
...Part 1...
Saat ini Diego sedang berada di sebuah toko senjata. Sejak pulang dari misi pengusiran werewolf di desa Loria yang berakhir kekacauan dirinya memutuskan untuk beristirahat sejenak dan mempersiapkan diri untuk misi di kota Tonren.
"Sudah ku bilang Urb !!! berhentilah membuat senjata yang aneh!!!" teriak seorang pria bertubuh besar dengan baju kaos coklat melipat tangan nya di dada.
"Apa nya yang aneh senjata ku biasa biasa saja kok" bantah seorang pria dengan tubuh gemuk dan berkepala botak dengan muka yang membuat orang disekitarnya selalu mengernyitkan dahi pada nya. 'wajah yang sangat buruk'.
Pria bertubuh besar itu menghela nafas berat "Urb apa kau masih tidak mengerti senjata mu itu selalu membuat petualang mendapatkan masalah bahkan tidak sedikit orang yang mati karena senjata mu" ujar pria itu.
"Mereka itu petualang yang lemah dan tidak kompeten karena itu mereka mati hanya karena mereka membawa senjata ku sebelum mati bukan berarti senjata ku yang membuat mereka mati" bantah Urb.
"Cih kenapa kau tidak mengerti juga sudah lah pergi dari sini aku muak melihat jelek mu!!!" seru pria itu.
"Kalau muka ku jelek kenapa hah!!! memang nya itu berpengaruh pada kualitas senjata ku" balas Urb.
"Cih dasar kau si jelek tak tau diri!!! cepat pergi atau aku akan memanggil ksatria!!!"bentak pria.
Muka pria bernama Urb itu memerah padam dia mengambil kotak kayu miliknya dan berjalan pergi.
Awalnya Diego berusaha untuk tidak memperdulikan keributan itu tetapi pandangan Diego terfokuskan pada kotak berisi belati berwarna hitam yang di bawa oleh pria bernama Urb itu.
Belati yang sangat bagus itu lah yang dipikirkan diri nya saat pertama kali melihat senjata tersebut. "Tunggu" seru Diego saat pria bernama Urb itu sudah berada di muara pintu.
"Aku ingin melihat belati itu" Diego berjalan mendekati pria gemuk berkepala botak itu. Pria itu berhenti berjalan dan menghadap Diego "benar kah" tanya pria itu dengan antusias.
"Iya jika belati itu cocok dengan ku aku akan.... membelinya" ujar Diego sedikit ragu. "Tenang saja senjata ku pasti cocok untukmu" ujar pria itu dengan percaya diri.
"Oh iya bagaimana kalau kita ke rumah ku ada banyak senjata di sana kau pasti akan tertarik" ujar pria itu. "Oh iya nama ku ku Urb kalau boleh tau nama mu siapa" tanya pria itu.
Diego mengeluarkan lencana berwarna emas yang ia kalung kan. "Aku seorang petualang kau bisa memanggilku Hunter of Nightmare" ujar Diego.
Urb mengangguk paham "kalau begitu ayo" ajak nya. Mereka pun berjalan meninggalkan toko senjata itu. Di perjalanan mereka tidak terlalu banyak mengobrol.
"Hei lihat pria itu sangat jelek ya"
"Bahkan dia lebih jelek dari pada monster"
"Muka nya sangat menyeramkan jangan dekati dia"
"Aku pernah melihat ia memasuki rumah bordil"
"Aku jadi kasihan dengan pelacur di sana"
Diego memilih tidak berkomentar apa pun, ia mau berurusan dengan pria ini karena belati yang ia miliki terlihat sangat bagus.
"Kita sampai" ujar Urb berhenti di sebuah rumah yang cukup sederhana. Terdapat halaman yang sangat luas dipenuhi bunga.
"Hei Urb siapa dia" seru seorang wanita tua yang tinggal di sebuah rumah Urb. "Dia pelanggan ku Nek dia mau lihat senjata buatan ku" ujar Urb walau ucapan yang tidak benar.
