
...Part 1...
Mereka berdua mempertemukan kedua ujung pedang mereka. "Skill kombinasi"
Pedang Roberto berubah menjadi butiran cahaya lalu terbang ke langit dan munculah lima belas pedang raksasa yang ujung tajam nya menghadap ke bumi.
Lalu Roberto menyatuhkan kedua telapak tangan "Rain Thunder' pedang itu mengeluarkan puluhan petir yang menyambar sang naga.
Naga itu berusaha menghindar namun tak ada yang bisa menghindari rain thunder milik Roberto.
"Tornado Chopper" James memegang pedang dengan kedua tangannya. Angin berputar mengelilingi pedangnya dan perlahan angin itu bertambah kencang.
Lalu James mengayunkan pedangnya secara vertikal membuat angin puyuh itu melesat ke arah naga itu.
Pedang James mengeluarkan sebuah cahaya hijau. Angin puyuh itu semakin lama semakin besar dan menghisap naga itu.
Namun naga itu terus mengepakkan sayapnya tapi petir terus menyambarnya berulang kali.
Naga itu meraung dan membuka mulutnya untuk melakukan Dragon break.
Ia terus menerus menembakan dragon break miliknya namun angin tornado itu terus menerus membesar. Disisi lain petir terus berulang kali menyambar tubuh nya.
Naga itu terus bertahan namun ia sudah tak sanggup membuat ia terhisap kedalam pusaran tornado itu.
Naga itu masuk ke dalam pusaran tornado "Naga itu sudah masuk, bawa keluar dia James" seru Roberto.
James mengangguk dan kemudian mengayunkan pedangnya secara horizontal membuat tornado itu bergerak meninggalkan kota kaum.
"Roberto serangan dia dengan petirmu" James memberi perintah pada sang wakil kapten.
"Aku tau itu" Roberto menutup matanya dan mengerahkan seluruh kekuatannya.
Lima belas pedang nya bersinar terang kemudian mengeluarkan petir. Petir itu menyambar naga yang ada dalam pusaran tornado itu.
Tornado itu terus bergerak keluar dari kota kaum. "Tuan Isaac kami sudah mengeluarkan naga itu dari kota kaum" Roberto langsung menghubungi sang atasan.
"Bagus Roberto, James , selanjutnya adalah para skeleton dan Dragon Undead "
Tuan Isaac kemudian menghelai nafas lega. "James , Roberto pihak peneliti sihir sudah memberitahuku bahwa sihir pengendalian skeleton dan Dragon Undead ini tidak bisa dibatalkan walau membunuh pengendali mereka jadi segel saja mereka" ujarnya.
"Baiklah tuan kami akan menyegel mereka" James dan Roberto langsung memutuskan sambungan telepati.
Pedang Roberto menghilang dari langit dan muncul kembali di tangan pemilik nya. "Selanjutnya menyegel skeleton dan Dragon Undead , Roberto perintah unit Shield dan Magus menonaktifkan perisai ini" ujar James.
Roberto mengangguk pelan kemudian mengaktifkan telepati nya"perhatian kepada seluruh unit Shield dan Magus non aktifkan perisai pelindung ini lalu unit Magus bersiaplah untuk melakuak operasi penyegelan terhadap para skeleton dan Dragon Undead"
"Baik wakil kapten" ujar dua unit itu.
"Untuk unit sword dan Lancer tetap tahan para skeleton dan Dragon Undead itu di mall jangan sampai warga mendekati area"
"Lalu semua unit yang tersisa bentuk unit media dan unit pencarian korban kalian mengerti, laksanakan"
"Siap laksanakan" ujar semua unit.
"Akhirnya selesai juga ya" ujar James.
"Iya , tapi apa gerangan motif mereka" tanya Roberto. "Kira kira apa tujuan mereka " tanya Roberto.
"Apa ada sesuatu yang spesial di dalam mall kota kaum itu" tanya James. "Kenapa kau malah balik bertanya James" ketus Roberto.
"Maksudku apakah tanah tempat mall itu dibangun ada sesuatu yang spesial seperti ada harta tersembunyi atau apa lah yang bisa membuat kita mengetahui motif mereka menyerang mall itu" James menyarungkan pedangnya.
