The Last Human Return.

The Last Human Return.
Bab 5 - Neraka!?


__ADS_3

Selama satu minggu terakhir, semua orang hanya fokus pada pelatihan stamina dan fisik. Mereka akan berlari sebelum matahari terbit di langit dan sore hari sebelum matahari terbenam. Ethan juga tidak lupa mengajari mereka untuk melakukan senam khusus untuk memperlancar peredaran darah dan mana di tubuh mereka.


"Oh. Aku benar-benar merasa kembali muda." Jun berseru kagum karena staminanya sudah kembali seperti sebelum sistem muncul


"Kamu terdengar seperti orang tua, Jun." Silvia tertawa geli melihat Jun yang bertingkah seperti orang tua yang diremajakan.


Li Mei, Kiaa, dan Nina yang sangat sensitif terhadap suasana merah muda, menatap sepasang budak cinta yang saling menggoda tanpa tahu tempat dengan tatapan jengkel.


Duduk di atas batu besar tempatnya selalu bermeditasi, Ethan membaca catatan dari setiap skill yang dimiliki oleh anggota Trouble Guild. Secara mengejutkan, mereka memberikan semua deskripsi skill mereka dengan sesuai.


Ethan menutup catatan tersebut. Dia tidak tidak tahu apakah mereka bodoh karena terlalu percaya padanya atau karena mereka cukup yakin Ethan akan membantu mereka lebih kuat. Apapun alasan mereka, Ethan akan membantu semuanya sampai ke puncak keahlian mereka.


Menatap anggota Guild yang sedang beristirahat, Ethan membuka mulutnya. "Apakah kalian sudah cukup beristirahat? Sekarang, kalian akan memulai berlatih menggunakan senjata kalian."


Begitu Ethan berbicara, semua anggota Trouble Guild berbaris dengan rapi dan tegap.


""""Ya!""""


Suasana di lapangan terasa seperti di tempat militer. Namun, Ethan tidak membenci suasananya, karena itu artinya, mereka semua secara sungguh-sungguh serius dalam latihan.


Ethan yang sudah menukar seluruh hartanya menjadi Sistem Coin, membeli beberapa senjata yang dirasa kompatibel dengan keahlian dan spesialis setiap anggota. Meskipun semuanya hanya senjata tingkat rendah, Ethan menjadi miskin karena membeli semua senjata tersebut.


Ethan menutupi rasa sakitnya karena kehilangan begitu banyak uang dengan wajah dinginnya. Dia memanggil beberapa orang untuk maju.


"Jun, Michael, Arya, Kiaa, Li Mei, dan Hu Tao, pilih senjata kalian. Aku berikan waktu lima menit."


Semua yang namanya dipanggil segera bergerak. Tentu saja mereka tidak benar-benar mengambil pusing senjata apa yang akan mereka pilih, sebab mereka sudah mempunyai senjata yang paling mereka pahami ketika bermain game VR [Eden].


Jun yang berperan sebagai seorang Tank, mengambil sebuah perisai layang-layang yang cukup besar untuk melindungi tubuhnya. Kiaa, seorang Atlet Panahan yang pernah memenangi Olimpiade, tentu saja memilih busur. Senjata Li Mei adalah, sepasang belati sepanjang 40 CM. Arya memilih pedang besar yang terlihat seperti batang besi alih-alih pedang. Michael di sisi lain, dia memilih senjata yang palin aman yaitu, pedang panjang. Semuanya sama sesuai apa yang Ethan perkirakan, selain Hu Tao.


Ethan menatap Hu Tao dengan tatapan aneh. "Hu Tao, kamu memilih sabit? Bukan cambuk?"


Hu Tao mengambil senjata yang berbeda dibanding saat di game. Dalam game, Hu Tao memilih cambuk sebagai senjata utama. Dia sangat ahli sehingga dipanggil Sadistic Queen oleh Player lainnya.


Hu Tao menatap sabitnya dengan senyum kecil dan mengangguk. "Ya. Guild Master mengeluarkan ini bukan tanpa alasan, kan? Aku merasa sabit lebih kompatibel dengan skill yang aku punya."


Ethan terkejut dengan pengamatan Hu Tao. Meski terkadang dia terlihat seperti tidak memikirkan apapun, dia sangat cepat paham dengan maksud dari tindakan atau perkataan orang lain.


"Jika menurutmu begitu, maka, itu bagus." Ethan berpura-pura tidak terkesan. Dia memandang ke anggota lain yang sudah memilih senjata mereka. "Sekarang, aku ingin kalian melakukan gerakan apapun sambil memegang senjata kalian. Aku akan mengawasi dan memperbaiki gerakan kalian apabila kalian melakukan kesalahan."


"""Siap!"""

__ADS_1


Mengikuti arahan Ethan, semuanya segera pergi menjauh dan melakukan gerakan dasar yang Ethan sudah ajarkan kepada mereka selama di dalam game.


Sekarang, Ethan memandang ke arah mereka yang tersisa. Dia menunjuk Erica, Nina, dan Silvia. "Kalian bertiga memiliki bakat dalam sihir. Jadi, aku akan mengajarkan kalian membentuk core."


"Core? Apakah itu seperti Dantian dalam cerita Murim?" Nina mengajukan pertanyaan karena dia penasaran.


"Itu sedikit mirip. Sekarang, lebih baik kamu mulai duduk bersila. Aku akan membantu kalian merasakan kehadiran mana di dalam tubuh kalian untuk pertama kali."


"""Mengerti."""


Ketiganya segera duduk bersila di tempat tanpa takut kotor. Di antara ketiganya, Erica yang memiliki postur paling baik. Nafasnya tidak tertahan dan aliran darahnya lancar. Silvia dan Nina, mereka sedikit memiliki cacat kecil.


