The Seven

The Seven
Membuka Lembaran Baru


__ADS_3

...Part 1...


Saat ini Karand sedang berbaring di tempat tidur. Ia memandang langit langit kamar nya "kira kira apa yang akan terjadi besok ya" besok ia akan bertemu dengan Diego lagi dan pemuda berambut biru itu akan memberinya 'sesuatu'.


Tok....tok...tok


"Tunggu sebentar" Karand langsung bangkit dan berjalan menuju pintu. Ia meraih kenop pintu dan langsung membuka nya.


Saat ia membuka pintu terlihat sosok Marry dihadapannya. "Boleh aku masuk Karand" bisik Marry. "Ada apa Mar__" belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya Marry langsung membekap mulut Karand.


"Kecilkan suara mu dan biarkan aku masuk, ada hal penting yang harus ku beritahu kepada mu" Karand mengangguk lalu mundur dua langkah dan membiarkan Marry masuk kemudian menutup pintu dengan perlahan.


"Maaf untuk perlakuan kasar ku tadi Karand" ujar Marry. "Tidak masalah tapi ada apa malam malam begini kau datang ke asrama ku dan bagaimana kau lolos ibu asrama" tanya Karand.


"Aku hanya memberi mereka uang dan ada hal penting yang harus kau ketahui" ucap Marry.


Karand tertawa garing mendengar hal itu. Ia jadi teringat pertemuan pertama nya dengan Marry. Gadis ini langsung melemparkan sekotak uang pada Karand dan meminta diri nya untuk menjadi teman nya.


Akan tetapi itu tidak penting sekarang "jadi apa yang kau ingin bicara kan Marry" tanya Karand sedikit penasaran.


"Ini tentang kau, Diego dan Marjun"


"Apa maksudmu" tanya Karand bingung.


"Tolong jauhilah Diego dan cari lah pria lain Karand, aku mohon Karand tolong lah" ujar Marry bersujud di depan Karand.


"Tung....tunggu dulu Marry sebenarnya ada apa kenapa aku harus menjauhi Diego dan apa hubungan Diego dengan Marjun" tanya Karand bingung.


"Sebenarnya Diego dan Marjun itu sudah bertunangan" Karand membulatkan kedua matanya kemudian memijat keningnya.


"Baiklah aku benar benar bingung sekarang tolong berhenti bersujud pada ku dan jelaskan semua nya dari awal ?" ucap Karand.


Marry mengangkat kepala nya dan berdiri kemudian mereka berdua duduk di tepi tempat tidur. "Sekarang jelaskan ada apa sebenarnya" ujar Karand.


"Begini sebenarnya Diego dan Marjun bertunangan sejak kecil tetapi sejak ibu Diego meninggal dia tiba tiba menghilang, awalnya tak ada yang menyadari hilang nya Diego tetapi Marjun menyadari hal itu dan mencari Diego di seluruh penjuru kota"


"Diego menghilang tanpa jejak tak ada yang mengetahui keberadaan nya hal ini membuat keluarga Einzenberm menyerah dan mencarikan Marjun tunangan yang baru tetapi dia selalu menolak dan terus menunggu Diego"


"Waktu Diego dan Pangeran Roard dari kerajaan Beastman bertarung Marjun menangis bahagia karena telah menemukan tunangan yang ia cintai tetapi setelah pertarungan mereka selesai Marjun menangis lagi karena melihat sahabatnya sudah mengganti posisi diri nya di hati tunangan nya" Karand terdiam mendengar hal itu.


"Sejak saat itu Marjun mengurungkan semua niatnya untuk menemui Diego dan berusaha melupakan Diego" ujar Marry.


"Tunggu kenapa Marjun yang merupakan putri bangsawan tertinggi di kota kaum menikah dengan Diego yang hanya orang biasa" tanya Karand heran.