Pria ini lah yang mengajak Diego ke rumah nya untuk melihat senjata. "Setelah setengah bulan kamu tidak dapat pelanggan akhirnya kamu mendapatkan satu" ujar nenek itu terlihat lega.
"Hahaha iya nek aku benar benar beruntung tapi maaf nek aku harus segera memperlihatkan senjata ku pada pemuda ini" ujar Urb kemudian berjalan mendekati pintu.
Diego berjalan mengekor pada pria itu. "Iya cepat lah jual beberapa senjata pada nya supaya taman bunga yang indah itu bisa lebih indah lagi"
"Hahaha tentu saja nek"
krieeeeeeeek
Pintu terbuka Urb langsung masuk ke dalam rumah nya. Pemandangan pertama yang Diego lihat adalah puluhan kertas yang bertumpuk dimana-mana.
"Ayo masuk abaikan saja kertas-kertas itu" ajak Urb.
Diego masuk dengan hati hati takut jika ia menginjak catatan penting milik Urb. "Hei ayo duduk" Diego mengamati sekitar banyak sekali papan tulis yang penuh coretan dan kertas yang berhamburan dimana-mana.
Ada dua buah sofa yang berhadapan satu sama lain dengan sebuah buah meja yang memisahkan nya. Diego berjalan dengan hati hati menuju sofa itu dan duduk dihadapan Urb yang sedari tadi sudah duduk di sofa.
"Jadi langsung saja senjata mana yang kau mau"
...Part 2...
"Belati hitam yang ada di dalam kotak mu cukup menarik perhatian ku" ujar nya tanpa basa-basi.
"Oh belati peledak ya"
"Belati peledak" beo Diego. Urb bangkit dan meletakkan kotak kayu itu di meja lalu mengeluarkan lima buah belati hitam.
"Belati ini di lengkapi dengan mantra peledak di dalam nya semakin banyak benturan yang di terima nya akan semakin besar pula daya ledak nya" ujar Urb.
"Berarti belati ini tidak bisa digunakan terlalu lama dalam pertarungan jarak dekat kan" tanya Diego memastikan.
"Tergantung seberapa kuat benturan yang ia terima jika sangat kuat maka belati ini akan langsung meledak dan jika benturan nya lemah maka belati ini bisa digunakan lebih lama" ujar Urb.
"Senjata yang merepotkan tapi aku akan mengambilnya sebelum ku ambil aku mau menguji keefektifan senjata itu" ujar Diego.
Urb mengangguk mengerti "lalu apa ada lagi" tanya Urb. "Aku akan ikut dalam misi merebut kota Tonren apa punya sesuatu yang dapat membantu" tanya Diego.
Urb diam sejenak dan memasang pose berpikir. "Aku sih hanya membuat senjata dan menjual nya, sulit bagi mencari informasi karena muka jelek ku" pria itu menghelai nafas berat.
"Begitu ya kalau begitu mungkin kita bisa menguji coba belati peledak ini" ujar Diego meraih belati berwarna hitam.
Ia mengamati dengan seksama ada mantra sihir yang tertulis pada belati itu.
"Kalau boleh mau kah kamu memperlihatkan senjata mu lalu apa kamu punya atribut elemen sihir" tanya Urb dengan antusias.
"Aku punya tiga atribut elemen sihir angin, api, air lalu senjata adalah panah dan lambang sihir Arrow" Diego mengaktifkan lambang sihir nya muncul sebuah busur panah dan tas berisi anak di atas meja.
Tiba tiba Urb langsung menyambar busur milik Diego. "Kau menggunakan senjata mu dengan sangat kasar" Urb mengamati busur panah Diego dengan seksama ia melihat banyak banyak bekas bakar pada busur itu.
__ADS_1
Urb mengangguk pelan "Baiklah aku akan membuatkan sebuah busur panah yang cocok dengan atribut elemen sihir api...aku yakin ini akan menjadi senjata yang sangat hebat" Urb menatap Diego dengan mata yang berbinar-binar.