"Silvia, coba sedikit lebih santai. Kamu terlalu kaku."


"A– Aku mengerti." Silvia mencoba yang terbaik untuk memperbaiki posisinya.


"Nina. Luruskan punggungmu. Selain itu, atur nafasmu secara konsisten."


"Ya!"


Dengan arahan dari Ethan, Nina dan Silvia mulai memperbaiki postur mereka. Sekarang, keduanya sudah tidak menghambat sirkulasi mana dalam tubuh mereka.


Ketiganya mengikuti instruksi dari Ethan. Namun, tidak mudah mengatur ritme nafas secara manual. Jadi, mereka pasti akan membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk terbiasa.


Sementara menunggu entah sampai kapan, Ethan melirik dua orang tersisa yang tertunduk dengan ekspresi muram. Mereka jelas sangat takut tidak dibutuhkan di dalam Guild karena Ethan tidak menyuruh mereka untuk berlatih dalam sihir atau senjata.


"Kalian berdua ... tidak memiliki kekuatan bertarung, kan?"


Pertanyaan Ethan membuat Leo dan Rara semakin menundukkan kepala mereka. Ekspresi wajah mereka semakin suram.


Ethan tersenyum lembut dan menyentuh bahu mereka. Dia menyerahkan dua buku yang memiliki sampul kulit dan kertas yang sangat tebal lebih dari kertas yang terjual di pasar.


"Terima ini dan pelajari dengan baik. Kalian akan menjadi pilar utama Guild ini di masa depan."


"Eh?"


"Apa?"


Leo dan Rara menatap Ethan dengan tatapan terkejut. Tatapan mereka kemudian jatuh ke buku di tangan Ethan. Buku itu cukup tebal. Hanya melihatnya saja sudah tahu setidaknya lebih dari seratus halaman.


"Ada apa? Apakah kalian tidak menginginkan ini?"

__ADS_1


"Tidak, kami menginginkannya!"


"Terima kasih, Kakak Ethan!"


Keduanya dengan cepat mengambil buku di tangan Ethan. Mata mereka berbinar dan senang melihat buku yang Ethan berikan. Ketika mereka memeriksa isi buku, mereka terkejut menemukan semua tulisan di dalamnya berisikan tulisan tangan.


"Guild Master, ini–" Rara mencoba untuk bertanya. Namun, Ethan sudah pergi ke anggota yang berlatih senjata.


Leo dan Rara menatap Ethan dengan tatapan terharu. Mereka membungkuk ke punggung Ethan sebagai ucapan terima kasih. Mata mereka terlihat membara dengan semangat untuk mempelajari teks yang Ethan berikan.


Ethan di sisi lain masih sangat sibuk. Dia pergi ke tempat Hu Tao yang terlihat sangat canggung dengan senjata yang baru digunakannya hari ini.


"Apakah ada yang membuatmu tidak paham, Hu Tao?"


Hu Tao berhenti mengayunkan sabit besarnya dan menatap Ethan dengan wajah kebingungan. "Ah, Guild Master. Aku tidak paham tugasku di dalam pertarungan party. Karena itu, saya tidak memahami cara penggunaan sabit yang kuinginkan."


Ethan mengangguk. Itu masalah mendasar yang dialami oleh mereka yang mengubah role mereka.


"Bisakah kamu berikan sabit itu sebentar?"


"Tentu." Hu Tao menyerahkan sabitnya pada Ethan.


Memegang sabit, Ethan mulai melakukan gerakan peragaan sambil memberikan penjelasan. "Sabit memiliki jangkauan yang luas sama seperti cambuk. Selain itu, dia sangat berat dan lambat, pola serangan juga lebih terbatas dibandingkan cambuk. Meskipun begitu, kerusakan yang sabit hasilkan itu pasti. Dengan sabit, kamu bisa melakukan control di medan perang dengan lebih leluasa."


Ethan mengakhiri gerakannya dengan sebuah tebasan yang menghasilkan hembusan angin luar biasa ke segala arah. Tidak hanya itu, satu daun terpotong menjadi dua dengan sempurna tepat di tengah.


Semua orang menghentikan kegiatan mereka hanya untuk menonton Ethan. Demonstrasi yang Ethan tunjukkan tidak hanya memanjakan mata. Itu sangat menakutkan dan sempurna tanpa celah. Kelemahan dari sabit yang memiliki banyak celah tertutupi oleh gerakan yang terlihat seperti angin topan.


"Guild Master, apakah kamu pernah menggunakan sabit sebelumnya?" Pertanyaan itu ke luar spontan dari mulut Hu Tao yang terkagum dengan demonstrasi yang Ethan tunjukkan.


Ethan menyerahkan sabit itu kembali ke Hu Tao. "Aku punya satu akun yang kugunakan untuk berlatih banyak senjata di [Eden] dulu. Jadi, aku paham dengan beberapa gaya bertarung senjata selain pedang."


Ethan tidak berbohong. Dia membeli dua mesin Ke-I dan membuat satu akun untuk digunakan sebagai alibi di saat-saat seperti ini. Karena Ethan tahu pertanyaan seperti itu akan muncul.


"Ah, aku tidak dengar apapun. Tidak mungkin ada orang yang bisa menggunakan semua senjata dengan baik hanya karena mereka mencobanya!"


"Ethan bukan manusia, Ethan bukan manusia. Ayo abaikan!"


Semua orang mencoba untuk tidak merasa iri dengan bakat Ethan. Itu bisa dimengerti, mendapatkan hasil terbaik dari sesuatu yang tidak ditekuni. Untuk orang-orang yang berlatih keras, itu seperti racun untuk hati mereka.


Alibi Ethan berhasil dengan cara yang hampir menghancurkan mental anggota Guild sendiri.

__ADS_1


__ADS_2