
Dalam ruangan yang dipenuhi oleh suasana yang tenang, sebuah ranjang besar berdiri dengan anggun di tengah ruangan. Ranjang itu didekorasi dengan ukiran-ukiran abstrak keemasan yang menambah keindahan dan kemewahan pada ranjang tersebut. Di atas ranjang itu, seorang wanita cantik terbaring dengan lembut, tubuhnya tertutup oleh selimut putih bersih yang memberikan kesan kemurnian dan kesejukan.
"Umm... Di mana aku berada? Apakah ini surga? Tapi jika ini surga, seharusnya aku sudah bertemu dengan mereka. Lalu, di mana sebenarnya aku berada?" gumam wanita cantik itu sambil bangkit dari ranjangnya.
Setelah berdiri, dia melihat-lihat dengan penuh kagum ke seluruh ruangan. Keseluruhan ruangan yang dia tempati begitu menakjubkan, melebihi keindahan arsitektur bangsa ELF, bangsa asalnya. Setiap detail dalam ruangan tersebut terpancar dengan keanggunan dan kemewahan yang memukau.
"Tempat ini luar biasa! Dekorasinya bahkan lebih memukau daripada kamar lamaku," ucap wanita cantik itu, terpesona oleh keindahan ruangan tersebut. Namun, tanpa disadarinya, di sebelah kanan ranjangnya terdapat sebuah baskom berisi air kotor yang mengganggu keseluruhan keindahan ruangan.
Saat melihat lukanya dan melihat tubuhnya yang penuh dengan lebam, wanita cantik itu merasa putus asa. Pikirannya melayang kepada kemungkinan bahwa dirinya sudah dijual kepada bangsawan manusia, dijadikan boneka hidup tanpa ampun. Rasa putus asa itu memicu keinginannya untuk mengakhiri hidupnya, dan ia mulai mencari-cari alat yang bisa digunakan untuk mengakhiri penderitaannya.
Namun, saat ia sedang mencari alat untuk mengakhiri hidupnya, tanpa sengaja ia memandang keluar jendela. Terbuka di hadapannya adalah sebuah balkon yang menghadap ke pegunungan yang membentang tak terhingga. Wanita itu merasa terkejut bukan hanya karena keindahan pemandangan itu, tetapi juga karena ia mengenali tempat itu sebagai Three Mountains of Death, yang seharusnya dipenuhi oleh ketakutan dan bahaya yang mematikan. Namun, di tempat ini ada bangunan yang menakjubkan.
"Apakah ini mungkin hanya sebuah mimpi? Bagaimana bisa ada bangunan di Three Mountains of Death?" ucap wanita itu dengan rasa kagum yang tak terucapkan, sambil melangkah perlahan menuju balkon. Namun, ketika ia tiba di sana, kejutan lain menanti. Ia melihat sebuah benteng hitam yang menjaga daerah padang rumput dengan kokoh dan teguh.
"Sungguh luar biasa! Bagaimana mungkin padang rumput elf terdapat sebuah bangunan yang menakjubkan seperti ini?" ucap wanita itu sambil merenung, terpesona oleh transformasi yang tak terduga. Ia berusaha memahami siapa yang bisa menciptakan perubahan seperti ini di wilayah netral yang menjadi batas antara keempat kekaisaran.
Namun, ketika ia masih terperangah oleh pemandangan yang menakjubkan itu, pintu tiba-tiba terbuka dengan suara yang jelas terdengar. Di hadapan matanya, muncul seorang pria dengan pakaian aneh yang memancarkan aura misterius. Rambut keperakan sedikit warna emas di ujung rambutnya menambah daya tariknya, dan tampangnya yang tampan melengkapi kesempurnaan penampilannya. Sementara itu, cahaya matahari yang baru terbit memancar dengan gemerlap, menerangi seluruh dunia di sekitarnya.
...----------------...
Flashback
__ADS_1
Beberapa saat sebelumnya, Dei duduk di takhta istananya ketika tiba-tiba tirai darah muncul, membangkitkan keheranan dan keresahan dalam dirinya. Kemudian, sosok yang begitu dikenal muncul di hadapannya—Armaros. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Armaros membawa beberapa peti hitam dan besi yang terlihat misterius, sementara di sisinya, seorang wanita mengenakan gaun putih kemerahan dengan luka-luka di tubuhnya, menandakan bahwa ia telah mengalami pengalaman yang tidak menyenangkan.