Roberto terdiam sejenak "aku akan menyelidiki hal itu nanti" ujar pria berkumis tipis itu.
Lingkaran sihir hijau itu menghilang. James dan Roberto langsung terbang menuju mall kota kaum.
...Part 2...
"Kapten Yu"
"Ada apa Tuan putri"
"Berapa lama lagi kita sampai di kota kaum" keluh sang putri yang sedang duduk di atas kudanya.
"Maaf Tuan putri tolong lebih bersabar lagi karen perjalanan kita masih cukup jauh" Yu hanya bisa tersenyum kecut.
Sebenarnya Yu sangat tidak suka berinteraksi dengan bangsawan. Ia melihat kalau bangsawan itu terlalu terpaku pada aturan.
Yu sendiri sebenarnya adalah orang yang patuh pada aturan. Namun tidak seperti bangsawan yang sangat taat pada aturan.
Bagi Yu aturan itu harus di junjung tinggi namun ada aturan yang tidak perlu di patuhi dan yang harus di patuhi.
"Kapten maaf sebelumnya aku masih punya sisa energi sihir untuk membuka sihir teleportasi"
Yu berhenti berjalan dan terdiam lalu memijat keningnya. "Bilang dari tadi Felix" teriak semua anggota tim yang lain.
"Cepat Felix...cepat lakukan sihir teleportasi"
"Iya Felix berguna lah sedikit untuk tim"
"Cepat Felix aku lelah dan ingin istirahat"
"Ayo Felix cepatlah"
Begitulah seruan dari para anggota tim yang lain saat mendengar pengakuan Felix.
"Ya ampun kalian ini merepotkan sekali ya" gumah Felix.
"Apa!!! Kau tidak pernah bercermin ya, kau itu selalu merepotkan kami jadi jangan bertingkah seolah kami ini selalu merepotkan mu" teriak seorang anggota tim.
"Iya kau itu selalu melawan perintah kapten dan berakhir di suruh keluar dari medan tempur dan kau bertingkah seolah yang paling banyak bekerja" teriak anggota lain nya.
Felix adalah seorang bangsawan dari suatu kerajaan. Ayah nya adalah orang biasa namun ia adalah seorang pebisnis handal yang memiliki perusahaan tambang mineral untuk memproduksi senjata sihir dan juga ibu nya seorang putri Adipati.
Namun aneh nya Felix malah mendatangi mereka dan memohon untuk menjadi anggota Pasukan yang di pimpin Yu.
Tentu saja yu menolak nya namun dengan menggunakan jaringan bisnis ayah Felix. Felix pun bisa masuk kedalam anggota pasukan yang dipimpin Yu.
Tapi bicara bangsawan bisa di bilang Felix ini tak seperti bangsawan pada umum nya. Dari gaya bicara dan tingkah laku.
"Yu"
"Kapten Yu"
Yu tersadar dari lamunannya "ada apa tuan putri" tanya Felix. "Dari tadi kamu melamun ada apa" tanya Sang tuan putri.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan Tuan putri" jawab Yu singkat. Tiba tiba gemuruh petir terdengar menggelegar membuat kuda yang di tunggangi sang putri dari suku elf hutan putih panik dan menjatuhkan dirinya.
Kuda itu langsung berlari meninggalkan mereka. Kesiur angin kencang membuat tubuh mereka terdorong cukup jauh.
"Apa yang terjadi sekarang" teriak sang putri.
"Semua nya cari tempat berpegangan" teriak Yu. "Kapten Yu aku sudah tidak kuat!!!" Teriak sang putri.
"Bertahanlah putri" teriak Yu sambil mengulurkan tangan kiri nya pada sang putri sembari tangan kanan mencengkram sebuah akar pohon.
"Felix berikan tangan mu pada ku!!!" teriak seorang anggota tim.
"Untuk apa!!!" balas Felix.
"Berikan saja tangan mu dan alirkan mana mu pada ku!!!" Teriak.
"Dasar merepotkan" teriak Felix.
