
...Part 1...
Sepulang sekolah Karand langsung berangkat menuju guild petualang, sendirian. Sebenarnya ia mau mengajak Abigail tapi ayah nya tiba tiba datang dan membawa saudara angkat nya itu pergi.
Mungkin Abigail itu orang penting atau orang yang memiliki kemampuan spesial. Akan tetapi mengetahui siapa Abigail itu bukan lah prioritas utama nya. Fokus utama Karand adalah meminta bantuan kakak nya untuk mendapatkan pelatihan dari guild lalu menjadi kuat dan jangan lupakan untuk membalas tamparan dari si gadis tomat busuk itu.
Sesampainya di guild kota kaum Karand langsung masuk. Terdapat banyak orang di sini. Mulai dari para petualang yang sedang mengobrol. Para petualang yang sedang mengantri dan orang orang yang sedang berkerumun di depan papan pengumuman.
Karand pun berjalan mendekati seorang resepsionis. "Permisi nama ku Karand aku mencari kakak ku yang bekerja di sini" ujar Karand.
Resepsionis itu menatap Karand dengan seksama "siapa nama kakak mu dan bekerja di bagian apa dia" tanya resepsionis itu dengan nada menyelidik.
"Nama nya Elizabeth dan dia bekerja di bagian keuangan kalau tidak salah" ujar Karand. Walau Kak Elizabeth memiliki lambang sihir Arrow tetapi dia itu sangat pandai mengelola keuangan jadi sejak kecil ia tidak terlalu melatih kemampuan bertarung nya.
"Oh baik lah tunggu di sini sebentar aku akan memanggilkan kakak mu" resepsionis itu langsung berjalan meninggalkan tempat kerja nya dan memasuki ruangan khusus pegawai.
Karand menunggu sekitar dua menit resepsionis itu tiba bersama Kakak nya. "Wah Karand apa yang membawa mu ke sini" Kak Elizabeth memakai sebuah kacamata dan rambut hitam yang di kepang satu. Ia juga memakai seragam yang sama dengan resepsionis tadi.
"Kakak aku ingin bicara dengan mu apa ada waktu" tanya Karand. "Tentu saja ayo kita bicara di tempat yang lebih baik" Karand mengikuti kakak nya ke sudut ruangan. Terdapat sebuah bar di sana.
"Silakan pesan apa pun tapi jangan dalam porsi jumbo" Kak Elizabeth duduk di kursi bar. "Iya aku tau kok" Karand duduk di samping sang kakak.
"Terus apa yang kamu ingin bicarakan" tanya sang kakak. "Sebentar aku ingin memesan makanan dulu" ujar Karand sibuk memilih menu.
Setelah memilih menu Karand menceritakan banyak pada sang kakak termasuk maksud tujuannya menemui sang kakak. "Astaga sepertinya di kepala mu hanya ada si biru itu ya sampai melupakan kakak mu yang bekerja di guild ini" Kak Elizabeth terlihat kesal.
"Ya maaf waktu itu aku panik dan bingung" ujar Karand.
"Tapi kamu berani juga mencoba mendekati pria yang sudah bertunangan apa lagi tunangan adalah teman mu sendiri" Kak Elizabeth tertawa kecil. "Aku kan juga tidak tau kalau Diego dan Marjun bertunangan tapi tunggu dulu kenapa kita membahas hal ini, aku kemari ingin meminta bantuan kakak agar mendapatkan pelatihan dari guild" ujar Karand.
Pelayan bar datang dan membawa makanan yang di pesan Karand. Gadis berpipi chubby itu pun tanpa pikir panjang langsung memakannya. "Itu mah gampang tapi petualang veteran yang biasa menjadi pembimbing untuk petualang pemula baru saja pensiun dan kami belum menemukan pengganti tapi kakak tau siapa yang dapat mengajari mu untuk sementara waktu" ujar Kak Elizabeth tersenyum kecil.
"Seperti apa dia" tanya Karand penasaran. "Nanti aku akan tau, kita tunggu saja dia. Biasa nya jam segini dia akan pulang dari misi nya" kak Elizabeth mengambil makanan yang di pesan oleh Karand dan langsung memakannya.
