
...Part 1...
"Kenapa kita harus menunggu petualang yang telat " gerutu Diego. Perjalanan belum di mulai tetapi ia sudah dibuat jengkel oleh petualang yang datang terlambat.
"Santai saja Hunter of Nightmare lagi pula ini misi yang memerlukan banyak orang" ujar Blade of Justice sambil membaca sebuah kertas
"Tetapi tetap saja aku tidak terima" sanggah Diego. "Mau bagaimana lagi kita harus menunggu mereka" ia pun memberikan kertas itu pada Diego.
Diego menerima nya dan langsung membaca apa yang tertulis di kertas itu. "Jadi kota Tonren adalah kota penambang batu sihir terbesar" Diego terus membaca lembaran kertas yang berisi informasi tentang kota Tonren.
"Itu tidak sepenuhnya benar" ujar Blade of Justice. "Masih ada tambang batu sihir yang jauh lebih besar dari kota Tonren hanya saja kota itu memiliki teknologi yang lebih maju untuk urusan menambang" tambah nya.
"Sepertinya kau tau banyak tentang kota Tonren" Diego melirik pria tersebut. "Benar soal nya aku bertemu dengan party ku di sana" Blade of Justice memandang langit yang ditutupi beberapa awan gelap.
Diego terdiam sejenak "lalu bagaimana dengan party mu" tanya Diego.
"Aku membunuh mereka"
Diego memutuskan untuk tidak bertanya lebih detail pada nya. Dia tidak simpati pada pria berambut merah ini karena tindakan pria ini benar.
Jika party nya tidak segera dihentikan maka banyak petualang yang akan menjadi korban mereka.
Diego melihat segerombolan orang berbaju putih dengan kain putih yang melilit kepala nya. "Dance Titan" seorang pria yang berasal dari suku mermaid dengan tubuh bagian bawah nya menyerupai ikan dan terdapat sebuah gelembung berbentuk pelampung yang ada di pinggang nya dan memakai baju berwarna putih dengan kain yang melilit bahu nya.
Mermaid itu keluar dari rombongan orang berbaju putih itu "Oh Tabib Aqura ada apa".
Seorang wanita berambut hitam dengan kulit putih bersih. Ia memakai baju serba hitam dengan sarung tangan besi dan sepatu besi.
"Menikahlah dengan ku Dance Titan...... tidak maksud.....Glyshipone menikah lah dengan ku" mermaid yang diketahui seorang tabib mengeluarkan sebuah kotak kecil dan membuka nya terlihat sebuah cincin dengan permata hitam.
Perempuan itu terdiam kemudian mengangguk "baiklah ayo menikah tabib Aqura setelah aku pulang dari misi ini" jawab nya. "Baiklah kita akan menikah setalah kamu pulang dari misi....eh tunggu secepat itu kah...kita harus mengabari keluarga masing masing dulu" muka mermaid itu yang bersemu merah.
"Kita menikah saja dulu dan memberi kabar pada keluarga kita nanti....oh iya aku ingin ikut rapat bersama petualang lain" perempuan itu mengambil cincin pemberian tabib mermaid itu dan berbalik pergi dengan tubuh yang gemetaran.
"Ba...baik semoga sukses aku menunggu mu di gerbang ini Glyshipone__maksud ku Dance Titan" pria mermaid itu berbalik dan pergi.
Diego memandang dengan tatapan tidak mengerti "wah tontonan yang cukup menarik ya" ujar Blade of Justice.
"Dari mana menarik nya" tanya Diego tidak mengerti. "Ini tontonan yang sangat menarik lho jika kamu mengerti" Pria berambut merah itu tertawa kecil.
"Memang nya apa yang membuat pernyataan cinta seperti itu menarik" Diego terdiam ia mencoba mengingat-ingat apa yang di maksud cinta.
Namun semakin banyak ia mengingat semakin banyak pula kenangan tentang keluarga nya. Ia menggeleng pelan di keluarga nya tidak ada cinta.