Felix mengulurkan tangan nya pada rekan nya itu dan kemudian mengalirkan energi sihir nya.
Tiba tiba sebuah perisai berbentuk setengah bola transparan muncul. Mereka akhirnya bisa bernafas lega karena sudah terhindar dari badai yang sangat kencang itu.
Gemuruh petir terus saling susul menyusul. "Siaaaal....aku sudah tidak tahan lagi sebenarnya apa yang terjadi.... kenapa aku harus mengalami semua kejadian ini" teriak sang putri elf dari suku elf hutan putih.
"Bertahanlah putri karena kesialan mu baru di mulai" Yu bangkit dari duduk nya dan berjalan mendekati sang putri.
...Part 3...
"Kapten Yu apa kita harus melanjutkan perjalanan atau beristirahat disini?" tanya anak buah nya yang membuat membuat perisai itu.
__ADS_1
"Kita akan melanjutkan perjalanan ke kota kaum sekarang juga, semuanya ayo pergi" yu memberi perintah kepada para anak buah nya.
Jika ingin menunggu cuaca ekstrem ini selesai mungkin masih akan lama.
Belum lagi mereka sekarang ini mereka membawa seorang putri dari suku elf.
Itulah kenapa Yu paling tidak suka berurusan dengan seorang bangsawan.
Mereka pun langsung berjalan melanjutkan perjalanan. Gemuruh petir terdengar saling menyusul belum lagi sambaran petir yang menyambar dimana mana.
Jangan lupakan badai yang bisa menghancurkan sebuah rumah dengan mudah nya.
Tiba tiba ada yang mencengkram pundaknya. Yu menoleh dan mendapati bahwa putri itu lah pelaku nya.
"Ada apa Tuan Putri"
"Kapten Yu aku takut, sebenarnya ada apa ini" tanya dengan gemetar. "Tenang saja putri aku punya anggota tim seorang Shield yang sangat kuat petir dan badai seperti ini bukan masalah bagi nya" Yu tersenyum kecil.
"Tapi..bukan kah lebih baik kalau kita berlindung saja" tanya nya dengan ragu.
Yu melepaskan cengkraman tangan sang putri lalu berbalik dan menatap sang putri "kami punya misi yaitu menyelamatkan anda jadi kami harus memastikan keselamatan target penyelamatan kami"
"Apa anda mengerti" tanya sang kapten.
"Ba...baik...aku menyerahkan semua nya pada mu... maksudku pada kamu dan tim mu" putri menatap yu dengan rasa tenang dan lega.
Yu mengangguk dan balik kanan lalu melanjutkan perjalanannya.
"Kapten" tanya salah seorang anggota tim.
"Ada apa" tanya balik sang kapten.
"Aku senang bisa bekerjasama dengan mu Kapten Yu" ujarnya.
Yu menatap anak buah nya itu dengan tatapan tidak mengerti. "Apa maksud mu , jangan berkata seolah kau mau pergi jauh" tukas Yu.
"Kapten!!!"
"Ada apa Felix" tanya yu bingung.
"Kapten lihat lah badai itu bergerak kemari" Felix menunjuk ke suatu arah. Ia berteriak histeris melihat sebuah angin tornado mendekati mereka.
Yu mengikuti tunjuk Felix dan terdiam saat melihat sebuah angin tornado itu mendekati mereka.
"Sepertinya kita benar benar sial kapten Yu" sang putri tertawa hambar.
"Anda sudah sangat pasrah ya Tuan putri" timpal yu. Memang sekarang ini mereka hanya bisa pasrah tapi yu menolak kalau harus bersikap pasrah di depan anak buah nya.
Badai tornado itu tiba tiba menghilang dan terlihat seekor mahluk berbentuk kadal berwarna hitam dengan sayap lebar.
"Na...na... naga!!??"
Yu membulatkan mata nya saat melihat mahluk yang ia biasa lihat di buku sekarang ada di depan mata nya.
"Benar benar hari yang buruk" hanya itu yang bisa keluar dari mulut nya. Naga itu terjatuh di tanah membuat retakan yang besar serta debu yang berterbangan.