...Part 2...
Di karena kan menunggu terlalu lama Karand pun terus memesan banyak makanan membuat kaka nya mengeluh dengan tingkah adik nya itu.
"Karand kakak bilang tadi jangan makan dalam porsi jumbo kan" tegur sang kakak. "Ini kan porsi standar" ujar Karand. " Iya sih porsi standar tapi kamu sudah memesan lebih dari dua kali" ujar Kak Elizabeth kemudian ia menghela nafas panjang.
"Ah itu dia orang nya Karand" seru Kak Elizabeth. "Black Fangs" panggil Kak Elizabeth.
Seorang Beastman serigala dengan rambut hitam dan telinga serigala serta memiliki ekor hitam. Ia berkulit sawo matang memakai celana coklat dan memakai baju putih tanpa lengan dan sebuah jaket merah tua kebesaran. Di pinggang terdapat sebuah pedang.
Perempuan itu berhenti berjalan dan menoleh ke arah Karand dan kakak nya. "Black Fangs sayang kemari lah" seru sang kakak lagi.
Perempuan Beastman itu berjalan mendekati mereka "ada apa Nona Elizabeth" tanya perempuan bernama Black Fangs tersebut. "Duduk lah ada aku akan menceritakan sesuatu pada mu" ajak Kak Elizabeth.
Perempuan itu mengangguk kemudian duduk di samping kanan Kak Elizabeth. Kakak Karand langsung menceritakan permasalahan adik nya pada petualang yang duduk di sebelah nya.
"Aku turut berduka atas kejadian yang menimpa adik mu Nona Elizabeth lalu apa tujuan anda memberitahu itu semua kepada ku" tanya Black Fangs.
"Ada baik nya adik ku lah yang langsung meminta nya kepada mu" mendengar hal itu Karand yang dari tadi sibuk makan pun menghentikan kegiatan nya.
"Perkenalkan nama ku Karand dan aku ingin mendapatkan pelatihan dari anda" Karand pun mengambil tisu yang ada di meja dan mengelap mulut nya.
Black Fangs terdiam dan tersenyum "dia terlihat seperti gadis yang bahkan tak bisa mengangkat pedang di mata ku" ujar Black Fangs tersenyum.
"Aku bisa kok dan aku juga menguasai teknik dasar ilmu pedang" Karand tidak terima dengan ucapan wanita itu. Hari ini ia sudah terlalu sering diremehkan.
"Oh begitu kah tapi aku tidak yakin" Black Fangs tersenyum kecil. "Baiklah bagaimana kau tunjukkan kemampuan mu pada ku" Black Fangs bangkit dari tempat duduk nya dan berjalan mendahului Karand dan Kak Elizabeth.
"Ayo ikuti dia" Kak Elizabeth langsung bangkit dan berjalan mengekor pada Black Fangs begitu juga dengan Karand namun ia mengambil segelas minuman yang ia pesan sebelum dan menghabiskan nya dalam tiga tegukan.
Mereka pun sampai di arena latihan untuk pemula. "Arena luas sekali" gumah Karand.
"Karand kemari lah dan ambil senjata ini" seru Black Fangs. Karand mengangguk dan
langsung berjalan mendekati Black Fangs yang sedang memilih senjata.
"Pakai lah pedang kayu ini" Black Fangs memberikan sebuah pedang kayu pada Karand. Ia juga memakai pedang kayu yang sama dengan Karand.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara mereka pun beralih ke tengah arena. "Elizabeth beri kami aba aba" seru Black Fangs.
Wanita tersebut langsung memasang kuda kuda begitu juga dengan Karand. "Bersedia....siap....mulai" teriak Kak Elizabeth.
Karand langsung menyerang Black Fangs dengan cepat namun serangan Karand dengan mudah di tangkis oleh nya.
Bahkan Black Fangs tidak bergeser dari tempat nya saat menangkis serangan Karand. Karand mundur dua langkah ia sudah terengah-engah namun ia belum menyerah.