"Kenapa pernyataan cinta mereka menarik? karena kisah cinta mereka memiliki dua akhir bahagia" pria berjuluk Blade of Justice itu berhenti sejenak dan menarik nafas pelan "Akhir bahagia yang berakhir bahagia dimana wanita itu pulang dan mereka menikah kemudian hidup bahagia lalu akhir bahagia yang berakhir tidak bahagia dimana pria mermaid itu berhasil mengungkapkan cinta nya tetapi wanita itu tidak selamat dalam misi nya dan akhirnya pria mermaid itu hidup sendirian" ujar nya.
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan....kenapa kau menjelaskan begitu berbelit-belit.....tidak kau tau kata kata mu benar benar membuat ku bingung" ketus Diego.
"Apa menurutmu kisah cinta itu harus selalu berakhir dimana sepasang kekasih menikah dan hidup bahagia"
Bukan kah sudah jelas sebuah kisah cinta akan berakhir bahagia jika semua orang bahagia. Pria ini benar benar memiliki pikiran yang berputar-putar. Seharusnya ia tidak bersama dengan nya.
...Part 2...
Suasana hening sejenak di antara mereka "kita sudahi pembicaraan ini, otak ku tidak mampu memahami perkataan mu" Ketus Diego.
"Tidak masalah lagi pula kau kan masih anak anak" pria itu tersenyum sinis. Tak lama berselang sekumpulan orang dengan celana berwarna putih dan baju berwarna merah serta armor berwarna merah yang di dada nya ada lambang rusa di kelilingi api.
Rombongan itu di pimpin boleh Pria bertopeng putih yang tak lain adalah Zania pria yang pernah mengajak Diego bergabung ke party rusa api.
"Wah lihat ternyata mereka yang kita tunggu ku kira siapa ternyata party arogan ini" gerutu Blade of Justice.
"Santai saja Blade of Justice lagi pula ini misi yang memerlukan banyak orang" Diego membalikkan kata kata pria tersebut.
Memang benar yang kata Blade of Justice party ini memang berisi orang orang arogan. Padahal mereka lah yang datang terlambat tetapi mereka bersikap seolah mereka adalah pemimpin.
Diego bisa memahami kenapa Blade of Justice tidak menyukai party ini. Setelah melakukan rapat mereka pun mulai bergerak ke kota Tonren.
Pemuda berambut biru itu menatap punggung para petualang yang berjalan bersama-sama sambil mengobrol sesekali bercanda.
Ia tersenyum tipis dulu dia pernah seperti itu. Berpetualang bersama teman teman dan mengobrol sesekali melemparkan candaan.
Namun hal itu sudah tidak bisa ia dapatkan lagi. Diego kembali mengingat sudah berapa lama ia berpetualang sendiri.
Party pertama dan terakhir yang ia masuki adalah Boy's In Adventure. Memang beberapa kali ia bergabung dengan sebuah party untuk mengambil sebuah misi tetapi itu hanya sementara setelah misi selesai maka ia akan keluar dari party.
"Sepertinya kau punya banyak hal untuk dipikirkan" suara itu membuat ia tersadar dari lamunan nya.
"Zania.... maksudku Spears Wood kenapa kau ada di sini" Pemuda berambut biru itu langsung menyadari kalau ia tertinggal dari orang orang.
"Melihat diri mu berhenti berjalan membuat ku penasaran, apa ada yang menganggu mu" tanya pria bertopeng putih itu.
"Bukan apa apa" Diego berjalan melewati Zania menyusul rombongan yang sudah ada di depan.
"Apa kamu terganggu dengan keramaian" ujar Zania membuat Diego berhenti berjalan. "Aku sama sekali tidak terganggu" ujar Diego.
Zania berjalan mendekati Diego dan berdiri disampingnya. "Kalau diri ku sebenarnya merasa risih kalau berdekatan dengan banyak orang" ujarnya.