"Oh sebenarnya Diego itu seorang bangsawan dan bukan sembarang bangsawan tetapi merupakan bangsawan tertinggi di kota Kaum, Keluarga Balserion. Memang benar sekarang ini keluarga Einzenberm adalah keluarga bangsawan tertinggi"


"Dulu keluarga Balserion adalah bangsawan tertinggi di kota kaum tetapi sejak meninggalnya ibu Diego ekonomi keluarga Balserion jatuh dan mereka terlilit banyak hutang akhirnya kepala keluarga Balserion yaitu ayah Diego James Balserion terpaksa menjadi ksatria di kota kaum lalu keluarga Balserion menjadi bangsawan tingkat menengah" ujar Marry.


"Oh iya apa kau kenal dengan Abigail Clancy" tanya Marry. Karand mengangguk ia pernah bertemu dengan Abigail di perpustakaan.


"Dia itu adalah saudara tiri nya Diego dulu ayah Diego punya dua istri" tambah Marry.


Tiba tiba pintu terbuka seorang perempuan berambut perak berjalan masuk ia membawa sebuah payung ditangannya kemudian di pipi terdapat sebuah lambang sihir Magus.


Karand dan Marry terkejut bukan main "Marjun" ucap mereka berdua. "Marry apa kau mau merusak persahabatan kita" Marjun membentangkan payung nya.


"Bu.....bukan begitu Marjun.....a...aku hanya tidak ingin melihat diri mu murung" teriak Marry.


Karand terdiam sejenak ia memahami perasaan Marry. Pasti tersiksa melihat seorang sahabat yang sedang berbahagia di atas penderitaan sahabat nya yang lain.


Karand harus mengambil sebuah keputusan yang bagus untuk mereka bertiga. Tapi apa yang harus ia perbuat.


"Rasa nya jadi sangat canggung ya Marjun karena aku sudah tau kebenaran nya" ujar Karand.


Marjun menatap Karand dengan tatapan kosong "sudah jelas aku tak akan mampu merebut Diego dari mu Karand " Marjun menggigit bibir bawahnya.


"Aku menantinya sangat lama dan selalu berdoa untuk keselamatan diri nya dimana pun ia berada tiba tiba kamu bertemu dengan Diego di hutan penggoda dan menggantikan posisi yang harusnya jadi milikku" air mata mengalir di pipi Marjun.


"Keadaan benar benar kacau ya Marjun sekarang ini di dalam hati ada sebuah perasaan yang tak bisa ku jelaskan" ucapan Karand membuat kedua sahabatnya itu terkejut.


"Tapi ini bukan nya menarik Marjun"


"Karand apa yang kau bicarakan" tanya Marry mulai panik.


"Bagaimana kalau kita bersaing untuk mendapatkan Diego yang menang akan mendapatkan Diego" tantang Karand kemudian Karand mengulurkan tangan nya berharap Marjun mau menerima tawaran nya.


Marjun tersenyum kecil "itu bukan tawaran yang buruk Karand tetapi menantang mu adalah tindakan bodoh karena itu akan mengerahkan semua yang aku punya untuk mendapatkan tunangan ku kembali" ujar Marjun dengan tegas kemudian menerima uluran tangan Karand.


Tiba tiba Karand menarik tangan Marjun lalu memeluk tubuh gadis berambut perak itu. "Astaga syukurlah kita bisa membicarakan nya secara baik-baik" Karand memeluk Marjun dengan sangat erat.


"Apa...apa maksud nya ini Karand" tanya Marjun bingung.


Karand melepaskan pelukan nya "sebenarnya aku takut hubungan kita akan merenggang....aku benar benar takut" ucap Karand.


Marjun terdiam, awal nya ia juga takut jika hubungan mereka merenggang karena Diego. Itu lah yang membuat ia tidak mau mendekati pemuda berambut biru.


Marjun memeluk Karand dengan erat "Karand....mari kita bersaing secara sehat sebagai sahabat" ucap Marjun. "Tentu yang terbaik yang akan mendapatkan Diego" Karand kemudian membalas pelukan Marjun.


"Ngomong-ngomong Marry mau kemana kau" ucap Marjun. Marry yang hendak kabur tersentak kaget "tidak ...tidak...tidak aku cuma mau kabur ....maksudku aku cuma mau tutup pintu kok....hehehe" Marry langsung menutup pintu kamar Karand.