"Baiklah mungkin kita harus mengabaikan naga itu karena kita pasti tak bisa mengatasi nya"
Yu menatap semua anggota tim nya ditambah satu putri dari suku elf hutan putih.
"Tapi bukan kah kita harus memeriksa naga itu" ujar Felix. "Kapten kita harus memeriksa kondisi naga itu untuk dilaporkan ke atasan" usul Felix.
Yu menghembuskan nafas dengan berat "baiklah Felix sebagai kapten aku memberimu misi khusus yaitu kau harus memastikan naga itu masih hidup atau sudah mati".
"Baiklah kapten....eeeeee kenapa aku harus melakukan nya sendiri" teriak Felix panik.
"Mana prinsip kerja sama tim di kelompok kita yang selalu kapten bangga kan itu" teriak Felix.
Setelah mendengar penuturan Felix semua anggota lain saling melirik "Felix memang anak yang bersemangat ya"
"Felix pasti bisa menjadi pemimpin yang hebat"
"Aku menantikan dirimu menjadi kapten sebuah tim Felix"
"Jadi apa kita sepakat " tanya Yu tiba tiba.
Semua orang mengangguk setuju "baiklah semoga sukses di misi solo perdana mu Felix...kami menunggu mu dimarkas" yu dan semua orang berjalan meninggalkan Felix sendirian.
"Tunggu kapten...jangan tinggalkan aku" teriak Felix.
"Aku menanti hasil yang bagus lho Felix" teriak Yu. Kaki Felix serasa tidak memiliki energi untuk menopang tubuhnya.
"Harusnya aku tidak usah sok keren tadi" gerutu nya.
Yu dan rombongan melanjutkan perjalanan "luar biasa dinding itu sangat besar" ujar sang putri kagum.
"Dibalik dinding itu ada kota kaum putri....dan selamat datang di kota kaum" ujar yu singkat.
"Jadi ini kah kota kaum tempat seluruh suku berkumpul dan hidup bersama" ujar sang putri dengan kagum.
Tiba tiba langkah mereka terhenti saat beberapa penjaga menghalangi jalan mereka.
"Siapa kalian dan apa yang kalian inginkan" sergah salah seorang penjaga yang seorang Beastman beruang.
"Aku Yu, Kapten dari Pasukan Anak Penjaga Perdamaian dan nona Elf ini adalah putri dari suku elf hutan putih" sang putri terdiam mendengar penuturan sang kapten yang menjaga nya itu.
Pasukan Anak Penjaga Perdamaian adalah tim khusus yang di bentuk oleh Federasi Perdamaian. Mereka anak anak korban perang/yatim piatu atau gelandangan yang dibesarkan oleh Federasi perdamaian untuk menjadi bibit penjaga perdamaian dimasa yang akan datang.
Setidaknya itu lah yang pernah ia dengar dari teman temannya. Singkatnya mereka adalah pasukan elit yang baru berusia sekitar enam belas atau tujuh belas tahun.
"Oh jadi kalian Dari PAPP ya" ujar penjaga itu merubah sikapnya. "Astaga kalian ini saat kota diserang malah tidak ada" gerutu salah satu penjaga itu.
"Kota di serang" tanya yu kaget begitu juga semua anggota tim nya.
"Oleh siapa dan kenapa mereka bisa menembus Barrie kota kaum" tanya Yu heran.
"Aku juga kurang tau tapi ada seekor naga yang muncul secara tiba tiba di kota ini namun Pasukan penjaga kota Kapten James dan Wakil Roberto berhasil mengusir naga itu pergi dari kota kaum ini "ujar nya pelan.
"Terima kasih atas informasinya ayo teman teman kita pergi" ajak Yu.
...Part 4...
Yu dan rombongan melanjutkan perjalanan menuju markas mereka. "Kota ini benar benar rusak parah ya" ucap putri elf itu. Banyak bangunan yang mengalami kerusakan dari kerusakan yang rendah sampai tinggi.
Banyak anak kecil yang menangis tersedu-sedu sesekali berteriak memanggil ayah dan ibu mereka.
Putri elf itu berjalan meninggalkan Yu dan timnya. "Tuan Putri" seru Yu namun putri elf itu menghiraukan seruan nya.
