The Seven

The Seven
Pertemanan


__ADS_3

...Part 1...


Saat ini Karand, Nian, Kaisha, Marjun, dan Marry serta Juju sedang berada di dalam sebuah kereta kencana milik Marjun.


"Marjun sebenarnya kita mau kemana" tanya Karand sedikit khawatir jika Marjun membawanya keluar kota.


Dulu ia pernah di ajak Marjun ke sebuah pantai dan tinggal di sebuah kastil milik Marjun hanya berdua.


Sebenarnya itu bukan lah masalah yang besar tapi sekarang ia mengkhawatirkan Diego dirumah sakit.


"Ke toko baju langganan keluarga ku"


Marjun sejak tadi tersenyum manis memandangi Karand. Tiba tiba sebuah siku mengenai perut Karand. Karand memperhatikan tangan yang penuh bulu dan hangat itu yang tak lain adalah Nian.


"Ada apa Nian" tanya Karand. "Hei bukan kita mau kerumah sakit" bisik Nian.


"Sabar ya kita harus memenuhi keinginan mereka nanti kalau tidak kita juga yang akan repot" balas Karand.


"Kalian kenapa berbisik"  Kaisha menyipitkan matanya. "Tidak kok Nian cuma bilang ini pertama kali ia naik kereta kencana semewah ini"  Karand menyikut perut Nian meminta bantuan.


"I...iya benar aku baru kali ini menaik kereta kencana semewah ini" Nian berusaha tersenyum. 'lagian Beastman tidak pernah naik beginian kami punya fisik kuat dan sanggup berjalan berpuluh-puluh kilometer' pikir Nian.


"Ah...tidak kok ini tidak mewah sama sekali ya kan Marjun" Marry terlihat membusung dadanya dengan bangga.


"Benar marry ini masih biasa saja karena jika aku membawa kereta kencana pribadi ku pasti Karand tidak mau naik" Marjun mengangguk dulu pernah ia mengajak Karand berkeliling kota.


Tetapi Karand selalu menolak dan bilang 'kereta kencana ini terlalu berlebih-lebihan'. "Oh iya Kaisha kenapa kamu dari tadi diam saja" tanya Juju. "Petualang ya , aku jadi teringat saat aku dulu di culik oleh pemberontak kerajaan Foiriestein dulu aku diselamatkan oleh sekelompok petualang yang bernama Macan Taring Putih" Kaisha menatap orang orang yang mereka lewati dari balik jendela.


"Oh iya kalau tidak salah Kaisha itu adalah anak Jendral kerajaan Foiriestein dan sekaligus keponakan raja kan" tanya Karand memastikan.


"Macan Taring Putih ? bukan kah mereka itu kelompok bandit terkenal ya" tanya Juju. Meskipun penampilan seperti itu Juju adalah perpustakaan berjalan tanya apa saja pada dia pasti dia tau jawabannya.


"Itu lah yang ku heran kan kenapa kelompok yang dulu menyelamatkan ku dan menjadi idolaku malah menjadi bandit sekarang" Kaisha menghelai nafas berat.


Suasana jadi canggung sekarang Nian menyikut perut Karand. Karand menatap Nian dengan tanda tanya besar.


'lakukan sesuatu cepat' bisik Nian. 'apa?' tanya balik Karand. 'Mana ku tau' balas Nian.


"Ja...jadi ,Marjun mau belanja pakaian yang seperti apa" Karand berusaha mencairkan suasana canggung ini.


"Aku ingin membuat  baju couple untuk ku dan untuk karand"


"Tunggu dulu itu curang" teriak Marry.


"Iya....Marjun tidak adil kami juga ingin baju couple yang sama dengan Karand" protes Juju.


"Ka...Karand ayo kita buat baju juga" ajak Kaisha.


"Ba...bagaimana kalau kita membuat baju couple bersama" Karand mencoba memberi jalan untuk teman teman agar tidak terjadi keributan yang tidak diinginkan.


Lalu ia menyikut perut Nian 'apa" delik gadis Beastman kelinci itu. 'Bantu aku' bisik Nian.


"I..iya bukan kah lebih asik kalau kita bisa memakai baju couple bersama" timpal Nian.


"Tunggu dulu ini tidak sesuai dengan perjanjian kita sebelumnya!?" Marjun tidak terima dengan opsi itu.