"Terkadang mulut ember mu itu ada guna nya juga.....terima kasih Marry" ujar Marjun.


"Eh apa yang kau katakan........boleh di ulangi" ujar Marry.


"Tidak" balas Marjun.


"Ayo lah katakan lagi" mohon Marry.

__ADS_1


Setelah itu mereka pun mengobrol sampai larut malam. Karand bertanya tentang Diego saat masih kecil pada Marjun. Marjun pun dengan senang hati menceritakan semua hal tentang Diego.


'Setiap hari selalu dibandingkan dengan saudara tiri nya, ibu nya tidak percaya pada anak nya sendiri, selalu mengalami perlakuan kasar dari sang ayah, menerima cemooh dari banyak orang.....Tetapi Diego bisa melewati semua itu mental nya pasti sangat kuat'


...Part 2...


Saat terbangun ia merasakan keberadaan orang lain selain diri nya tetapi itu bukan batsy "hmmmmp Diego apa kamu sudah bangun" ia mengenali pemilik suara itu.


"Bibi Stella" Diego langsung bangkit dari tempat tidur. "Apa sudah pagi" tanya Diego.


"Hmmmp ini sudah siang" jawab sahabat ibu nya itu.


"Aku kesiangan ternyata" ujar Diego. "Lain kali jika mau tidur jangan lupa tutup kamar mu Diego hmmmp" ujar Bibi Stella.


Diego mengernyitkan dahi "memang nya ada bibi" tanya Diego. "hmmmp kau lupa dirumah ini ada empat maid yang menyukai dirimu jika aku telat sedikit kau sudah habis di ***** oleh mereka" ujar Bibi Stella.


Diego paham apa yang dimaksud oleh bibi Stella "lain kali aku tidak akan lupa mengunci pintu kamar bibi" ujar Diego.


"Bagus sekarang cepat mandi dan cari kegiatan di luar sana aku tidak mau menampung mu terlalu lama hmmmp" bibi Stella bangkit dan berjalan meninggalkan kamar.


Diego menghelai nafas panjang kemudian turun dari tempat tidur. Setelah itu ia mandi dan bersiap-siap kemudian berpamitan dengan bibi Stella.


"Pertama aku harus pergi ke asrama sebelum bertemu dengan Karand" sekarang ini Diego memakai celana hitam panjang dan baju kaos hitam berlengan panjang dengan baju kemeja berwarna putih yang berlengan panjang yang tidak dikancingkan.


Jika diingat dia punya teman asrama bernama Samuel. Terakhir kali mereka bertemu saat Karand mengajak mereka ke mall kota kaum.


Kira-kira apa kabar pemuda itu tapi dia tidak punya urusan dengan nya. Ia hanya harus mengambil tas penyimpanan yang ada di kamarnya.


Setelah berjalan cukup lama akhirnya ia sampai di Akademi Kaum. Diego langsung berjalan menuju asrama nya.


"Hei bukan kah dia orang yang mengalahkan Pangerang Roard dari kerajaan Beastman"


"Iya sudah lama aku tidak melihat diri nya menurut rumor ia dihajar Roard di luar sekolah."


"Benar benar menyedihkan nasib nya".


"Oh iya dia itu Arrow atau Rider".


"Sudah pasti dia itu rider karena dia punya tunggangan".


Diego tidak memperdulikan perkataan orang orang. Sekarang ini diri nya menggunakan sihir angin untuk melihat lingkungan yang ada disekitar.


Di pikiran nya mulai terbentuk denah ruangan kemudian muncul titik-titik yang bergerak di sekitar nya. Titik-titik itu adalah orang yang berlalu lalang.


...Part 3...


Setelah berjalan selama lima menit Diego akhirnya sampai di asrama nya. Diego meraih kenop pintu namun ia terdiam sejenak "tidak di kunci" gumah Diego.


Pemuda berambut biru mendorong pintu "Diego" suara yang sudah lama ia tidak dengar. "Samuel" gumah Diego.


"Ti...tidak ini tidak seperti yang kau pikirkan" seru Samuel. "To...tolong lepaskan aku sebentar Putri Anna" ujar Samuel.