"Bisakah aku mempercayai hal itu, melihat kamu sendiri tergabung dalam party paling besar" ujar Diego. "Ada baik nya kita berbicara sambil berjalan karena kita sudah tertinggal jauh" mereka pun berjalan berdampingan menyusul rombongan para petualang yang sudah cukup jauh.
"Sebenarnya aku tidak pernah suka berada di keramaian tetapi karena aku bergabung dengan sebuah party jadi mau tidak mau aku harus berada dekat dengan keramaian" entah kenapa Diego bisa merasakan sebuah kebencian yang tersirat di dalam kalimat pria bertopeng putih itu. Sebuah kebencian yang sangat kuat.
...Part 3...
Setelah mengobrol cukup lama akhirnya mereka berhasil menyusul rombongan petualang lain nya dan tiba disebuah kamp petualang.
Mereka tiba di sebuah kamp petualang yang didirikan oleh para petualang dari guild lain "Tuan Zania" dua orang wanita berlari ke arah mereka. "Ronia, Carmila ada apa" tanya pria bertopeng putih itu.
"Kenapa ada meninggalkan kami"
"Dari mana saja anda"
"Kenapa anda bersama dia"
"Harusnya anda mengajak kami"
Rentetan pertanyaan menghujani Zania atau Spears Wood. "Tenang lah kalian berdua aku hanya mengobrol bersama Hunter of Nightmare seperti dia banyak pikiran jadi ku pikir aku bisa membantu" Ia melihat kalau mata pria ini melirik kearahnya.
__ADS_1
"Hei kamu jangan menyusahkan Tuan Zania" sergah wanita yang berasal dari suku Lizardman.
"Jauhi Tuan Zania mengerti" tambah wanita yang satu nya.
"Ronia, Carmila jangan menganggu Hunter of Nightmare bagaimana pun dia adalah petualang yang setingkat dengan ku" Zania mencoba memperingati kedua bawahan nya.
"Tidak apa Tuan Zania aku sudah menjadi petualang rank perak dengan tiga bintang" ujar wanita bernama Ronia itu dengan bangga.
"Itu luar biasa Carmila dalam beberapa hari kau meningkat dengan sangat cepat pertahankan itu mungkin kau bisa menjadi petualang rank emas nanti" puji Zania.
"Tentu saja, aku mengambil banyak misi untuk melatih diri ku menjadi lebih kuat agar bisa bersama dengan diri mu Tuan Zania" Wanita itu memeluk lengan Zania.
"Carmila apa yang kau lakukan" wanita dari suku Beastman Lizardman terlihat tidak terima dan memeluk lengan Zania yang lain.
Terjadi aksi tarik menarik antara dua wanita itu. Melihat hal itu Diego pun pergi meninggalkan mereka dan berkeliling kamp petualang mencari tempat yang bagus untuk beristirahat.
Ia melihat sebuah pohon yang cukup rindang tanpa pikir panjang Diego pun berisitirahat di bawah pohon itu.
Waktu berjalan dengan cepat sekarang ini Diego berada di barisan belakang para petualang bersama beberapa petualang lain nya.
Berdasarkan keputusan rapat mereka akan merebut kota Tonren di pagi hari tepat saat para monster masih terlelap.
Para petualang berperingkat emas di bagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama akan memimpin di depan dan kelompok kedua akan berjaga di belakang.
Matahari mulai terbit dan mereka tiba kota Tonren. Terdapat banyak monster yang berjaga di luar mulai dari goblin, Ogre dan orc serta masih banyak lagi.
Beberapa petualang berlambang Arrow langsung menyiapkan panah tetapi terlambat seekor ogre berteriak seperti membangunkan teman teman nya.
Para monster yang tertidur mulai bangun dan gerbang kota Tonren mulai terbuka menampilkan banyak sekali monster dari berbagai jenis.
"Aneh sekali"
Hanya itu yang bisa ia kata kan melihat monster yang berbeda jenis bisa berada di tempat yang sama.
Diego mengeluarkan tas penyimpanan milik nya. Diego mengeluarkan sebuah kain yang di gulung lalu membentangkan nya di tanah.