"Sesuai dengan hasil undian tadi yang menang berhak meminta apa saja kan"


"Bukankah itu bagus kita punya baju couple bersama" Karand mencoba menengahi perdebatan ini.


"Iya bagaimana kalau setelah baju nya selesai kita minta pelukis melukis kita" usul Juju.


"Itu ide yang bagus sekali Juju" timpal Kaisha.


"Ini curang padahal aku yang menang undian nya....kalian benar benar jahat...." Marjun melipat kedua tangan nya di dada dan memalingkan muka lalu tak lupa mengembungkan pipinya.


Tiba tiba kereta kencana ini berhenti "Nona Marjun kita sudah sampai" sang kusir sudah berada dibalik pintu.


Krieeeet


Perlahan pintu kereta kencana menampakan sebuah bangunan besar  "ayo semuanya" Marjun awalnya kesal pun langsung turun dari kereta nya.


...Part 2...


Saat kaki Karand mendarat di tanah ia bisa melihat sebuah bangun yang cukup besar mungkin tiga kali lipat dari asrama Lambang sihir Sword.


"Semuanya ini adalah toko langganan keluargaku, sejak kecil aku selalu membeli baju disini" Marjun memandu mereka semua menuju pintu besar.


Tiba tiba pintu terbuka terlihat seorang wanita berambut model Bob berwarna perak yang memakai baju kaos berwarna kuning dengan bando kuning dan celana hitam panjang yang bagian bawah nya lebar serta memakai sepatu hak tinggi.


"Nona Marjun Aint Einzenberm selamat datang di butik S&S " ujar nya sambil menundukan kepala.


"Selamat pagi Nyonya Stella apa kabar mu" Marjun balas menyapa wanita yang sudah membuat baju untuk nya sejak kecil.


"Nyonya Stella aku dan teman teman ku ingin membuat baju couple tolong berikan aku hasil terbaik" Marjun menundukkan kepalanya pada nona Stella.


"Tidak perlu seperti itu Nona Marjun  lagian kamu adalah pelanggan toko ini sejak kami masih menyewa kontrakan sampai punya gedung sendiri seperti sekarang, anda pantas mendapatkan yang terbaik dari kami" ujar Nyonya Stella.


"Baiklah semuanya silahkan masuk" Nyonya Stella berbalik dan berjalan masuk ke butik di ikuti oleh Karand dan teman teman nya.


Saat masuk banyak sekali baju baju yang terpajang di toko. Ada juga beberapa pria yang bertubuh besar membawa karung yang entah berisi apa.


Lalu ada beberapa pegawai yang sedang menjahit. "Nyonya Stella dari tadi aku tidak melihat Nyonya Sophia dia sedang bolos lagi ya" tanya Marjun yang sedari tadi mencari sosok wanita bernama Sophia.


"Oh Sophia dia sedang di rumah sakit" jawab Stella dengan santai. "Nyonya Sophia sedang sakit!?" tanya Marjun dengan khawatir.

__ADS_1


"Tidak dia hanya membesuk kenalan nya saja" Stella mengambil sebuah buku dari meja yang ia lewati.


"Nona Marjun ini katalog produk terbaru kami silahkan dilihat lihat"


"Terima kasih Nyonya Stella" Marjun menerima buku katalog yang diberikan oleh wanita tersebut.


"Karand teman teman lihat banyak sekali model baju yang menarik di sini" Marjun berseru kegirangan melihat model baju yang ada dibuku katalog.


Setelah menghabiskan waktu tiga jam di butik itu. Mulai dari memilih model baju, mengukur ukuran tubuh dan membeli baju. Akhirnya mereka pergi ke restoran setelah itu ketempat taman bermain memainkan berbagai macam permainan sekarang ini mereka berada dalam kereta kencana milik Marjun.


"Hari yang menyenangkan sekali ya Karand" Marjun tidak terlihat lelah sama sekali. Pasti sekarang dia sangat senang karena sebagai bangsawan ia selalu dikekang oleh aturan membuatnya tidak bisa menikmati hal yang biasa dinikmati oleh orang biasa.


"Benar sekali Marjun kapan kapan kita mungkin bisa melakukan nya lagi" Karand tersenyum lebar melihat teman teman nya yang sangat bahagia.


"Lain kali kita akan menggunakan kereta kencana ku" usul Marry. "Tidak kita akan menggunakan kereta kencana ku" tolak Kaisha.


