
Di tavern yang sudah mulai sepi nampak kurcaci wanita yang tengah melayani pelanggan.
"Terimakasih,datang lagi ya~"ucap wanita kurcaci itu yang tidak lain adalah Elgnada istri Vaggean .
"Tentu nyonnya Elgan kami pasti datang kesini lagi esok bir yang anda buat serta makanan disini sangatlah memuaskan dan juga harga nya hahahah"Ucap seorang pelanggan dan tak lupa ia memuji tavern milik Elgnada.
"Oh terimakasih"Ucap Elganda dengan senyum diwajahnya.
Melihat tavernnya yang kini sepi, Elgnada memutuskan untuk menutup kedai dengan ekspresi sedih yang terpancar di wajahnya.
Ia mengunci pintu dengan hati yang berat dan mulai melangkah perlahan menuju rumahnya yang terletak tidak jauh dari tavern.
Sesampainya di depan rumah, Elgnada berhenti sejenak dan merenung. Wajahnya mencerminkan rasa kehilangan yang dalam saat matanya melirik bangku di depan rumahnya. Kenangan indah bersama anaknya muncul dalam benaknya, dan dia terdengar suara anaknya yang tertawa di telinganya. Namun, dengan sedih ia hanya bisa bergumam.
'Huh, bahkan tawanya masih segar terdengar di telingaku,' batin Elgnada, tetapi semakin ia mendekati pintu, semakin jelas suara tawa anaknya yang membuatnya semakin hancur. Namun, keanehan terjadi ketika tawa anaknya bergabung dengan tawa suaminya sendiri.
__ADS_1
Ketika Elgnada membuka pintu, ia terkejut melihat sosok yang membawa sebuah piring kayu. Tangis tak terbendung mengalir dari matanya saat melihat sosok yang tidak akan pernah ia lihat lagi.
"Bu, kenapa kau menangis? Apakah kedai tidak ramai?" tanya Lozmolir pada ibunya, tetapi Elgnada semakin terisak tanpa bisa menahan tangisnya.
Mendengar tangisan istrinya, Vaggean segera keluar dari dapur dengan wajah penuh kekhawatiran. "Sayang, apa yang terjadi padamu?" tanya Vaggean pada Elgnada.
"Sayangku, aku masih tidak bisa merelakan kematian anak kita. Bahkan sekarang, aku masih terhantui oleh bayangan anak kita," ucap Elgnada sambil menunjuk Lozmolir yang berdiri dengan piring kayu di tangannya.
Namun, perkataan Elgnada hanya dijawab dengan tawa dari Vaggean, yang membuat kemarahannya semakin memuncak.
"Huh, sulit untuk menjelaskannya," jawab Vaggean sambil mencoba menahan tawanya.
"Nak, kemarilah, peluk ibumu agar dia sadar," ucap Vaggean pada Lozmolir. Namun, karena masih terbawa emosi, Elgnada tidak dapat berpikir jernih tentang apa yang dikatakan oleh suaminya.
Lozmolir melangkah perlahan mendekati ibunya, lalu memeluk kedua orangtuanya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Ibu, aku pulang," bisik Lozmolir, mendengar bisikan itu dan merasakan kehangatan tubuh anaknya yang nyata, Elgnada semakin terisak. Namun, tangisnya kali ini memiliki air mata bahagia yang berbeda dari sebelumnya.
Sementara itu, Dei, yang sedang menikmati dagingnya tanpa memedulikan drama keluarga yang terjadi di belakangnya, fokus sepenuhnya pada hidangannya. Dengan mata terpejam, ia menikmati daging yang juicy dan menggoda, serta memadukannya dengan anggur merah yang menambah kenikmatan.
Setelah diyakinkan oleh anaknya berulang kali, Elgnada akhirnya dapat mengendalikan emosinya dan menenangkan diri. Namun, keinginan Elgnada untuk berlutut dan bahkan mencium kaki Dei membuat Dei terkejut, dan ia berdiri menjauh sambil memegang piring dengan daging yang belum selesai dimakan dan botol anggur.
Namun, adegan Elgnada mencium kaki Dei tidak terjadi karena ia ditahan oleh suaminya dan anak mereka.
"Diam, Elgnada! Jangan lakukan hal gila seperti itu!" tegur Vaggean dengan tegas sambil memegang lengan istrinya.
Lozmolir juga berusaha menenangkan ibunya. "Ibu, janganlah begitu. Beliau adalah tamu kita, kita harus menghormatinya dengan cara yang pantas."
Elgnada akhirnya sadar akan situasinya dan menundukkan kepala dengan rasa malu. "Maaf, Tuan Dei. Aku... aku kehilangan akal sejenak. Terima kasih telah membantu kami," ucapnya dengan suara yang lembut.
Dei, sambil mengunyah dagingnya dan meminum anggur, diam-diam mengamat-amati Elgnada dengan pandangan tajamnya. "Wanita yang kuat namun penuh rasa putus asa," batin Dei sambil menggelengkan kepalanya.
__ADS_1