Kain itu membungkus belati milik Diego. Ia langsung menyimpan beberapa belati di balik jaket.
Lalu menyimpan sisa nya di dalam tas penyimpanan. Diego mengeluarkan gauntlet yang bisa menembakkan tali pengait di tangan kiri nya kemudian mengeluarkan gauntlet Arrow nya di tangan kanan nya.
"Semua nya serang!!!!!"
Saat aba aba terdengar semua petualang yang berada di baris depan berlari menuju gerbang kota Tonren.
Diikuti oleh para petualang yang berada di baris tengah dan belakang. Diego langsung mengalirkan sihir nya ke dalam gauntlet itu dan keluar sebuah cahaya dari gauntlet itu.
Urb menjelaskan mekanisme pengoperasian senjata ini pada nya. Pertama alirkan mana mu ke dalam gauntlet itu, saat gauntlet itu bercahaya perhatikan tanda bulan sabit yang ada di gauntlet. Kedua arahkan pada target mu lalu bayangkan anak panah di gauntlet itu dan tembakan pada musuh mu.
Diego memperhatikan lambang bulan sabit yang terdapat pada gauntlet itu dan mengarahkan nya pada seekor goblin dan membayangkan sebuah anak panah lalu muncul sebuah anak panah tanpa pikir panjang ia pun menembakan nya.
Anak panah itu melesat dan menembus kepala goblin itu. Diego mengamati keadaan disekitarnya ia melihat seorang petualang yang sedang sibuk bertarung dengan Ogre tetapi di belakang ada Ogre lain yang bersiap menyerang nya.
Diego menembakan pengait dari gauntlet sebelah kiri nya. Pengait itu menembus bahu Ogre itu.
Diego langsung menarik pengait nya membuat Ogre itu terseret di tanah. Saat monster itu mendekat ia langsung menginjak tubuh monster itu dan menembak tepat di kepala Ogre itu.
Disisi lain
"Tuan Zania izin kan kami membantu"
Seorang pria yang memakai topeng putih berdiri di tengah Medan perang. "Ronia Carmila fokus lah pada pertarungan kalian masing masing satu perintah ku pada kalian.....jangan mati" kedua wanita itu terdiam mengangguk "Baik Tuan Zania".
Segerombolan orc berlari ke arah Zania "Benar benar aneh" tubuh Zania perlahan terbang ke udara.
Sebuah tombak kayu terbang disampingnya "Skill kedua berlipat ganda" tombak kayu itu dengan cepat membelah diri. "Maju" Zania mengayunkan tangan.
Puluhan tombak kayu menghujani para monster yang berada di tanah. Tiba tiba dari belakang seekor Griffin hendak mencakar punggung Zania tetapi sebuah tombak menghalangi tangan nya.
Lima buah tombak melesat ke arah mahluk itu. Griffin itu tidak sempat menghindar membuat ia menjadi sasaran empuk zania.
Itu lah yang harus nya terjadi tetapi tidak. Tombak Zania patah saat menyentuh tubuh Griffin itu.
Zania melihat sebuah lambang sihir di dahi Griffin itu. "Rider" setiap hewan yang terkontrak dengan rider terikat secara batin dengan rider tersebut.
Hewan yang menjadi tunggangan seorang rider tidak bisa diganti karena sudah terikat oleh takdir.
Griffin yang ada di depan nya ini adalah seekor tunggangan dengan kata lain griffin ini memiliki seorang penunggang.
"Skill pertama penguat" cahaya hijau meluap-luap dari tubuh Zania. Mata tombak nya pun berubah menjadi daun. Tombak nya berputar di udara dengan sangat cepat "matilah" ujar Zania.
...Part 4...
Di sisi lain di garis depan.
Seorang pria berambut merah berdiri di tengah kumpulan mayat monster. Tubuh nya bersimbah darah hitam yang memiliki bau menyengat.
Tiba tiba seekor gorila putih raksasa dengan mata merah jatuh dari langit.