Diego menggunakan sihir angin nya untuk mengetahui ada berapa orang di asrama ini. Diego menghelai nafas panjang "Sudahlah aku tidak peduli dengan apa yang kau lakukan aku hanya ingin mengambil barang ku" ujar Diego berjalan memasuki asrama nya.


"Tolong putri Anna lepaskan tangan ku, aku sudah lama tidak bertemu dengan Diego " Samuel melepaskan pelukan putri Anna kemudian berjalan mendekati pemuda berambut biru itu.


"Siapa sih dia" tanya seorang gadis berambut hitam panjang dengan mata berwarna biru.


"Dia Diego siswa akademi kaum sama seperti kami buk guru Luna" ujar seorang wanita berambut panjang berwarna merah dengan mata kehijauan.


"Tapi aku tidak pernah melihat nya" ujar buk guru Luna.


"Iya sejak menang melawan Roard dia menghilang" ujar wanita berambut merah itu.


"Diego setelah kita berpisah di mall apa yang terjadi pada mu" tanya Samuel. "Tidak banyak yang terjadi ku setelah kita berpisah kami bertemu dengan Wilz bersaudara dan aku kehilangan kedua mata ku, sekarang ini aku buta" ujar Diego dengan santai berjalan menuju kamar nya.


"Eh tapi kau bisa berjalan sendirian ke asrama" tanya Samuel heran. "Sejak kecil aku selalu berjuang untuk bertahan hidup jadi hal seperti ini bukan lah masalah berarti bagiku" Diego meraih kenop dan mendorong pintu kamarnya.


Ia langsung menggunakan sihir angin nya untuk melihat kamar nya. Di pikiran nya muncul sebuah denah kamar dengan dua benda mati yang berukuran besar itu pasti tempat tidur dan lemari.


Diego berjalan menuju kemari dan langsung membuka nya. "Kau mencari apa" tanya Samuel mendekati Diego.


"Aku hanya mengemasi barang ku" jawab Diego santai. "Oh.....eh tunggu mau kemana kau?" tanya Samuel kaget. "Apa kalimat ku kurang jelas, sekarang aku ini buta jadi buat apa aku sekolah" ucap Diego.


"Jangan putus asa begitu Diego semua masalah pasti ada jalan keluar nya" Samuel berusaha meyakinkan Diego. "Ada beberapa kekeliruan antara kita Samuel, pertama siapa yang bilang kalau aku putus asa kedua bukan kah kau sudah menyadari kalau aku datang ke asrama sendirian" Diego mengambil sebuah tas kecil yang merupakan satu satu nya hal baik yang ditinggalkan oleh sang ibu.


Ia pun memasukan semua barang yang ada di lemari ke dalam tas penyimpanan nya. "Lalu apa yang kau lakukan setelah ini" tanya Samuel.


"Entahlah mungkin kembali jadi petualang tapi aku juga punya kenalan yang menawarkan pekerjaan " Diego kembali menggunakan sihir angin nya.


"Walau singkat senang mengenalmu Samuel" ujar Diego kemudian ia diam sejenak. "Oh iya maaf telah menganggu bermesraan bersama Harem mu" Diego tertawa kecil.


"Tu... tunggu mereka itu bukan Harem ku mereka cuma teman" bantah Samuel. "Terserah kau saja sih" Diego dan Samuel berjalan menuju ruang tamu.


"Oh iya Diego perkenalkan teman teman ku, ini Buk Guru Luna Estrada guru baru di akademi kaum, lalu ini Putri Elf dari kerajaan Grenworld Putri Annabeth Elfina Grenworld, lalu Clarissa Abradon Foiriestein putri kerajaan Foiriestein, dan dia Axel seorang demi elf, dan ini Yerome Beastman rubah dan teman teman ini Diego" ujar Samuel mengenalkan Harem nya pada Diego.


"Kau ini bodoh atau gimana sih Samuel sudah ku bilang aku ini buta mana tau aku wajah Harem mu" gerutu Diego.


"Maa...maaf aku bukan bermaksud menyinggung mu" ucap Samuel panik. "Tidak masalah aku pergi" Diego berjalan meninggalkan kamar asrama nya.


