The Seven

The Seven
Pertempuran Di Mall Kota Kaum (Part 2)


__ADS_3

...Part 1...


Samuel langsung berlari menuju Magus yang berdiri di balik Arrow. Magus adalah lambang sihir penengah. Dia bisa menjadi support bagi lambang sihir lain namun bukan berarti mereka bisa dihadapi dengan mudah.


Sebaliknya lambang sihir Magus bisa mengcounter segala lambang sihir. Itu lah yang membuat Magus di sebut lambang sihir penengah.


Samuel menghindari panah yang terbang kearahnya. Dari belakang tiba tiba badak itu mengangkat kedua kaki depan nya kemudian menghantamkan kaki nya kepada samuel.


Samuel melompat ke atas kemudian mengepalkan tangannya hendak meninju badak itu namun belum sempat ia melancarkan serangan nya. Elang itu mengepakan kedua sayapnya menciptakan pisau angin.


Samuel menyilangkan kedua tangan. Pisau angin itu menghujani tubuh pemuda itu tidak sampai disitu badak itu menghantamkan kedua kaki nya kepada Samuel.


Samuel tak sempat menghindar membuat ia menjadi sasaran empuk bagi badak itu. "Berhasilkah" tanya Rider penunggang badak itu.


Namun pria itu membulatkan matanya saat mendapati pemuda itu menahan injakan badak itu. Samuel berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pijakannya.


"Aaaaaaarrrrgh" Samuel mendorong badak itu kebelakang namun ia mampu menjaga keseimbangan tubuhnya.


Samuel melompat mundur untuk membuat jarak di antara mereka namun ia tak diberi kesempatan bernafas lega.


Panther itu melompat dengan mulut terbuka dan cakar putih yang tajam.


Samuel tidak menghindari tapi menangkap panther yang hendak menerkam nya itu.


Samuel mencengkram mulut bagian atas dan bawah nya. Membuat tangan nya berdarah. Sedangkan panther itu menancapkan kedua cakar di bahu nya.


Samuel menyadari kalau panther ini tidak bersama penunggang nya. Tiba tiba sebuah pisau menebus perutnya.


Samuel langsung menendang perut panther itu dengan sangat keras sampai terjungkal ke belakang. Rider penunggang panther itu melompat mundur.


Badak itu berlari kearah Samuel. Samuel langsung menarik ekor kucing hitam raksasa itu dan melemparkannya kucing hitam raksasa itu ke arah badak itu.


Badak itu tak menghiraukan dan menabrak panther itu. Panther itu seketika menghilang menjadi cahaya. Samuel memasang kuda kuda nya dan menahan badak raksasa itu.


Samuel merintih kesakitan akibat tusukan rider panther itu. "Aaaaarrrggh" Samuel menahan dorongan dari badak itu. Lalu ia mencengkram cula nya dengan sangat erat.


Ia pun mengangkat badak itu ke atas lalu memutarkan sebanyak dua kali dan melemparkan badak dan rider nya bersama sama ke arah Magus.


Samuel terengah-engah "cih rider memang menyusahkan" badak itu jatuh dengan keras di atas tanah membuat tanah retak.


Tiba tiba sebuah tembakan sihir menembus di bahu kiri nya. Samuel merintih kesakitan ia pun memegang bahunya yang berlubang.


"Kamu benar benar anak yang kuat"


Samuel mencari sumber suara itu. "Di atas" suara itu membuat Samuel spontan melihat keatas.


Ia dapat melihat pria itu berdiri di lingkaran sihir "seperti yang diharapkan dari Magus" Samuel tersenyum kecil.


"Siapa kau bocah ingusan"


"Kau sangat kuat tidak seperti anak seusia mu pada umumnya" pria itu melompat turun dan mendarat di lantai dengan mulus.


"Apa itu penting bagimu" tanya Samuel.


"Kau kuat walau tak memakai sihir apa kelas mu??" Pria itu menatap Samuel.


"Aku seorang Shield"


Perkataan Samuel sukses membuat pria itu membulatkan mata. Ia diam sejenak "seperti yang dikatakan oleh dia itu benar, semua lambang sihir sama saja tergantung bagaimana kamu melatihnya" pria itu tersenyum kecil.


"Apa kamu pernah mengalahkan orang berkelas sword" tanya pria itu lagi. "Pernah "jawab Samuel singkat.


