
...Part 1...
Saat ini Diego sedang makan bersama paman Varlino sekeluarga dan Bibi Sophia serta putri nya Slyphim di rumah Paman Varlino.
"Kak Diego akhir pekan nanti latih aku ya" ujar seorang anak berusia tujuh tahun. "Nora kak Diego baru keluar dari rumah sakit jangan membuat ia kerepotan" bentak seorang anak yang seusia Nora namun berkelamin perempuan.
"Berisik Slyphim" timpal Nora. "Apa kata mu huh" teriak Slyphim kesal.
Ia kemudian menarik nafas panjang dan beralih memandang Diego "Kak Diego akhir pekan nanti ayo kita jalan jalan berkeliling kota" mendengar hal itu membuat Diego mengangkat sebelah alisnya.
Jarang sekali Slyphim meminta sesuatu dari nya. Berkebalikan dengan Nora yang sering meminta bantuan dari Diego. "Tumben sekali kamu meminta sesuatu dari ku Slyphim ada apa" tanya Pemuda berambut biru itu.
"Ah palingan Slyphim ingin memamerkan kakak nya pada teman teman nya" timpal sang ibu. "Memamerkan aku" gumah Diego.
"Ah aku jadi ingat Slyphim selalu bercerita pada teman teman di sekolah kalau ia punya kakak seorang petualang yang sangat hebat" ujar Nora. "Dan ia selalu membicarakan Kak Diego setiap saat, dimana saja" tambah Nora.
"No...Nora tutup mulut muuu!!!" Slyphim hendak melompat ke arah Nora namun ibu nya menahan anak itu.
"Kau tau Diego, yang dikatakan Nora itu memang benar. Slyphim selalu membicarakan mu dimana-mana" ujar bibi Sophia.
Pipi Slyphim bersemu merah dan mata nya mulai berkaca-kaca. "Memamerkan itu maksud nya apa" tanya Diego bingung.
"Maksudnya begini Diego, Slyphim selalu mengatakan kalau dia punya kakak yang sangat hebat, kuat dan keren di depan teman teman nya agar semua teman nya iri, sederhana nya ia ingin menjadi pusat perhatian" ujar Bibi Sophia.
Diego hanya ber'oh'ria. "Slyphim pasti sangat sayang pada mu Diego" ujar Bibi Stella. "Benar..benar aku juga sangat sayang dengan kak Diego" ujar Nora.
"Ah enak nya di sayang semua orang" timpal Varlino.
"Apa kau merasa kurang kasih sayang Varl" ujar Bibi Stella dengan tatapan yang sangat tajam. "Ah tidak kok aku tidak merasa kekurangan kasih sayang haha" ujar Paman Varlino tertawa garing kemudian melanjutkan makan nya kembali.
"Akhir pekan ya, kalau siang hari aku bisa tapi malam nya aku di undang makan malam oleh Marjun......baiklah aku akan menemani kalian berdua" ujar Diego.
Mendengar perkataan itu membuat Paman Varlino, Bibi Stella, Bibi Sophia tersedak. "Ibu ayah" teriak Nora khawatir.
"Ibu ini minum lah" ujar Slyphim memberikan segelas air pada ibu nya. "Ada apa sampai Paman dan bibi tersedak" tanya Diego.
"Diego apa kau serius dengan apa yang kau ucapkan" tanya Bibi Stella. "Iya memang nya ada apa Bi Marjun mengajak ku siang tadi" ujar Diego.
"Undangan tak resmi" ujar Stella sambil memasang pose berpikir. "Bibi Sophia memang nya ada apa sampai sebegitu nya mendengar aku di undang oleh Marjun" tanya Diego bingung.
"Jujur sih bibi cukup kaget kalian berhubungan kembali maksud ku kami sudah lama menanti kabar ini" ujar Bibi Sophia.
"Ibu siapa si Marjun itu" tanya Slyphim. "Dia adalah anak dari keluarga Einzenberm dan Diego dan Marjun adalah tunangan" ujar Paman Varlino.
"Tapi menurut bangsawan lain Nona Marjun itu tidak memiliki tunangan karena___" belum sempat Bibi Stella menyelesaikan kalimat nya.
"Tunangan nya sudah lama menghilang" Diego berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. "Aku jadi merasa bersalah pada Marjun karena aku, dia pasti mendapat kesan buruk dari bangsawan lain" Diego diam sejenak "kemungkinan mereka ingin meluruskan hubungan ini agar tidak terjadi kesalahpahaman antara kami" ujar Diego.