"Terima kasih untuk hari yang menyenangkan ini teman teman" perkataan Karand sukses membuat pipi keempat teman nya bersemu merah kecuali Nian.


"Tidak perlu sungkan Karand bahkan kita bisa melakukan ini setiap hari" ucap Marjun.


"Tapi....bisakah aku minta tolong" tanya Karand sedikit malu. Lalu ia menyikut perut Nian dengan siku membuat gadis Beastman kelinci itu tersentak.


"Tentu saja Karand kami akan membantu mu sebisa mungkin" ujar Kaisha.


"Tolong antar aku dan Karand kerumah sakit kota kaum bisakah" tanya Nian dengan penuh harap soalnya ia ragu kalau mereka mau mendengar orang selain Karand


"Tentu saja....pak kusir tujuan berikutnya rumah sakit kota Kaum" seru Marjun dengan penuh semangat.


Setelah perjalanan yang memakan waktu selama lima belas menit akhirnya mereka sampai di rumah sakit kota kaum.


...Part 3...


Di sebuah ruangan yang serba putih seorang pemuda berambut biru dengan perban yang terbalut di bagian mata nya dengan memakai baju dan celana hijau tua sedang duduk di tempat tidur.


"Nah Diego sekarang kita akan membuka perban di kepala mu untuk memastikan luka apa kah sudah mengering atau belum" seorang bertubuh tambung dengan rambut hitam yang sudah mulai sedikit memutih  ia memakai jas putih dan stetoskop dileher yang tak pernah absen. Ia memakai celana merah dan sepatu hitam serta baju kemeja putih.


"Iya Dokter Oliver" jawab Diego.


"Sophia dari pada kau bermalas-malasan lebih baik bantu aku membuka perban Diego" Dokter Oliver meninggikan volume suaranya.


Seorang perempuan yang umur sudah berkepala dua berbaring di sofa sambil membaca buku.


"Oliver jangan marah marah terus nanti kamu kena stroke dan tak akan ada dokter yang mau mengobati pasien secara gratis lagi" Sophia tak menghiraukan panggilan sang dokter.


"Sudah lah dokter bukan kah Tante Sophia memang seperti itu...lagian dokter yang paling tau tentang Tante Sophia" Diego tertawa kecil mengingat status mereka berdua yang merupakan suami istri.


Yang mana Dokter Oliver sebagai istri dan Tante Sophia sebagai suami. "Kamu ini selalu saja bolos bekerja dan bermalas-malasan di sini" gerutu Dokter Oliver.


"Malam ini tidak ada makan malam untuk mu" saat ia melirik sang istri yang berada sofa namun sekarang sudah tak ada.


"Ayo suamiku mana yang harus kita operasi" Sophia muncul di sisi lain tempat tidur dengan pakaian operasi lengkap dengan masker dan sarung tangan serta jaring rambut entah milik Dokter mana yang ia ambil.


Waktu penyerangan kota kaum Dokter Oliver tidak berada di sini. Ia berada di Kekaisaran selatan, Kekaisaran Magnolia sedang melakukan kuliah umum tentang ilmu kedokteran.


Lalu muridnya yang bekerja di rumah sakit pasukan perdamaian meminta bantuan nya untuk menangani pasien yang tak lain adalah Diego.


Ia pun langsung kembali meninggalkan Kekaisaran Magnolia dan memberi kabar kepada seluruh sahabat nya bahwa anak dari sahabat mereka Kalista dalam keadaan kritis.


Namun untungnya ia masih bisa datang tepat waktu jika dia telat sedikit saja. Mungkin ia sudah bersama dengan ibu nya sekarang.


"Baiklah ayo kita__"


Tok...tok....tok


"Diego ini Gilbert , aku masuk ya"


Braaaak


Pintu itu ditendang oleh pria yang memakai celana hitam dengan baju orange dan rompi hitam serta dengan kacamata berlensa kuning.


"Diego aku bawa  gadis gadis imut yang ingin membesukmu" Gilbert berjalan masuk dan terlihat lima orang gadis cantik dan seorang pria.


"Gilbert biasa kah kau membuka pintu dengan benar setiap kali kau datang aku selalu harus memperbaiki pintu nya" Oliver selalu pusing jika sahabat nya itu datang berkunjung pasti ia harus mengeluarkan biaya untuk memperbaiki pintu.