Rooaaaaaaaaar
"Mu... mundur" teriak seorang petualang.
Banyak petualang yang berlari mundur. Monster gorila putih itu mengeluarkan sebuah gada dan sebuah lambang sihir bertipe Warrior muncul di dada nya.
"Skill ultimate Blade area"
Puluhan pedang raksasa keluar dari tanah mengelilingi mereka membentuk sebuah lingkaran yang mengurung mereka berdua.
Pedang di tangan nya menghilang dan muncul puluhan pedang dari tanah. "Akan ku selesai kan dengan kekuatan penuh" Blade of Justice berjalan dan meraih dua pedang yang tertancap di tanah.
Blade of Justice dan monster gorila putih itu langsung beradu senjata. Pertarungan sengit langsung terjadi monster itu menyerang secara bertubi-tubi sedangkan Blade of Justice terus menerus bertahan mencari kesempatan menyerang.
Traaaaang
Triiiiiiing
Striiiiiiing
__ADS_1
Gada monster itu bersinar terang ia pun langsung memukul Blade of Justice bertubi-tubi namun pria berambut merah itu tidak menghindar melainkan terus menahan serangan monster itu sampai kedua kaki terbenam di tanah.
Pedang yang ia pegang menghilang monster gorila putih itu langsung mengayunkan gada nya dari samping.
Blade of Justice memasang pelindung namun itu tidak cukup untuk melindungi diri nya serangan Monster gorila putih itu.
Pria berambut merah itu terlempar cukup jauh dan skill nya pun menghilang.
Di sisi lain bersama Diego.
Sriiiiiiing
Triiiiiiing
Traaaank
Duaaaaaaaaaaar
Peperangan terus berlanjut para monster terus berdatangan membuat para petualang bertanya-tanya ada berapa banyak monster di dalam kota tersebut.
Saat ini Diego sedang berhadapan dengan seorang ogre yang berlambang sword. Ogre dengan pedang merah menyala sedangkan melawan dengan belati yang sudah ia siapkan dari jauh jauh hari.
Triiiiiiing
Suara pertemuan antar senjata terdengar memekakkan telinga. Monster menendang perut Diego membuat pemuda berambut biru itu terpental cukup jauh.
Ogre itu langsung berlari dan menyerang Diego secara bertubi-tubi. Belati hitam yang dipakainya mulai berubah warna menjadi merah.
Diego berhenti menghindar dan membiarkan pedang ogre itu menusuk perut nya. Tanpa basa basi Diego langsung menusukan belati peledak di bahu ogre itu dan menendang ogre itu sampai jatuh.
Duaaaaaaaaaaar
Suara ledakan itu terdengar sangat keras. "Batsy keluar lah dan periksa kota itu" ujar Diego.
Batsy keluar dari balik jaket Diego dan menghilang seketika. Diego langsung mengeluarkan tas penyimpanan nya dan melepaskan gauntlet Arrow nya.
Senjata ini berfungsi dengan baik tetapi membutuhkan banyak mana untuk menembak panah. Ia harus mengganti senjata nya dengan yang lebih efisien.
Diego memasukan gauntlet Arrow itu ke dalam tas nya menyimpan di balik jaket nya. Lalu mengeluarkan dua buah belati peledak dari balik jaket nya.
Pemuda berambut biru itu langsung berlari menerjang beberapa goblin yang mengeroyok seorang petualang wanita. Diego menghabisi mereka dengan cepat.
Efek kutukan dari Dungeon misterius itu memang sudah memudar tetapi masih ada sedikit. Membuat ***** membunuhnya bergejolak hebat tetapi tidak seperti dulu waktu di kuasai kutukan Dungeon misterius itu.
Dulu ia dikuasai sepenuhnya dan membuat ia menjadi sosok yang haus darah yang menikmati setiap kali ia membunuh orang.
Wanita itu terlihat sudah tidak bertenaga untuk bicara. Diego mengambil sebuah potion di tas dan meminumkan nya pada wanita itu.