Tiba tiba Batsy muncul di atas meja.
ngiiik....ngik...ngik..ngik...ngik.ngik.ngiik
"Ada apa Batsy" tanya Diego. "Kayak nya dia lapar deh" ujar Nora. "Begitu ya Sally bisa kau bawa kan apel untuk Batsy" suruh Bibi Stella pada Sally yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Baik nyonya saya akan pergi ke gudang buat mengambil jatah makan Batsy" Sally balik kanan dan berjalan meninggalkan ruang makan. "Jelaskan pada ku apa yang terjadi" ujar Diego.
Batsy duduk dan memukul-mukul lantai kemudian bangkit dan berjalan lalu seolah-olah membuka pintu. Batsy berpindah posisi lalu meletakkan kedua tangan nya di belakang dan mengedipkan mata seperti orang yang malu-malu.
Batsy berpindah posisi kemudian mengacungkan jempol nya seolah semua baik baik saja dan kemudian dia berjalan.
Batsy berpindah posisi lagi dan menunjukkan sebuah senyum licik dan berjalan. Batsy berjalan mengambil pisau yang ada tidak jauh dari Diego.
Kelelawar itu pun menebaskan pisau itu di udara kosong lalu melemparkannya ke sembarang tempat.
Lalu ia menjatuhkan diri nya dan berdiri lagi dan melakukan pose sedang menyobek-nyobek pakaian.
__ADS_1
Ngiiiiik
Batsy pun terbang berputar-putar dan melakukan banyak pose seperti yang sedang berbisik-bisik.
Lalu ia pun duduk dan memasang pose seperti orang yang sedang di ikat.
"Kelelawar ini lucu ya" ujar Paman Varlino.
...Part 2...
Suasana hening sejenak "begitu ya Urb sedang tertimpa masalah" gumah Diego. "Kak Diego apa yang Batsy katakan" tanya Slyphim penasaran.
"Mitra kerja ku di fitnah orang kemungkinan sekarang dia sedang di hakim oleh masyarakat" Diego mendorong kursi yang ia duduki ke belakang dan bangkit dari duduknya.
"Paman, Bibi, aku akan pergi untuk membantu nya" Diego berjalan menjauh dari meja makan. "Ini kan bukan masalah mu Diego" ujar Bibi Sophia.
"Ini memang bukan masalah ku tapi dia adalah mitra kerja ku yang berharga baik dalam hubungan pekerjaan atau pertemanan...Batsy teleportasi aku sekarang" ujar Diego.
Ngiiik
Batsy langsung menjatuhkan diri nya dari meja makan dan membentangkan sayap nya lalu terbang ke udara.
"Baiklah, menurut mu dia memang berharga tapi aku sebagai tuan rumah di sini belum memberikan izin pada mu untuk pergi" ujar Paman Varlino membuat Diego menaikan sebelah alis nya.
"Kemana kau akan pergi dan berapa lama kau akan pergi, ingat dua hari lagi kau tes seleksi menjadi guru" tambah nya.
"Aku akan pergi ke kota Zazanroba, jika urusan ini sudah selesai aku akan pulang, tenang saja aku ingat kok....kalau begitu boleh aku pergi" Diego tidak tau menatap siapa tetapi ia hanya mengikuti sumber suara.
"Baiklah kalau begitu kau boleh pergi" Paman Varlino tersenyum kecil. Seketika Diego menghilang bersama Batsy.
"Dia memang anak yang baik ya" ujar Bibi Sophia. "Ya kau benar walau ia terkesan penyendiri tapi ia bisa cukup cerewet pada orang yang ia kenal dan ternyata dia peduli pada teman nya" tambah Bibi Sophia.
"Walau dia berada di dalam kegelapan aku selalu yakin pasti ada kunang-kunang yang menemani nya" ujar Bibi Stella.
Sally datang membawa buah apel dari gudang untuk Batsy. "Eh dimana Diego dan Batsy" tanya Sally mencari pemuda berambut biru dan kelelawar nya itu.
"Eeeh" teriak Sally.
"Paman Varlino kenapa dari tadi diam saja" tanya Slyphim heran. Awal nya ia takut saat mendengar paman Varlino menanyai kak Diego tetapi ia senang saat paman memberikan izin untuk pergi kepada Kakak.
"Kota Zazanroba itu kan gerbang labirin.....Elora" ujar Paman Varlino.
"Huh kenapa susah sekali membuat anak itu bercerita dari awal sampai akhir...aku selalu di buat pusing oleh nya" gerutu Paman Varlino.