Mata pria itu membulat sempurna kemudian ia menutup matanya dan tertawa kecil lalu memandang Samuel "Bergabunglah dengan kami Pasukan Pemberontak , Sayap Kebebasan" pria itu mengulurkan tangan nya pada Samuel dan berjalan mendekat.


"Kenapa aku harus bergabung dengan kalian?!" Samuel menatap pria itu yang mengulurkan tangan untuk dirinya.


"Dirimu pasti berguna untuk Sayap Kebebasan mencapai perdamaian yang sesungguhnya" Samuel terdiam sejenak kemudian menghelai nafas.


"Persetanan dengan perdamaian kalian, aku punya satu tujuan untuk saat ini"


"Apa tujuan mu"


"Menghabisi kalian semua"


...Part 2...


"Kenapa kau ingin menghabisi kami , padahal kami ingin melakukan pembebasan" tanya pria itu heran.


"Aku cukup malas menjelaskan nya tapi aku sama sekali tak sudi berada bersama orang orang seperti kalian" Samuel sekarang dalam keadaan genting tangan kirinya tak bisa ia gerakan akibat tembakan pria ini.


"Apa kau marah karena teman teman ku memperkosa wanita itu" tanya pria itu memiringkan sedikit kepalanya.


"Aku tidak memperkosanya karena ia bukan kriteria ku, aku lebih suka wanita yang lebih muda dari diri ku dan dia harus lebih pendek dari ku, bagaimana menurutmu aku baik kan karena tidak memperkosa wanita itu" pria itu masih mengulurkan tangan pada Samuel.


"Kau dan teman mu itu sama saja jangan berlagak kau lebih baik dari mereka"  Samuel menatap pria itu dengan tajam.


Pria itu tertawa kecil "di dunia ini tak ada yang namanya hitam dan putih yang ada hanya abu abu"


"Apa maksud mu it__" sebuah tendangan keras mengenai dagu Samuel sampai ia terjungkal ke belakang. Pemuda itu meluncur di tanah dan menabrak dinding.


"Aku sudah berbaik hati menawarimu bergabung dengan Sayap Kebebasan tapi ada aturan untuk merekrut anggota sayap kebebasan yaitu 'jika kau menemukan orang yang ingin kau rekrut silahkan ajak mereka tapi jika mereka menolak untuk direkrut maka bunuh mereka' itu lah peraturan untuk merekrut anggota baru" Samuel merintih kesakitan tanah ia terbatuk dan memuntahkan darah dari mulutnya.


"Aku bukan lah Magus yang menguasai banyak mantra tapi aku mengubah mana ku menjadi kekuatan fisik, aku sebenarnya ingin bertarung melawan mu dengan kekuatan penuh mu tapi karena aku harus mengikuti rencana jadi untuk sekarang tidak bisa" pria itu berjalan mendekati Samuel lalu mencekik leher nya dan mengangkat dia ke udara.


Samuel dengan satu tangan nya yang masih bisa bergerak berusaha melepaskan cekikan pria itu.


Namun ia mulai kehilangan kesadaran nya. "Cih sialan" geram Samuel mengayunkan kaki nya dengan sisa kekuatan.


Lalu ia menendang muka pria itu namun pria itu tak bergeming sama sekali.


"Sama sekali tidak sakit" pria itu memperkuat cengkraman tangan nya di leher Samuel


Samuel perlahan lahan mulai hilang kesadaran. Tubuh nya mulai melemas tiba tiba ia terjatuh ke lantai di lehernya masih ada tangan pria dengan luka bakar di mata nya itu.


Pria itu melihat tangan nya yang terpisah masih memancarkan darah kemana mana.


"Sekarang Kak Gilda, Karand" teriak seorang perempuan. Seorang wanita muncul dari sisi kanan. Ditangannya ada dua buah pisau daging sedangkan di sisi kiri seorang wanita dengan pisau dapur pisau daging.


Sebuah pisau tiba tiba menancap di dada pria itu.


"Kau lengah"

__ADS_1


Lalu dua wanita lain mengambil kesempatan ini dan langsung hendak menebas lehernya namun pria itu menahan tangan mereka kemudian melompat dan menendang muka mereka berdua.


Dua gadis itu terlempar ke belakang. Pria itu melompat mundur membuat jarak antara diri nya dengan tiga wanita itu.