Karand langsung berlari dan menghunuskan pedang nya pada Black Fangs tetapi dengan mudah nya ia menangkis serangan Karand dengan tangan nya dan memukul kepala gadis berpipi chubby itu dengan pedang kayu nya.
"Aduuuuuh sakiiiit sekaliiiii" Karand menjatuhkan pedang dan memegangi kepala nya. "Lemah kau sangat lemah" ujar Black Fangs.
"Aduh tampak nya kamu sangat berniat memecahkan kepala ku" Karand mengambil pedang nya yang terjatuh dan bangkit.
"Tapi iya aku memang lemah karena itu aku ingin jadi kuat" Karand berhenti sejenak dan menarik nafas. "Karena itu lah ayo bertanding sekali lagi!!!" teriak Karand.
"Hooh baiklah aku akan meladeni mu sampai kamu puas" ujar Black Fangs.
...Part 3...
Karand terus bertanding melawan Black Fangs namun jangan kan menang untuk membuat ia bergeser saja masih mustahil untuk Karand.
Karand terjatuh ke tanah dan langsung bangkit "lagi!!" seru Karand. Karand terus menyerang Black Fangs tapi hasil nya tetap sama.
"Lagi" teriak Karand namun hasil nya tetap sama. Gadis berpipi chubby itu terbaring di tanah dan tubuh di penuhi lebam luka.
"Aku masih belum menyerah!!!" teriak Karand. "Kita akhiri latihan hari ini" Black Fangs berjalan mendekati Karand.
Elizabeth yang sedari tadi mengamati adik nya itu hanya bisa menghelai nafas berat. Ia berjalan mendekati adik nya dan petualangan yang di juluki sebagai bintang baru guild.
"Karand matahari mulai terbenam kembali lah ke akademi" ujar sang kakak. "Astaga aku lupa" teriak Karand panik.
"Sebelum pulang apa kau tidak mau mengobati luka mu" tanya Black Fangs. "Ah iya benar juga kakak apa kakak punya obat" tanya Karand.
"Iya tentu saja aku punya sebentar ku____" "Aku punya balsem yang dapat memulihkan lebam" potong Black Fangs.
"Kalau begitu tolong ya Black Fangs" ujar Karand. Black Fangs tersenyum kecil dan mengeluarkan sebuah botol.
Black Fangs langsung mengoleskan obat itu di luka Karand "aduh dingin" Karand menjauhkan wajah nya. "Jangan menjauh begitu" Black Fangs menarik tangan Karand dan mengoleskan obat itu pada luka Karand.
"Sudah selesai" Black Fangs menutup botol obat nya. "Wah hebat rasa sakit nya hilang" Karand terlihat sangat antusias.
"Ah iya aku harus kembali akademi sekarang, kakak aku pergi dulu" Karand berbalik dan berlari namun tiba-tiba berhenti dan berbalik.
"Black Fangs terima kasih untuk obat nya, besok aku akan menemui mu lagi sampai jumpa besok" Karand berjalan mundur dan berbalik kemudian pergi meninggalkan arena latihan.
"Padahal aku belum setuju untuk melatih nya" ucap Black Fangs. "Tidak apa kok lagian dia memang begitu dan seperti nya kau suka dengan adik ku ya" ujar Kak Elizabeth.
"Tidak juga, aku hanya heran biasa nya jika seseorang mengatai mu lemah pasti nya kau akan menolak perkataan itu dan membuktikan bahwa kau tidak lemah tapi adik mu agak sedikit membingungkan karena dia mengakui bahwa dia lemah dan tidak marah atau pun kesal" ujar Black Fangs.
Kak Elizabeth terdiam dan menggaruk kepala bagian belakang yang tidak gatal "ya mungkin dia memang sedikit aneh tapi itu adalah hal yang membuat ia menarik dan hal itu sudah menjadi pesona milik nya" ujar sang kakak.
Di sisi lain
Karand berlari menuju akademi Kaum "gawat aku bisa telat kalau begini andaikan aku bisa menggunakan sihir angin seperti Diego" keluh Karand.
Ia hanya bisa menggunakan sihir penguat yang diajarkan oleh Miss Evy. "Sihir penguat itu....berarti aku bisa membuat diri ku menjadi kuat.....kan" gumah Karand.