"Tidak terima kasih tapi aku lebih ahli menggunakan sihir angin ku" tolak Diego. "Santai saja aku akan membuatkan senjata yang mendukung atribut elemen sihir angin, air dan api" ujar Urb.
Diego menghelai nafas seperti ia akan menghabiskan banyak uang untuk busur panah ini. "Kalau begitu aku ingin kualitas nya yang terbaik jangan khawatir dengan masalah pembayaran Urb" ujar Diego. "Hahaha aku suka gaya mu itu Hunter of Nightmare oleh karena itu aku akan membuatkan senjata terbaik untuk mu" Urb bangkit dan melemparkan busur itu pada pemilik nya.
Ia lalu memasukkan kembali belati peledak itu ke dalam kotak itu "ayo kita pergi ke tempat kerja ku" Urb mengangkat kotak itu dan berjalan pergi.
Diego ikut bangkit dan berjalan mengikuti Urb. Rupanya Urb bekerja di sebuah basement yang sangat besar sebenarnya ini lebih cocok di sebut gudang.
Terdapat banyak papan tulis dan kertas-kertas berhamburan serta banyak senjata yang terpajang di dinding.
Mereka berjalan menuju sudut ruangan yang jauh lebih rapih serta terdapat tempat tidur dan sebuah meja berisi banyak barang. "Selamat datang di tempat kerja dan ruang istirahat ku" ujar Urb.
Urb berjalan menuju meja itu dan mendorong semua benda yang berada di atas meja sampai jatuh lalu meletakkan kotak itu di meja tersebut.
"Kemari lah Hunter of Nightmare " ujar Urb.
Diego mendekati Urb lalu pria itu memberikan sebuah buku. Diego menerima buku itu dan langsung membuka buku ia mendapati banyak sekali desain senjata yang masih berupa coret-coretan.
"Senjata yang sangat unik" gumah Diego.
"Apa ada yang kau inginkan" tanya Urb.
"Ada satu sih tapi aku ingin kau fokus pada busur panah ku dan jangan lupakan dengan belati peledak" ujar Diego meletakan buku itu di atas meja.
"Begitu ya bagaimana kalau kita melakukan sedikit wawancara" Urb mengeluarkan sebuah buku kecil dari saku nya dan sebuah buku angsa.
"Bersembunyi atau bertarung secara langsung" tanpa mendengar persetujuan dirinya Urb langsung mengajukan pertanyaan.
"Hm aku lebih sering bertarung secara langsung"
"Senjata yang menimbulkan kerusakan besar atau yang memudahkan pergerakan" tanya nya lagi.
"Memudahkan pergerakan" jawab Diego singkat.
"Jika musuh berhasil lolos dari panah mu apa yang kau lakukan" tanya pria tersebut.
"Aku akan membuat jarak antara kami dan mengganti senjata" ujar Diego.
"Jika musuh mu juga orang yang berlambang Arrow apa yang akan kau lakukan" tanya Urb.
Diego diam sejenak dan berpikir "aku akan menghadapinya secara langsung dan menggunakan beberapa senjata tambahan seperti belati dan sebagainya" ujar Diego.
"Bagaimana skill mu" tanya
"Skill pertama All Death aku bisa menembak lebih dari satu target dengan satu panah yang tak terlihat, skill kedua aku bisa mengambil serangan sihir lawan dan menjadikan nya sebagai anak panah dan skill ultimate ku Judgment Arrow bisa menembakan panah yang tak mungkin melesat dengan kekuatan penuh tapi skill ketiga ini butuh banyak mana" ujar Diego.
"Skill yang bagus terus kau juga menguasai tiga atribut elemen sihir, angin, air, dan api tapi kau lebih sering menggunakan sihir angin" Urb menutup buku nya dan memasukkan ke dalam saku nya kembali.
