The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 18 - Lantai 2 dan Stampede.


__ADS_3

Pandangan Ethan tidak fokus sesaat. Begitu dia mendapatkan penglihatannya kembali, Ethan melihat pemandangan yang berbeda dari mayat monster yang menumpuk. Ethan sekarang berdiri di tengah-tengah Arena yang mirip dengan Colosseum di Roma Italia, kecuali, ukuran Arena ini lebih lebih besar.


[Anda diberikan waktu lima menit untuk bersiap–]


"Tidak, silahkan mulai ujiannya langsung."


Seolah mengerti apa yang Ethan katakan, pesan sistem berubah di tengah jalan.


[Memulai Ujian Lantai 1: Kalahkan semua musuh dan menjadi Conqueror.]


Begitu pesan berakhir, seekor Orc muncul dari gerbang di sisi lain. Orc itu tidak sama dengan Orc yang sudah Ethan kalahkan sebelumnya. Orc itu memiliki tubuh berotot dan tinggi dua meter lebih.


Ethan tidak menunda lebih lama. Dia menarik pedangnya dan segera berakselerasi lebih awal. Ethan ingin menguji seberapa kuat dia sekarang.


Orc yang tidak bisa mengikuti kecepatan Ethan terkejut membuatnya tidak bisa bereaksi dengan tebasan pedang Ethan ke arah lehernya.


Splash!


Pedang Ethan dengan indah memotong leher Orc. Orc mati hanya dalam satu kali tebasan.


[Anda menyelesaikan ronde pertama.]


[Ronde kedua akan dimulai pada–]


"Tidak. Ayo lanjutkan."


[Ronde kedua segera dimulai.]


Sama seperti sebelumnya, Ethan tanpa istirahat dan dengan pedang yang masih bersimbah darah, memilih untuk langsung memulai ujian.


Kali ini, bukan Orc. Namun, dua Fire Wolf. Monster yang mendekati roh dengan tubuhnya yang tertutup api.


Sama seperti sebelumnya. Ethan mengambil langkah pertama. Ethan bertujuan untuk membunuh salah satu dari mereka dengan cepat untuk menghindar situasi satu lawan dua yang tidak menguntungkan.


"!!" Serigala itu terkejut dengan bilah pedang yang muncul di depan matanya. Namun, dengan status Dexterity yang tinggi, dia bisa menghindar dengan sangat tipis.


Namun, Ethan sudah menduganya. Dengan kalkulasi yang spesifik, Ethan berhenti ketika serigala akan menghindar. Karena itu, Ethan bisa menyerang serigala yang masih dalam tidak siap itu.


Jleb!


Pedang Ethan menusuk tepat di dahi serigala dan menghancurkan otaknya.


"Awooo!" Rekan serigala itu marah. Dia mencoba untuk menyerang Ethan diam-diam.


"Jika kamu ingin menyerang dari belakang. Lakukan dengan senyap."


Ethan dengan senyum kecil menarik pedang dari dahi serigala dan menundukkan kepalanya untuk menghindari serangan serigala lainnya. Tidak hanya menghindar, Ethan bahkan balik menyerang. Serigala yang sedang di udara tidak bisa menjaga perutnya. Ethan dengan rapi menusuk perut dan menghancurkan lambungnya.


[Anda menyelesaikan ronde kedua.]


[Ronde ketiga akan dimulai pada–]


Ethan menarik pedang dari perut serigala. Darah menyembur mengenai tubuhnya. Namun, Ethan sama sekali tidak peduli dan memilih untuk melanjutkan ujian.


"Lanjut."


[Ronde ketiga segera dimulai.]


Di ronde ketiga, musuhnya adalah, makhluk dengan tubuh seperti kangguru dan wajahnya mirip dengan berang-berang. Namun, kekuatannya hanya sedikit lebih lemah dari Ksatria Hitam di Lantai 1.


Meskipun begitu, Ethan menyarungkan pedangnya kembali dan mengambil kuda-kuda boxing.


"Hey! Kamu gila? Melawan Moochelo dengan boxing!?" Alice histeris melihat tindakan irasional Ethan.


Ethan sama sekali tidak gentar dan hanya tersenyum kecil. "Perhatikan baik-baik. Inilah bagaimana martial art seharusnya."

__ADS_1


"Apa yang kamu–" Alice menghentikan kata-katanya.


Moochelo dengan kecepatan yang luar biasa, menerjang ke arah Ethan setelah kontes saling menatap berakhir. Moochelo melayangkan tinju dengan lengan panjangnya yang penuh dengan kekuatan.


"Hey! Awas!" Alice berteriak dengan khawatir. Namun, kekhawatirannya sia-sia.


