
Tiba tiba seekor kelelawar muncul dan terbang mengelilingi arena pertarungan. Kelelawar itu perlahan bertambah besar.
"Kelelawar apa itu" ujar Liliana.
"Entahlah tapi Diego dan kelelawar itu saling terhubung" Karand mengamati kelelawar yang terbang mengitari arena pertarungan.
"Apa mungkin dia menguasai teknik itu" ujar Sir Kaizer. "Teknik itu" beo karand.
"Apa maksud anda Sir" tanya Liliana penasaran. "Kemampuan unik yang di miliki seorang berlambang Arrow yaitu Mata Langit"
"Mata langit membuat seorang Arrow bisa mengawasi apa saja dari kejauhan setidaknya itu yang di tulis di buku" ujar Sir Kaizer.
"Syukurlah dia masih punya kesempatan menang" karand menghembuskan nafas lega. "Dia memang punya tapi sekarang kita tau orang seperti apa dia itu" Sir Kaizer diam sejenak. Kedua gadis itu terkejut mendengar pernyataan sang guru.
"Jika dia memiliki Mata Langit karena bakat sejak lahir maka itu tidak jadi masalah namun jika dia memiliki Mata Langit karena kerja keras berarti itu dia adalah orang yang menanggung banyak penderitaan"
"Seorang Arrow kenalan ku pernah mengatakan Mata langit adalah teknik berbahaya karena selain cara mendapatkan teknik itu yang sangat sulit dan setengah energi kehidupan mu akan menjadi milik Mata langit"
Sir Kaizer baru saja menyadari bahwa kelelawar itu sudah sebesar gajah. "Aku tidak tau lagi harus berkomentar apa" Sir Kaizer hanya bisa berdoa untuk keselamatan Diego.
***
Di suatu tempat
"Hahahaha apa kalian lihat itu 'Mata Langit' dan dia bisa menggunakan itu dengan baik" seorang laki laki terlihat sangat girang.
"Luar biasa bahkan 'dia' tidak bisa menggunakan itu sebaik pemuda berambut biru ini"
"Sudah ku duga dia lah orang yang kita butuh kan" laki laki itu bangkit dan berjalan pergi meninggalkan orang orang yang sedang duduk mengamati pertarungan itu.
"Keadaan masih dalam kendali kita tidak ada yang perlu kita khawatir kan" ujar seorang pria lain yang sedari tadi mengamati pertarungan.
Ucapan itu di sambut anggukan tanda setuju oleh semua orang yang ada disana.
***
"Batsy"
Kelelawar itu terbang menuju Diego dan terbang di atas kepala Diego. "Tak peduli seberapa banyak nya teknik kamu tetap akan kalah karena kamu hanya lah Rakyat jelata!!!" teriak Roard membuka mulut nya.
Energi sihir terkumpul di mulut nya. Roard langsung menembakan ke arah Diego.
Batsy membuka mulut nya dan mengeluarkan bunyi denging yang membuat tanah hancur dan menghentikan serangan Roard.
"Ayo batsy"
Diego berlari ke arah Roard di ikuti Batsy si kelelawar terbang di belakangnya. Ia melompat dan mendarat di punggung Batsy.
Diego mengambil anak panah dan menembakan nya pada Roard. Diego terus menembakan anak panah nya pada Roard.
Tembakan beruntun dari Diego membuat Roard kesulitan. Roard yang di terasa mati langkah karena setiap anak panah Diego selalu bisa membaca pergerakan nya.
"Dia bukan rider tapi kenapa bisa membuat hewan tunduk pada nya" gerutu Roard.
Basty terbang meninggi dan mengepakan sayap nya. Puluhan bila angin ingin menghujani arena pertarungan.
Roard tidak mampu menghindari serangan itu membuat ia harus merasakan kesakitan.
Batsy berhenti mengepakan sayapnya. "Dia belum kalah batsy" ujar Diego seakan paham apa yang di pikirkan oleh kelelawar itu.
__ADS_1
"Tidak batsy dia tidak keras kepala cuma bodoh saja" Diego tertawa kecil ia tau apa yang di rasakan batsy karena mereka berdua selalu terhubung.
Sebelum bertemu Diego, Batsy hanya lah seekor kelelawar biasa sama seperti Diego yang hanya manusia biasa. Saat itu Basty baru saja lolos dari monster yang ingin memakan nya dan Diego sedang bersembunyi dari ribuan tentara skeleton yang harus dia musnah kan.
***
Seorang anak berusia sepuluh tahun sedang bersandar di sebuah dinding gua dalam kondisi penuh luka.
Derap langkah kaki terdengar cukup nyaring di telinga. Dua hari yang lalu ia baru saja mengambil misi menyelidik sebuah labirin.
Kalau cuma menyelidik pemula sepertinya pun diperbolehkan untuk mengambil misi itu.
Diego melakukan cukup baik awal nya namun di lantai kedua malah ia harus bertemu dengan puluhan pasukan skeleton.
Jumlah mereka terlalu banyak namun Diego harus melawan. Tetapi sangat di sayang kan ia terdesak menjadi sasaran empuk bagi mereka.
Diego harus berjuang untuk kabur dari puluhan skeleton itu. Di luar perkiraan skeleton itu mengejarnya sampai pintu keluar.
Ia pun terus berlari dan melihat sebuah gua tanpa pikir panjang ia masuk ke gua ini.
Itu cerita kenapa ia bisa berakhir disini. Diego kemudian berusaha menyeret badan nya untuk masuk ke bagian dalam gua agar tidak diketahui para skeleton itu.