"Oh iya aku hampir lupa kapan misi mu ke kota Tonren" tanya Urb. "Dua hari lagi" jawab Diego singkat.
"Hah apa kau serius!!!"
"Tidak apa tujuan awal ku kan cuma mau beli belati peledak itu" ujar pemuda berambut biru itu dengan santai.
"Kau meremehkan ku ya tapi tak apa aku punya sesuatu yang menarik juga disini" Urb berjalan pergi meninggalkan sendirian.
Setelah beberapa menit ia melihat Urb kembali dengan membawa batang kayu berukuran sedang.
"Kayu apa itu" tanya Diego heran.
"Pertanyaan yang bagus sekali Hunter of Nightmare kayu ini adalah kayu dari pohon kehidupan elf di kerajaan Grenworld" seketika Diego membulatkan mata nya. "Kau......bagaimana kau mendapatkan kayu dari pohon kehidupan dari kerajaan Grenworld" ujar Diego dengan tidak percaya.
"Ya ampun santai saja kawan aku membelinya dengan legal kok......di pasar gelap" Urb mengangkat kedua bahu nya.
"Oh...tunggu apa?! pasar gelap!!"
"Sebulan lalu aku pergi ke pasar gelap dan bertemu dengan seorang elf yang ingin menjual kayu dari pohon kehidupan di kerajaan Grenworld dengan harga yang cukup murah jadi tanpa pikir panjang ku beli semua kayu dari pohon kehidupan kerajaan Grenworld" ujar Urb.
"Lupakan semua itu dan bersiaplah kau akan memakai panah yang terbuat dari pohon keramat suku Elf" Urb tersenyum kecil.
...Part 3...
Setelah itu Diego memperhatikan Urb membuat busur panah itu. Tidak ada yang spesial dari cara ia membuat senjata.
Setelah menunggu selama tiga jam lama nya busur panah Diego akhirnya selesai. Urb memberikan busur panah itu pada Diego.
Pemuda berambut biru itu menerima nya dengan hati-hati takut jika terjadi sesuatu pada busur panah itu. Saat menyentuh busur panah itu Diego cukup kagum "Kau mengamplas nya dengan sangat halus, busur ini juga sangat ringan" ujar Diego.
"Sekarang kita harus memastikan kekuatan busur ini" ujar Urb kemudian mengambil sebuah tongkat besi dan mengayunkannya sekuat tenaga ke pada Diego.
Diego langsung menahan serangan Urb dengan busur itu. Akan tetapi tongkat besi Urb langsung patah membuat pria itu tersenyum puas.
ia sebenarnya tidak heran jika busur panah ini dapat mematahkan besi karena busur ini terbuat dari bahan yang sangat berkualitas.
Dulu Diego pernah membaca di buku ibu nya tentang elf dan pohon kehidupan. Saat elf hidup berkoloni sebuah pohon akan tumbuh dengan sendirinya.
Itu lah pohon kehidupan elf, kenapa disebut demikian karena para elf cenderung hidup di sekitar pohon itu. Banyak kehidupan yang ada di dekat pohon itu.
Ia juga pernah membaca kalau kayu dari pohon kehidupan elf itu sangat kuat sehingga membuat banyak pihak menginginkan pohon itu.
Walaupun pohon itu sangat sakral tetapi sebenarnya elf juga menggunakan kayu dari pohon itu sebagai senjata.
Sudah jadi ciri khas elf memiliki senjata yang terbuat dari kayu pohon kehidupan. "Bagaimana mengagumkan bukan" tanya Urb.
"Iya" jawab Diego singkat.
"Apa kau mau membuatkan zirah ringan dan kuat untuk ku " tanya Diego. "Itu mah gampang" jawab Urb dengan percaya diri.
__ADS_1
Diego meraih buku yang berisi kumpulan ide Urb. "Tolong juga buatkan aku dua gauntlet yang kanan model yang ini" Diego menunjuk sebuah model gauntlet berbentuk panah.
