The Rise Of The Mythical Warlords: Menaklukkan Dunia Baru Dengan Kastil SSR.

The Rise Of The Mythical Warlords: Menaklukkan Dunia Baru Dengan Kastil SSR.
CH-3 .


__ADS_3

Sementara itu, di suatu tempat yang penuh dengan pepohonan lebat, terlihat beberapa sosok siluet yang sedang berlarian mengejar sesuatu. Mereka bergerak dengan cepat dan penuh tekad.


"Kita harus menangkapnya! Daya jualnya sangat tinggi," ucap salah seorang pria berjubah dengan suara tegas dan penuh keinginan.


"Baik, ketua," jawab anggota tim dengan suara penuh ketaatan.


Mereka melanjutkan perburuan dengan hati yang penuh semangat. Keberanian dan tekad mereka terpancar dari setiap langkah yang mereka ambil.


"Laksanakan! Ini adalah tugas yang luar biasa. Lihatlah, dia ada di depan kita. Mungkin kita bisa mencicipinya terlebih dahulu, tuan," ucap pria berjubah lainnya dengan senyum jahat di wajahnya.


Sementara itu, di depan mereka, terdapat seorang wanita yang mempesona dengan rambut hitam panjang yang terurai indah. Meskipun penampilannya tak berbeda dengan yang lain, jika diperhatikan dengan seksama, terlihatlah beberapa luka di tubuh putihnya. Namun, yang paling mencolok adalah telinganya yang runcing di ujungnya, menambah sentuhan misteri pada sosoknya.


"Bajingan! Lebih baik aku mengakhiri hidupku daripada kehilangan kesucianku oleh makhluk kotor sepertimu!" ucap wanita itu dengan suara penuh kemarahan dan keputusasaan.


Pria berjubah, yang kemungkinan adalah pemimpin dari kesepuluh pria berjubah lainnya, hanya tertawa dengan penuh kekejaman. "Hahaha... semakin kau melawan, semakin kami merasa senang, nona," ucapnya dengan nada yang merendahkan.


"Baiklah, nona, sekarang nikmati saja takdirmu," ucap salah satu pria berjubah dengan senyum jahat di wajahnya.


Namun, tak disadari oleh mereka, di langit berbintang, ada satu siulet yang melihat mereka dengan tatapan yang lapar, seolah melihat mangsa yang sempurna.

__ADS_1


"Tangkap dia, Rion!" perintah pemimpin pria berjubah dengan suara yang menggelegar, menekankan urgensi tugas itu kepada seorang pria bernama Rion.


Rion menatap wanita itu dengan tatapan mesum . Dalam dirinya terpancar tekad yang membara untuk melaksanakan tugas berat ini dengan sempurna. Ia melangkah maju, langkahnya tegap dan mantap, mendekati wanita yang telah kehilangan harapan.


"Baik pak," jawab Rion dengan suara yang penuh keyakinan. Ia menjangkau tangan wanita itu.


Namun, sebelum tangan Rion dapat menyentuh kulit putih wanita itu, tubuhnya tiba-tiba berhenti bergerak. Sekejap kemudian, ledakan dahsyat mengguncang tempat itu, memercikkan tetesan darah merah ke segala penjuru.


Scar, pemimpin pria berjubah, terkejut dan murka. "Sial! Siapa yang berani membunuh orangku, Scar!" serunya dengan penuh kemarahan.


Di tengah kekacauan itu, sesosok pria yang memiliki sayap dan tubuh kekar nan tinggi tiba-tiba muncul di hadapan wanita cantik yang mungkin sudah pingsan karena kehilangan darah yang berlebihan. Wajahnya dipenuhi dengan ekspresi ketegasan dan tekad yang membara.


Mendengar kata-kata itu, amarah kelompok berjubah semakin memuncak. Mereka merasa terhina dan terancam oleh sikap angkuh pria bersayap tersebut.


"Hahahaha! Gaya bicaramu mengundang simpatiku, tetapi akulah yang akan menyantapmu, manusia burung, dan wanita di belakangmu... hahahaha!" ejek pemimpin kelompok berjubah dengan gurauan jahat.


Namun, setelah mengucapkan kata-kata tersebut, pria berjubah tiba-tiba merasakan rasa sakit menusuk tubuhnya. Tanpa peringatan, ledakan dahsyat terjadi, menghancurkan tubuhnya dan menyebarkan genangan darah dengan cepat—proses yang begitu kilat, bahkan lebih cepat dari kedipan mata.


"Monster! Dia adalah monster!" teriak salah satu pria dari kelompok berjubah itu, ketakutan yang melanda dirinya. Ia segera berlari ke arah hutan yang lebat, berharap dapat melarikan diri. Namun, di atas kepalanya terlihat bola berwarna merah darah yang mengikuti jejaknya. Tanpa aba-aba, hujan darah kembali turun untuk ketiga kalinya, menghujam tanah dengan keganasan.

__ADS_1


Sementara itu, di dalam ruangan yang luas dan megah di dalam kastil, Dei duduk di aula yang tenang, memantau percakapan global yang terus mengalir. Tiba-tiba, perhatiannya teralihkan oleh notifikasi yang tiba-tiba muncul di layar dari sistem yang memantau para bawahannya.


[Ding! Bawahan Anda, Armaros, telah berhasil membunuh Prajurit manusia Tier 3. Selamat, Anda memperoleh 100% EXP.]


[Ding! Bawahan Anda, Armaros, telah berhasil membunuh Prajurit manusia Tier 4. Selamat, Anda memperoleh 100% EXP.]


[Ding…]


[Ding…]


[Selamat anda naik level +1]


[Selamat …]


[Selamat ...]


Tanpa banyak ragu, Dei dengan cepat menyimpulkan bahwa keberhasilan Armaros dalam membunuh beberapa manusia adalah penyebab dari notifikasi ini. Meskipun dia tahu bahwa akan lebih baik menanyakan situasi secara langsung kepada Armaros setelah ia kembali, Dei tidak dapat menahan rasa kagumnya terhadap kontribusi yang dibawa oleh seorang bawahan yang begitu kuat. Pikirannya mulai melayang ke manfaat yang diperolehnya dari segi pengalaman dan pertumbuhan yang diperoleh dengan berhasilnya bawahannya dalam pertempuran.


Tidak ada keraguan lagi, Dei mengerti bahwa memiliki bawahan yang tangguh di awal perjalanan ini memberinya keuntungan besar di masa depan. Dia merenungkan bagaimana dia bisa memanfaatkan keterampilan dan kekuatan bawahannya untuk mencapai tujuannya yang lebih besar.

__ADS_1


__ADS_2