"Ah kamu si gadis Beastman kelinci itu" Oliver berjalan mendekati Nian "terima kasih sudah merawat ku Dokter Oliver" Nian membungkuk tubuh nya.


"Santai saja Nian memang tugas Seorang dokter merawat pasien" Oliver tersenyum melihat pasien sudah sehat sekarang.


"Pak dokter apa kita jadi membuka perban ini" tanya Sophia. "Ah maaf soal itu Diego" Dokter Oliver langsung kembali ke Diego yang berada di tempat tidur.


"Hei apa kalian akan berdiri disitu ayo masuk" ajak Gilbert pada Karand dan teman temannya. Gilbert berjalan kearah jendela dan membukanya lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil "jangan merokok di kamar pasien ,Gilbert. sudah berapa kali aku bilang" tegur Dokter Oliver.


"Tenang saja Pak Dokter aku tau itu" sebuah Barrie setengah bola muncul mengelilingi Gilbert.


Gilbert mulai merokok dengan tenang. "Apa kau siap Diego" tanya Oliver.


"Ya Dokter lagi pula aku sudah tidak bisa melihat kedua bola mata ku hancur jadi memakai perban atau tidak itu sama saja" Diego tersenyum kecil.


Kegelapan, dulu saat Diego menjadi petualang ia selalu berada dalam kegelapan malam mengintai buruan nya.


Mengamati dari dalam kegelapan namun sekarang ini ia tak bisa melakukan itu lagi.


"Ada apa dengan sikap pasrah itu Diego" sebuah suara membuyarkan lamunannya. "Suara ini Karand......kan" tanya Diego dengan hati-hati.


Ia bisa merasakan kain kain yang ada di mata nya sudah terlepas. "Jawab pertanyaan ku kenapa kau berkata seperti itu Diego?" suara Karand terdengar sangat dekat dari dirinya.

__ADS_1


Tiba tiba suatu benda hangat menekan kedua pipinya. Telapak tangan mungkin.


"Jawab pertanyaan ku Diego" Karand meninggikan volume suaranya. Diego meraih kedua tangan karand yang saat ini menempel di pipi nya dan menariknya menjauh.


"Mungkin aku harus memperjelas kalimat ku Karand....aku memang bilang 'diperban dan tidak diperban sama saja'....tapi aku tidak pernah bilang kalau aku pasrah dengan keadaan ku" Diego mengangkat tangan kanan nya.


"Lihatlah ini" lambang sihir Arrow berwarna hitam muncul perlahan berubah menjadi warna hijau namun kembali lagi menjadi hitam.


"Memang benar aku tidak bisa melihat lagi tapi aku punya satu trik yang bisa ku gunakan untuk bertahan hidup apa kau pernah dengan bahwa kemampuan sensorik kelelawar" tanya Diego.


"Apa maksud mu" tanya Karand heran.


"Kelelawar tidak memiliki kemampuan melihat yang cukup baik jadi kenapa ia bisa terbang di malam hari tanpa menabrak"


"Dia memancarkan suara dari mulut nya lalu suara itu akan melewati benda benda di depan nya jika suara nya terhalang oleh sesuatu maka ia akan menghindari tempat dimana suara nya terhalang begitu juga dengan ku"


"Tapi bagaimana kamu melakukan itu" tanya Karand.


"Aku memiliki atribut elemen sihir angin jadi aku menggunakan nya menggantikan fungsi suara dari mulut kelelawar"


"Tapi sebenarnya masih ada cara lain yang lebih mudah....tapi tidak mungkin menyuruh batsy terbang setiap saat di sekitar ku"


"Hmmm...aku mengerti garis besarnya.....oh iya aku lupa memperkenalkan teman teman ku"


"Perkenalkan ini Marjun Aint Einzenberm lalu ini Kaisha Abradon Foiriestein lalu ini Marry Hunt Lee dan Julio Cesare panggil saja dia Juju"


"Kalau boleh ku tau kapan kamu berkenalan dengan Karand" tanya Kaisha.


"Kami bertemu di hutan penggoda" jawab Diego singkat.


"Hutan penggoda kenapa Karand bisa ada disana" Juju cukup terkejut mendengar hal itu berarti Karand belum bercerita tentang pertemuan mereka di hutan penggoda.