...(penggambaran gauntlet panah Diego)...
"Terus untuk satu nya tolong buatkan aku gauntlet model yang bisa menembakan alat pengait" ujar Diego
"Permintaan yang bagus tapi jika ingin menyelesaikan semua itu sebelum misi kau harus membantuku membuatnya" ucap Urb.
"Baiklah tidak masalah" ujar Diego
Awalnya Diego mengira jika sudah membantu Urb maka dua buah gauntlet pesanan nya itu bisa terselesaikan dengan cepat tapi ternyata Urb tidak memiliki bahan bahan untuk membuatnya.
Alhasil mereka pergi ke pasar gelap untuk mendapatkan bahan bahan membuat gauntlet itu. "Harusnya kau mempersiapkan semua bahan bahan itu dari jauh-jauhi hari" itu lah kalimat yang ia lontarkan saat mengetahui Urb tidak punya bahan bahan untuk membuat gauntlet.
Akan tetapi pria itu dengan mudah nya mengelak "banyak orang yang menganggap senjata ku aneh dan tak berguna jadi untuk apa aku mengumpulkan bahan baku dari jauh-jauh hari, aku melayani orang yang memesan senjata pada ku bukan membuat senjata untuk dijual" Walau belum lama mengenal Urb ia merasa kalau pria ini adalah orang baik yang punya pemikiran jauh ke depan.
Mengingat ia bisa menciptakan model senjata yang begitu unik dan tak terpikirkan oleh orang lain.
Dia perlu mempublikasikan ide-ide nya di khalayak umum tapi hal itu tidak akan berjalan lancar karena muka nya.
Setelah mendapatkan bahan yang diperlukan mereka kembali ke rumah Urb dan langsung membuat gauntlet yang diinginkan Diego.
Dua hari setelah nya yang mana hari keberangkatan Diego menuju kota Tonren. "Akhirnya selesai juga" Urb menjatuhkan diri di lantai.
"Kalau begitu aku pergi dulu Urb, ini bayaran mu" Diego melemparkan enam kantong berisi koin perunggu.
Urb bangkit dan memeriksa koin-koin tersebut. "Ayo lah kawan kau cukup memberiku koin emas sembilan keping saja" tanya Diego. "Aku punya banyak koin perunggu di tas ku dan sangat memakan banyak ruang di tas penyimpanan ku jadi aku perlu mengurangi uang ku" Diego mengangkat kedua bahu nya.
"Hei ngomong-ngomong apa kau belum mau memakai gauntlet Arrow mu" tanya Urb yang menyadari Diego hanya memakai gauntlet yang bisa menembakan pengait di tangan kiri nya.
"Aku akan memakai nya jika sudah memasuki kota Tonren" Diego berbalik dan berjalan pergi.
"Hati-hati ya kalau butuh senjata temui saja aku....ah sudah seminggu aku tidak kerumah bordil...malam ini aku mau ke sana aah"
***
Seorang gadis berambut panjang berwarna hitam dengan poni yang menutupi dahi nya dan pipi chubby sedang berdiri di depan sebuah pintu.
Gadis itu tidak lain adalah Karand. Hari ini ia membolos pelajaran untuk bertemu dengan Diego. Baru baru ini pihak sekolah bekerja sama dengan Guild petualang kota kaum sehingga para siswa wajib menjadi petualang.
Karand pikir petualangan pertama nya akan berjalan lancar tetapi semua tak berjalan lancar. Misi nya berakhir dengan kekacauan dan teman teman nya tewas dalam misi itu.
Cobaan belum selesai sampai disitu ia menyaksikan keluarga teman-teman nya menangis dihadapan diri nya.
Bertanya kenapa hanya dia yang selamat dan kenapa ia tidak menyelamatkan teman temannya. Tidak sampai disitu orang orang terus berdatangan pada nya membuat ia makin merasa bersalah.
