bisa melihat melalui energi sihir yang ada di dalam tubuh seseorang.


Saat itu, Golem mencoba menginjak kedua orang itu, keduanya panik dan segera menghindar.


"Uwaah! Aku tahu ini! Aku sudah memiliki firasat tidak bagus!"


"Berhenti mengeluh, mereka lambat jadi ayo maju."


Silvia meraih tangan Kiaa lagi agar tidak tertinggal. Seperti yang dikatakan oleh Silvia Golem benar-benar lambat namun ada yang Silvia tidak tahu.


Saat itu Golem mengarahkan tangannya ke dua orang itu, melihat itu Kiaa menarik tangan Silvia untuk menepi dari jalan ke arah pintu.


"Rocket punch datang!"


Bersamaan dengan teriakan Kiaa, tangan Golem melesat dengan sangat cepat ke arah keduanya. Kiaa dan Silvia menundukkan tubuh mereka. Hanya dengan beberapa centimeter lagi mereka akan terlindas...


"Ugh."


"Gila nyaris. Ayo lanjut!"


Dengan perasaan 5 menit yang seperti 5 jam keduanya akhirnya sampai di pintu. Silvia membukanya, dan sialnya itu butuh kunci!


"Terkunci!"


"Apa!?... Tunggu, bisakah kamu menggunakan ini?"


Kiaa mengeluarkan sebuah kunci perak dari inventaris nya, itu adalah yang dia dapatkan dari harta karun.


Silvia mencobanya dan itu terbuka.


"Cepat masuk!"


"Ya!"


Keduanya masuk dan segera menutup pintu tersebut dan tidak berselang beberapa detik sebuah suara mengerikan terdengar.


Bang! Bang!


Pintu itu bergetar hebat. Melihat itu Silvia dan Kiaa saling memandang. Dan tertawa kering. Jika mereka terlambat sedikit saja mereka sudah akan menjadi daging hamburg.


[Selamat anda telah keluar dari Labirin Normal. Lantai 4 dibersihkan.]

__ADS_1


[Prestasi anda akan tercatat di Hall of Fame.]


[Anda sekarang bisa naik ke Lantai 5.]


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


[Apakah anda akan naik atau keluar?]


Melihat pesan interface itu, keduanya kehilangan ketegangan dan runtuh. Labirin yang gelap, perangkap dan monster tidak bisa menggunakan skill. Itu benar-benar mimpi buruk bagi mereka sendiri.


"Lelahnya… aku ingin mandi."


"Aku juga ingin makan enak…"


Keduanya beristirahat sebentar sebelum kembali ke Benteng Athena dan kemudian kembali ke Bumi.


Berita tentang diselesaikannya Lantai 4 tersebar dengan cepat. Feyn yang melihat berita itu tersenyum cerah. Dia sebenarnya khawatir karena bagaimanapun Lantai 4 tidak bisa diselesaikan hanya dengan kekuatan.


"Sepertinya anggota Guild Deicide berhasil lagi ya."


Gordon tersenyum lebar. Feyn sudah tiba di Rusia semalam dan dia segera bertemu dengan Gordon dan Felicia. Keduanya datang ke hotel tempat mereka menginap.


"Benar, tidak ada yang lebih baik daripada keduanya untuk menyelesaikan Lantai 4."


"Memangnya, ujian macam apa di Lantai 4?"


"Menyelesaikan Labirin, tanpa mana dan Skill aktif yang disegel."


Mendengar itu Gordon pucat. Semua skill miliknya adalah Skill aktif dan menggunakan Mana… jika dia yang datang ke Lantai 4 hanya akan ada kematian.


"Begitu… jika begitu aku setuju."


Gordon tahu keahlian anggota Guild Deicide jadi dia setuju. Silvia dan Kiaa adalah yang terbaik dalam deteksi jebakan dan juga melepaskan perangkap.


"Lebih dari itu, apa alasan kamu mengundangku kesini?"


"Apakah kamu tahu?"


"Tentu saja, aku bukan Player dari Asosiasi Player. Tidak mungkin juga pemerintah Rusia meminta bantuan padaku yang sudah melemahkan Player mereka."


Lalu kenapa mereka meminta bantuan? Itu karena Gordon dan Felicia memberikan saran. Selain itu, aku adalah orang yang tidak diketahui bersahabat atau tidak jadi mereka setidaknya harus tahu kemampuanku. Jadi dengan pertimbangan itu mereka mengizinkan aku masuk ke negara mereka.


