
"Kau sudah sadar?" tanya Dei dengan suara lembut pada wanita itu.
Wanita yang masih sedikit bingung menatap Dei. "Siapa kau?" tanyanya dengan ragu.
Dei tersenyum, tetapi terlihat ada sentuhan kekhawatiran di matanya. "Aku Dei, penguasa kastil ini. Kamu diselamatkan oleh bawahanku."
Artemis mengangguk pelan, mencoba memproses informasi yang baru saja dia terima. "Terima kasih atas penyelamatanmu, Tuan Dei. Namaku Artemis, tapi nama keluargaku harus tetap menjadi rahasia."
Dei mengangguk mengerti. "Aku menghormati privasimu, Artemis. Kami berada dalam dunia yang penuh dengan misteri dan bahaya. "
"uh... Tuan Dei, apakah Anda manusia atau memiliki ras yang sama seperti rasku, ras Elf?" tanya Artemis dengan rasa ingin tahu yang kentara di wajahnya.
Dei menatap Artemis dengan pandangan tajam. "Apakah setiap wanita dari ras Elf seperti kamu langsung menanyakan ras orang yang menyelamatkannya tanpa berterimakasih terlebih dahulu?" balas Dei dengan nada sedikit sinis.
Artemis merasa malu dan segera meminta maaf dengan canggung. "Maafkan ketidakkesopanananku, dan terima kasih telah menyelamatkanku," ucapnya sambil merahasiakan wajahnya yang memerah.
Dei tersenyum kecil. "Tidak perlu meminta maaf, Artemis. Aku hanya bercanda. "
Dei berjalan menuju balkon, melihat pemandangan alam yang indah di hadapannya, dengan bunga-bunga yang sedang bermekaran.
"Tuan Dei, bolehkah aku tinggal di sini untuk sementara waktu?" tanya Artemis dengan harap di matanya..
Dei berpikir sejenak, melihat
__ADS_1
Sementara itu, Dei berpikir panjang apakah akan menerima Artemis untuk tinggal di kastilnya atau mengusirnya pergi. Setelah mempertimbangkan beberapa hal, Dei akhirnya memutuskan untuk menerima Artemis karena melihat beberapa keuntungan yang bisa didapatkannya. Artemis sebagai penduduk asli dunia ini dapat memberikan informasi yang berharga kepada Dei tentang dunia tersebut dengan cepat dan efisien.
"Baiklah, kau boleh menetap di sini. Namun, ada beberapa ruangan yang tidak boleh kau masuki. Nanti bawahan-bawahan ku akan menjelaskannya lebih detail padamu," kata Dei dengan tegas.
Artemis mengangguk dan berterima kasih pada Dei. "Terima kasih, Tuan Dei," jawabnya dengan sopan.
Dei menatap Artemis dengan serius. "Sama-sama. Namun, perlu kau ingat, jika kau melakukan hal-hal yang mencurigakan, aku tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas," ucap Dei sambil berbalik dan meninggalkan ruangan.
Artemis mengangguk dan berterima kasih pada Dei. "Terima kasih, Tuan Dei," jawabnya dengan sopan.
Dei menatap Artemis dengan serius. "Sama-sama. Namun, perlu kau ingat, jika kau melakukan hal-hal yang mencurigakan, aku tidak akan ragu untuk mengambil tindakan tegas," ucap Dei sambil berbalik dan meninggalkan ruangan.
Artemis merasa sedikit tegang mendengar peringatan Dei, tetapi dia juga merasa terharu karena Dei memberikan kesempatan kepadanya.
"Sialnya, apa sebenarnya dia? Tidak mungkin dia manusia, dan juga tidak mungkin dia naga. *Ah, betapa malangnya nasibku. Dari mulut harimau aku dilepas, kini aku masuk ke mulut naga," gumam Artemis dengan kegelisahan.
"Tapi jika dipikir-pikir, tempat ini cukup aman bagiku. Aku tidak perlu berpindah-pindah lagi, dan mungkin aku bisa membalas dendam jika aku menjadi bawahan orang itu," tambah Artemis. Jika Dei ada di sini, dia pasti akan berpikir bahwa Artemis terlalu naif.
Di ruangan lain, Dei duduk di singgasana sambil Armaros berlutut di hadapannya.
"Armaros, bagaimana dengan keamanan wilayah?" tanya Dei pada Armaros, menunjukkan kekhawatirannya.
"Yang mulia, saya telah melakukan peninjauan menyeluruh di seluruh wilayah kita, dan semuanya aman terkendali. Namun, di daerah pegunungan terdapat 5 ekor kadal besar yang dapat kita manfaatkan untuk menambah kekuatan tempur kita, Tuan," jawab Armaros sambil memberikan laporan mengenai keadaan wilayah yang kini dikuasai oleh Dei.
__ADS_1
"Bagus, Armaros. Lalu, untuk kelima kadal yang kau sebutkan, sejauh mana tingkat kekuatan mereka?" tanya Dei dengan ketertarikan.
"Lapor, Tuan. Mereka semua berada di Tier 5. Namun, dengan kekuatan saya sendiri, saya yakin saya mampu menaklukkan mereka, Tuan," jawab Armaros dengan percaya diri.
Dei mengangguk puas mendengar laporan itu. Dia merasa lebih tenang mengetahui bahwa wilayahnya aman terkendali dan memiliki potensi tambahan kekuatan dalam bentuk kadal-kadal besar tersebut.
"Bagus, Armaros. Lalu, untuk kelima kadal yang kau sebutkan, sejauh mana tingkat kekuatan mereka?" tanya Dei dengan ketertarikan.
"Lapor, Tuan. Mereka semua berada di Tier 5. Namun, dengan kekuatan saya sendiri, saya yakin saya mampu menaklukkan mereka, Tuan," jawab Armaros dengan percaya diri.
Dei mengangguk puas mendengar laporan itu. Dia merasa lebih tenang mengetahui bahwa wilayahnya aman terkendali dan memiliki potensi tambahan kekuatan dalam bentuk kadal-kadal besar tersebut.
"Armaros, pastikan kamu mempersiapkan strategi yang tepat untuk menghadapi kadal-kadal itu. Kekuatan mereka bisa menjadi aset berharga bagi kita jika dapat dikendalikan dengan baik," perintah Dei dengan tegas.
Armaros mengangguk seraya menjanjikan akan melaksanakan perintah itu dengan sebaik-baiknya.Dirinya bertekad untuk menjaga keamanan wilayah
Merasa bosan, Dei akhirnya turun dari singgasana dan berjalan keluar. Namun, begitu ia keluar, ia disambut oleh seorang wanita ras iblis yang melaporkan bahwa tugasnya telah selesai.
"Lapor, Yang Mulia. Kami telah berhasil memancing dan mendapatkan cukup banyak ikan," ucap wanita ras iblis itu dengan bangga, ekornya terus bergoyang dengan penuh kegembiraan.
"Baiklah, aku akan pergi untuk melihatnya. Selain itu, kita juga bisa menciptakan teman baru bagi kalian," jawab Dei dengan santai.
Dei kemudian mengikuti wanita ras iblis tersebut menuju tempat mereka memancing. Di tepi danau yang tenang, terhampar berbagai macam ikan yang berhasil mereka tangkap. Warna-warni ikan tersebut memberikan keindahan tersendiri bagi pemandangan.
__ADS_1