Ia mendekati seorang anak kecil yang sedang menangis.
"Ayah.....ibu....hiks....kalian dimana.....hiks.....aku takut...hiks"
"Adik kecil" panggil sang putri elf.
"Siapa....kau" anak itu berjalan mundur menjauh dari sang putri.
"Tenang aku tidak bermaksud jahat kok...apa kamu terpisah dari orang tua mu"tanya sang putri.
Anak itu mengangguk pelan "bukan kah sudah jelas dia terpisah dari orang tua nya" ucap Yu dengan santai.
"Dengar anak kecil, jika kamu tidak berhenti menangis kamu tidak akan menemukan orang tua mu"
"Jika kamu ingin menemukan orang tua mu maka berhentilah menangis dan cari lah mereka sendiri"
"Menangis tidak akan menyelesaikan masalah karena itu berhenti lah menangis"
"Hei dia ini cuma anak kecil tidak perlu bersikap setegas itu pada anak ini" Putri elf tidak terima dengan perkataan Yu.
"Dia ini anak kecil yang sedang dalam masa pertumbuhan dia perlu didik dengan tegas untuk menjadi pribadi yang lebih baik" yu melipat kedua tangan nya di dada nya.
"Dia itu bukan anak buah mu jadi jangan bersikap setegas itu pada nya" putri elf itu meninggikan volume suaranya.
"Jika anak itu tidak berhenti menangis dia akan kehabisan suara dan jika dia kehabisan suara itu pasti merepotkan tim penyelamat yang membutuh data tentang diri nya apa kau paham" yu menatap putri elf itu dengan tatapan setajam belati.
Putri elf itu terdiam "tapi tetap saja dia itu hanya anak kecil......aku akan pergi menemani anak ini mencari orang tua nya" putri elf itu langsung berjalan mendekati anak itu namun yu menyambar tangan sang putri.
__ADS_1
"Lepaskan tangan ku" teriak Putri Elf itu.
"Anda masih dalam pengawasan kami putri" ujar yu dengan datar.
"Seseorang tolong aku....ada orc mesum yang mau memperkosa ku" teriak Putri Elf itu.
"Orc kah ,baiklah orc ini akan sebentar lagi akan memperkosa seorang putri elf sampai ia memohon ampun" muncul kerutan di dahi Yu.
"Ayo semua kita kembali ke markas dan serahkan putri ini ke atasan kita" yu menarik tangan gadis elf itu dengan kasar.
"Hik.....Seseorang tolong aku pria ini gila" teriak Putri elf.
"Hooh jadi aku sudah kembali jadi manusia" yu tertawa kecil mendengar ucapan sang putri.
"Tidak lepaskan aku !!! semua orang ada orc mesum disini aku akan diperkosa oleh nya.... kumohon tolong aku" Raung putri elf itu.
Semua anggota tim yu yang melihat kejadian itu hanya bisa tertawa kecil. Sedangkan yu hanya bisa menghelai nafas berat ini. Dia sekarang berurusan dengan bangsawan yang merepotkan lagi.
Meladeni Felix saja sudah melelahkan apa lagi mengatasi tuan putri satu ini.
***
Di sebuah reruntuhan bangunan yang dulu menjadi icon kebanggaan kota kaum.
Seorang pria paruh bayah berumur lima puluh tahun namun masih terlihat seperti tiga puluh tahun.
Pria itu tak lain adalah Sir Kaizer yang sedang mencari pertolongan untuk murid murid dan keempat putri nya.
Ia melihat beberapa pasukan sedang mendapat pengobatan. "Permisi kumohon tolong aku, murid dan anak anak ku terluka" seru sir Kaizer.
"Apa!?"
Seorang prajurit mendekati Kaizer. "Bagaimana kondisi mereka" tanya seorang perempuan yang memakai jas putih berjalan mendekati Sir Kaizer.
"Dua dalam keadaan kritis dan sisa nya luka ringan kumohon cepat lah dua murid ku dalam keadaan kritis" Sir Kaizer menundukkan kepala nya.