Namun ia tak memiliki energi untuk bergerak di lain arah seekor kelelawar jatuh di dekat nya tubuh nya juga terluka.
"Menyedihkan aku akan mati di sini"
Sebuah suara masuk ke dalam kepala Diego. "Aku ingin kekuatan" ucap Diego.
Tiba tiba muncul skeleton dari di dalam gua. Skeleton itu mengeram Seakan memanggil pasukan nya.
Skeleton mengangkat tubuh Diego dan melemparkan ke dinding kemudian menginjak-injak tubuh Diego.
Kelelawar itu menatap dengan ketakutan ia berharap jika skeleton itu tidak menyadari diri nya.
Suara asing masuk ke kepala mereka masing masing. "Kau ingin kekuatan"ujar pemuda itu.
"Apa kau juga ingin kekuatan"
"Iya/iya"
Tiba tiba lambang Arrow di telapak tangan Diego bersinar terang begitu juga punggung kelelawar itu yang awal nya berlambang arrow kemudian berubah menjadi lambang mata.
Tubuh mereka berdua bersinar membuat para skeleton itu terkejut dan mundur beberapa langkah.
Mata Diego perlahan-lahan memutih "kenapa mata ku tak bisa melihat" namun tiba tiba dikepalanya tergambar sebuah ruangan dan ada beberapa Skeleton.
Namun perlahan kaki nya semakin lemah dan tak mampu menopang tubuh nya.
Alhasil terjatuh dan kehilangan kesadarannya. Saat ia terbangun Diego berada di sebuah ruangan hitam bersama seekor kelelawar berwarna hitam.
"Dimana aku"
"Ini di alam bawah sadar kalian dan selamat datang" seorang pemuda berambut biru tak lain diri nya sendiri dengan mata merah dan seekor kelelawar bermata merah yang terbang di sampingnya.
"Penderitaan kalian baru saja di mulai" Diego yang lain tersenyum kecil. Itu adalah pertemuan Diego dan kelelawar yang kelak akan ia beri nama Batsy.
***
Saat ini Roard terus menerus melancarkan serangan namun Batsy dapat menghindari nya dengan mudah.
__ADS_1
Roard mengaum keras sebuah lingkaran sihir di mulut "Skill beastman akan berubah saat mereka dalam mode Beast ini adalah serangan skill terkuat ku , Ultimate Roar"
Sebuah bola energi berkumpul di mulut nya terus membesar membuat tanah pijakan nya turun.
"Kita juga batsy"
"Skill ketiga Judgment Arrow"
Busur panah Diego bertambah besar dan muncul sebuah zirah di tubuh Diego. Zirah yang menutupi tubuh nya dan tak menutupi kedua lengan nya.
Diego menarik tali busur panah nya. Sebuah anak panah muncul di busurnya.
Roard mengecilkan bola sihir itu lalu menelan nya tubuhnya kian terbenam di tanah.
Tanpa pikir panjang ia menembakan bola energi itu pada Diego dan Batsy. Diego tersenyum tipis dan menjatuhkan diri dari punggung Batsy.
Batsy pun mengecilkan tubuh ke ukuran kelelawar normal. Diego terjatuh dengan posisi kepala menghadap ke tanah dengan posisi siap menembakan anak panah nya.
Roard yang menyadari itu tak mampu berkutik. Diego langsung menembakan pada Roard.
Anak panah Diego mengenai Roard dan pangeran Beastman itu tak bisa menghindari nya.
Roard terpental menghantam dinding pembatas sampai hancur membuat beberapa penonton berlarian kalang kabut.
Diego berputar dan mendarat di tanah dengan selamat. Semua orang terdiam melihat aksi yang sangat cepat itu.
Serangan sedahsyat milik Roard namun mampu dihindari oleh Diego dan pemuda berambut biru itu membalik keadaan dengan sangat cepat.
Kriiiiiiiiiing
Terdengar suara bel berbunyi tanda jam istirahat sudah berakhir. Zirah Diego perlahan menghilang busur panah nya juga kembali semula.
Diego berjalan menuju tangga untuk naik ke ke tribun penonton.
Karand langsung berlari menuju Diego yang sedang berjalan menapaki tangga satu persatu.
"Diego"
Karand berseru pada pemuda berambut biru itu. Namun ia terdiam sejenak "kenapa mata mu" ujar Karand heran seharusnya mata Diego biru seperti warna rambut nya namun sekarang putih
"Kebutaan sementara"
Jawab Diego singkat "adalah efek jika bertarung dengan Batsy lebih dari setengah menit"
Karand menyentuh kedua pipi Diego dan menatap mata nya yang putih untuk sementara.
"Kenapa kau melakukan sampai sejauh ini padahal ini hanya sebuah kesalahpahaman saja" ujar Karand tiba tiba mencubit kedua pipi Diego.
"Aduh..duh.. duh"
Diego meraih tangan karand dan menariknya. "kenapa? pertama karena aku ingin kedua karena aku mencari jawaban"
Batsy hinggap di kepala Diego dan berteriak kepada Karand.
"Tunggu" teriak Karand menarik bibir Diego ke atas "setau ku kau tidak memiliki gigi taring seperti ini sebelumnya" karand bertanya dengan menyelidik.
Diego menarik tangan karand lagi "itu juga efek samping bertarung bersama batsy lebih dari setengah menit gigi taring ku muncul karena batsy" ujar Diego.
"Bisa kah kita pergi sekarang bel istirahat sudah berakhir" ujar Diego berjalan mendahului karand.
__ADS_1
"Hei tunggu aku" teriak Karand.