The Rise Of The Mythical Warlords: Menaklukkan Dunia Baru Dengan Kastil SSR.

The Rise Of The Mythical Warlords: Menaklukkan Dunia Baru Dengan Kastil SSR.
CH-9


__ADS_3

Berjalan keluar dari kastilnya, Dei melangkah dengan mantap menuju kamp pasukannya. Hari itu merupakan hari kedua bagi Dei dan banyak orang lain di dunia ini, dan Dei berencana untuk membuat pasukan baru.


Setelah beberapa saat berjalan, Dei tiba di depan patung yang menjadi simbol kekuasaannya. Dengan tegas, Dei meminta sistem untuk memberinya kesempatan untuk menciptakan pasukan baru pada hari itu.


"System, buatkan pasukan."


[Ding! Kesempatan untuk membuat pasukan hari ini 1*! Apakah Anda akan menggunakannya, Tuan? Y/N]


"Ya." Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, seperti biasa, cahaya putih yang menyilaukan muncul di belakang patung. Namun, kali ini ada beberapa cahaya dengan warna emas yang juga ikut muncul.


Ketika semua cahaya tersebut mereda, tiba-tiba muncullah 100 pria ras iblis. Dei tidak membuang waktu untuk berlama-lama, ia segera mendekati salah satu pria iblis yang memancarkan cahaya emas, dan memeriksa kemampuan yang dimilikinya.


Setiap pria iblis itu memiliki penampilan yang tangguh dan perkasa. Mereka memancarkan aura kekuatan yang mempesona, menandakan bahwa mereka adalah pasukan elit yang baru saja diciptakan. Dei merasa bangga dan senang melihat pasukan barunya yang memiliki kemampuan yang luar biasa.


Dei tersenyum puas melihat hasil pemeriksaan. Pasukannya yang baru terbentuk ini merupakan kekuatan yang tak terhentikan. Dengan keahlian dan kekuatan yang dimiliki oleh setiap anggota pasukan, Dei yakin bahwa mereka akan menjadi tentara yang menakutkan bagi musuh-musuhnya.


Glen, seorang Iblis yang memiliki kemampuan sebagai Grandmaster of Blacksmith, adalah tambahan yang luar biasa bagi pasukan Dei. Kemampuan penempa yang sangat kuat ini memungkinkan Glen untuk menciptakan artefak suci dan melatih iblis lain menjadi penempa.


Dei merasa terkejut dengan kehadiran Glen. Dia menyadari bahwa dalam dunia ini, profesi dibagi menjadi beberapa tingkatan, seperti Newbie, Beginner, Master, dan Grandmaster. Setiap tingkatan tersebut semakin sulit dan langka untuk ditemukan. Kini, Dei telah mendapatkan seorang penempa tingkat Grandmaster, yang akan membantu pasukannya memiliki armor yang kuat. Namun, ada satu masalah yang harus diatasi oleh Dei: kekurangan biji besi dan tungku peleburan.


Dei menyadari bahwa untuk memanfaatkan sepenuhnya kemampuan penempa yang dimiliki oleh Glen, mereka membutuhkan pasokan biji besi yang cukup.

__ADS_1


Glen, dengan semangat yang menyala, menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan Dei. Dia siap melayani dan menempa apa pun yang dibutuhkan oleh Dei.


Namun, Dei menyadari bahwa untuk memanfaatkan kemampuan penempa yang dimiliki oleh Glen secara optimal, mereka membutuhkan workshop penempaan yang sesuai. Tapi sayangnya Dei belum memiliki cetak biru workshop.


Cetak biru adalah panduan yang berisi rincian teknis dan instruksi untuk membangun berbagai bangunan. Di dunia ini, para Lord menggunakan cetak biru ini untuk memperkuat wilayah mereka dengan membangun berbagai bangunan pertahanan, bangunan khusus, dan bahkan bangunan keseharian yang dapat meningkatkan kehidupan sehari-hari penduduk.


Dei merasa bahwa workshop penempaan adalah salah satu bangunan keseharian yang sangat penting bagi pasukannya.