"Tidak perlu sampai seperti itu tuan" ujar sang Dokter.
"Aku akan segera kesana, tolong tunjukkan jalan nya" ujar sang dokter dengan tegas.
Sir kaizer mengangguk dengan mantap. Lalu pengajar akademi kaum itu pun menuntun mereka ke tempat yang di tuju.
Sesampai di sana "tolong cepat lah kondisi Diego semakin melemah" teriak Abigail berlari mendekati dokter itu dan menarik mendekati tubuh dan wajah Diego yang sudah mulai memucat.
"Astaga apa yang terjadi padanya?! tolong baring kan dia di tanah"
Karand dan Abigail membaringkan tubuh pemuda berambut biru itu di tanah.
"Tolong baringkan yang satu lagi" ujar sang dokter. Karand dan Abigail langsung membaringkan tubuh Samuel di samping Diego.
"Aku akan memeriksa mereka tolong beri aku waktu" ujar sang dokter membuka tas nya dan mengambil beberapa peralatan di tas penyimpanan miliknya.
Karand mengangguk dan berjalan mundur beberapa langkah namun Abigail masih menatap Diego dengan mata yang berlinang.
Sir kaizer hendak melangkahkan kaki kanan nya ke depan namun ia mendengar derap langkah kaki mendekati nya.
Sir Kaizer berbalik dan mendapat dua pria dengan full armor di tubuh nya. Ia juga mengenal salah seorang pria dengan armor berwarna merah keemasan dengan jubah berwarna putih serta pedang besar di punggungnya.
Yang tak lain adalah James, Ayah kandung Abigail. "Kaizer kenapa kau ada disini" tanya pria yang merupakan kapten pasukan panjaga kota kaum.
"Cerita nya sangat panjang buat dijelaskan Kapten James" ujar Kaizer namun pandangan sang kapten malah tertuju pada seorang gadis.
"Abigail" Abigail mendengar suara yang familiar di telinga nya pun berbalik.
"Abigail kenapa kamu ada sini" cecar sang ayah.
"A..ay..ah" ujar Abigail gugup.
James menghembuskan nafas dengan lega lalu mengusap pucuk kepala sang anak perempuan satu satu nya itu.
"Yang penting kamu selamat itu sudah cukup kok" James tersenyum saat memandang putrinya itu.
Karand terdiam melihat kejadian itu 'ayah Abigail masih hidup tapi kenapa ayah mengangkatnya jadi anak' tiba tiba sebuah tangan menyentuh pundak.
Ia menoleh dan mendapati itu adalah tangan sang kakak kedua, Elizabeth. "Bantu aku membawa teman teman mu yang lain untuk di obati" ujar sang kakak.
"Baik kak"
Setelah membawa Nian, Steve Hall dan Ariel ke dekat sang dokter. "Dokter tolong sembuh kan teman teman ku yang lain" Karand menyatuhkan kedua telapak tangan membuat posisi memohon.
"Baiklah sebentar lagi pengobatan pemuda berambut hitam ini akan selesai tapi untuk pemuda berambut biru mungkin akan memakan waktu yang lebih lama dan aku khawatir kalau ia tidak akan bertahan lebih lama, ia harus menerima donor darah kalau boleh bisakah kalian menghubungi keluarga nya" ujar sang dokter yang tengah fokus mengobati luka luka Diego.
"Itu.....seperti akan sangat sulit...soalnya aku tidak tau dimana ayah nya" ujar Karand.
Perkataan Karand sukses membuat James terpukul "permisi dokter kalau boleh tau , golongan darah Diego bertipe apa??" James berjalan mendekati sang Dokter.
"Saat aku memeriksa tadi golongan darah Diego A"
James terdiam lagi muka nya pucat pasi. 'Bahkan urusan seperti ini pun aku tak bisa membantu putra ku sendiri'
"Sialan golongan darahku O"ketus Karand.
"Tenang saja golongan darah ku A kok jadi kalian tenang saja" ujar sang dokter tersenyum dengan tulus.
"Tapi aku harus membawa dia kerumah sakit untuk pengobatan lebih lanjut apa kah boleh" tanya sang dokter dengan ramah.