Lalu ia mengambil pisau yang tertusuk di dada nya. "Kak Gilda , Karand!?" Seru wanita itu tak lain adalah Elizabeth. Ia berlari mendekati kakak nya itu.


"Kalian tidak apa apa" tanya Elizabeth. "Aku tidak apa Elizabeth"  Gilda mengusap mukanya.


"Ah...aku ingat kau kau Gilda si merah dari Fraksi manusia" pria itu langsung mengenali Gilda.


"Dan kau!?"


Pria itu beralih pada Elizabeth. Elizabeth yang di tatap oleh pria itu langsung bersembunyi dibalik tubuh kakak pertama nya itu.


"Apa kau sudah punya pacar" tanya pria itu tiba tiba. "Mau tidak jadi pacar ku" Gilda melirik adiknya.


"Gimana nih mau tidak?" tanya kakak nya. "Serius lah kak kamu mau adik mu berpacaran dengan penjahat seperti dia...bisa bisa nanti ayah kena serangan jantung" Elizabeth mencubit pinggang kakak nya itu.


"Aduh itu sakit hentikan" Gilda melepaskan tangan adik nya.


Pria itu berjalan menuju Samuel yang sedang tidak sadarkan diri lalu ia mengambil tangan nya yang masih ada di leher Samuel.


"Menjauh dari dia" Karand berlari dan menghunuskan pisaunya pada pria itu tapi ia menghindar dengan mudahnya


Pria itu menyatuhkan tangan nya kembali. "Tidak ku sangkah aku bisa bertemu dengan Gilda si Merah dan jodoh ku yang sudah ditakdirkan" pria itu beralih pada Gilda san Elizabeth.


"Sejak kapan kakak ku jadi jodohmu huh" teriak Karand kesal.


"Sejak aku melihatnya karena dia memenuhi kriteria ku" ujar pria itu. "Jhon si Magus petarung tidak ku sangkah akan bertemu dengan petinggi Organisasi Sayap Kebebasan ditempat seperti ini" Gilda berdiri tegap sedangkan Elizabeth tetap bersembunyi dibelakangnya.


"Kakak kenal dia" tanya Elizabeth.


"Tentu dia bukan orang sembarangan di Sayap Kebebasan dia adalah salah satu petinggi dia juga ada dalam buku buronan dengan lima bintang untuk kepala nya" Gilda memasang kuda kuda nya.


"Ini akan jadi pertarungan yang panjang" Gilda menghembuskan nafas lalu tersenyum kecil.


...Part 3...


Beberapa saat yang lalu


Di toko peralatan dapur


"Ayah sekarang kita harus bagaimana" Karand teringat dengan teman teman nya. Seharusnya mereka tidak berpisah. "Bagaimana nasib mereka" gumah Karand.


"Tenang lah Karand semua nya akan baik baik saja percaya lah pada ayah" Sir Kaizer tersenyum untuk menyakinkan putri nya itu.


Sebenernya ia tidak terlalu khawatir dengan teman-teman Karand karena ada dua remaja yang bisa di bilang setara dengan Gilda.


Sebagai salah satu guru yang mengetahui kebenaran tentang mereka berdua. Kaizer tidak perlu mengkhawatirkan mereka.


Pihak pemerintah sendiri yang meminta Samuel untuk bersekolah di Akademi Kaum sedangkan Diego adalah hal yang tak terduga dia mendaftarkan diri ke Akademi sontak membuat pemerintah kegirangan karena mereka mendapatkan dua remaja terkuat yang mereka ingin kan.


'Semoga salah satu dari mereka bersama dengan empat anak itu' itu adalah harapan Kaizer mengingat empat murid akademi lain nya.


Tiba tiba sebuah tangan menyentuh pundak nya"Ayah!?" .


"Eh ada apa Gilda" tanya Kaizer tersadar dari lamunannya. "Kita harus mencari informasi terlebih dahulu sebelum bertindak" Gilda menatap sang ayah dengan tegas.


"Eh ternyata ada orang disini" mereka menoleh ke sumber suara itu. Seorang  wanita berjubah hitam dengan rambut hitam bermodel Bob. "Karand tangkap wanita itu" teriak Elizabeth.