Tiba tiba sebuah ide terlintas di kepala nya. Karand berhenti berjalan dan menutup mata nya lalu mengalirkan energi sihir nya kaki.
Biasa nya ia menggunakan sihir penguat ini di tangan nya agar dapat mengayunkan pedang dengan kuat.
Ia merasakan kaki nya penuh dengan energi. Ia pun melompat ke udara. Karand melompat sangat tinggi dan dapat melihat semua kota dari udara.
"Eh tunggu dulu bagaimana aku mendaratnya" Karand berseru dengan panik namun ia tidak jatuh. Sebuah kaki mencengkram kedua lengan nya.
Ngiik
Karand langsung mendongak ke atas dan mendapati bahwa seekor kelelawar raksasa membawa nya terbang.
"Bukan ini kelelawar Diego" tanya Karand.
__ADS_1
Ngiik
...Part 4...
"Apa kakak tidak apa apa" seru seorang gadis kecil yang berada di punggung kelelawar tersebut. "Eh siapa kau" tanya Karand.
"Halo Kakak yang di bawah sana perkenalkan Nama ku Slyphim dan ini Batsy, kami melihat kakak melompat sangat tinggi dan seperti nya kakak tiba tiba panik jadi kami menolong kakak" ujar gadis itu.
"Begitu ya terima kasih ya, bisa kah kalian mengantarkan ku ke akademi kaum aku sudah terlambat sekarang" pinta Karand.
"Tenang saja, ayo Batsy pemberhentian berikut nya adalah Akademi Kaum" seru gadis itu.
Ngiik
Setelah itu Karand di antar oleh Slyphim dan Batsy. Mereka pun mendarat di halaman akademi. Batsy melepaskan pegangan nya dari tangan Karand.
Karand mendarat dengan mulus di lantai. "Kakak kami pergi dulu ya kami sudah di tunggu oleh banyak orang....sampai jumpa" Batsy membentangkan kedua sayap nya dan terbang pergi.
"Ya ampun aku lupa bertanya pada gadis itu siapa dia, kenapa Batsy tidak bersama Diego......Diego" Karand menepuk jidat nya.
"Astaga kenapa aku bisa lupa dengan ucapan Diego di kantin waktu itu" Karand merutuki kebodohan nya padahal Diego sudah memberi saran agar memakai pedang yang besar tetapi ia melupakan hal itu.
Alhasil ia berakhir menjadi samsak Black Fangs saja selama beberapa jam. "Huh...sudah lah lagian semua sudah terjadi tapi aku akan membawa pedang besar saat latihan besok" Karand berjalan menuju asrama nya tetapi ia melihat banyak orang yang sedang berkumpul.
"Kau pikir diri mu siapa brengsek!!!" ia mengenali pemilik suara itu. Ia pun langsung menerobos kerumunan orang untuk memastikan suara itu.
"Kaisha tenang lah lagian Karand sendiri tidak ambil pusing dengan perbuatan Clarissa" ujar seorang pria yang tak lain adalah Samuel.
"Persetanan dengan keputusan Karand, Samuel kau jangan bertingkah seolah kau orang baik di depan ku!!!. Apa kau lupa karena diri mu dan si Tuan putri brengsek ini, kerajaan Foiriestein hampir hancur!!!" teriak wanita berambut merah itu.
"Kaisha berhenti" seru Karand.
"Karand dari mana saja kau" tanya Kaisha kaget. " Aku habis menemui kakak ku di guild sudah lah Kaisha tidak baik ribut di tempat seperti ini" Karand meriah tangan gadis itu namun Kaisha menepis tangan Karand.
"Diam dulu Karand aku sedang bicara dengan dua orang tak tau diri ini...." Kaisha menatap dua orang itu dengan tajam.