Tok....tok...tok...tok
"Bisa tolong lihat siapa itu" ujar Stella pada salah seorang maid. "Baik nyonya" ujar maid tersebut.
"Untuk membuat dia bercerita itu memang agak sulit dan kita hanya bisa menunggu serta menunggu momen yang tepat agar dia mencurahkan semua isi hati nya" ujar Bibi Sophia.
Tak lama berselang Maid itu kembali "Tuan ada tamu dari keluarga Einzenberm" ujar maid itu. "Pucuk di cinta ulam pun tiba baru saja dibicarakan sudah datang" ujar Bibi Stella.
"Baiklah suruh ia masuk" ujar Paman Varlino. Maid balik kanan dan berjalan pergi "Sally ajak Nora dan Slyphim ke kamar seperti nya akan ada pembicaraan serius dan sisa nya tolong buatkan teh dan siapkan makan untuk tamu kita sekalian bereskan meja makan ini" ujar Bibi Stella.
Sally membawa Nora dan Slyphim ke dalam kamar lalu paman Varlino, bibi Stella dan bibi Sophia berpindah ke ruang tamu.
Sesampainya di ruang tamu betapa terkejutnya
Paman Varlino terkejut melihat siapa yang datang. Seorang pria berambut perak dengan pakaian rapih dan seorang paruh baya yang duduk di samping nya.
Kedua pria itu berdiri saat rombongan Paman Varlino tiba di ruang tamu. "Selamat datang di rumah sederhana kami tidak ku sangkah bahwa Bangsawan tertinggi di kota ini mengunjungi kami" Paman Varlino mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
Kepala keluarga Einzenberm menerima uluran tangan itu. "Tidak ku sangkah anda ternyata memiliki dua istri Professor Varlino" ujar pria berambut perak itu.
"Ah tidak kok anda salah paham rumah Varl dan Stella sudah jadi rumah kedua ku" ujar Sophia namun sebuah pukulan mendarat di kepala nya.
__ADS_1
"iiiih Stella jahat banget kenapa aku di pukul" ujar Bibi Sophia sambil memegangi kepala nya. "Maaf untuk perlakuan kurang sopan nya Tuan Einzenberm, kami bertiga bersahabat sejak sekolah dasar, suami wanita ini bekerja di Kekaisaran Selatan Magnolia jadi dia dan anak nya memang sering menghabiskan waktu disini" ujar Stella.
"Begitu kah ya maaf atas kesalahpahaman nya" Pria berambut perak itu menarik tangan begitu juga paman Varlino.
"Perkenalkan Professor, saya Frederick Lasro Einzenberm ayah dari Marjun Aint Einzenberm, langsung saja tujuan kami datang ke sini untuk menemui si bocah biru itu" ujar pria itu dengan datar.
'Kayak bakal lama nih orang di sini' pikir Paman Varlino dan Bibi Stella.
"Jeng...jeng sayang sekali beberapa menit lalu Diego baru saja pergi ke kota Zazanroba" ujar Bibi Sophia sambil menyilakan kedua tangan nya di depan dada nya.
"Apa masih terkejar jika menyusul nya sekarang" tanya pria itu. "Teng...Teng sayang sekali Diego pergi menggunakan sihir teleportasi mungkin ia sudah sampai di kota Zazanroba" ujar Bibi Sophia masih dengan pose yang sama.
"Bagaimana kalau kita duduk dulu" ajak Tuan Varlino. Mereka pun duduk di sofa ruang tamu "boleh ku tahu apa tujuan anda ingin bertemu dengan Diego" tanya Paman Varlino.
"Jika kalian mengenal Diego pasti tau apa hubungan ku dengan dia dan aku kemari buat .....menampar dia!!!" semua orang terdiam, tidak ada yang mau mengomentari pernyataan pria tersebut.
"Anak ku seperti kehilangan cahaya nya sejak Diego menghilang, walau sudah di bujuk untuk mencari tunangan baru ia menolak nya walau kami memaksa nya ia juga menolak. Tapi aku bersyukur sejak masuk Akademi ia mempunyai banyak teman yang bisa menjadi cahaya baru nya" pria itu tersenyum kecil kemudian mengusap mata nya yang berkaca-kaca.
...Part 3...
"Namun sebuah keajaiban terjadi, Marjun dan Diego di pertemukan kembali, saat ia memberitahu kami, dia terlihat sangat bahagia namun....beberapa hari setelah nya dia melakukan banyak hal yang di luar perkiraan kami" Pria berambut perak itu berhenti sejenak dan menarik nafas panjang.