Karand langsung melompat dan mendorong wanita itu sampai jatuh. "Lucuti semua senjata dan pakaian sekarang" Elizabeth langsung membantu adik nya melepaskan semua senjata dan pakaian wanita itu.


Elizabeth melepaskan sepatunya dan menempelkan sepatunya itu kehidung wanita.


Wanita itu terus memberontak dan perlahan mulai hilang kesadaran dan pingsan.


"Wow kekuatan sepatu itu liar biasa"Karand tertawa melihat hal itu. "Jaga bicara mu adik ku atau kamu akan merasakan kesaktian sepatu ku yang tak di cuci selama dua tahun" Elizabeth membusungkan dada nya dengan bangga.


Ayah dan kakak tertua mereka melirik satu sama lain "kenapa dia bangga akan hal itu" Gilda langsung bangkit dan berjalan mendekati kedua adik nya.


"Cepat bawa dia ketempat aman" Kedua adiknya mengangguk setuju mereka pun membawa wanita itu ke suatu ruangan yang dipenuhi alat dapur.


Mereka pun langsung mengikat wanita itu di kursi dan menunggu hingga ia tersadar.


Sir Kaizer memandang wanita yang tak mengenakan sehelai benang pun di tubuhnya. Dia memiliki beberapa sisik di kaki nya dan insang di lehernya.


Tiba tiba sebuah tamparan mengenai pipi nya "jangan pandangi dia ayah" Kaizer langsung menutup mata nya.


Elizabeth hanya bisa menghelai nafas dengan berat. "Dasar pria tua di suruh menikah tidak mau tapi saat ada kesempatan seperti ini tidak akan menolak" Kaizer merasa tertusuk dengan kata kata putri kedua nya itu.


"Kamu jangan berkata seperti itu lho nanti jika di dengar orang lain mereka akan salah paham" Kaizer berusaha bersabar dan tidak bisa melawan jika berdebat dengan putri keduanya itu.


"Jangan berisik nanti kita ketahuan" tegur Gilda. "Hei lihat mermaid ini mulai membuka mata nya" Karand berucap dengan suara pelan.


...Part 4...


Wanita itu mulai membuka mata nya dan ingin berteriak tapi tidak bisa ada yang menghalangi suaranya.


Ia hendak menghubungi rekan namun tidak bisa. Saat ia menyadari pakaian sudah tak ada di tubuh nya. Muka bersemu merah dan ia berteriak karena menyadari ada laki laki di antara mereka


Tiba tiba sebuah tamparan mendarat di pipi nya. "Diam atau kau akan menjadi mermaid cincang" Gilda memperlihat pisau daging yang ada di tangan nya.


Muka wanita itu pucat pasi "bagus sekarang aku akan membuka ikatan mulut mu" Gilda membuka ikatan yang ada di mulut mermaid itu.


Lalu sebuah tamparan mendarat di pipi wanita itu kembali. "Untuk apa itu kak" tanya Karand. "Entahlah aku hanya ingin menamparnya" Gilda mengangkat bahu nya dengan muka tak bersalah.


"Siapa kau dan apa yang kau lakukan disini" tanya Gilda. "Aku tidak akan mengatakan nya" wanita menatap Gilda dengan tatapan yang sangat tegas.


"Baiklah, terima kasih kalau begitu" Gilda tersenyum kecil membuat wanita itu curiga. "Elizabeth buka celana ayah sekarang" seru Gilda.


"Tunggu dulu Gilda apa yang kau pikirkan" teriak ayah nya panik namun tangan Elizabeth lebih cepat dan menarik turun celana sang ayah.


Mermaid itu terdiam sejenak kemudian dari dan darah mengalir dari hidung nya.


"Kalian berdua ini gila ya!?" sir kaizer langsung berjalan mundur lalu menarik celana nya kembali.


"Kalian ini kenapa bisa bisa memperlakukan ayah kalian seperti itu!?" Teriak sir kaizer tidak terima.


"Untuk duda kesepian seperti ayah, ayah ini benar benar pembohong yang hebat ya" Karand yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara.


Sir Kaizer terdiam sejenak dan duduk di pojok dinding "oh dewa apa salah ku sehingga putri putri benar benar kejam terhadap ku" gumah Sir Kaizer.

