
Terbangun dari mimpinya yang aneh, Dei kini diam dan mencerna mimpinya perasaan yang sama saat mengalami lucid dream dikehidupannya dulu, namun perasaan itu sangat amat nyata yang membuat bingung Dei.
Kini yang lebih membuat Dei bingung adalah mengapa Artemis tidur dipundaknya , jujur pundaknya pegal ditambah sedikit kesemutan ,menyampingkan hal itu Dei akhirnya melihat kearah matahari yang kini akan tenggelam Mengalihkan pandangan nya Dei saat ini melihat Artemis yang kini masih tertidur dipundak kanannya.
'Sungguh takdir mempermainkanku 'batin Dei. dibarengi tangan Dei yang bergerak menuju kesaku kiri celananya dan mengambil sebuah Foto ,difoto itu terlihat Dei yang mengenakan baju militer nya dengan seorang wanita yang menggunakan baju biasa ,difoto itu Dei dan wanita itu tersenyum bahagia namun ditengah lamunannya tiba-tiba terdengar sebuah suara yang mengejutkannya.
"wanita yang cantik …apakah dia istrimu ?"tanya Artemis yang sebenarnya masih ada kalimat yang belum dia ucapkan karena takut menyinggung.
'mengapa dia mirip dengan ku?' batin Artemis
"Ya dia istriku "jawab Dei .
"ngomong-ngomong jikalau kalian berdua dipertemukan mungkin orang akan mengira kalian ini saudara kembar "ucap Dei.
"hahaha…mungkin ayah ku akan bingung siapa putrinya "jawab Artemis akan tetapi ada kesedihan dalam nadanya.
"lalu dimana dia ?"Tanya Artemis sembari menjaga jarak dari Dei , tidaklah pantas seorang gadis mendekati seorang pria yang sudah menikah bukan.
__ADS_1
"mati" jawab Dei singkat dan sangat jelas terdengar .
mendengar jawaban Dei , Artemis pun merasa tidak enak karena dia tahu ditinggalkan orang yang terkasih sangatlah menyakitkan namun pria disebelahnya seakan tidak peduli.
"…Bagaimana kau bisa berkata lagsung seperti itu apakah kau tidak men-"sebelum dapat menyelesaikan kalimatnya telah terlebih dahulu dipotong oleh Dei.
"apakah aku tidak mencintai nya … pasti aku mencintainya ,aku tidak tahu kau pernah kehilangan seseorang yang penting dalam hidup mu atau tidak "
"setelah kehilangannya dunia ku seakan jatuh kedalam kegelapan "
"namun aku mencoba untuk keluar dari kegelapan itu akan tetapi selalu gagal "
"Apakah kau tidak dapat melupakannya"jawab Artemis.
"ya … itu benar maka dari itu aku tetap berada dalam kegelapan "
"apakah kau menerima takdir atau semacamnya?" tanya Artemis kebingungan.
__ADS_1
"Hahahahaha banyak orang lupa … Jika tidak ada kegelapan maka bintang-bintang tidak akan pernah bersinar terang"jawab Dei sembari mendongak keatas dan kebetulan saat ini matahari sudah tenggelam menatap langit berbintang indah yang sangat jarang dijumpai didunianya dulu.
"Yah kau benar … Terimakasih akan ku ingat kata-kata mu hari ini"teriak Artemis yang membuat Dei terkejut begitu pula dengan dua penonton setia dibelakang Dei oh tidak lebih tepatnya empat.
"Permisi Yang mulia "disaat masih terkejut kini Dei dikejut kan lagi oleh suara pria yang kurang familiar .
Menenangkan jantungnya yang terus menerus berdetak kencang mungkin jika dia masih ditubuh fana Dei mungkin akan mengalami gagal jantung , setelah dirasa cukup baik Dei pun membalikan badan untuk melihat siapa yang berani mengejutkannya secara beruntun , yah sosok didepan nya ini cukup familiar dan berkesan baginya bagaimana tidak sosok didepannya adalah Viltarin yang dari awal pertemuan mereka dia ini selalu gemetar tanpa sebab yang membuat heran Dei .
"Oh ternyata kau Viltarin, apakah tugas yang kuberikan sudah selesai"tanya Dei pada Viltarin .
"kami sudah menyelesaikan tugas yang anda berikan yang mulia "Jawab Viltarin.
"Bagus lalu bagikan hasil buruan kalian dan jika masih ada sisa taruh saja digudang kastil!."Perintah Dei pada Viltarin .
"Baik yang mulia tapi ada sesuatu yang ingin hamba bicarakan dengan anda Tuanku"Jawab Viltarin yang kemudian entah dari mana datangnya Lycan bersama dengan seorang pria Tampan berambut hitam dan tubuh yang Sedikit atletis namun pria yang dibawa Lycan ini hanya memiliki beberapa helai kain saja ditubuhnya yang ia gunakan untuk menutupi aset penting miliknya.
"Siapa pria itu?"
__ADS_1
"Yang mulia Dia ini kami temukan bersama dengan kelompoknya pada saat kami berburu tuan"jawab Viltarin yang sebelumnya telah memerintahkan Lycan untuk membawa pria itu.