Dulu sebelum ia bertarung dengan pangeran Beastman itu ia menyaksikan Samuel melawan dua puluh empat murid sekaligus dan menang.


"Aku pikir dia sama seperti ku" ucap Diego


"Tapi sayang nya kami berbeda" ucap Diego dengan kecewa. Pemuda berambut biru itu berhenti berjalan ia baru saja teringat hal penting jika di ingat lagi Diego tidak bilang pada Karand mau bertemu dimana.


Diego memutuskan untuk pergi ke tempat yang pasti dikunjungi oleh semua siswa yaitu kantin. Diego menggunakan sihir angin nya untuk menentukan ke mana ia harus pergi.

__ADS_1


Di perjalanan ia mendengar dentingan pedang beradu dan seruan penuh semangat.


Traaaaang


Triiiiiiing


"Semua nya serang"


"Habisi mereka"


Diego berhenti berjalan dan menghadap ke arah sumber suara itu. Apakah ada semacam simulasi perang atau sedang ada tes.


Diego merasakan seseorang berjalan mendekat ke arah nya langkah kaki perlahan terdengar.


Tap


tap


tap


tap


"Senang bertemu dengan mu lagi Diego" Diego mengernyitkan dahi berusaha mengingat-ngingat pemilik suara ini tetapi ia tidak tidak menemukan jawabannya.


"Ini aku Pak Guru Kaizer"


"Ternyata ayah nya Karand ya ku pikir siapa" gumah Diego. "Apa kau bilang sesuatu" tanya Pak Guru Kaizer.


"Apa ada semacam simulasi perang" Diego mengalihkan topik pembicaraan mereka. "Iya benar ini adalah bagian dari pelajaran pertarungan yang akan di praktekan di kelas tiga" ujar Pak Guru Kaizer.


"Begitu ya entah kenapa nostalgia sekali" ujar Diego.


"Eh...apa " ujar Pak Guru Kaizer.


"Bukan apa-apa" jawab Diego singkat. "Kau tidak bisa membohongi ku tadi dirimu tadi bilang 'begitu ya entah kenapa nostalgia sekali' apa maksud kau pernah ikut berperang" cecar Pak Guru Kaizer.


Diego menghelai nafas panjang "iya aku pernah ikut berperang" jawab Diego dengan datar. Pak Guru Kaizer terdiam sejenak sepertinya ia menemukan salah satu alasan kenapa anak ini memiliki energi sihir yang sangat dingin.


"Kalau boleh tau......kenapa kau bisa ikut berperang" tanya Pak Guru Kaizer dengan hati hati. Sebagai guru ia harus bisa memahami murid nya.


Akan tetapi karena setiap murid berbeda-beda membuat dirinya harus melakukan pendekatan yang berbeda-beda pula.


"Awalnya itu cuma misi untuk merebut kota dari para monster tetapi itu semua berubah saat kami tiba di sana, kami menyadari ada nya campur tangan dari negara Geliandos" ujar Diego kemudian tersenyum kecil.


"Merebut kota dari monster, campur tangan Geliandos, bukan kah itu terdengar seperti cerita Perang Tujuh Hari Tonren" tanya Pak Guru Kaizer kemudian ia diam sejenak. "Jangan bilang kamu ikut dalam perang itu" tanya Pak Guru Kaizer dengan nada tidak percaya.


"Iya itu benar aku ikut dalam perang itu" jawab Diego dengan datar. Semilir angin menerpa anak rambut biru milik nya seakan berdansa bersama angin.


"Aku tidak tau harus berkomentar apa tentang mu Diego bahkan Samuel lebih mudah dipahami" Pak Guru Kaizer tertawa kecil. "Walaupun begitu aku tetap akan berusaha memahami dirimu karena itu lah tugas seorang guru untuk membimbing murid menjadi lebih baik" Pak Guru Kaizer mengalihkan pandangannya ke arah murid murid yang sedang melakukan simulasi perang.


"Pak guru Kaizer"


Diego yang mendengar hal itu langsung mencari sumber suara tersebut. "Pak guru Gerald" sapa Pak guru Kaizer.