__ADS_1


"Nah kau sudah lihat kan !? Apa kau mau??" Tanya Gilda kemudian menyeringai kecil. "Tentu aku mau....maksud ku, aku tidak akan memberitahu apa pun bahkan jika aku hanya berada di ruangan ini berdua dengannya sampai hari kiamat tentu saja aku mau.... Maksud ku tidak mau" teriak mermaid itu dengan muka yang merah padam.


"Hooh benar kah kami akan meninggalkan ayah kami disini bersama mu untuk melakukan hal  mantap mantap dengan nya" tanya Gilda dengan muka datar nya. Satu hal yang Gilda tau mermaid ini mudah di goda.


"Tentu saja iy...tidak lah" teriak nya lagi dengan wajah bersemu merah


"Kakak seperti nya itu tidak berhasil" Karand berjalan mendekati kakak pertama nya. "Iya seperti nya tidak berhasil dia jelas bukan wanita yang mudah di pengaruhi nafsu duniawi" Gilda menghelai nafas dengan berat.


"Biarkan aku yang melakukan nya kak" Karand langsung mengarah kedua tangan ke leher mermaid itu kemudian menyentuh insang nya.


Lalu mulai menggerakkan jarinya dengan manja di insang nya itu. Wanita itu mulai meracau tak karuan "apa yang kau lakukan Karand" tanya Elizabeth.


"Nah sayang mau kau memberitahu ku siapa kau dan dari mana kau berasal dan kenapa kau ada disini" Karand membisikan kata-kata itu di telinga nya.


"Ba..baik"


"Eh berhasil" ujar kedua kakak nya  dengan kompak.


"Apa yang kau lakukan Karand" tanya Elizabeth. "Senior ku di akademi yang berasal dari klan mermaid mengajari ku kata nya ini insang adalah titik paling lemah mermaid tinggal di gelitik saja mereka akan tunduk pada mu" Gilda dan Elizabeth mengangguk tanda mengerti.


"Baiklah jawab siapa kau dari mana kau dan kenapa kau disini dan apa yang terjadi disini" tanya Karand.


Mermaid itu menatap Karand dengan mata berkaca kaca dan muka yang bersemu. Membuat Karand dan kedua kakak nya heran.


"Nama ku Yuyu dari Pasukan Pemberontak Sayap Kebebasan kami disini sedang melakukan ritual pemanggilan untuk memanggil


Naga jahat"


"Kenapa kalian ingin memanggil naga jahat" tanya Gilda namun tak ada jawaban. "Kenapa kalian ingin memanggil naga jahat" Karand mengulangi pertanyaan kakak nya.


"Untuk menghancurkan kota ini"


"Kenapa kota ini harus dihancurkan"  Karand terkejut mendengar tujuan mereka ingin menghancurkan kota ini.


"Karena kota ini layak dihancurkan untuk meraih perdamaian sesungguhnya"


"Kota ini dilambangkan sebagai simbol perdamaian namun itu hanya sebuah lambang yang tak ada artinya dan lebih baik dihancurkan" Yuyu tersenyum "sayang nama mu karand kan , sepertinya kamu salah mengenai beberapa hal....organ intim mermaid dan manusia berbeda...yang senior mu katakan memang ada benarnya tapi sebenarnya itu adalah cara untuk melakukan hubungan lebih jauh dengan lawan jenis" perempuan itu tersenyum.


"Sekarang kamu dan aku adalah suami istri"


"Apaaa!!!" Teriak mereka kaget


"Mana mau aku menikah dengan sesama jenis" teriak Karand. "Tenang Karand aku bisa meminta Magus mengubah kelamin ku kok" wanita itu tersenyum.


"Nah Karand sekarang kau dan aku tidak akan berpisah____" tiba tiba sebuah pipa mendarat di kepala mermaid itu.


"Elizabeth apa yang kamu lakukan" tanya Gilda kaget. "Cerita ini makin ngelantur jauh dari apa yang kita pikirkan" Elizabeth mengatur nafas nya yang kacau.


Gilda memeriksa kondisi Yuyu lalu berbalik "dia mati".


"Eeeee" teriak dua adik nya.


"Kita lupakan Yuyu untuk selamanya sekarang mari kita membuat rencana baru, ayah!!" Teriak Gilda.


Sir Kaizer masih meratapi nasib nya di sudut ruangan. "Iya ada apa" balas sir kaizer yang mendengar putri nya memanggil nya.