Ethan bahkan tidak bergerak dari tempatnya dan tinju Moochelo tidak sampai di wajahnya. Itu karena Moochelo tidak menyangka Ethan tidak bergerak sama sekali.


Memanfaatkan momen kebingungan dari Moochelo, Ethan tersenyum penuh kemenangan. Dia melebarkan tinjunya dan dengan telapak tangan, Ethan memukulnya tepat di [Mana Heart] milik Moochelo.


"!?" Moochelo membelalakkan matanya.


Rasa sakit yang luar biasa dirasakannya karena seluruh energi dalamnya menyebar seperti riak. Itu bukanlah akhir. Ethan dengan ujung jari yang dilapisi mana, menyerang 12 titik magic circuit milik Moochelo membuatnya tidak kuasa lagi untuk mencegah pelarian Mana di dalam tubuhnya.


Kemudian, Ethan menyentuh dahi Moochelo dan menyuntikkan sedikit mana ke dalamnya.


Bruk.


Moochelo ambruk kehilangan nyawanya bahkan tanpa tahu apa yang terjadi padanya.


Alice tercengang. Dia beruntung berada di dalam cincin. Jika tidak, wajahnya bodohnya saat ini akan terlihat oleh Ethan dan menjadi bahan untuk meledeknya.


"Apa– Bela diri menakutkan macam apa itu?" Alice bergumam dengan ngeri.


Alice merasa takjub bukan karena Ethan bisa menang melawan Moochelo dengan tangan kosong. Apa yang membuatnya terkejut adalah, ilmu bela diri yang Ethan gunakan. Itu ilmu bela diri mengerikan yang mengincar Mana Heart seseorang.


[Anda menyelesaikan ronde ketiga.]


[Ronde keempat akan dilakukan pada–]


"Lanjut." Ethan yang tidak menyadari perasaan Alice, melanjutkan ujian.


Ethan terus maju tanpa menemui hambatan yang berarti. Dia sedikit kesulitan melawan musuh dengan level tiga digit di ronde 15-18. Namun, dia berhasil melaluinya tanpa harus mengeluarkan kartu truf miliknya.


Di Lantai 19, musuh dengan level 190 muncul. Musuh yang Ethan hadapi adalah, seekor singa dengan ekor pedang.


Sword of Fanta Ethan menahan semua serangan dari pedang yang berada di ekor singa itu. Namun, setelah melalui banyak pertarungan, umur Sword of Fanta tidak lama lagi. Retakan sudah mulai muncul di bilahnya.


Ethan menggertakkan giginya. Dia tidak percaya akan terhambat di ronde sembilan belas.


"Manusia! Lebih baik kamu menyerah! Mustahil untuk menang!" Alice berteriak dengan khawatir.


Namun, Ethan yang terus menerus menghindar dan menahan serangan singa itu, hanya menyeringai lebar mendengar kata-kata Alice.


"Apakah kamu pernah melihat aku terkena serangan?"


Mendengar itu, Alice terdiam. Ethan memang belum pernah terkena serangan sama sekali. Meskipun dia terpojok, setidaknya dia berhasil menghindari luka fatal.


Menyadari ada yang aneh, Alice membelalakkan matanya. "Kamu! Dasar orang gila!"


Ethan menyeringai. Energi hitam pekat menutupi kakinya. Kemudian, dengan satu hentakan, Ethan menghilang seketika dari pandangan singa pedang.


Ethan muncul sepersekian detik kemudian di belakang singa pedang. Dia memindahkan aura hitamnya dari kaki menuju ke pedangnya. Itu aura yang penuh kelembutan dan ketenangan. Sangat tenang hingga menakutkan.


"Tusukan penderitaan!" Meneriakkan nama jurus yang terdengar aneh, Ethan menusukkan pedangnya ke lubang tempat keluarnya kotoran.


"!?" Singa pedang membelalakkan matanya karena rasa sakit.


Ethan tidak membiarkan singa pedang itu bernafas. Dia menyuntikkan lebih banyak aura ke dalam pedangnya hingga aura hitam itu menelan hampir seluruh tubuh bagian belakang dari singa pedang.


"Roaar!" Ekor pedang diarahkan dengan sembarangan.


Namun, itu sudah terlambat. Ketika pedang Ethan sudah mencapainya, itu adalah, akhir. Cahaya di mata singa pedang mulai pudar. Dia ambruk ketika tubuh bagian belakangnya lenyap tertelan aura pedang Ethan meninggalkan tubuh bagian depan yang tersisa.


