
Di ruang bawah tanah yang gelap gulita, keheningan dipecah oleh bau busuk yang merayap ke setiap sudut. Para prajurit dengan armor perak berjaga di gerbang besi, wajah mereka mencerminkan ketidakpuasan dan kepenatan. Setiap langkah mereka menghasilkan dentingan berat yang menggema di seluruh ruang bawah tanah yang terasa terkekang.
Ruang bawah tanah ini dipenuhi dengan sel-sel penjara yang menyedihkan. Sel-sel berukuran kecil, hanya 4x4 meter, dipenuhi oleh enam hingga tujuh kurcaci pria. Postur tubuh mereka yang pendek semakin terasa tidak nyaman dalam ruang yang terasa sempit dan pengap. Sirkulasi udara yang buruk membuat napas mereka terasa berat, dan mereka terpaksa hidup dalam kondisi yang menyedihkan ini.
Tapi di balik kesedihan dan keterbatasan yang mereka hadapi, api keberanian masih berkobar dalam hati para kurcaci. Meski terkurung dalam sel, semangat mereka tak terpadamkan. Mereka saling menguatkan satu sama lain, menemukan harapan dalam kegelapan yang melingkupi mereka. Meskipun ruang bawah tanah ini mencekam, namun ada kehidupan yang tak bisa dipadamkan oleh kekejaman dan penindasan.
Di antara kegelapan dan bau yang memenuhi ruang bawah tanah, terdapat seorang kurcaci yang berbeda dari yang lain. Kaki dan tangan kurcaci tersebut terpasak ke tembok, dan darah segar masih mengalir dari luka-lukanya, bercampur dengan darah kering yang mengotori janggut peraknya. Meskipun dalam kondisi yang mengerikan, dia tetap memancarkan aura keberanian.
"Dengarkan aku," suara kurcaci dengan janggut perak itu terdengar lantang.
__ADS_1
"Kalian tidak perlu terlalu khawatir. Saya meyakinkan kalian bahwa kalian akan bisa keluar dari sini."
Mata mereka yang tertuju pada kurcaci yang sedang dipasak itu penuh dengan harapan dan ketakutan.
"Tujuan mereka hanyalah saya. Setelah eksekusi saya, kalian pergilah menuju tempat di mana kakak saya diasingkan dan sampaikan permintaan maaf saya padanya."
"Ada satu peringatan lagi, jangan membawa Artefak suku kita. Itulah yang mereka cari." Setelah mengucapkan itu, kurcaci dengan janggut perak itu terdiam, dan tak lama kemudian terdengar suara gemuruh dari gerbang yang terbuka dan besi yang bergesekan.
Di ujung gerbang, sekelompok pria dengan zirah perak mendekati kurcaci yang sedang dipasak. Saat mereka sampai di hadapan kurcaci itu, mereka melepaskan paku besi yang menempel pada tangan dan kakinya, kemudian menyeretnya keluar dari sel tersebut.
__ADS_1
Para kurcaci yang tersisa hanya bisa mengepalkan tangan mereka dan menatap sekelompok pria dengan baju zirah itu dengan tatapan penuh kebencian. Dalam matanya terpancar api kemarahan yang tidak dapat dipadamkan, serta tekad yang tak tergoyahkan meskipun mereka berada dalam situasi yang terjepit.
Pria-pria berzirah perak itu merasakan tekanan dari tatapan-tatapan penuh kebencian tersebut, namun mereka tetap berdiri dengan tegar. Mereka tahu bahwa pertempuran ini belum berakhir, dan keberanian kurcaci tidak boleh dianggap enteng. Terdengar bisikan-bisikan perlawanan yang memenuhi udara, mengisyaratkan bahwa kurcaci-kurcaci yang tersisa tak akan menyerah begitu saja.
Pada akhirnya, kurcaci dengan janggut perak itu diseret keluar menuju suatu tempat yang belum diketahui. Di pandangannya yang kabur, tampak sebuah panggung kayu dengan dua orang pria berzirah perak yang memegang pedang. Hati kurcaci itu berdegup kencang, menatap masa depannya yang penuh dengan ketidakpastian.
Dengan langkah yang tergopoh-gopoh, dia ditarik perlahan oleh sekelompok pria berzirah perak yang mengawalnya dari belakang. Rasakan saja seiring langkah-langkahnya yang berat, setiap goyangan tubuhnya dipenuhi rasa sakit yang menusuk.
Setelah mereka tiba di platform eksekusi, pandangannya menyapu lautan manusia yang ramai. Orang-orang berkumpul di sekelilingnya, memperhatikan dengan wajah-wajah yang penuh antusiasme, kegembiraan, dan juga sadisme. Kurcaci itu merasa seakan berada di tengah sorotan terang yang menerpa dirinya, menampakkan kelemahan dan keputusasaan dalam keadaan yang paling rentan.
__ADS_1