"Tentu saja boleh dok kami mengharapkan yang hasil yang terbaik" karand sekarang hanya bisa berdoa untuk keselamatan Diego.
"Kalau begitu aku akan membawa pemuda berambut biru ini kerumah sakit bersama dengan korban lain" setelah itu dokter itu bersama dengan beberapa prajurit lain membawa teman teman Karand kerumah sakit
Karand pun menghelai nafas lega kemudian berjalan menjauh dari keramaian dan duduk bersandar di puing puing reruntuhan.
Ia bisa melihat ayah nya sedang mengobrol serius dengan pria yang memakai full armor di seluruh tubuh nya dengan kumis tipis nya.
"Terima kasih atasi informasi nya Sir Kaizer" ujar seorang pria pria dengan kumis tipis dan memakai armor lengkap di tubuh nya.
"Sama sama Sir Roberto aku senang dapat membantu penyelidikan anda" Sir Kaizer yang baru saja mendapatkan pengobatan dari dokter di hampiri oleh Wakil Kapten Pasukan Penjaga kota Kaum yang tak lain adalah Roberto.
"Serangan kali ini mereka tidak main main bahkan beberapa petinggi Sayap Kebebasan juga ada" Roberto menatap buku kecil yang di gunakan untuk mencatat informasi dari pengajar di akademi kaum itu.
"Jhon Si Magus Petarung, Wizard from dark water yang bernama asli Yuyu mereka semua adalah orang yang sangat berbahaya dan sadis" Roberto terdiam sejenak.
"Apa ada yang salah Wakil Kapten Roberto" tanya Sir Kaizer. "Entah kenapa menurutku ada sesuatu yang mengganjal dan tidak berhubungan sama sekali terkait kejadian penyerangan kali ini" Roberto menghelai nafas dengan panjang.
"Kelihatan nya aku harus mengobrol dengan beberapa sejarawan kota kaum...itu pasti benar benar merepotkan" gerutu Roberto.
"Semoga semua berjalan lancar wakil kapten Roberto" sir Kaizer tersenyum kecil.
"Baiklah aku akan pergi, sekali lagi terima kasih Sir Kaizer" Wakil Kapten Roberto balik kanan dan berjalan pergi meninggalkan Sir Kaizer.
Sir Kaizer pun langsung berbalik dan berjalan menuju sekumpulan anak muda yang sedang beristirahat.
Ia melihat putri bungsu nya sedang duduk bersandar di dinding reruntuhan mall.
Sedangkan dua putri nya yang lain sedang sibuk dengan urusan masing masing.
"Kamu mengkhawatirkan teman teman mu" Sir Kaizer duduk disamping putri nya. "Tentu saja" jawab Karand dengan tegas.
"Kamu memang anak yang baik Karand....baiklah ayo kita pulang kerumah semua peristiwa hari ini membuat ku capek" Kaizer bangkit dari duduk dan mengulurkan tangan kepada sang putri.
"Anak anak ayo kita pulang" ajak Sir Kaizer. "Iya" ujar Elizabeth. "Sebelum pulang ayo kita makan ke restoran" usul Gilda.
"Mana ada restoran yang buka di situasi seperti ini" timpal Karand. "Kalau begitu ayah akan masak untuk kita "ujar Gilda dengan santai.
"Huuuh...iya.....iya....baiklah"ujar sir Kaizer pasrah.
"Bagaimana Abigail mau ikut kami" pandangan Gilda terfokus pada saudari baru nya itu.
"Kelihatan aku belum bisa....aku harus mengabari ibu ku dulu" ujar Abigail terlihat sedikit kecewa.
"Baiklah lain kali saja ya" ujar Gilda.
Sir Kaizer dan ketiga putri berjalan pergi meninggalkan Abigail dan ayah serta Roberto.
James menatap telapak tangan nya "percaya lah James suatu hari kamu pasti bisa memperbaiki hubungan mu dengan putra mu, aku yakin itu" Roberto menepuk punggung sang kapten.
__ADS_1
"Aku harap juga begitu Roberto....tapi apa kah dia mau memaafkan ku".