"Kamu benar. Dan alasan kenapa aku mengundangmu kesini adalah karena aku mendengar tentang bahwa Sekte 7 Great Disaster. Mereka adalah orang-orang yang ingin membawa kehancuran Bumi dan manusia."


Saat itu tiba-tiba Feyn berhenti bergerak. Sekte yang terdiri dari 7 orang yang diberikan berkah oleh 7 Great Disaster… mereka adalah orang-orang sialan yang menyembah Dewa luar itu. Karena mereka 10 Bencana bisa masuk ke Bumi.


"Apakah kamu serius?"


Gordon benar-benar bingung dengan respon Feyn yang terlalu serius. Ini adalah ekspresi paling serius dari Feyn yang pernah dia lihat selama mengenal Feyn beberapa bulan ini.


"Tentu saja… dan target mereka adalah Rusia."


Feyn berpikir sejenak. Munculnya 2 Gate hijau… dengan jumlah korban di Afrika dan Australia… mana yang melimpah… situasi terburuk terbesit di benaknya.


"Apakah kamu memiliki satelit?"


"Tentu saja, namun untuk apa?"


"Bisakah aku meminjam sebentar?"


"Silahkan. Claire."


"Ya."


Claire menyerahkan gambar citra satelit milik Canaries Corporation. Feyn segera memeriksa… dan hasilnya benar-benar konyol.


"10 Gate Hijau di Rusia… semuanya muncul secara bersamaan. Perkiraan runtuhnya adalah… besok."


"Apa!? Apakah hal itu mungkin!?"


"Selain itu, laporan dari Asosiasi Player mengatakan bahwa masih ada 2 hari sebelum Gate Runtuh. Dan tidak ada laporan bahwa 8 Gate lainnya muncul."


Feyn tidak menjawab dan menyerahkan hasil yang dia sudah temukan kepada dua orang tersebut. Keduanya segera melihat itu, dan benar saja. 8 Gate muncul di sekitar Moscow, St Petersburg, Tver. Itu benar-benar gila.


"Aku akan menghubungi anggota Guild Deicide. Kalian segera evakuasi warga ke tempat yang aman."


""Mengerti.""


Mereka semua bergerak cepat. Feyn segera melakukan panggilan ke Hermes yang ada di Dieng.


{Halo Guild Master.}


"Hermes, darurat, segera terbang ke Rusia dengan semua anggota bahkan Irina."


Hermes bingung. Ini karena Feyn yang panik tidak seperti biasanya.


{Ada apa Guild Master?}


"10 Gate Hijau muncul. Dan kemungkinan monster 3 Digit akan keluar."


Mendengar itu Hermes segera mematikan telepon dan memberitahu yang lainnya. Feyn sedikit sedih bahwa Hermes bahkan langsung mematikan telepon tanpa mengatakan apapun.


"Kakak! Ada apa?"


Erica, Nina dan Alice masuk. Keduanya memiliki wajah panik.


"10 Gate hijau muncul secara bersamaan. Kemungkinan bahwa itu adalah ritual yang dilakukan oleh seseorang dengan sengaja."


Itu benar-benar luar biasa. Aku bahkan tertipu. Mana yang aku rasakan awalnya biasa saja hanya sekedar Gate Hijau. Namun saat aku lebih fokus itu mendekati Gate biru.


"Apa? Bukankah hanya 2?"


"Benar… apakah ada yang memanipulasi informasi?"


"Sepertinya bahkan manusia memiliki hobi berkhianat."


"Sepertinya orang dari Asosiasi Player ada yang menjadi bagian dari 7 Great Disaster Sect. Itu akan merepotkan."


Ya, sudah jelas bahwa Asosiasi Player terlibat dalam hal ini. Dan untuk bisa memanipulasi informasi penting seperti ini pasti itu orang dengan peringkat yang cukup tinggi.


"Aku akan memeriksa orang-orang Asosiasi Player. Kalian bersiap karena besok kita akan sibuk bertarung. Alice ikut aku."


"""Ok."""


Aku dan Alice segera pergi ke Asosiasi Player. Yah, aku tidak terlalu berharap. Karena mereka pasti akan langsung lari sekarang.


Seseorang berlari kencang di gang-gang kecil Moscow. Dia lari seperti dikejar oleh sesuatu.


"Aku tidak menyangka bahwa akan ketahuan."


Orang ini adalah salah satu dari 7 Great Disaster Sect. Dia adalah orang yang memanipulasi informasi tentang Gate hijau yang muncul. Seharusnya, mereka akan muncul besok bersama dengan Dua Rasul. Namun entah bagaimana rencana mereka terlihat.