Tetapi menurutnya ia tidak lah bersalah itu yang ia pikirkan beberapa hari yang lalu. Ia hanya perlu mencari orang yang pasti akan setuju pada nya.
Ia yakin bahwa Diego lah orang itu.
Ternyata pemuda berambut biru itu memahami apa yang Karand rasakan dan ia juga pernah mengalami hal yang lebih buruk dari dirinya.
Diego tanpa sadar membunuh teman teman nya sendiri karena terbuai oleh kekuatan Dungeon yang misterius.
Karand menarik nafas dalam dalam dan menghembuskan nya dengan pelan. Diego bilang ia tidak pernah melupakan apa yang ia perbuat ia hanya menerima semua nya.
Akan tetapi ia tidak begitu paham tentang apa yang di maksud menerima.
Saat hendak meraih kenop tiba tiba pintu terbuka dan menampilkan seorang gadis berambut panjang berwarna merah yang di kuncir kuda dengan mata berwarna biru.
"Karaaand" gadis itu langsung melompat memeluk gadis berponi itu dengan erat.
"Kaisha ada apa" tanya Karand heran.
"Ada apa kata mu!? aku mencemaskan dirimu tau!!" seru gadis itu.
"Maaf Kaisha aku pergi tanpa bilang pada kalian, aku hanya sedang ingin sendiri" Karand membalas pelukan gadis berambut merah itu.
"Kaisha ada apa?....astaga Karand kau dari mana saja" Karand mengenali pemilik suara itu. "Hai Marry mau bergabung bersama kami" Karan tertawa kecil.
"Pak guru Kaizer, Marjun semua nya Karand sudah pulang" teriak Marry.
Ia bisa melihat ayah nya dan teman teman nya yang lain keluar dari asrama.
"Karand dari mana saja kamu"
Kaisha melepaskan pelukannya saat ayah nya mendekat. "Aku ke rumah sakit membesuk Diego" jawab Karand singkat.
"Iiiiih lagi lagi Diego......lagi lagi Diego" teriak Juju tidak terima.
"Iya kenapa kamu sering sekali kesana" tanya Marjun dengan nada menyelidik.
"Apa aku harus membutakan kedua mata ku agar Karand selalu bersama ku" ujar Mary.
"Tidak begitu juga dong" bantah ayah Karand dengan cepat.
"Jadi bagaimana apa Diego sudah sembuh" tanya Steve. "Iya dia sudah sembuh aku menemani dia melatih kemampuan melihat nya yang baru" ujar Karand walau sebenarnya ia tidak tau apa diri nya memang menemani Diego berlatih atau hanya sekedar jalan jalan bersama saja.
"Begitu ya lain kali setidaknya kamu bilang kalau mau pergi sekarang karena kamu sudah kembali ayah juga harus kembali bekerja....banyak sekali pekerjaan yang ayah tunda karena mu" Ayah Karand mengusap pucuk rambut putri nya itu.
"Maaf ayah telat menyadari nya Karand andaikan ayah sadar lebih cepat jika kamu butuh banyak waktu untuk sendirian.....tapi jangan lupa Karand ayah, kakak mu, dan teman teman mu ada disini kami akan membuat mu melupakan semua kejadian yang menyeramkan itu" ujar ayah Karand.
"Tidak apa ayah aku sekarang sadar aku tidak sekuat yang ku pikir, aku tidak melupakan betapa lemah dan tidak berguna nya diri ku ini. Oleh karena itu aku akan menerima semua itu"
Karand tersenyum lebar menatap sang ayah.
"Ayah kurang mengerti apa yang kamu katakan tapi ayah senang kamu sudah memiliki rasa percaya diri kembali" Ayah nya tersenyum dan berjalan pergi meninggalkan Karand dan teman temannya.
__ADS_1
Karand menatap semua teman teman nya "teman teman aku minta maaf sudah membuat kalian semua khawatir".
"Sekali lagi aku benar benar minta maaf" ujar Karand.