"Uhuk...uhuk"
"Bangun lah dan pergi lah ke garis belakang" ujar Diego. Wanita itu terdiam dan langsung bangkit "terima kasih aku tidak akan melupakan jasa mu" Diego mengangguk dan berjalan pergi meninggalkan wanita itu.
Diego langsung melemparkan dua buah belati itu ke arah dua hob goblin namun belati itu dengan mudah mereka tangkis. Ia tersenyum tipis tiba tiba dua ledakan beruntun terjadi.
"Hunter of Nightmare" panggil seseorang yang tak lain adalah Zania yang sedang terbang di udara. "Aku butuh bantuan mu kita harus menghancurkan dinding kota Tonren" Diego langsung menembak pengait milik nya ke kaki Zania.
"Aku akan mengikuti rencana dan ku harap itu rencana yang bagus" Diego langsung setuju tanpa pikir panjang. "Haha baiklah" tanpa basa basi lagi Zania membawa Diego terbang.
Mereka pun mendarat dengan selamat "Dance Titan aku sudah membawa orang yang dapat membantu kita" Zania menghampiri seorang wanita yang sepertinya pernah Diego lihat entah di mana.
"Bagus kalau begitu aku akan kembali ke wujud asli ku" Dance Titan berjalan menjauh dari Diego dan Zania.
Ia mengeluarkan sebuah botol air dan meminum nya sampai habis kemudian melemparkannya ke sembarang tempat.
Seketika tubuh nya membesar "jadi ini kah suku raksasa" gumah Diego melihat betapa tinggi wanita itu.
"Sekarang rencana mu apa Zania" Diego menatap pria bertopeng itu. "Kita akan menghancurkan tembok itu untuk melihat sumber keanehan ini" Diego terdiam sejenak memang benar banyak sekali keanehan di misi ini.
Mulai dari bagaimana kota ini bisa di rebut oleh monster lalu. Bagaimana monster dari berbagai jenis bisa berada di tempat yang sama.
"Dance Titan lakukan tugas mu!"
"Baik!!!"
Tangan raksasa itu bergerak dan mengambil seekor monster gorila putih lalu meremas nya dengan sangat kuat sampai monster itu tak sadar kan diri.
"Aktifkan Skill ultimate mu Hunter of Nightmare" Diego langsung paham maksud pria ini. Ia pun langsung mengaktifkan skill ketiga miliknya.
Ukuran busur panah Diego bertambah besar dan munculah sebuah zirah di tubuh Diego. Zirah yang menutupi tubuh nya namun tak menutupi kedua lengan nya.
Diego menarik tali busur panah nya Judgment Arrow" sedangkan Zania terbang ke udara bersama tombak nya
Tombak bertambah besar "skill ketiga bentuk sejati".
"Dalam hitungan ketiga lepaskan panah mu Hunter of Nightmare.....Dance Titan lempar monster itu sekaraaaang!!!"
Dance Titan berlari dan melompat kemudian melemparkan monster itu ke arah benteng. Namun ternyata terdapat sihir penghalang yang melindungi tembok kota.
"1.....2.....3 tembak"
Diego langsung melepaskan anak panah nya begitu juga dengan Zania yang melemparkan tombak nya.
Traaaaaak......kreeeetak
Suara retakan mulai terdengar "tidak cukup" ujar Diego.
Dance Titan berlari menuju benteng kota Tonren kemudian melompat dan meninju tembok itu
Kraaaaaaak
Sihir penghalang itu retak dan nampak lah satu sebuah batalyon pasukan yang sudah siap berperang. "Dance Titan mundur" teriak Zania.
Tak perlu di beritahu dance Titan langsung melompat mundur. "Siapa mereka" gumah Diego.
Dance Titan melompat mundur dan mendarat dengan mulus walau menyebabkan guncangan "Kita sedang berhadapan dengan musuh yang merepotkan rupanya" Dance Titan.
"Siapa "
__ADS_1
"Kerajaan Geliandos"