"Bagaimana hari mu Pak Guru Gerald" tanya Pak Guru Kaizer. "Sangat melelahkan pak guru Kaizer" pria bernama Gerald itu menghelai dengan kasar. "Murid-murid kelas dua itu memang tidak tau waktu aku selalu telat makan karena mereka terus bertanya dan bahkan mereka tidak memberiku waktu untuk sendiri" gerutu Pak Guru Gerald.


"Soalnya penjelasan mu sangat mudah di mengerti Pak guru Gerald, murid murid juga menyukaimu kau sangat dekat dengan murid murid mu" Pak Guru Kaizer memuji rekan kerjanya itu.


"Baiklah kalau begitu Pak guru Kaizer aku pergi dulu aku harus memanfaatkan waktu ku yang tersisa" Pak Guru Gerald berjalan melewati mereka berdua.


"Kita menang!!!" seru seorang pemuda.


Diego tersenyum kecil "bagimu ini terlihat seperti main perang-perangan dibandingkan dengan perang Tonren" ucap Pak Guru Kaizer.


"Mau bagaimana lagi" ucap Diego.


"Aku pernah ikut berperang dan perang yang ku ikuti itu termasuk perang paling buruk dalam sejarah" tambah Diego. Ada Beberapa kelompok besar yang menaungi kehidupan masyarakat.


Federasi perdamaian, Federasi Manusia, Federasi Elf, Federasi Non Human.


Mereka lah yang menaungi kehidupan bermasyarakat dalam menentukan peraturan contoh seperti federasi Elf mereka melarang penebangan pohon kehidupan elf dan Federasi Non Human menentukan segala sesuatu dengan bertarung.


Jika ingin berperang setiap federasi memiliki aturan yang harus dipatuhi namun Negara Geliandos tidak melakukan itu dan mulai melakukan invasi ke desa Tonren yang dikenal memiliki sebagai kota penambang.


Waktu itu para petualang harus berhadapan dengan negara Geliandos dan memerlukan waktu selama tujuh hari tujuh malam untuk menang.


Sebenarnya mereka hampir kalah tetapi untung Federasi manusia dan Federasi Non Human datang membawa bantuan. Federasi manusia bertanggung jawab karena Geliandos adalah bagian dari federasi manusia dan Federasi Non Human datang karena Kota Tonren termasuk wilayah dibawah naungan mereka.


***


Diego meninggalkan rumah Urb menuju kemudian berjalan menuju gerbang kota ada beberapa petualang yang berkumpul disana.


Ia melihat masyarakat memulai aktivitas mereka. Dapur mulai mengepul, beberapa pria dewasa mulai meninggalkan rumah mereka sambil membawa cangkul dengan sekotak bekal untuk siang nanti.


Tetapi ada saja rumah masih terlihat gelap mungkin orang di dalam rumah itu masih tertidur.


Sesampainya di gerbang kota Diego menarik nafas dan menghembuskan perlahan. "Oh jadi kau juga mengikuti misi ini ya Hunter of Nightmare" Diego berbalik dan mendapati seseorang yang tidak ia duga.


"Blade of Justice" gumah Diego.


"Apa kau kesana untuk menegakkan keadilan juga" Diego tersenyum kecil. "Tentu saja dimana pun aku berada aku akan membawa keadilan karena aku adalah keadilan"ujar pria berambut merah itu.


"Terserah kau saja sih seperti nya orang-orang disana juga ikut dalam misi ini" Diego berbalik dan memandang orang-orang itu. Blade of Justice berdiri di samping Diego "Aku akan melindungi mereka semau" ujar Blade of Justice.


"Sebelum melindungi orang lain kenapa kau tidak melindungi dirimu sendiri" tukas Diego.


"Tentu saja aku bisa melakukan nya, perlu kau ketahui aku juga akan melindungi mu" Blade of Justice berjalan menuju orang orang yang berkumpul mendahului Diego.

__ADS_1


Diego tertawa kecil "aku juga tidak perlu perlindungan dari mu" pemuda berambut biru langsung berjalan menyusul Blade of Justice.


__ADS_2