Alice tidak bisa berkata-kata. Mengesampingkan nama teknik yang aneh, kekuatan melahap– tidak, kekuatan untuk menghapus sesuatu milik Ethan sangat keterlaluan. Nemea, Monster Mitos yang membuat Dewa bahkan lari, terhapus hanya dalam hitungan detik.

__ADS_1


[Anda menyelesaikan ronde ke-sembilan belas.]


[Ronde ke-dua puluh akan dilakukan pada 9:58.]


Ethan untuk pertama kalinya tidak langsung maju ke ronde selanjutnya. Dia merebahkan dirinya di atas genangan darah hitam di lantai Arena. Ethan tidak peduli dengan pakaiannya yang kotor.


"Hey. Apakah itu atribut milikmu?" tanya Alice terdengar penasaran.


"Apakah kamu pernah melihat atribut seperti ini?" Ethan bertanya balik alih-alih menjawab.


"Tentu saja tidak. Jika seseorang memiliki kekuatan seperti itu, mereka akan menjadi penguasa mutlak di Menara atau menjadi mayat karena menjadi target dari kekuatan besar lain yang takut dengan kekuatan tersebut."


Mendengar itu, Ethan merasa bahkan para Dewa yang dianggap perkasa masih melakukan hal yang sama dengan manusia yang mereka anggap rendah. Itu sangat menjijikkan dan najis.


"Maka, itu bukan atribut milikku."


"... Kamu benar-benar bermain-main denganku." Alice terdengar tidak senang. Namun, dia tidak bertanya lebih.


Ethan hanya diam untuk mendinginkan sirkuit mana dan mana heart sambil mengisi ulang mana-nya. Ethan tidak pernah menyadarinya dulu. Namun, langit terlihat sangat indah di dalam Menara yang tidak memiliki polusi.


"Manusia benar-benar lebih baik tidak ada, ya."


Ethan benci untuk memikirkannya. Namun, semakin berakal makhluk, semakin mereka akan merugikan makhluk lain. Ini sangat menyedihkan untuk dikatakan oleh seseorang yang merupakan makhluk berakal.


***


Ethan sudah memasuki Menara selama dua minggu. Hal ini membuat Erica dan Nina yang masih trauma dengan kejadian pada Orc, menunggu cemas kepulangan Ethan.


"Uu. Setidaknya Kakak memberikan kabar. Namun, dia benar-benar menghilang tanpa kabar!" Nina terlihat sangat frustasi ketika dia memikirkan Ethan.


Erica tidak jauh lebih baik. Dia bahkan mengurangi porsi makannya selama seminggu terakhir ini.


"... Haruskah aku pergi menyusul Kakak?"


"Itu ide bagus. Setidaknya jika Kakak terluka, kita akan bisa memberikan pertolongan–"


"Erica, Nina! Kabar darurat!" Hu Tao berteriak keras ketika dia memasuki Kediaman Austin.


Mendengar itu, ekspresi Erica dan Nina menjadi gelap. Mereka bangun dan berlari menuju ke Hu Tao.


"Ada apa? Apakah Kakak terluka parah lagi!?"


"Katakan! Di mana Kakak sekarang!?"


Erica dan Nina mengirimkan badai pertanyaan begitu mereka melihat Hu Tao. Ekspresi Hu Tao menjadi bingung bagaimana dia harus menyampaikan berita yang tidak sesuai dengan harapan si kembar.


"Tidak, bukan hal itu. Ini tentang Menara!"


Ketika menyadari jika berita tersebut tidak berkaitan dengan Ethan, membuat Erica dan Nina sedikit kecewa. Namun, mereka tetap mendengarkan Hu Tao dengan serius.


"Apakah ada sesuatu dengan Menara?"


"Monster mulai keluar dari dalam Menara sama seperti saat Gate Collapse satu bulan lalu!"


"Apa?"


"Tunggu. Kamu serius!?"


Erica dan Nina terkejut dengan berita yang tidak terduga. Hanya ada jeda satu bulan semenjak Gate Collapse. Mereka tidak menyangka kejadian lain yang tidak kalah mengkhawatirkan pecah.


"Bagaimana dengan yang lain? Apakah mereka sudah tahu tentang ini?" Erica berusaha untuk tetap tenang.


"Oh. Kakak Jun dan Kakak Li Mei mengumpulkan mereka semua di dalam aula utama Guild Base."


"Jika begitu, ayo pergi ke Aula Utama."

__ADS_1


Hu Tao memiringkan kepalanya melihat sekeliling. "Tunggu. Apakah Guild Master belum kembali?"


Erica terdiam sejenak dan menjawab dengan nada pahit. "Benar. Kita akan mengambil keputusan tanpa kehadiran Kakak. Jadi, ayo kita segera pergi."'


__ADS_2