"Tuanku,hamba datang untuk menghadap," ucap Armaros dengan hormat.
"Baiklah, Armaros. Sebelum kau menjelaskan tentang tugasmu, beritahuku bagaimana kau bisa mendapatkan makhluk itu," ucap Dei sambil menunjuk ke arah wanita yang masih pingsan di aula kastil dengan banyak luka dan darah yang telah mengering.
"Tuan, saya menemukannya di hutan sebelah barat daya. Dia sedang dikejar oleh sekelompok orang berjubah dengan logo aneh di seragam mereka. Hal itu membuat saya curiga, jadi saya memutuskan untuk menyelamatkannya dan mempersembahkannya kepada Anda," ucap Armaros sembari mengeluarkan pedang hitam besar yang tampak misterius. Ia kemudian melangkah menuju wanita yang masih pingsan di aula.
"Tunggu! Apa yang akan kau lakukan? Hentikan segera!" seru Dei, khawatir dengan tindakan Armaros.
"Baik, tuanku," jawab Armaros patuh.
"Baiklah, sekarang bawa dia ke salah satu kamar di kastil ini!" perintah Dei pada Armaros.
"Apa hal yang penting? Jika iya, bicaralah," pinta Dei.
"Baik, tuanku. Di sebelah timur wilayah kita, terdapat satu kota elf yang cukup besar dengan pemimpin mereka berada di tier 5. Selain itu, aku juga berhasil mendapatkan beberapa peti harta setelah membasmi hama yang masuk tanpa izin di wilayah Anda," ucap Armaros sambil menyerahkan tiga peti harta, dua peti besi dan satu peti hitam yang terbuat dari bahan yang tidak diketahui.
"Kerja bagus, Armaros. Baiklah, sekarang bawa wanita itu!" perintah Dei.
Beberapa saat setelah Armaros keluar dari ruangan, muncul sosok lain yang tak lain adalah Arioch. Ia telah menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Dei, yaitu membangun kamp pasukan.
__ADS_1
"Lapor, tuan. Camp pasukan telah dibangun. Apakah Anda akan mengunjunginya?" tanya Arioch.
"Nanti saja. Aku penasaran terhadap seseorang," ucap Dei seraya turun dari tahta dan berjalan keluar dari aula, ditemani oleh Arioch.
Tak terasa mereka tiba di depan ruangan tempat wanita tersebut diselamatkan oleh Armaros. "Arioch, kau menjaga di sini. Aku akan masuk!" perintah Dei.
"Baik, tuan," jawab Arioch.
Pintu pun terbuka dan Dei melihat wanita itu terbaring di atas ranjang putih yang besar. "Arioch, tolong bawakan air dalam baskom atau yang sejenisnya, serta kain bersih!" perintah Dei.
"Baik tuanku,akan hamba laksanakan "ucap Arioch, dan dengan cepat ia menghilang seperti menyatu dengan kegelapan malam.
tap…tap…tap
Dei mendekati wanita tersebut cukup terpesona dengan kecantikannya. Wajahnya yang anggun, rambut hitam yang mengalir, dan telinga runcing yang menambah pesonanya. Dei merasakan dirinya terhanyut dalam keindahan wanita itu, terpikat oleh setiap detilnya.
Namun, lamunan Dei terganggu oleh ketukan di pintu yang membuatnya terkejut. Dia mengalihkan pandangannya
"Tuan, air sudah siap," ucap Arioch.
"Masuklah, Arioch," Dei menyuruh.
__ADS_1
Dengan penuh perhatian, Dei membersihkan wajah wanita itu dengan lembut menggunakan kain basah. Setetes air jatuh ke kulit wanita tersebut, menyegarkan dan menghidupkan wajahnya yang pucat. Dei merasa tanggung jawabnya untuk melindungi dan merawat wanita ini semakin memuncak.
Sementara itu, Armaros tetap diam memperhatikan adegan tersebut dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu. Ada kegelisahan yang terpancar dari matanya, seolah ada sesuatu yang mengganggunya dalam kehadiran wanita ini.