"Hutan penggoda adalah salah salah satu hutan yang paling berbahaya , bahkan ada yang mengatakan hutan itu sama berbahayanya dengan  hutan putih Elf dan hutan darah" Juju menambahi.


"Waktu itu aku ingin ke kota kaum untuk mendaftar ke akademi kaum sebenarnya di desa ku ada dua rute satu lewat jalur yang aman namun  sangat jauh dan satu lagi lewat Hutan penggoda yang rute lebih singkat"


"Jadi kamu lebih memilih rute yang singkat dan berbahaya untuk sampai di kota kaum dan terjebak lalu bertemu dengan Diego berarti....."


Tiba tiba suasana mendadak hening "dialah yang pertama kali bertemu dengan Karand!!!" teriak ke empat teman Karand kecuali Nian.


"Tidaaaaaaaaaak!!"


"Bisakah kalian diam ini rumah sakit" tegur Dokter Oliver. "Ta...tapi...dia lah yang bertemu Karand pertama kali" Ujar Marjun.


"Halo semuanya kalau boleh tau apa yang terjadi disini" seorang wanita muncul dimuka pintu.


"Nyonya Stella"


"Apa yang kalian lakukan disini hmmm" tanya pemilik butik yang cukup terkenal itu.


"Kami juga punya pertanyaan yang sama untuk mu Nyonya Stella" balas Marry.


"Aku ingin menjenguk Diego , apa kalian kenalan Diego" tanya balik Stella.


"Mungkin bisa dibilang begitu" ujar Kaisha mengingat bahwa mereka baru saja saling mengenal.


"Sophia dari mana saja kau kenapa tidak ke butik hmmm" Stella berjalan mendekati perempuan yang sudah memiliki dua anak itu dan menghadiahi nya sebuah bogem mentah di kepala.


Bugh


Sophia mundur beberapa langkah dan memegang kepala yang kemungkinan besar akan benjol.


"Aduh sakiiiiiit.... Stella jahat...benar kan Oliver".


"Kau pantas mendapatkan nya" jawab Oliver dengan santai sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mooou Oliver jahat juga... Gilbert"


Pria yang sedari tadi mengamati dan merokok akhirnya membuka barrie lalu mengeluarkan sebuah pisau dari balik rompinya.


"Oliver aku pinjam dapur rumah sakit ya....aku ingin membuat makan malam" Gilbert berjalan meninggalkan ruang perawatan.


"Waaaah asik makan malam kita akan dimasak langsung oleh pemilik restoran paling enak di muka bumi... restoran Dream seaaaa" Sophia berseru dan melompat lompat kegirangan.


"Apa maksud nya " tanya Marry.


"Pria pencandu rokok itu adalah pemilik restoran Dream sea yang cabang nya sudah berada di berbagai tempat di belahan dunia dan dia juga seorang chef"  perkataan Oliver sukses membuat Karand dan teman temannya kaget bukan main.


***


Di kereta kencana Marjun


"Ya ampun makanan Dream sea memang tidak pernah mengecewakan" Juju memegangi perutnya yang sangat kenyang.


"Benar sekali....biasanya kita harus antri selama berjam-jam untuk makan di restoran Dream sea"  Marry harus menceritakan ini pada teman dan keluarganya kalau ia memakan masakan yang dimasak langsung oleh pemilik restoran Dream sea.


"Makanan yang benar benar enak ya tidak ku sangkah Diego punya kenalan orang orang hebat" ujar Marjun.


"Apa maksud nya" tanya Nian heran.


"Apa kalian tidak tau Nyonya Stella itu adalah istri dari Sir Varlino, lalu Dokter Oliver, dokter nyentrik yang suka menyembuhkan orang miskin tanpa memungut biaya, lalu Chef Gilbert pemilik restoran yang sangat terkenal dan Nyonya Sophia merupakan desainer yang cukup terkenal"


"Mungkin karena dia itu seorang petualang jadi dia punya banyak kenalan" ujar Karand dengan santai.


Kereta kencana ini berhenti dari balik jendela kereta Karand bisa melihat akademi kaum "Nona Marjun kita sudah sampai tolong bergegaslah nanti gerbang nya akan di tutup" ujar kusir dengan khawatir.

__ADS_1


"Ayo semua" Karand membuka pintu dan berlari kecil menuju pintu gerbang yang sudah hampir di tutup.


***


__ADS_2