"kalian buat lah rumah kalian dan beberapa ikuti aku "perintah Dei pada iblis pria yang baru diciptakan.


setelah memerintahkan bawahan yang baru dia ciptakan Dei kemudian berjalan menuju kearah sungai , dari kejauhan tampak para wanita ras iblis yang berenang menangkap ikan jujur mereka melakukan hal itu dengan sangat baik yang membuat heran Dei.


Dalam perjalanannya menuju sungai, Dei tidak bisa menahan rasa kagumnya melihat keahlian para wanita ras iblis dalam menangkap ikan. Mereka berenang dengan gesit dan tangkas, mengikuti gerakan air dengan sempurna, dan dengan cekatan menangkap ikan-ikan yang berlarian di sungai.


"Kalian, bangunlah rumah-rumah kalian dan bagi ikan-ikan ini kepada semua orang, serta sisakan juga untuk saudara-saudara kalian yang sedang aku tugaskan," perintah Dei kepada para pria ras iblis yang baru saja diciptakannya.


Dengan penuh semangat, para pria ras iblis segera melaksanakan perintah Dei. Mereka membangun rumah-rumah sederhana untuk melindungi diri mereka dari cuaca dan menjaga kehangatan keluarga.


"Kalian, bakar ikan ini dan bagikan kepada semua, serta sisakan porsi untuk saudara-saudara kalian yang sedang aku tugaskan," perintah Dei kepada para pria ras iblis yang berada di belakangnya.


Sementara itu, ikan-ikan yang berhasil ditangkap oleh para wanita ras iblis dibakar dengan api yang berkobar di sekitar kastil.Bau sedap dari ikan bakar itu pun mulai tercium di udara.

__ADS_1


Tiba-tiba, suara yang indah terdengar di telinga Dei, mengalun mempesona ke dalam keheningan. Dei segera membalikkan tubuhnya, dan di hadapannya berdiri Artemis dengan baju baru yang menawan, tampaknya ia telah berganti pakaian tanpa sepengetahuannya.


"Artemis, sejak kapan kau keluar?" tanya Dei, terkejut dengan kedatangan mendadak Artemis.


"Dari tadi, tuan. Saya merasa ingin membantu dan melihat apa yang sedang terjadi," jawab Artemis dengan senyuman manisnya.


Namun pandangan Dei saat ini teralihkan.


Dei memandang kelompok pria iblis yang baru datang dengan penuh kekaguman. Mereka tampak tangguh dan bersemangat setelah berhasil menaklukkan suku Manusia Serigala. Di belakang kelompok Arioch, terlihat satu kelompok lain yang membawa barang bawaan dan bahkan sebuah kereta yang ditarik oleh badak raksasa. Kejutan semakin bertambah.


"Arioch, siapa mereka?" tanya Dei dengan rasa ingin tahu yang membara.


"Lapor, tuan. Bawahan telah berhasil menaklukkan suku Manusia Serigala. Mereka adalah orang-orang serigala yang akhirnya menyerah kepada kami," jawab Arioch dengan bangga, seolah-olah merasa kepuasan yang besar atas keberhasilannya.


'Tunggu, jikalau Arioch menaklukkan suku serigala ini, pasti akan membunuh,' batin Dei kebingungan. Ia merasa heran mengapa tidak mendapatkan pemberitahuan dari sistem seperti biasanya. Dengan perasaan bingung, Dei memeriksa riwayat sistem miliknya, namun tetap tidak menemukan perubahan apa pun.


"Hamba menaklukkan mereka tanpa korban jiwa, tuan. Ketika hamba menyerang mereka, mereka sudah menyerah," ucap Arioch dengan tegas, memberikan penjelasan yang membuat Dei memahami apa yang mungkin terjadi.


Perasaan kepercayaan dan kebanggaan terhadap pasukannya semakin menguat dalam diri Dei.


"Bagus, Arioch. Kalian telah menunjukkan sikap bijaksana dan keberanian dalam menyelesaikan tugas ini. Aku bangga memiliki pasukan sepertimu," ucap Dei dengan penuh penghargaan.

__ADS_1


Arioch dan anggota pasukan lainnya merasa terharu mendengar pujian dari Dei. Mereka merasa dihargai dan diakui atas usaha mereka untuk menyelesaikan tugas dengan cara yang lebih Demonisiasi.


__ADS_2