
Di jalanan yang sibuk dengan aktivitas yang bervariasi, suasana kota terasa hidup dan penuh dengan kehidupan. Seorang pedagang tampak bersemangat menyajikan barang dagangannya , memamerkan produk-produknya di tengah keramaian pejalan kaki. Ia menggambarkan barang-barangnya dengan cermat, menarik perhatian pengunjung yang melintas dengan keindahan dan keunikan yang ditawarkan.
Tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang melintas di sepanjang jalan tersebut. Ada pasangan muda yang bergandengan tangan, tersenyum dan berbagi tawa dalam kebersamaan mereka. Di seberang jalan, seorang prajurit yang berlari terburu-buru dengan lembaran perkamen di tangannya, berusaha mengejar waktu. Sementara itu, sekelompok anak-anak bermain riang, tertawa dan berlarian di antara keramaian, memberikan sentuhan keceriaan dalam hiruk-pikuk kota.
Toko-toko di sepanjang jalan menarik perhatian dengan kehidupan yang memenuhi setiap sudutnya. Pengunjung membanjiri toko-toko tersebut, menjelajahi rak-rak penuh dengan produk menarik. Suara tawar-menawar dan kegembiraan terdengar di mana-mana, menciptakan suasana yang riuh dan meriah.
Sinar matahari yang cerah menyoroti jalanan, memancarkan kehangatan yang mengundang orang-orang untuk keluar dan menikmati hari.
Dua sosok pria menonjol di antara kerumunan. Mereka menarik perhatian orang-orang di sekitarnya, yang tak dapat menahan diri untuk sesekali melempar pandangan ke arah mereka.
Kontras postur mereka yang mencolok, menciptakan gambaran yang menarik. Satu pria memiliki tubuh yang tinggi menjulang, melingkupi seluruh kepalanya dengan jubah hitam yang misterius. Sedangkan pria lainnya berpostur pendek dengan janggut hitam yang menghiasi wajahnya.
Dengan postur mereka yang mencolok, keduanya menjadi pusat perhatian di tengah hiruk-pikuk jalanan yang ramai. Pria dengan jubah hitam mampu menutupi identitasnya sepenuhnya, meninggalkan misteri yang melayang di sekelilingnya.
Sementara itu, pria pendek dengan janggut hitam menampilkan kehadiran yang kuat dan menonjol, menunjukkan karakternya yang berbeda dari yang lain.
Kedua sosok yang melangkah tegap itu adalah Dei dan Vaggean, yang dengan tekun berjalan menuju area pemakaman yang sunyi.
Mereka memiliki tujuan yang tak terpungkiri, yaitu membangkitkan anak Vaggean yang cukup lama terlelap di dalam tanah. Bagi Dei, tindakan ini bukanlah tanpa alasan. Ada dua keuntungan yang tersembunyi di balik niatnya.
Pertama, dengan membangkitkan anak Vaggean, Dei akan mendapatkan kesetiaan sejati yang tak tergoyahkan dari Vaggean. Kedalaman ikatan ini akan memperkuat posisi dan kekuasaan Dei dalam segala hal. Ia akan memiliki pendukung yang setia dan penuh dedikasi.
Kedua, Dei ingin mengeksplorasi potensi yang terkandung dalam dirinya. Sejauh ini, Dei belum memahami sepenuhnya kemampuan unik yang dimilikinya.keahliannya belum pernah terasah namun ia memiliki keahlian bertarung yang tak tertandingi. Dei meyakini bahwa dengan menggabungkan kemahirannya dalam pertempuran dengan kemampuan sihir miliknya maka ia akan menjadi tak terkalahkan.
Namun, Dei menyadari bahwa ia masih kurang pengalaman dalam bertempur di dunia yang dipenuhi sihir dan keajaiban ini. Ia harus mengasah kemampuannya agar bisa berdiri sejajar dengan para penghuni dunia ini.
Dei percaya bahwa di mana pun berada, tidak ada kemampuan atau bakat yang benar-benar tidak berguna. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana seseorang dapat memaksimalkan bakat dan kemampuannya tersebut. Dei telah menyaksikan banyak individu yang berhasil mengubah kekurangan mereka menjadi kekuatan yang mengagumkan.
Tak lama kemudian Dei dan Vaggean sampai,Mereka berdiri di hadapan gerbang yang terkesan sederhana namun menyiratkan keheningan dan keagungan. Angin sepoi-sepoi menerpa rambut mereka, menciptakan suasana yang mencekam di sekitar pemakaman tersebut.
__ADS_1
Tanpa banyak kata lagi Dei dan Vaggean melangkah menuju gerbang kayu yang dihiasi dengan tengkorak di bagian atasnya. Di bawahnya, tergantung papan kayu sederhana dengan tulisan tegas: "Pemakaman".
Gerbang kayu yang tua terbuka perlahan, mengungkapkan pandangan yang misterius di baliknya.
Makam-makam terhampar di hadapan mereka, menawarkan pesona yang gelap namun memikat.
Bersama-sama, Dei dan Vaggean melangkah masuk dan dengan hati-hati melangkah takut menginjak makam atau batu nisan,Mereka menghormati tempat ini sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi para makhluk yang telah pergi.
Karena pada akhirnya ini akan menjadi rumah terakhir mereka suatu saat nanti.