"Semua ini karena mu Samuel, kerajaan kami hampir hancur karena kau membuat Clarissa jatuh cinta pada mu dan menolak pertunangan yang sudah dirancang sejak lama dan kau" Kaisha berjalan mendekati Clarissa "Tega nya kau pergi meninggalkan kerajaan mu!!!! hanya untuk pria yang tiba tiba jatuh di kamar mu!!! karena mu semua hubungan diplomatis kerajaan terputus, ekonomi hancur, dan rakyat menderita kelaparan!!! kami harus berjuang mati-matian untuk memulihkan ekonomi kerajaan"
"Aku mengorbankan diri ku sebagai tahanan politik menggantikan diri mu!!! aku membuang masa depan dan kebahagiaan ku hanya untuk kerajaan dan menutupi kesalahan mu!!! kami mencari mu ke berbagai tempat dan saat bertemu kamu mengatakan kami lah penjahat nya!!!"
"Kau pria bodoh menghancurkan semua pasukan kami membuat banyak korban berjatuhan, banyak anak kehilangan ayah nya banyak orang tua yang menangis putra mereka yang tak kembali!!! dan kau Clarissa, kau melupakan tanah kelahiran mu, kau mencampakkan aku yang sudah mengorbankan segala nya untuk menutupi kesalahan mu!!! kau melupakan orang tua yang sudah melahirkan mu!!! kau tak pernah peduli pada rakyat kerajaan my!!! kau hidup bahagia bersama orang yang kau cinta dan membuat kami menderita baik fisik mau pun mental" teriak Kaisha.
Clarissa terdiam dia tidak berani bicara. Wajah nya pucat pasi "Salah kah kami jika menetapkan mu dan Samuel sebagai buronan dengan harga tinggi!!! tentu saja tidak!!! karena kalian sudah membuat kami sengsara dan yang kami lakukan bahkan belum dikatakan setimpal dengan apa yang kalian lakukan!!!"
"Aku benar membenci kalian dan selalu berharap tidak berurusan dengan kalian dan saat ada kabar kau menyakiti Karand!!! aku benar benar tak bisa menahan amarah ku!!!" Clarissa tidak bisa berkata apa apa dia hanya diam dengan wajah yang pucat pasi dan Samuel hanya bisa menundukan kepala nya tak bisa membantah satu pun perkataan Kaisha.
Karand memberanikan diri nya dan menarik Kaisha ke dalam pelukannya. "Tenang lah Kaisha, aku baik baik saja dan mari kita pergi" Karand membawa Kaisha pergi dari kerumunan tersebut.
"Kenapa cinta harus menyebabkan rasa sakit ke pada orang lain, padahal mereka yang saling mencintai tetapi kenapa kami yang harus sengsara oleh cinta mereka" tukas Kaisha.
"Sudah lah Kaisha jangan dipikirkan terus, kamu tau aku jadi kagum pada mu karena kamu mau mengorbankan diri untuk rakyat mu.....kamu seperti Tuan putri di cerita dongeng" ujar Karand.
***
Esok hari nya
Diego sedang berdiri di depan pintu. Ia memakai celana berwarna hitam dengan baju kemeja putih berlengan panjang serta rompi berwarna ungu dengan lambang akademi kaum di dada kiri. Di bawah lambang Akademi Kaum terdapat name tag bertuliskan nama Diego.
Ia memakai penutup mata berwarna hitam dan senantiasa membawa tongkat kayu nya. "Hei apa yang kau lakukan di depan pintu Diego" ujar seorang pria yang tak lain adalah Paman Varlino.
"Tidak ada apa-apa kok, paman" ujar Diego.
"Hm apa kamu gugup Diego" Bibi Stella muncul dari balik tubuh paman Varlino
"Iya sedikit" ujar Diego. "Santai saja hari ini adalah hari pertama mu, paman yakin kami bisa melakukan nya dengan baik" ujar Paman Varlino.
"Kalau begitu kami berangkat dulu" Paman Varlino berpamitan pada istri nya itu. "Ayo pak guru Diego kita berangkat, hari pertama adalah hari yang penting" Paman Varlino merangkul Diego dan berjalan pergi.
Namun pemuda berambut biru itu berhenti berjalan dan berbalik "aku pergi dulu bibi" ujar Diego.
"Iya hati hati di jalan dan pulang nya jangan terlalu larut ya" ujar Bibi Stella.
__ADS_1