"Itu karena Gordon dan Felicia…"


Mereka tiba-tiba menyadari ada yang salah, dan mengevakuasi warga, bukankah jika seperti itu maka tumbal yang dibutuhkan akan kurang? Dengan Rusia, mereka akan mengincar kebangkitan Rasul ketiga… namun itu sepertinya tidak mungkin sekarang jika semuanya di evakuasi…


"Namun tenang saja… aku sudah menyiapkan hadiah untuk mereka."


Pria itu tersenyum, namun tiba-tiba di belakangnya, sebuah petir muncul mencoba melukai punggungnya. Pria itu segera menghindar.


"Oh, kamu bisa menghindar."


Pria itu mendengar suara seseorang. Dan saat itu seorang pria dan seorang gadis muncul… melihat mata merah keduanya membuatnya merinding.


"Kamu… apa maksudnya ini?"

__ADS_1


"Apa? Tentu saja aku harus membunuh seorang pengkhianat umat manusia. Tuan Vladimir Vidic. Presiden Asosiasi Player Rusia."


Mendengar itu, pupil pria itu, Vidic bergetar hebat. Dia tidak pernah berpikir akan ketahuan secepat ini…


"Atau haruskah aku memanggil kamu sebagai… Arrogant?"


Vidic benar-benar tidak bisa mengerti. Bagaimana Feyn tahu? Dari mana informasi bocor? Namun apapun itu, dia tidak mungkin mati disini. Tidak, dia tidak pernah berpikir untuk kalah.


"Kukukuk, aku tidak tahu dari mana kamu mendapatkan informasi. Namun jika kamu datang hanya berdua maka saat itu kamu sudah kalah."


Saat itu mana milik Vidic meledak. Itu benar-benar mana yang sangat gelap dan pekat. Pupil matanya menjadi warna kuning dan bola matanya menjadi hitam. Satu sayap muncul di punggung kiri nya.


"Hahahaha, inilah kekuatan yang diberikan oleh Dewa kami!"


Pria itu tertawa gila. Namun Feyn sama sekali tidak gentar. Alice juga sama. Awalnya Vidic berada di level 60-70 dan sekarang itu naik sekaligus ke level 150… tentu saja itu berbahaya jika musuhnya adalah Player biasa. Namun keduanya benar-benar tidak biasa. Tekanan seperti itu hanya main-main bagi keduanya.


"Jadi, bisakah kita mulai?"


Kesal dengan sikap acuh tak acuh keduanya, Vidic menggeram.


"Sikap itu… ayo kita lihat berapa bisa bertahan!"


Dengan itu, dia langsung menendang tanah. Tanah yang dipijaknya rusak, itu sangat cepat. Mungkin bahkan lebih cepat dari suara.


"Stolz."


Alice mengeluarkan sabit miliknya, dan menebas untuk menghalangi pedang hitam yang terbuat dari mana itu.


Tang!


Suara besi yang beradu terdengar. Alice tidak diam dan segera bergerak untuk menyerang, dia mengayunkan sabitnya mengincar bahu kanan Vidic, namun Vidic segera mundur.


"Cih, bisa-bisanya kamu dilindungi oleh seorang gad-!???"


"Apa? Sekarang mati."


Tiba-tiba, Feyn muncul dari balik punggungnya. Vidic tidak bisa melihat kapan Feyn bergerak sama sekali. Dia segera mundur dan terbang ke atas untuk menghindar.


"Blood Fest."


Sebuah domain darah tercipta. Dengan ini Debuff diberikan dan ruang terbangnya benar-benar akan berkurang. Vidic merasa bahaya.


"Peluru Hitam."


Sayapnya menegang, dan bulu dari sayapnya terbang seperti peluru.


"Blood Fest."


Kali ini domain darah milik Feyn yang muncul melindungi keduanya. Sambil menggunakan deteksi mana keduanya menyiapkan jarum darah.


"Sonata no 7, Mozart."


Triing.


Dengan nada yang cukup tenang, itu mulai menembakkan jarum darah. Serangan datang dari kanan, kiri, bawah dan atas. Bagaimanapun itu adalah domain yang serba guna.


"Falling Angel, Lelga!"


Dua api hitam besar muncul di tangannya dan mencoba menghalau semua jarum darah. Jarum darah menguap saat terkena mendekat.


"Sekarang kamu akan mati!"


