
Saat ini Diego sedang memandang asrama tempat ia akan tinggal selama menempuh pendidikan di Akademi Kaum.
Ia mengendarakan pandangan ke lingkungan sekitar. Terlihat banyak orang yang mengeluhkan asrama mereka ini.
Bukan tanpa sebab , asrama ini terlihat sangat kumuh dan tidak semewah asrama asrama lain yang baru saja mereka lewati.
Keadilan bagi para siswa kelihatan hanya jadi slogan. Siswa yang menempati permukiman asrama ini adalah tiga lambang kelas bawah yaitu Rider , Arrow dan Shield.
"Semua harap tenang kami akan mengabsen kalian dan mengantarkan kalian menuju asrama masing masing" teriak salah satu murid senior.
Setelah keheningan terjadi para murid senior langsung mengabsen para murid baru dan membawa mereka ke asrama masing masing.
Diego saat ini sedang mengekor pada seorang murid senior yang sedang menuntun ke kamar asrama nya. "Menurut mu bagaimana asrama ini" tanya seorang murid senior pada nya
"Cukup bagus untuk ku" jawab Diego singkat.
"Kami selalu mengajukan proposal untuk memperbaiki asrama ini tapi" ia berhenti sejenak.
"Keadilan hanya menjadi slogan"
Murid senior itu berhenti lalu berbalik dan menatapnya dengan tatapan yang lega.
"Senang bertemu dengan murid baru yang paham dengan realita" ia berbalik dan meneruskan perjalanan nya.
Setelah berjalan sekitar lima menit mereka sampai di asrama Diego. "Oh iya di setiap kamar di isi oleh tiga orang dan karena salah satu dari penunggu kamar ini adalah bangsawan jadi dia pindah ke pemukiman kelas atas" murid senior mengambil salah satu papan nama di pintu dan membuangnya ke tempat sampah yang berada tak jauh dari mereka.
"Semoga hari mu menyenangkan, aku pergi dulu" ujar murid senior itu berjalan meninggalkan Diego.
Diego langsung mengetuk pintu dan kemudian pintu terbuka menampilkan seorang pemuda berambut hitam dengan mata abu abu dengan tubuh yang terlihat cukup berotot.
"Oh pasti kamu teman sekamar ku yang satu lagi" ujar pemuda itu mengulurkan tangan nya. Diego melihat itu dan langsung menjabat tangan pemuda di depan nya itu.
"Nama ku Samuel dan aku berlambang Shield"
__ADS_1
Diego diam sejenak entah kenapa banyak sekali orang yang mengenalkan nama dari pada julukan.
"Nama ku Diego dan aku berlambang Arrow"
"Ayo masuk "
Pemuda yang diketahui bernama Samuel itu berbalik dan berjalan masuk kedalam.
Diego memandang asrama ini. Ada ruang tamu dan kamar mandi lalu ada dapur serta tiga buah kamar.
'Tidak buruk ini sudah cukup mewah bagi ku' pikir nya.
"Kau bebas memilih kamar" Samuel berdiri di samping nya.
"Di mana kamar mu" tanya Diego. "Di situ" tunjuk pemuda bermata abu abu itu menunjuk kamar yang berada di dekat ruang tamu.
"Kalau begitu aku kamar itu" ujar Diego singkat. Ia terkejut "apa kau serius aku sudah menempati kamar itu sejak awal mana mungkin aku mau pindah begitu saja"
"Aku hanya mengetesmu, aku saran kan kau harus berhati hati dalam berucap karena ucapan mu akan berbalik kepada diri mu sendiri"
Diego memutar kenop pintu dan mendorong nya. Ada tempat tidur lemari pakaian dan meja belajar serta jendela dengan tirai.
"Ini sangat mewah dibandingkan gubuk tua milik ku" Diego melemparkan tas nya ke tempat tidur.
***
Diego membuka mata nya dan langsung bangun dari tempat tidur. "Ya ampun tidur yang benar benar nyenyak aku hampir kesulitan bangun" gumah Diego sambil mengucek mata nya.
Ia mengambil handuk dan berjalan menuju pintu kamar nya. Saat membuka kamar nya ia mendapati Samuel baru saja keluar dari kamar mandi.
"Oh kau sudah bangun , cepat mandi hari ini kita tidak boleh telat" ujar nya berjalan menuju kamar nya.
Diego pun langsung mandi setelah selesai ia kembali ke kamar untuk memakai seragam nya.
__ADS_1
Diego terdiam saat menatap diri nya di depan cermin mengenakan seragam.
Ini merupakan salah satu keinginan nya. "Diego apa kau sudah selesai" seru Samuel.
"Tunggu sebentar" balas Diego. Setelah itu mereka berjalan menuju aula akademi kaum.
Setelah sampai mereka langsung di suruh berbaris. Diego memperhatikan para guru yang berdiri di depan mencari seseorang yang ia kenal.
Mata nya fokus pada seorang pria yang berambut klimis dengan kemeja kuning dan rompi berwarna hitam dengan celana hitam.
Dia lah Paman Varlino.
Mungkin mulai sekarang ia harus memanggil Sir pada pria yang sudah merawatnya itu.
Sir Varlino bukan lah orang sembarangan. Ia adalah orang yang berpengaruh di dunia pendidikan dan mendapatkan gelar Profesor serta utusan dari federasi perdamaian ke Akademi kaum sebagai pengajar.
Setelah serangkaian acara ceremonial. "Selanjutnya sambutan dari Ketua Federasi Perdamaian Sir Isaac Alexander William" semua orang terdiam mendengar nama pemimpin Federasi perdamaian itu.
Seorang pria dengan baju merah tangan panjang Serta celana hitam dengan jubah berwarna merah dengan sulam naga yang terbuat dari benang emas.
"Selamat datang di Akademi Kaum , sekolah ini adalah ide dari para pendahulu yang sudah terealisasikan oleh pemimpin Federasi Perdamaian ke 3 dan di teruskan pada ku pemimpin ke 5 , aku menghapus banyak peraturan yang menghalangi persatuan seperti pakaian bagi siswa dan proses pembelajaran di kelas serta masih banyak perubahan di dalam akademi Kaum ini"
"Hari hari semakin menarik ku harap kalian bersiap siap" saat Diego dan ketua federasi perdamaian bertatap mata entah kenapa ada sesuatu kecurigaan terhadap pemimpin Federasi perdamaian itu.
"Selanjutnya pidato sambutan dari perwakilan siswa yaitu Abigail Clancy"
Diego terdiam sejenak "Abigail" gumah nya. Entah kenapa ia tidak pernah berpikir akan bertemu dengan saudari tiri nya itu lagi sejak kejadian itu.
Tapi sekarang ia sudah tak perduli lagi karena ia perduli. Setelah pidato sambutan dari Abigail. Upacara selesai dan sekarang mereka semua mulai mencari kelas masing masing.
Walau sudah terjadi gesekan kecil antara lambang kelas bawah dan lambang kelas atas.
Namun Diego tidak ambil pusing. Ia hanya ingin bersekolah seperti yang selama ini ia cita cita kan.
__ADS_1