"Ayah kita sudah memiliki beberapa informasi penting sekarang" sir kaizer berjalan mendekat dan mendengarkan semua informasi masih yang sudah  dapatkan dari mermaid bernama Yuyu.


Sir Kaizer menutup mata nya dan mengelus dagu nya "berarti ada orang yang akan melakukan ritual pemanggilan untuk naga jahat itu, kita harus menghentikan nya" sir kaizer menatap tiga putri nya dengan serius.


"Ayah akan mencari tempat dimana mereka akan melakukan ritual pemanggilan dan kalian selamatkan orang orang yang berada di gedung"


"Setiap pemanggilan pasti memiliki sebuah tumbal dan untuk memanggil mahluk seperti naga jahat pasti memerlukan banyak tumbal karena itu mereka menargetkan mall ini"


Sekarang semua menjadi jelas "tapi ayah apa ayah baik baik saja sendirian" tanya Karand khawatir. "Tidak apa ayah bisa mengatasinya" sir kaizer tersenyum.


"Baiklah semakin cepat kita bergerak semakin banyak orang yang bisa kita selamatkan"


"Tapi bertarung tanpa sihir itu rasa nya mustahil kak" Elizabeth terlihat agak murung.


"Tidak apa kak kita hanya perlu menyelamatkan orang setelah berhasil kita pergi" ujar Karand menenangkan kakak nya itu.


"Tapi itu tidak semudah yang terlihat Karand" Elizabeth menggeleng pelan. "Jika kita bersama kita bisa melakukan apa saja, Elizabeth" ucapan Gilda membuat Elizabeth terdiam sejenak dan menghelai napas panjang.


"Baiklah mari kita lakukan"Elizabeth tersenyum pelan.


Setelah itu mereka berpisah Karand serta saudari nya  dan ayah mereka berpisah.


"Hati hati semua nya sekarang mall ini adalah medan perang" Gilda memberitahu kedua adik nya.


***


Saat ini Sir kaizer sedang dalam pencarian tempat yang menjadi tempat pemanggilan tapi ia sekarang seperti mencari paku di tumpukan jerami.


Sekarang ini ia tak bisa mengaktifkan lambang sihir nya. Lambang sihir itu  seperti tombol untuk mengaktifkan sihir.


Setiap makhluk hidup memiliki lambang sihir. Lambang sihir muncul sesuai dengan kapasitas mana di dalam tubuh makhluk hidup.


Jika kau memiliki mana yang sangat banyak maka kau akan memiliki lambang sihir Sword dan jika kau memiliki kapasitas mana yang sedikit maka kau akan berlambang Shield.


"Namun mereka bukan menyegel lambang sihir tapi menonaktifkan lambang sihir dengan paksa" sir kaizer tak habis pikir dengan rencana  mereka yang benar benar di luar dugaan.


"Kejadian ini pasti mempunyai dalang nya , harus ku akui bahwa dia benar benar jenius" sir kaizer tidak bisa melupakan fakta pemilihan tempat dan mencari metode yang tidak biasa membuat ia berani mengatakan bahwa dalang semua kejadian ini sangat jenius.


Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana. Bagaimana ia menghentikan ritual itu jika ia tidak tau tempat nya.


Ia hanya bisa berharap dengan fraksi perdamaian bisa datang secepatnya dan menyelamatkan mereka.


Sir kaizer berhenti berlari dan mulai berpikir namun tiba tiba tubuh nya tertarik oleh seseorang.


Sir kaizer langsung melepaskan tangan nya.


"Siapa kau" tanya sir Kaizer.


Sosok bertudung hitam itu membuka tudung nya. "Ini aku sir Kaizer" gadis dengan rambut hitam panjang yang di kuncir kuda.


"Nona Abigail"


"Panggil saja Abigail sir" gadis itu tersenyum kecil. "Tunggu apa yang kau lakukan disini ini tempat yang berbahaya"


"Aku punya jawaban untuk itu sir tapi___" Abigail menatap lantai. "lagi lagi aku tidak bisa melindungi orang.....aku benar benar tidak berguna" tanpa sadar air mata mengalir di pipi nya.

__ADS_1


Sir kaizer langsung memeluk gadis itu "sabar nak aku tau kalau kau memiliki beban berat di pundak mu, aku ada untuk mu menangis lah jika kau ingin menangis"


__ADS_2