Api hitam itu segera mengarah ke Feyn dan Alice yang ada di dalam domain darah yang diciptakan oleh Feyn.


"Wrath the Queen of Blood."


"Sword of Abgrund, Abyss Flame."


Sebuah tombak 5 meter muncul dari atas tubuh Vidic. Dan Feyn membatalkan Blood Fest miliknya, dan api hitam yang lebih pekat dan mengerikan daripada milik Vidic muncul. Dan saat diayunkan, itu segera melahap api milik Vidic.


"Apa!? Bagaimana!? Tidak, tidak! Aku ini manusia pilihan!"


Diserang dengan dua Skill mengerikan orang itu mencoba bertahan sebisa mungkin, namun tidak mungkin dia bisa selamat… jika itu adalah manusia.


Saat itu, Alice segera menebas salah satu udara kosong.


"Kuha!? Bagaimana…"


Vidic benar-benar tidak mengerti… dia menggunakan Skill yang dia sudah dapatkan dari dewanya, Immortal. Namun, entah kenapa, dia merasa bahwa jiwanya sedang di sedot sekarang.


"Begitu, kemampuan tipe parasit yang merampas tubuh orang lain dengan memasukkan jiwa kedalamnya."


"Bagaimana!! Bagaimana berani kamu!!"


Vidic takut. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Namun kesombongan miliknya tetap menguasai pikirannya.


"Aku tidak berbicara denganmu."


"Kamu!"


Vidic kesal karena Feyn abaikan sampai akhir. Namun tiba-tiba senyum muncul di wajahnya. Dan tiba-tiba dia tertawa.


"Hahahaha. Apakah kamu mengira bahwa kamu sudah menang? Aku sudah mengirimkan orang-orang untuk memasukkan batu ajaib ke dalam Gate agar itu lebih cepat runtuh!"


Ya, dia meminta ke salah satu Guild gelap untuk melakukan itu. Dan mereka dengan bodohnya setuju. Dengan begitu, hanya dalam beberapa jam atau bahkan menit lagi, Gate akan segera runtuh. Dia melirik keduanya untuk melihat wajah putus asa mereka. Namun wajah keduanya masih seperti biasa.


"Lalu? Tidak masalah berapa banyak yang mati, itu bukan urusanku. Selama manusia tidak punah dan Bumi masih ada itu sudah baik-baik saja bagiku. Dan kamu tahu… tujuan kami memang 10 Bencana yang kamu anggap sebagai Rasul. Selain itu, kami juga akan membunuh orang yang kalian anggap sebagai Dewa… apakah kamu mendengar itu, Astaroth? Aku akan datang, jadi tunggu aku."


Feyn berbicara seperti omong kosong. Namun dia tahu bahwa Astaroth melihat melalui orang ini. Vidic benar-benar bingung. Bagaimana orang ini bisa tahu!


"Kamu!!! Beraninya berbicara seperti itu dengan dewa kami!!"


"Alice, akhiri."


"Reaper of Soul."


Sabitnya segera menebas leher jiwa milik Vidic dan kepalanya segera terjatuh. Saat itu mulutnya yang seharusnya sudah mati berbicara lagi.


"Kamu, kamu benar-benar menarik. Sepertinya kamu tidak ingin menjadi Rasulku. Karena itu lakukan yang terbaik untuk menaiki Menara. Aku akan menunggumu… di Lantai 48."


Tekanan yang tidak masuk akal. Manifestasi kesadaran mereka yang ilahi. Bahkan hanya dengan kata-kata itu saja sudah membuat keduanya pusing. Alice segera memotong lagi.


"Kuha! Kamu!"


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


[Anda naik level.]


Dan saat itu, sambungan terputus. Itu benar-benar menyakitkan pasti.


"Bagus Alice, walaupun tidak akan signifikan, namun itu pasti akan memberikan sakit pada jiwanya."


"Setidaknya seperti itu. Bahkan hanya dengan itu saja, Stolz tumbuh luar biasa."


Level juga naik. Padahal hanya salah satu kesadarannya, tapi exp yang diberikan benar-benar luar biasa.


(Untuk seluruh warga! Untuk seluruh warga! Disarankan untuk segera mengungsi! 10 Gate Hijau akan segera runtuh! Sekali lagi..)


Sirine peringatan terdengar di seluruh kota. Sepertinya sudah dimulai.


"Ayo, Alice-ku."


"Menjijikan Feyn."


Aku mengabaikan Alice dan segera berlari. Tapi… apakah itu benar-benar menjijikan?

__ADS_1


__ADS_2