Saat langit senja mulai terkulai dan bayangan pemakaman menjadi semakin panjang, Dei dan Vaggean tiba di makam yang dituju. Di antara makam-makam yang tak terhitung jumlahnya, terdapat sebuah nisan kecil yang menandai tempat peristirahatan anak Vaggean.
Dengan hati yang berat, Vaggean menghampiri nisan tersebut. Matahari terbenam menciptakan latar belakang yang dramatis, memancarkan cahaya oranye yang memantul di wajahnya yang penuh emosi. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menahan kesedihan yang terus menggelayuti hatinya
Dengan tangan bergetar, Vaggean memegang nisan anaknya. Wajahnya mencerminkan kerumitan pikiran yang dalam. Dengan perlahan, ia mulai menggali tanah di sekitar makam, membiarkan kegelapan malam menyelimuti mereka. Setiap suara tanah yang terangkat menggambarkan perasaan campuran Vaggean—kesedihan, penyesalan, dan kerinduan.
Tidak lama kemudian, peti mati berwarna perak dengan logo tangan hitam terlihat di pandangan Dei dan Vaggean. Bersama-sama, mereka meraih peti mati tersebut.
"Tuan Dei, peti mati anakku sangat berat. Bagaimana jika aku meminta bantuan orang lain? Aku khawatir tulang tua ini tidak mampu," ucap Vaggean dengan ekspresi yang penuh perasaan.
"Tidak, kita mampu mengangkat peti mati ini sendiri," jawab Dei dengan mantap.
"Apa Anda yakin? Peti mati ini memiliki berat 200 kilogram, terbuat dari perak," terang Vaggean.
"Jangan khawatir," jawab Dei dengan tenang.
Setelah berdiskusi singkat, keduanya mengangkat peti mati tersebut. Namun, Vaggean merasakan sesuatu yang aneh. Mengapa peti mati anaknya terasa begitu ringan?
Dengan kekuatan yang luar biasa, mereka berhasil mengangkat peti mati yang seharusnya memiliki berat 200 kilogram tanpa kesulitan yang berarti. Tidak ada keringat yang tampak di wajah mereka.
__ADS_1
Kemudian, Vaggean membuka tutup peti mati itu, . Di dalam peti mati tersebut, ia melihat sosok seorang remaja laki-laki dengan banyak bintik merah di tubuhnya. Bahkan, ada luka yang membusuk di kakinya yang hampir terlihat tulang. Padahal, anak Vaggean baru saja dimakamkan dua hari yang lalu.
Dei tidak merasa jijik meski mencium bau amis dan bau nanah yang begitu menjijikkan di sekitarnya. Ia tetap diam dan sibuk dengan sistem miliknya, terfokus pada tugas yang ada. Meskipun sikapnya yang tampak biasa-biasa saja, Dei mendapatkan rasa hormat yang besar dari Vaggean.
"Sistem, bagaimana cara menggunakan skill Deathless Live?" gumam Dei dalam hati.
[Ding! Tuan hanya perlu melakukan kontak dengan target yang ingin dibangkitkan, lalu mengucapkan nama skill yang ingin digunakan untuk memastikan tidak terjadi kesalahan.]
.Pada puncak ketegangan, Dei memegang kepala mayat anak Vaggean dengan tegas.
"Deathless Live, bangkitlah," gumam Dei dengan suara yang penuh kekuatan.
Tiba-tiba, Dei berubah menjadi wujud aslinya yang menakutkan. Dengan dua tanduk melengkung di dahinya dan dua belas sayap dengan mata merah yang memancarkan cahaya ganjil. Dari belakangnya, muncul tangan yang mengerikan dengan kuku tajam yang merobek ruang hampa, menciptakan celah di dimensi.
Tangan itu meraih cahaya putih yang memancar, lalu diarahkan ke arah mayat anak Vaggean. Di tubuh mayat itu, tulisan-tulisan hitam yang tak dikenal mulai muncul, membentuk pola misterius yang menggambarkan kebangkitan.
Sementara itu, Vaggean terpaku, tak memperhatikan perubahan pada mayat anaknya yang secara ajaib pulih dari keadaan membusuk dengan daging yang kembali tumbuh di kakinya. Tatapannya tertuju pada Dei dengan perasaan campuran antara ketakutan dan kekaguman yang luar biasa.
Tanpa disadari oleh Vaggean, mayat anaknya telah pulih sepenuhnya, tanpa cacat dan luka, dengan wajah yang tampan. Suara lemah anak Vaggean terdengar terbata-bata.
"Ayah," ucap anak Vaggean, gemetar. Vaggean terkejut mendengar suara yang begitu ia rindukan.
"Lozmolir, apakah itu kamu?" ucap Vaggean, matanya berkaca-kaca saat memandang putranya.
"Apakah ayah lupa akan anaknya sendiri?" jawab Lozmolir, tanpa ragu memeluk tubuh ayahnya yang masih berada di dalam peti mati.
"Dewa, terima kasih," ucap Lozmolir, sambil bersujud di hadapan Dei setelah melepaskan pelukan dari ayahnya.
Dei, yang kembali ke penampilan manusia dengan jubah yang tak mencolok, terkejut mendengar ucapan dan gelar yang diberikan oleh putra Vaggean.
__ADS_1