Paman Varlino, Bibi Stella dan Bibi Sophia menyimak dengan seksama. Mereka bertiga menelan ludah masing masing karena ingin mendengar kelanjutan ucapan pria ini.
"Anak ku mau belajar berdandan hanya untuk bertemu si bocah biru itu!!!" teriak nya dengan penuh kemarahan.
'Tuh kan nih orang bakal lama di sini' pikir Paman Varlino dan Bibi Stella.
***
Kegelapan hanya itu yang ia tau sekarang. Diego langsung menggunakan sihir angin nya untuk mengetahui dimana ia berada sekarang.
Teknik ini ia ciptakan secara mendadak, sangat hebat bukan bisa menciptakan teknik baru secara mendadak akan tetapi teknik ini menguras banyak mana nya. Sejati nya Diego memiliki kapasitas mana yang rendah karena ia berlambang Arrow.
Walau begitu ia memiliki Batsy sebagai sumber mana tambahan akan tetapi ia tidak bisa selalu memakai mana Batsy karena sejati nya Batsy adalah monster.
Sederhana nya sama seperti dua buah gelas yang di isi air panas secara bersama sama.
Gelas pertama terbuat dari keramik memiliki ketebalan sesuai untuk menampung air panas dalam jumlah besar itu lah monster sedangkan gelas kedua terbuat dari kaca memiliki ketebalan yang tidak sesuai untuk menampung air panas sehingga gelas itu retak itu lah manusia.
Perlahan ia merasakan benda benda yang ada di sekitar. Banyak benda mulai dari kertas yang berserakan, meja yang penuh barang dan senjata yang bergantung di dinding. Tidak salah lagi ini adalah Basement Urb.
"Ayo Batsy kita pergi sekarang, tunjukan jalan pada pemuda buta ini". Batsy hinggap di bahu Diego.
Ngiiiiik
Diego berjalan menuju pintu Basement. Jika di ingat-ingat hidup nya ini penuh dengan kerumitan.
Dia adalah orang berlambang Arrow tapi punya partner seperti rider. Ia pernah membaca buku yang membahas tunggangan rider. Rider dan tunggangan nya menyatukan kekuatan mereka sehingga rider dan tunggangan nya mempunyai kekuatan yang hanya dapat di pakai secara bersama. Mereka tidak bisa memakai kekuatan itu jika salah satu dari mereka tidak ada di tempat yang sama.
Namun apa yang terjadi pada Diego dan Batsy berbeda. Kekuatan mereka memang terpisah tetapi Diego bisa memakai mana Batsy dan skill nya juga. Begitu pula sebalik nya.
Mereka juga terhubung satu sama lain. Apa yang di lihat Batsy bisa di lihat oleh Diego walau sekarang ia tidak bisa melihat apa yang di lihat Batsy karena sudah tidak memiliki mata.
Diego juga pernah terkena kutukan. Sebuah kutukan yang dapat membangkitkan nafsu terdalam. Kutukan ini membuat Diego suka membunuh orang.
Sebenarnya kutukan ini mempunyai sedikit manfaat karena saat kutukan ini aktif. Diego selalu mengeluarkan semua kekuatan nya dan tau dimana batasan kekuatan nya. Oleh karena itu ia tidak ingin melepaskan kutukan ini.
Namun entah kenapa sejak di datang ke kota ini kutukan nya sudah jarang aktif. Terakhir kali waktu ia bertarung dengan James saat pertama kali tiba di kota Kaum.
Setelah pertarungan itu Diego tidak lagi merasakan kutukan ini lagi. Jika di ingat kembali Batsy sebenarnya tidak terkena kutukan ini tetapi karena Diego terkena maka Batsy mempunyai kutukan ini.
Memakai kekuatan Batsy sebenarnya juga memberi sebuah efek samping. Jika terlalu lama di pakai akan mengakibatkan kebutaan sementara tetapi efek itu sudah tidak berguna karena sekarang ia sudah buta permanen. Serta organ dalam tubuh Diego bakal kesakitan seperti mau di lepas.
Diego menghela nafas lega karena sudah berhasil keluar dari rumah Urb. Mereka pun meneruskan perjalanan menuju tempat Urb sedang dihakimi warga.
__ADS_1
Hidup nya penuh dengan kerumitan karena kekuatan yang ia punya memiliki banyak efek samping tetapi Diego sudah terbiasa dengan hal itu.